ABOUT ISLAM

Tampilkan postingan dengan label cerdas. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label cerdas. Tampilkan semua postingan

Rabu, 28 Januari 2009

UNTUK KEJAYAAN ISLAM: JANGAN GOLPUT

Beberapa hari yang lalu MUI (Majelis Ulama Indonesia) mengingatkan Umat Islam di Indonesia, agar berpartisipasi dalam Pemilihan Umum. Dengan kata lain, MUI meminta Umat Islam agar tidak golput dalam Pemilihan Umum. Golput adalah tindakan tidak berpartisipasi atau tidak memilih dalam Pemilihan Umum. "Bahasa" yang digunakan oleh MUI adalah "Bahasa Fatwa" dengan menyatakan "golput haram", kecuali bagi yang berhalangan secara teknis atau administratif.
Fatwa MUI ini dikeluarkan, karena ada komunitas sekuler, liberal, dan Islam Phobia (Anti Islam) yang menyerukan golput. Komunitas ini mulai khawatir dengan kekuatan Umat Islam di Dewan Perwakilan Rakyat dan Pemerintahan, yang mengganggu dominasi sekuler, liberal, dan Islam Phobia.
Lihatlah beberapa Undang-Undang yang berhasil "diamankan" oleh kekuatan Umat Islam di Dewan Perwakilan Rakyat. Contoh, Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional. Bila kekuatan Umat Islam di Dewan Perwakilan Rakyat tidak memadai, maka peserta didik (Umat Islam) akan mendapat pelajaran agama yang bukan agama yang dianutnya (Non Islam), dan diajarkan agama oleh pendidik yang tidak seagama dengannya (Non Muslim). Namun dengan rahmat Allah SWT, dan penyatuan kekuatan Umat Islam di Dewan Perwakilan Rakyat, maka Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional menyatakan, bahwa peserta didik harus mendapat pelajaran agama yang sama dengan agama yang dianutnya, yang disampaikan oleh pendidik yang seagama dengannya.
Oleh karena itu, fatwa MUI yang mengharamkan golput perlu didukung oleh Umat Islam, sebab:
Pertama, Umat Islam harus berjuang di semua sektor, dan di semua aspek. Hal ini penting, agar Umat Islam tidak dipecundangi terus menerus di banyak sektor, dan di banyak aspek. Umat Islam harus mampu mencegah penyalahgunaan ideologi, politik, ekonomi, sosial, budaya, pertahanan, keamanan, dan lain-lain, agar tidak memusuhi dan merugikan Umat Islam. Dengan demikian Umat Islam dapat memberi kontribusi terbaik (rahmatan lil'alamiin) bagi Bangsa dan Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Kedua, Umat Islam jangan naif (lugu), melainkan harus cerdas (fathonah) ketika berbangsa dan bernegara di Negara Kesatuan Republik Indonesia. Hendaknya Umat Islam bersungguh-sungguh mempelajari dan mengkaji partai politik dan tokoh politik yang masuk "bursa" Pemilihan Umum. Perhatikan kinerja dan track record mereka terhadap penguatan nilai-nilai Islam di Negara Kesatuan Republik Indonesia. Jangan pilih partai politik dan tokoh politik, yang sekuler, liberalis, dan Islam Phobia.
Ketiga, bangun sinergi antara sebagian Umat Islam yang berjuang intra parlementer (di dalam Dewan Perwakilan Rakyat) dengan sebagian Umat Islam yang berjuang ekstra parlementer (di luar Dewan Perwakilan Rakyat). Kedua bagian ini sama-sama penting, karena sama-sama berjuang untuk kejayaan Islam dan Negara Kesatuan Republik Indonesia, sehingga selayaknya bekerjasama.

Minggu, 18 November 2007

KEINDAHAN NILAI - NILAI ISLAM

Sebagaimana telah diketahui oleh segenap manusia, nilai-nilai Islam bersumber pada Al Qur'an dan Al Hadist. Sebagai sumber pertama adalah Al Qur'an, dan sebagai sumber kedua adalah Al Hadist.
Dalam QS.15:9 Allah SWT berfirman, "Sesungguhnya Kami (Allah) yang menurunkan Al Qur'an, dan sesungguhnya Kami pula yang memeliharanya."
Pada ayat yang lain (QS.11:14) Allah SWT juga telah berfirman, "... sesungguhnya (Al Qur'an) diturunkan dengan ilmu Allah ..."
Juga telah dijelaskan oleh Allah SWT dalam firmanNya, "Kitab ini (Al Qur'an) tidak ada keraguan di dalamnya, menjadi petunjuk bagi orang-orang yang bertaqwa" (QS.2:2).
Selanjutnya agar manusia dapat memahami dan mempraktekkan nilai-nilai Islam yang terdapat dalam Al Qur'an, maka Allah SWT menghadirkan seorang manusia sebagai utusanNya, yaitu: Rasulullah Muhammad SAW.
Allah SWT berfirman, "Dan Kami (Allah) berikan kepada mereka keterangan yang nyata tentang utusan itu (Muhammad). Dan mereka tidak berselisih melainkan sesudah datang kepada mereka ilmu, karena kedengkian di antara mereka. Sesungguhnya Tuhanmu akan memutuskan antara mereka pada hari kiamat, tentang hal-hal yang mereka perselisihkan" (QS.45:17).
Selanjutnya Rasulullah Muhammad SAW inilah yang mengajarkan kepada umat manusia, tentang tata cara mempraktekkan nilai-nilai Islam yang terdapat dalam Al Qur'an. Rasulullah Muhammad SAW berkata, "Bersegeralah melakukan amal dalam menghadapi berbagai fitnah, yang seperti gelapnya malam. Sehingga seseorang beriman di pagi hari, tetapi kafir di sore harinya. Ada pula yang beriman pada malam hari, tetapi kafir pada siang harinya. Bahkan di antara kalian ada yang menjual agamanya untuk mendapatkan dunia" (HR. Bukhari, Muslim, dan Tirmidzi).
Berdasarkan Al Qur'an dan Al Hadist, seorang manusia mengetahui bahwa ia harus memiliki aqidah (berbasis Rukun Iman), yang akan menjadi dasar ibadah (berbasis Rukun Islam), muamallah (interaksi sosial Islami), dan adab (etika atau sopan santun Islami). Selanjutnya ia mengekspresikan aqidah, ibadah, muamallah, dan adab dalam akhlak (ekspresi total Islami) sebagai manusia.
Agar akhlaknya konsisten dengan aqidah, ibadah, muamallah, dan adab, maka ia berupaya sungguh-sungguh mencontoh sifat Rasulullah Muhammad SAW yang fathonah (cerdas), amanah (terpercaya), shiddiq (obyektif), dan tabligh (informatif).
Hal ini penting ia lakukan dalam rangka menjalankan perannya sebagai mujahiddin (pejuang nilai-nilai Islam), uswatun hasanah (teladan yang baik), assabiqunal awaluun (pioneer atau pendahulu), sirajan muniran (pencerah), dan rahmatan lil'alamiin (menjadi rahmat bagi alam semesta).
Inilah keindahan nilai-nilai Islam, dan inilah saat manusia untuk menerapkannya.

Minggu, 26 Agustus 2007

JANGAN ANARKHIS, LHO...


Bila umat Islam berkenan sungguh- sungguh memper- hatikan firman Allah SWT dalam QS.10:2 maka sesungguhnya umat Islam dilarang berperilaku emosional, dan juga dilarang berperilaku anarkhis. Mengapa demikian? Jawabannya adalah, karena sejak abad ke-7 atau sejak 13 abad (1.300 tahun) yang lalu, sebagian manusia yang menolak nilai-nilai Islam telah berupaya menegasi (menghapus) nilai-nilai tersebut dari permukaan bumi. Oleh karena mereka (kaum anti nilai-nilai Islam) kesulitan dalam mendeskreditkan nilai-nilai Islam yang tertuang dalam Al Qur'an, maka sasaran berikutnya adalah tokoh yang menyampaikan nilai-nilai Islam, yaitu Rasulullah Muhammad SAW.
Dengan demikian benarlah, ketika umat Islam wajib menahan diri, dan mengendalikan diri dari perilaku emosional dan anarkhis. Tidak layak bagi umat Islam melakukan tindakan anarkhis, termasuk ketika sebagian pers dan masyarakat Barat menghina Rasulullah Muhammad SAW. Meskipun data-data yang menunjukkan penghinaan tersebut relatif lengkap dan meluas (meliputi Asia, Eropa, Afrika, Amerika, dan Australia), umat Islam harus menerima fakta penghinaan tersebut dengan penuh kesabaran dalam nuansa semangat dakwah yang tinggi.
Rasulullah Muhammad SAW telah mencontohkan pemikiran, sikap, dan perilaku yang FAST (Fathonah, Amanah, Shiddiq, dan Tabligh) dalam menghadapi berbagai persoalan dakwah. Oleh karena itu: Pertama, umat Islam harus menghadapi penghinaan terhadap Rasulullah Muhammad SAW oleh sebagian pers dan masyarakat Barat dengan berpikir, bersikap, dan berperilaku fathonah atau cerdas. Wujudnya dengan memahami historisitas "nasib" para Rasulullah di hadapan masyarakat Barat. Bagi masyarakat Barat para Rasulullah disikapi dengan dua sikap, yaitu bila tidak dihinakan sehina-hinanya, maka Rasulullah tersebut akan dipertuhankan.
Kedua, umat Islam harus menghadapi penghinaan terhadap Rasulullah Muhammad SAW oleh sebagian pers dan masyarakat Barat dengan berpikir, bersikap, dan berperilaku amanah atau dapat dipercaya. Wujudnya berupa kemampuan memperlihatkan karakter muslim yang berAIM-A2, yaitu ber: Aqidah, Ibadah, Muamallah, Adab, dan Akhlak. Hal ini penting karena sesungguhnya hanya manusia-manusia yang berAIM-A2 yang dapat dipercaya, sebab manusia-manusia ini mengetahui bahwa bahwa Allah SWT mengetahui kebohongan sekecil apapun.
Ketiga, umat Islam harus menghadapi penghinaan terhadap Rasulullah Muhammad SAW oleh sebagian pers dan masyarakat Barat dengan berpikir, bersikap, dan berperilaku shiddiq atau obyektif. Wujudnya dengan memperhatikan fakta sejarah (histori) selama ini, bahwa hanya nilai-nilai Islam yang mampu menjadi kompetitor nilai-nilai Barat, mulai dari ideologi, politik, ekonomi, sosial, dan budaya, hingga pertahanan dan keamanan. Oleh karena itu sangat dapat difahami ketika sebagian pers dan masyarakat Barat yang hina berupaya menghina Rasulullah Muhammad SAW, dalam rangka menegasi nilai-nilai Islam. Sesungguhnya seorang manusia hanya akan terhina, bila ia berpikir, bersikap, dan berperilaku tidak mencerminkan karakter manusia yang beraqidah (berke-Tuhan-an), beribadah (berbakti kepada Tuhan), bermuamallah (berinteraksi sosial secara bermartabat), beradab (beretika dan berkesopanan), serta berakhlak (mengekspresikan diri sebagai manusia yang beraqidah, beribadah, bermuamallah, dan beradab).
Keempat, umat Islam harus menghadapi penghinaan terhadap Rasulullah Muhammad SAW oleh sebagian pers dan masyarakat Barat dengan berpikir, bersikap, dan berperilaku tabligh atau informatif. Wujudnya dengan berdakwah tanpa kenal lelah terutama bagi masyarakat Barat, dengan memanfaatkan segenap teknologi informasi yang dimiliki. Hal ini dilakukan, karena sesunguhnya umat Islam tidak memusuhi masyarakat Barat, melainkan ingin bersama-sama dengan masyarakat Barat membangun peradaban dunia yang TRANSHUME, yaitu peradaban yang: (1) TRANSenden (meruhani, sehingga dapat mengenal Allah SWT, sebagai Tuhan Yang Maha Esa); (2) HUManis (manusiawi, yang memposisikan manusia sesuai dengan fitrahnya); dan (3) Emansipatori (membebaskan, yaitu membebaskan manusia dari kejahiliahan atau nilai-nilai maksiat).