ABOUT ISLAM

Senin, 13 Agustus 2007

IBADAH DAN MUAMALLAH

Ibadah secara khusus berarti ritual atau prosesi yang dilakukan manusia untuk dipersembahkan kepada Allah SWT; sedangkan muamallah berarti tata interaksi antar manusia. Berkaitan dengan ibadah ada suatu prinsip penting yang perlu diperhatikan, bahwa dalam melakukan ibadah seorang muslim harus sungguh-sungguh mengetahui adanya tuntunan dari Al Qur'an dan/atau Al Hadist untuk ibadah yang dilakukannya. Bila suatu ibadah dilakukan tanpa adanya tuntunan dari Al Qur'an dan/atau Al Hadist, maka ibadah tersebut bersifat bid'ah (menyimpang), dan setiap bid'ah akan ditolak oleh Allah SWT. Oleh karena itu seorang manusia tidak boleh menambah-nambah atau mengurang-ngurangi ketetapan Allah SWT tentang ibadah.
Sebaliknya, muamallah juga memiliki prinsip penting yang perlu diperhatikan, bahwa dalam melakukan muamallah seorang muslim harus sungguh-sungguh mengetahui ketiadaan larangan dari Al Qur'an dan/atau Al Hadist untuk muamallah yang dilakukannya. Bila suatu muamallah telah nyata dilarang dalam Al Qur'an dan/atau Al Hadist, namun masih tetap dilakukan oleh manusia, maka manusia tersebut tergolong manusia yang melakukan dosa.
Oleh karena itu, bila dalam ibadah manusia dilarang melakukan kreasi terbaru; maka dalam muamallah manusia sangat dianjurkan untuk berkreasi sepanjang tidak bertentangan dengan hukum yang telah ditetapkan. Salah satu contoh muamallah adalah Pancasila, yang berisi tata nilai yang tidak bertentangan dengan nilai-nilai Islam.

Kamis, 09 Agustus 2007

BERBEKAL PSIKOSOSIAL

Setelah memahami "jiwa" masyarakat, maka seorang muslim dapat memetakan masyarakat yang sedang berinteraksi dengannya. Peta tersebut dapat memuat kategori masyarakat, seperti: kafir, fasiq, musyrik, munafik, atau muttaqiin. Bila suatu masyarakat masih dikategorikan sebagai masyarakat yang kafir, fasiq, musyrik, atau munafik, maka menjadi kewajiban bagi seorang muslim untuk mengajak mereka ke "jalan" taqwa, sehingga mencapai derajat muttaqiin. Pencerahan didahului dengan menyampaikan firman Allah SWT, bahwa Allah SWT telah memilihkan Agama Islam untuk manusia, maka janganlah mati melainkan dalam keadaan muslim (lihat QS.2:132). Meskipun sesungguhnya tidak ada paksaan dalam memeluk Agama Islam, karena sudah jelas "jalan" yang benar dengan yang salah (lihat QS.2:256). Sesungguhnya agama yang diridhai di sisi Allah SWT hanyalah Agama Islam (lihat QS.3:19). Oleh karena itu, barangsiapa memeluk agama selain Agama Islam, maka tidak akan diterima agamanya itu (lihat QS.3:85).

KOMUNIKASIKAN YUK....


Salah satu karakter muslim yang dicontohkan oleh Rasulullah Muhammad SAW adalah tabligh (informatif). Karakter ini menuntut kemampuan informatif yang relatif tinggi, yaitu kemampuan mengkomunikasikan nilai-nilai Islam kepada masyarakat. Untuk dapat berkomunikasi dengan baik, setiap muslim perlu memahami kondisi psikologi masyarakat, yang biasa disebut psikososial. Oleh karena itu seorang muslim perlu mengetahui psikososial, meskipun serba sedikit. Psikososial sesungguhnya secara awam lebih mirip perpaduan antara psikologi dan sosiologi, meskipun pemahaman ini tidak seluruhnya benar.
Psikologi adalah ilmu tentang kondisi kejiwaan (suasana hati) individu dan hal-hal yang melatar belakangi serta implikasinya; sedangkan sosiologi adalah ilmu tentang kondisi masyarakat, hal-hal yang melatar belakangi serta implikasinya. Sebagai konsekuensi ilmu perpaduan maka psikososial dapat dipandang dari dua sisi ilmu yang menjadi basis konseptualnya. Dari sisi sosiologi, psikososial merupakan ilmu yang berasumsi bahwa masyarakat merupakan satu kesatuan yang memiliki "jiwa" tertentu, yang dapat dikaji kondisi, latar belakang, dan implikasinya. Sementara itu dari sisi psikologi, psikososial merupakan ilmu yang berasumsi bahwa individu-individu memiliki jiwa tertentu, yang selanjutnya mengalami kolektivisasi sehingga membentuk "jiwa" masyarakat, yang dapat dikaji kondisi, latar belakang, dan implikasinya.

Selasa, 07 Agustus 2007

PENCIPTAAN ALAM SEMESTA

Allah SWT dalam Al Qur'an menjelaskan, bahwa sesungguhnya langit dan bumi dahulunya berpadu, lalu Allah SWT memisahkan keduanya (lihat QS.21:30). Allah SWT membangun langit dan bumi dengan kekuasaanNya, termasuk dengan memperluas langit tersebut (lihat QS.51:47). Hingga langit dan bumi (alam semesta) akan berakhir, ketika bintang-bintang berguguran (QS.81:1-2).
Penjelasan Allah SWT ini telah disampaikan melalui Rasulullah Muhammad SAW pada abad ke-7, dan barulah pada abad ke-19 manusia berhasil memahami penjelasan Allah SWT ini. Orang-orang seperti Edwin Huble (1929) dan kawan-kawannya (para fisikawan ruang angkasa), telah berhasil secara empiris membuktikan kebenaran Al Qur'an. Mereka yang juga berjasa adalah Arnold Penzias dan Robert Wilson (pemenang Nobel).
Jika sampai saat ini masih ada Islam-phobia di kalangan manusia, maka hal ini menunjukkan "mahalnya" hidayah.

Jumat, 03 Agustus 2007

JANGAN RAGU - RAGU

Ada satu hal yang manusia tidak boleh ragu-ragu, yaitu tentang isi Al Qur'an, atau tentang Firman Allah SWT dalam Al Qur'an. Bila dalam kehidupan sehari - hari manusia boleh jadi tertipu oleh data palsu yang ditangkap inderanya (disebut fatamorgana), atau tertipu data tak lengkap karena keterbatasan inderanya (disebut fenomena), maka dengan berbekal Al Qur'an ia tak akan tertipu. Al Qur'an menjelaskan banyak hal yang berkaitan dengan kehidupan manusia melalui penjelasan yang sebenar-benarnya, yang karena absolutisme kebenarannya seringkali berada di luar jangkauan indera manusia (disebut numena).
Allah SWT menjelaskan, bahwa sesungguhnya Allah SWT yang menurunkan Al Qur'an, dan Allah SWT pula yang menjaganya (lihat QS.15:9).

Kamis, 02 Agustus 2007

KESOMBONGAN MANUSIA


Sifat sombong pada diri manusia sesungguhnya akan merugikan dirinya sendiri, karena akan terhalang dari mendapat kebenaran. Puncak kesombongan manusia adalah ketika menganggap dirinya lebih hebat, lebih tahu, dan lebih berhak dari Allah SWT. Kesombongan semacam ini tepat kiranya bila disebut "Fir'aun Syndrom". Saat ini Fir'aun Syndrom banyak menjangkiti manusia. Lihatlah manusia yang menghina ayat-ayat Al Qur'an, dan merendahkan Rasulullah Muhammad SAW. Mereka-mereka ini menderita Fir'aun Syndrom dan menunggu penghakiman dari Allah SWT.

Allah SWT berfirman, "Dan tidakkah mereka berjalan di bumi, lalu mereka memperhatikan bagaimana akibat orang-orang (yang mendustakan Allah) sebelum mereka? Orang-orang itu lebih kuat dari mereka. Orang-orang itu juga mengolah bumi serta memakmurkannya melebihi dari yang mereka makmurkan. Dan datanglah kepada mereka rasul-rasulNya dengan keterangan- keterangan yang nyata (tapi mereka mengingkari). Maka (sesungguhnya) Allah tidaklah menganaiaya mereka, tetapi merekalah yang menganiaya diri mereka sendiri" (QS.30:9).

Rabu, 01 Agustus 2007

MEMBANGUN PERADABAN

Setiap muslim wajib berusaha mewujudkan peradaban dunia yang TRANSHUME (TRANSenden, HUManis, dan Emansipatori), dalam koridor AIM-A2 (Aqidah, Ibadah, Muamallah, Adab, dan Akhlak), melalui karakter muslim yang FAST-I2R (Fathonah, Amanah, Shiddiq, Tabligh, Istiqomah, Ikhlas, dan Ridha), dalam perannya sebagai MUASIR (Mujahiddin, Uswatun hasanah, Assabiquunal awaluun, SIrajan muniran, dan Rahmatan lil'alamiin. Peradaban TRANSHUME, adalah peradaban yang dibangun berdasarkan konsepsi-konsepsi ruhani (transenden), kemanusian (humanis), dan membebaskan (emansipatori). Konsepsi-konsepsi ruhani (Agama Islam) akan mendorong setiap muslim untuk menata pemikiran, sikap, dan perilakunya sesuai dengan nilai-nilai Islam sebagai nilai-nilai utama (ultimate values). Pemikiran, sikap, dan perilaku yang sesuai dengan nilai-nilai Islam ini kemudian menciptakan peradaban yang menempatkan manusia berada pada posisinya sebagai manusia, atau sesuai dengan fitrahnya. Manusia tidak diposisikan sebagai super-ordinat, melainkan dalam posisi sub-ordinat. Super-ordinat (yang harus dipatuhi) semesta alam adalah Allah SWT, sedangkan manusia adalah sub-ordinat (yang harus mematuhi) dari Allah SWT. Semangat transenden dan humanis dalam koridor nilai-nilai Islam (AIM-A2) selanjutnya akan menciptakan peradaban yang emansipatori, yaitu peradaban yang membebaskan manusia dari penjajahan, eksploitasi, dan kedzaliman lainnya.