ABOUT ISLAM

Tampilkan postingan dengan label fathonah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label fathonah. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 18 Desember 2010

MAKHLUK CIPTAAN ALLAH SWT

Manusia adalah makhluk ciptaan Allah SWT, ia (manusia) diciptakan dari tiada menjadi ada (lihat QS.76:1-2). Manusia setelah Nabi Adam AS memiliki korelasi genetik dengan Nabi Adam AS, karena Nabi Adam AS merupakan manusia pertama yang diciptakan oleh Allah SWT, sedangkan manusia-manusia sesudahnya merupakan hasil reproduksi dari Nabi Adam AS dan keturunannya.


Penciptaan manusia oleh Allah SWT diketahui memiliki empat varian, yaitu: Pertama, penciptaan Adam AS yang memiliki keunikan, karena diciptakan dari tanah yang selanjutnya disempurnakan kejadiannya dan dilengkapi dengan ruh ciptaan Allah SWT (lihat QS.3:59);


Kedua, penciptaan Hawa (istri Nabi Adam AS) yang memiliki keunikan, karena diciptakan dari diri Adam AS (lihat QS.4:1). Penciptaan Hawa ini sekaligus memberi hikmah, tentang pentingnya suami istri bersatu dalam nilai-nilai Islam.


Ketiga, penciptaan Isa AS yang memiliki keunikan, karena diciptakan oleh Allah SWT tanpa melalui proses reproduksi sebagaimana manusia pada umumnya. Isa a.s. lahir dari seorang wanita suci bernama Maryam, yang tidak pernah “disentuh” laki-laki (lihat QS.4:171 dan QS.19:20).


Keempat, penciptaan manusia pada umumnya melalui proses reproduksi (lihat QS.23:12-14). Penciptaan ini memberi peluang bagi upaya mempertahankan eksistensi manusia di alam semesta, dalam rangka menjalankan nilai-nilai Islam.


Sebagai makhluk ciptaan Allah SWT, manusia harus berpegang pada aqidah, bahwa Tuhan semesta alam adalah Tuhan Yang Maha Esa, yaitu Allah SWT (lihat QS.112:1-4). Oleh karena itu kehadiran manusia di dunia memiliki dua tugas utama, yaitu: Pertama, beribadah atau berbakti kepada Allah SWT (lihat QS.51:56). Kedua, menjadi rahmat bagi alam semesta atau rahmatan lil’alamiin (lihat QS.21:107).


Sebagai salah satu wujud dari pelaksanaan tugasnya, manusia harus dapat mengelola alam semesta dengan sebaik-baiknya. Untuk itu manusia harus memiliki kualitas yang baik (fathonah, amanah, shiddiq, dan tabligh), agar ia dapat mengelola alam semesta dengan baik.


Salah satu indikator manusia yang berkualitas baik, adalah ketika ia mampu menata emosinya. Kemampuan ini akan memberi kontribusi pada manusia yang bersangkutan untuk secara optimal mengelola alam semesta.


Dengan demikian manusia dapat memberi makna dalam kehadirannya di alam semesta, dan benarlah kehendak Allah SWT yang berkenan menciptakan manusia. Hal ini sekaligus merupakan wujud rasa syukur manusia kepada Allah SWT.

Selasa, 22 Januari 2008

BERDAKWAH YUK....

Allah SWT berfirman, "Sesungguhnya agama yang diridhai Allah hanyalah Islam. Tiada berselisih orang-orang yang telah diberi Kitab (sebelum Al Qur'an) sesudah datang pengetahuan kepada mereka, kecuali karena kedengkian mereka. Barangsiapa yang kafir (menolak) terhadap ayat-ayat Allah, maka sesungguhnya Allah sangat cepat perhitunganNya. Kemudian jika mereka mendebat kamu, maka katakanlah. "Aku menyerahkan diriku kepada Allah dan demikian pula orang-orang yang mengikutiku." Dan katakanlah kepada orang-orang yang telah diberi Kitab dan kepada orang-orang yang ummi (tidak dapat baca tulis), "Apakah kamu mau masuk Islam." Jika mereka masuk Islam, sesungguhnya mereka telah mendapat petunjuk, dan jika mereka berpaling, maka kewajiban kamu hanyalah menyampaikan ayat-ayat Allah. Sesungguhnya Allah Maha Melihat hamba-hambaNya" (QS.3:19-20).
Bila kita berkenan memperhatikan firman Allah SWT tersebut, maka sesungguhnya Allah SWT sedang mempersuasi (membujuk) kita, agar bersedia berdakwah. Oleh karena itu tidak ada respon yang lebih tepat, selain "saya dengar dan akan saya laksanakan". Respon ini beralasan, karena: Pertama, Allah SWT telah menegaskan bahwa agama yang diridhai Allah SWT hanyalah agama Islam, maka menjadi kewajiban kita untuk menyampaikan informasi penting ini kepada umat manusia.
Kedua, kita akan menyampaikan informasi ini dengan cara berdakwah, yaitu suatu tindakan menyampaikan nilai-nilai Islam secara informatif (tabligh), obyektif (shiddiq), terpercaya (amanah), dan cerdas (fathonah).
Ketiga, jika ada pihak yang menentang dakwah kita, janganlah emosi, melainkan bersabarlah. Bukankah ciri-ciri orang bertaqwa antara lain, mampu bersabar dalam perjuangannya menyampaikan nilai-nilai Islam. Alangkah indahnya ketika kita mampu ikhlas dalam kesabaran saat berjuang dengan penuh semangat.
Keempat, jika dakwah belum membuahkan hasil, happy aja! Bukankah hanya Allah SWT yang berhak menetapkan kepada siapa Ia akan memberi petunjuk. Tugas kita khan hanya menyampaikan ayat-ayat Allah SWT (nilai-nilai Islam). Jadi happy aja!
Kelima, oleh karena itu berdakwah yuk... Sesuai kemampuan kita, sesuai kompetensi kita, insya Allah tindakan kita diridhai Allah SWT. Ketika kita bahagia dengan nilai-nilai Islam, maka selayaknya kita berbagi dengan sahabat-sahabat kita. Ketika kita faham dengan kebenaran nilai-nilai Islam, maka selayaknya kita berbagi dengan sahabat-sahabat. Ketika kita faham keberadaan manusia, maka selayaknya kita berbagi dengan sahabat-sahabat kita.
Keenam, jadi apalagi yang ditunggu? Berdakwah yuk! Mari kita bangun peradaban dunia yang TRANSHUME, yaitu peradaban dunia yang: (1) TRANSenden atau merohani dalam nilai-nilai Islam, (2) HUManis atau sesuai fitrah manusia yang Islami, dan (3) Emansipatori atau mampu membebaskan manusia dari nilai-nilai jahiliah yang telah banyak menyesatkan manusia.