ABOUT ISLAM

Tampilkan postingan dengan label liberalisme. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label liberalisme. Tampilkan semua postingan

Minggu, 29 Mei 2011

LIBERALISME: DOGMA ILUSIONIS BARAT

Dogma adalah dekrit (pernyataan) yang dikeluarkan oleh institusi otoritatif, sehingga bagi yang tidak melaksanakan akan mendapat sanksi dari institusi tersebut. Institusi yang dimaksud dalam hal ini dapat berupa negara, organisasi, dan perguruan tinggi.


Ilusionis adalah orang, lembaga, atau negara yang gemar berilusi, berangan-angan, atau berkhayal tentang sesuatu. Ilusionis Barat, artinya orang, tokoh, lembaga, atau negara-negara Barat yang gemar berilusi, berangan-angan, atau berkhayal.


Ilusi, angan-angan, atau khayalan orang, tokoh, lembaga, atau negara-negara Barat ini merupakan dongeng yang ditebarkan oleh Bangsa Yahudi (Zionis), untuk mengelabui mereka (Barat) agar bersedia mendukung dan membantu secara membabi-buta Bangsa Yahudi (Zionis) yang ingin menguasai dunia, yang diawali dengan merampok Tanah Palestina dan mendirikan Negara Israel di atas tanah Bangsa Palestina.


Liberalisme adalah dogma yang dikeluarkan oleh negara-negara Barat, berdasarkan petunjuk organisasi-organisasi di negara-negara Barat, organisasi-organisasi internasional, dan perguruan tinggi terkenal yang ada di Barat dan pro Barat.


Oleh karena itu, negara-negara yang tidak berkenan menerapkan liberalisme akan mendapat sanksi dari negara-negara Barat, organisasi-organisasi internasional, dan perguruan tinggi terkenal yang ada di Barat dan pro Barat. Sanksinya berupa pengucilan, dan penghentian pemberian hutang, atau biasa disebut dengan ”penghentian pemberian bantuan”.


Liberalisme, adalah suatu faham yang menyatakan bahwa kebebasan adalah nilai utama dalam masyarakat. Faham ini merupakan dogma, sebab faham ini bukanlah sesuatu yang sebenarnya, karena kebenarannya bersifat relatif. Dengan demikian liberalisme hanyalah suatu takhyul yang dikemas secara ilmiah, atau “takhayul ilmiah”.


Liberalisme merupakan dekrit yang dikeluarkan oleh institusi otoritatif, sehingga negara atau masyarakat yang menolak dogma Barat ini, akan mendapat sanksi dari institusi otoritatif tersebut.


Sesungguhnya sesuatu disebut benar, bila sesuai dengan perspektif Allah SWT (penentu kebenaran mutlak), yang tertuang dalam nilai-nilai Islam, yang meliputi: aqidah, ibadah, muamallah (tata interaksi sosial), adab (tata etika), dan akhlak (ekspresi beraqidah, beribadah, bermuamallah, dan beradab).


Liberalisme yang digembar-gemborkan Barat, sesungguhnya merupakan dogma yang sengaja ditebarkan oleh Bangsa Yahudi (Zionis) untuk menguasai dunia. Dogma ini sejak tahun 1897 telah dimuat dalam Protocol of Zion point 1 dan 2, yang secara ringkas isinya: sebagai berikut: Pertama, liberalisme, kemerdekaan, persamaan, dan persaudaraan yang dikembangkan oleh Bangsa Yahudi, hanyalah jerat halus untuk menangkap mangsa, yaitu Bangsa Non Yahudi. Kedua, ideologi Bangsa Yahudi, yaitu liberalisme, bagi orang yang tidak menjalankan agama dengan baik akan mudah diterima.


Nafsu Bangsa Yahudi, Zionis, atau Israel untuk menguasai dunia, nampak dari keseriusannya merampok tanah Bangsa Palestina, sebagai lokasi awal mengusai dunia. Salah satu strategi akhirnya adalah merebut Tepi Barat (West Bank) dan Jalur Gaza (Gaza Strip) yang masih dikuasai oleh Bangsa Palestina.


Oleh karena itu, Bangsa Yahudi, Zionis, dan Israel berang dan marah ketika beberapa hari yang lalu Pemerintah Mesir (hasil reformasi pada awal tahun 2011), berkenan membuka secara permanen perbatasan Mesir dengan Gaza, tepatnya di Kota Rafah, yang selama Pemerintah Mesir sebelumnya (Hosni Mubarak) selalu ditutup untuk mendukung Israel mengisolasi Jalur Gaza.



Allah SWT berfirman, “Dan demikianlah untuk setiap nabi, Kami menjadikan musuh yang terdiri dari setan yang berwujud manusia dan jin. Sebagian mereka membisikkan kepada sebagian yang lain perkataan yang indah, sebagai tipuan. Dan kalau Tuhanmu menghendaki, niscaya mereka tidak akan melakukannya. Maka biarkanlah mereka bersama kebohongan yang mereka ada-adakan. Dan agar hati kecil orang-orang yang tidak beriman kepada akherat tertarik pada bisikan itu dan menyenanginya. Dan agar mereka melakukan hal-hal yang biasa mereka lakukan” (QS.6:112-113).



Firman Allah SWT dalam QS.6:112-113 menjelaskan bahwa: Pertama, setiap masa selalu ada setan yang berwujud manusia, atau selalu ada manusia yang berpikir, bersikap, bertindak, dan berperilaku sebagaimana setan. Kedua, para setan ini membisikkan berbagai tipuan yang indah kepada umat manusia, yang merupakan kebohongan yang diada-adakan. Ketiga, orang-orang yang tidak sungguh-sungguh berpegang teguh pada nilai-nilai Islam, akan mudah tertarik pada tipuan yang indah tersebut. Keempat, orang-orang ini tidak menyadari, bahwa ia tertipu oleh suatu kebohongan yang diada-adakan oleh setan berwujud manusia (lihat juga QS.114).



Berdasarkan firman Allah SWT dalam QS.6:112-113 dan QS.114 maka dapatlah dikatakan, bahwa liberalisme adalah suatu tipudaya yang ditebarkan oleh Bangsa Yahudi (Zionis) dan Barat, yang menjadi pendukung Bangsa Yahudi (Zionis). Liberalisme merupakan kebohongan yang diada-adakan oleh Bangsa Yahudi dan pendukungnya (Barat) yang tujuannya adalah untuk menguasai bangsa-bangsa lain di dunia. Oleh karena itu, umat Islam perlu menjadikan nilai-nilai Islam sebagai solusi dalam mengatasi desakan liberalisme, seraya berlindung kepada Allah SWT.


Semoga Allah SWT berkenan melindungi Bangsa Indonesia dari desakan liberalisme, sehingga bangsa ini dapat terus mempertahankan Negara Kesatuan Republik Indonesia, yang dibangun berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar Tahun 1945.



InsyaAllah...

Jumat, 03 September 2010

PENTINGNYA FPI BAGI UMAT ISLAM

Sebagai salah satu kekuatan massa umat Islam Indonesia, Front Pembela Islam (FPI) yang beranggotakan 7 juta orang dianggap paling berbahaya bagi musuh-musuh Islam. FPI dinilai paling keras dalam memberantas kemaksiatan, sebagai wujud dari pelaksanaan amar makruf nahi munkar. Oleh karena itu, beberapa pihak yang anti nilai-nilai Islam mulai bersatu dan melakukan konspirasi untuk membubarkan FPI.

Pihak-pihak yang berkonspirasi untuk membubarkan FPI, antara lain: Pertama, kelompok yang selama ini melakukan bisnis haram, seperti: sindikat narkoba, perjudian, pelacuran, dan sebagainya. Kedua, kelompok yang ingin menyusupkan sekularisme, dan liberalisme dalam praktek keagamaan masyarakat. Ketiga, kelompok yang merasa kepentingan politiknya terganggu, karena undang-undang yang mereka perjuangkan bertentangan dengan nilai-nilai Islam, misal undang-undang lokalisasi perjudian dan pelacuran.

Berdasarkan fakta-fakta itu, maka Umat Islam layak mendukung keberadaan FPI, dengan tetap mengajak dan mendorong FPI untuk tampil lebih sejuk, dan memperhatikan aspek legal (hukum) dalam perjuangan dan pembelaannya terhadap Islam. Umat Islam tentu masih ingat beberapa kejadian penting, yang menunjukkan pembelaan FPI bagi Umat Islam, misal:

Pertama, FPI yang dideklarasikan pada tanggal 17 Agustus 1998 oleh beberapa ulama dan habaib di Jakarta, pada tanggal 14 – 18 Oktober 1998 membentuk BPF DPP-FPI (Badan Pencari Fakta Dewan Pimpinan Pusat - FPI) untuk mengadakan investigasi terhadap kasus teror, pembantaian, dan pembunuhan terhadap para ulama, kyai, ustadz, dan guru ngaji dengan dalih dukun santet di beberapa wilayah di Pulau Jawa, seperti: Demak, Pasuruan, Jember, Purbalingga, dan Banyuwangi. BPF DPP-FPI dipimpin langsung oleh Ketua Umum FPI Habib Muhammad Rizieq bin Husein Syihab, Lc.

Kedua, pada tanggal 21 Oktober 1998 DPP-FPI mengeluarkan “Pernyataan Sikap dan Seruan kepada Presiden Republik Indonesia” berdasarkan hasil kerja BPF DPP-FPI dari tanggal 14-18 Oktober 1998, yang berkaitan dengan kasus teror, pembantaian, dan pembunuhan terhadap para ulama, kyai, ustadz, dan guru ngaji dengan dalih dukun santet di beberapa wilayah di Pulau Jawa. Akhirnya, pada tanggal 28 Oktober 1998 DPP-FPI mengeluarkan ”Seruan Jihad” terhadap ”Pasukan Ninja, yang telah menteror, membantai, dan membunuh para ulama, kyai, ustadz, dan guru ngaji dengan dalih dukun santet di beberapa wilayah di Pulau Jawa. Hasilnya, tidak ada lagi teror, pembantaian, dan pembunuhan terhadap para ulama, kyai, ustadz, dan guru ngaji oleh “Pasukan Ninja”. Orang-orang dzalim ini disebut “Pasukan Ninja”, karena pada saat beroperasi mereka memakai pakaian seperti ninja (pakaian pembunuh ala Jepang tradisional).

Ketiga, pada tanggal 22 November 1998 terjadi “Insiden Ketapang” di Jakarta di mana sebuah masjid di Wilayah Ketapang, Gajah Mada, Jakarta Pusat, dirusak oleh 600 orang preman. Sementara itu, masyarakat sekitar masjid tidak mampu menghadapi para preman. Oleh karena itu, FPI mengirim laskarnya, yaitu Laskar Pembela Islam, untuk memukul mundur para preman yang menyerang masjid dan warga di sekitar masjid tersebut. Laskar Pembela Islam dipimpin oleh KH. Tb. M. Siddiq AR, di bawah komando Ketua Umum FPI, Habib Muhammad Rizieq. Selanjutnya, pada tanggal 26 November 1998 DPP-FPI mengeluarkan pernyataan mengenai kronologis “Insiden Ketapang”, yang antara lain berisi informasi tentang diserangnya perkampungan muslim oleh sejumlah preman. Kronologis tersebut disampaikan dalam acara tatap muka dengan komisi A DPRD DKI Jakarta.

Keempat, pada Tanggal 1 Desember 1998 DPP-FPI mengeluarkan pernyataan sikap tentang “Insiden Kupang” di Nusa Tenggara Timur, yang intinya mengecam tindakan sekelompok orang yang telah merusak/membakar sejumlah masjid, dan membantai/ membunuh/menganiaya sejumlah muslim di Kupang.

Kelima, pada tanggal 21 Januari 1999 DPP-FPI beraudiensi ke Mabes TNI (Markas Besar Tentara Nasional Indonesia) di Cilangkap, untuk memohon agar TNI berkenan segera mengatasi “Kerusuhan Ambon” yang telah menewaskan ribuan muslim Ambon.

Keenam, pada tanggal 5 Oktober 2001 Laskar Pembela Islam melakukan demonstrasi menentang keras arogansi Amerika menyerang Afghanistan dengan dalih memburu Usamah Bin Laden. Pada tanggal 7 – 9 Oktober 2001 Laskar Pembela Islam mengepung Kedutaan Besar Amerika Serikat selama tiga hari tiga malam sebagai protes terhadap serangan Amerika Serikat ke Afghanistan. Selanjutnya, pada tanggal 8 Oktober 2001 melalui media massa, Ketua Umum FPI, Habib Muhammad Rizieq, mengutuk keras serangan Amerika Serikat ke Afganistan, dan memprotes keras pernyataan Presiden Amerika Serikat, George Walker Bush yang menyatakan, bahwa Indonesia sebagai salah satu dari 40 negara yang mendukung serangan Amerika Serikat ke Afghanistan.

Umat Islam tentunya juga maklum, bahwa pembelaan FPI terhadap Umat Islam memiliki resiko yang besar bagi tokoh-tokoh FPI. Umat Islam tentu masih ingat insiden, yang antara lain sebagai berikut:

Pertama, pada tanggal 11 April 1999 mobil Ketua Umum FPI, Habib Muhammad Rizieq ditembaki oleh orang yang tak dikenal. Kedua, pada tanggal 23 Juli 2000 Al-Habib Sholeh Alattas, penasihat FPI, ditembak hingga terbunuh di Jakarta. Ketiga, pada tanggal 24 Juli 2000 KH. Cecep Bustomi, deklarator FPI, dibrondong tembakan hingga tewas di Serang. Keempat, pada tanggal 13 Desember 2000 rumah kediaman Al-Habib Sholeh Al-Habsyi, Ketua Majelis Syura FPI Jawa Barat, dijarah dan dibakar segerombolan preman.

Demikianlah dinamika FPI, yang dapat menjadi petunjuk tentang pentingnya FPI bagi Umat Islam. Oleh karena itu, Umat Islam menentang upaya konspirasi untuk membubarkan FPI. Umat Islam faham, bahwa banyak hal yang harus diperbaiki pada FPI, tetapi keberadaan organisasi massa Islam ini penting bagi Umat Islam. Seraya terus mendorong FPI agar tampil lebih sejuk dan memperhatikan kaidah hukum, Umat Islam menentang upaya konspirasi untuk membubarkan FPI.

Sabtu, 09 Januari 2010

TOLAK PLURALISME, TEBARKAN RAHMATAN LIL'ALAMIIN

Beberapa hari setelah Gus Dur (KH. Abdurrahaman Wahid) meninggal dunia muncul eforia kepahlawanan bagi dirinya. Beberapa tokoh nasional menawarkan beberapa sebutan baginya, antara lain: bapak pluralisme, dan ikon pluralisme.
Dalam perspektif kritis Islami, tawaran beberapa tokoh nasional ini merisaukan, sebab pluralisme bertentangan dengan nilai-nilai Islam, sehingga Majelis Ulama Indonesia (MUI) dalam fatwanya No.7/MUNAS VII/MUI/11/2005 telah menetapkan hukum "haram" bagi pluralisme, sekularisme, dan liberalisme.
Banyak tokoh nasional tidak kritis dalam memaknai terminologi (istilah) "pluralisme" atau "pluralism" yang disusupkan ke Indonesia. Mereka gagal mengenali bahaya laten yang disembunyikan dalam pluralisme. Faham ini seringkali disalah-artikan sebagai faham yang toleran terhadap berbagai perbedaan pemikiran, agama, kebudayaan, peradaban, dan lain-lain.
Sesungguhnya pluralisme, adalah faham yang berupaya meruntuhkan "truth claim" (klaim kebenaran) yang mendasari suatu agama. Melalui faham ini diupayakan agar manusia menganggap semua agama benar, sehingga tak diketahui lagi bedanya antara benar dengan salah. Target berikutnya dari faham ini adalah melemahkan konsepsi kebenaran Umat Islam atas agamanya (Agama Islam), sehingga Umat Islam tidak lagi sepenuhnya mengakui kebenaran Agama Islam, karena agama lain juga benar.
Kondisi ini tentu menguntungkan Barat (Amerika Serikat, Inggris, Israel, dan sekutu-sekutunya) yang gemar melakukan kedzaliman di dunia (lihat kasus Palestina, Afghanistan, Iraq, Abu Ghraib, dan Guantanamo), karena satu-satunya komunitas manusia yang terus bersikap kritis terhadap Barat dengan berbasis agama (sehingga tak mudah ditipu dengan permainan media massa), adalah Umat Islam. Apabila keberagamaan Umat Islam menurun atau tersesatkan, maka Baratlah yang paling banyak mengambil keuntungan, karena mereka dapat leluasa berbuat kedzaliman di muka bumi (alam semesta), tanpa khawatir ada pihak yang mengetahui kedzalimannya.
Sesungguhnya, memeluk suatu agama adalah pilihan manusia yang bersifat asasi (sesuai dengan Hak Asasi manusia). Ketika memilih suatu agama tertentu maka manusia yang bersangkutan telah mempertimbangkan tingkat kebenaran, kebaikan, dan keindahan agama tersebut. Oleh karena itu, truth claim suatu agama adalah hal yang wajar dan bersifat asasi (sesuai dengan Hak Asasi Manusia).
Dalam Agama Islam, truth claim tidaklah dilakukan oleh Rasulullah Muhammad SAW dan pengikutnya. Dengan kata lain, dalam Agama Islam, truth claim tidaklah dilakukan oleh manusia, melainkan oleh Tuhan Yang Maha Esa, yaitu Allah SWT. Tepatnya, Allah SWT-lah yang melakukan truth claim, atau menyatakan kebenaran Agama Islam dibandingkan dengan agama-agama lainnya. Oleh karena itu, siapapun di dunia ini, tidak boleh memprotes Umat Islam atas truth claim yang dilakukannya, karena Umat Islam hanya menyampaikan dan melakukan segala sesuatu yang diperintahkan Allah SWT, termasuk truth claim yang dilakukan Allah SWT.
Allah SWT berfirman, "Sesungguhnya agama yang diridhai di sisi Allah hanyalah Islam" (QS.3:19). Pada bagian ayat yang lain dalam Al Qur'an, Allah SWT menerangkan, bahwa Allah SWT menolak siapapun yang memeluk agama selain Islam (lihat QS.3:85). Allah SWT menolak truth claim yang dilakukan penganut agama selain Islam dalam QS.9:30-31, dan Allah SWT memandang orang-orang yang menolak memeluk Islam sebagai orang-orang kafir (lihat QS.5:72). Allah SWT menjelaskan, "Mereka menyembah selain Allah, tanpa keterangan yang diturunkan oleh Allah. Mereka tidak memiliki ilmu, dan tidaklah orang-orang dzalim itu memiliki pembela" (QS.67:71)
Oleh karena itu, Umat Islam menolak pluralisme (faham semua agama benar), namun mengakui dan menghormati adanya pluralitas (keaneka-ragaman agama yang dianut manusia). Bagi Umat Islam, upaya untuk menggalang kerjasama dan mereduksi konflik antar umat beragama, bukanlah dengan menebarkan pluralisme; melainkan dengan menebarkan semangat rahmatan lil'alamiin (memberi manfaat optimal bagi alam semesta).
Penebaran rahmatan lil'alamiin, tidak akan mengorbankan aqidah, ibadah, muamallah, adab dan akhlak; karena rahmatan lil'alamiin adalah buah dari aqidah, ibadah, muamallah, adab, dan akhlak.
Allah SWT berfirman, "Hai manusia! Sesungguhnya Allah menciptakan kalian terdiri dari laki-laki dan perempuan, serta Allah menjadikan kalian berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar saling kenal mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kalian, adalah orang yang paling bertaqwa di sisi Allah" (QS.49:13).
Dengan demikian, bagi Umat Islam, dalam konteks ini, tidak ada kata lain, selain, "Tolak Pluralisme, Tebarkan Rahmatan Lil'alamiin."

Senin, 09 Februari 2009

TOLAK LIBERALISME

Liberalisme bertentangan dengan nilai-nilai Islam. Oleh karena itu, setiap muslim wajib menolak liberalisme dalam praktek kehidupan manusia. Ada tiga alasan yang menunjukkan keburukan liberalisme, yaitu:
Pertama, liberalisme berbasis pada pemikiran "semua boleh" dan antroposentris. Semua boleh sepanjang tidak bertentangan dengan norma-norma yang dianut masyarakat, meskipun bertentangan dengan nilai-nilai yang diamanatkan Tuhan. Dasar argumentasi liberalisme bertumpu pada posisi manusia sebagai pusat alam semesta (antroposentris), yang diwujudkan dengan penerapan hak asasi dan kepentingan manusia, yang seringkali bertentangan dengan hak asasi Tuhan.
Kedua, liberalisme berupaya menyusupkan pandangan yang berlebihan pada inklusivitas dan pluralitas manusia. Akibatnya tiap manusia cenderung kehilangan identitas fitrahnya sebagai makhluk ciptaan Tuhan. Ketika seorang manusia telah kehilangan identitas fitrahnya, maka segeralah dia didesakkan dengan identitas baru, sebagai agen peradaban Barat.
Uniknya, ketika sebagian masyarakat Barat di Eropa, Amerika, dan Australia berbondong-bondong memeluk agama Islam, sebagai agama pencerahan, maka para agen baru peradaban Barat justru sibuk "menjual" nilai-nilai Barat di lingkungannya.
Ketiga, liberalisme merupakan basis bagi berkembangnya faham sekuler, yang menyatakan bahwa nilai-nilai Islam tak layak menata seluruh aspek kehidupan manusia. Bagi kaum sekuler nilai-nilai Islam hanya akan diposisikan sebagai ritus pribadi tanpa makna.
Banyak pihak sengaja melupakan historisitas faham sekuler, yang diawali oleh penemuan para ilmuwan, seperti Galileo Galilei (1564-1642). Pada saat itu hasil penemuan para ilmuwan ini ternyata bertolak belakang dengan doktrin keagamaan yang dibangun oleh institusi agama di Eropa. Akibatnya para ilmuwan harus menjalani hukuman, bahkan hingga hukuman mati seperti yang dialami oleh Galileo Galilei. Oleh karena itu, para ilmuwan sosial kemudian menyerukan agar ada pemisahan antara agama (di Eropa) dengan kehidupan berbangsa dan bernegara. Hal inilah yang kemudian berkembang menjadi faham sekuler.
Oleh karena itu, setiap muslim wajib menolak liberalisme yang nyata-nyata menolak keberadaan dan kekuasaan Allah SWT, Tuhan Yang Maha Esa (lihat QS.112:1-4). Setiap muslim wajib menolak liberalisme, karena pada akhirnya liberalisme identik dengan kekafiran. Tanpa liberalisme Umat Manusia insyaAllah akan lebih berbahagia, dan lebih TRANSHUME (TRANSenden, HUManis, dan Emansipatori).

Selasa, 20 Januari 2009

REKONSTRUKSI MINDSET

Rekonstruksi dapat diartikan sebagai usaha menyusun atau membangun kembali sesuatu, yang tersusun atau terbangun tidak sebagaimana mestinya. Melalui rekonstruksi, diharapkan sesuatu dapat disusun sebagaimana mestinya, sesuai dengan fitrah dan kebutuhannya.
Karena satu dan lain hal, boleh jadi mindset (pola pikir) seorang manusia tersusun tidak sebagaimana mestinya. Tidak jarang seorang manusia mendapat tarikan dari liberalisme atau konservatisme. Tarikan ini timbul dari interaksi seorang manusia dengan lingkungan sosialnya.
Oleh karena itu, seorang manusia hendaknya bersungguh-sungguh berlindung kepada Allah SWT, dan berikhtiar optimal dengan meneladani Rasulullah Muhammad SAW, agar tarikan liberalisme atau konservatisme gagal memperdayakan dirinya. Seorang manusia harus berada pada "jalan yang lurus", yaitu jalan yang diridhai Allah SWT, dan bukan jalan yang sesat (liberalisme atau konservatisme), yaitu jalan yang dimurkai Allah SWT.
Berbekal kesadaran inilah seorang manusia merekonstruksi mindsetnya, dengan menundukkan diri pada Al Qur'an dan Al Hadist. Ia memposisikan Al Qur'an dan Al Hadist sebagai pedoman dan penjelas kehidupan. Mindset seorang manusia yang telah Islami ini mencerminkan sebuah konsepsi, yaitu "Maha Benar Allah, dengan segala firmanNya".
Demikianlah yang selayaknya dilakukan oleh seorang manusia, agar ia selamat di dunia dan di akherat. Hal ini pulalah yang mendesak untuk dilakukan oleh suatu masyarakat, hingga akhir zaman. Rasulullah Muhammad SAW pernah bersabda (berdasarkan wahyu). "Tidaklah akan terjadi kiamat, sampai Umat Islam berhasil mengalahkan Yahudi."

Senin, 06 Oktober 2008

TERBUKTI BUSUNG LAPAR

Hari Kamis tanggal 27 Desember 2007, di blog ini (Sosiologi Dakwah), saya mengkritik pandangan Francis Fukuyama dan para pengikutnya (termasuk di Indonesia) yang menyatakan, bahwa Kapitalisme dan Demokrasi Liberal (KDL) telah berhasil mengalahkan Komunisme dan Sosialis (KS), karena KDL memiliki keunggulan yang besar. Monumenta pemikiran ini tertuang dalam buku Francis Fukuyama, "The End of History and The Last Man" (1992).
Dalam kritik terhadap pandangan ini, saya menyatakan bahwa pertarungan antara KDL versus KS adalah seperti pertarungan antara dua petinju yang menderita busung lapar. Kedua-keduanya akan jatuh karena kelaparan, bukan karena ditinju oleh lawannya. Keduanya tumbang, karena masing-masing memiliki kelemahan yang akan menumbangkan dirinya sendiri. Sayangnya, yang tumbang belakangan menganggap yang tumbang lebih dahulu, adalah korban dari tinjunya, padahal tidak. Pihak yang tumbang pertama adalah korban dari kelemahannya sendiri. Sesudah itu, lawannya akan menjadi pihak yang tumbang berikutnya, karena juga mengidap kelemahan dalam dirinya.
Pihak yang tumbang pertama (tahun 1990-an) adalah Uni Sovyet, dan kawan-kawannya yang menerapkan komunisme dan sosialis. Sementara itu, saat ini (tahun 2008), pihak yang tumbang kedua adalah Amerika Serikat dan kawan-kawannya yang menerapkan kapitalisme dan demokrasi liberal. Inilah bukti, bahwa Amerika Serikat dan kawan-kawannya adalah penderita "busung lapar".
Fenomena "busung lapar" atau kelemahan internal dari kapitalisme dan demokrasi liberal yang menjadi fondasi Amerika Serikat mulai nampak pada tanggal 16 Maret 2008, perusahaan yang bernama "Bear Stearn Co's" mengalami kebangkrutan dan kemudian (untuk penyelamatan) dibeli oleh "JP Morgan Chase and Co" atas dukungan Pemerintah Amerika Serikat.
Selanjutnya, pada tanggal 11 Juli 2008, Pemerintah Amerika Serikat mengambil alih "Indy Mac Bank", karena bank ini mengalami kebangkrutan.
Pada tanggal 7 September 2008, Pemerintah Amerika Serikat kembali mengambil alih "Fannie Mae" dan "Freddie Mac", yang merupakan perusahaan perumahan yang mengalami kebangkrutan.
Kemudian berlanjut, pada tanggal 11 September 2008, Pemerintah Amerika Serikat berupaya menyelamatkan "Lehman Brothers", yang merupakan perusahaan perbankan terkemuka.
Pada tanggal 17 September 2008, Pemerintah Amerika Serikat berupaya menyelamatkan AIG (American International Group), yang merupakan perusahaan asuransi terkuat yang ternyata terancam bangkrut. Dana yang disiapkan untuk penyelamatan ini adalah 85 milyar dolar Amerika Serikat atau setara dengan Rp. 799 triliun.
Akhirnya pada awal Oktober 2008, Presiden Amerika Serikat, George Walker Bush (manusia terjahat di dunia), mengajukan proposal penyelamatan keuangan Amerika Serikat kepada Parlemen. Tentu saja kemudian proposal ini disetujui oleh Parlemen. Namun ada tiga hal yang dapat dipetik dari fenomena proposal ini, yaitu: Pertama, hal ini merupakan pengakuan dan sekaligus pengumuman bahwa Amerika Serikat sedang mengalami krisis keuangan. Kedua, hal ini berarti Negara Amerika Serikat akan mengeluarkan dana besar untuk penyelamatan krisis keuangan, padahal perang di Afghanistan dan Iraq masih membutuhkan dana yang sangat besar. Ketiga, hal ini berarti kapitalisme dan demokrasi liberal tidak cocok buat rakyat Amerika Serikat, karena berdampak pada pengurangan kesejahteraan, dan kewajiban menyerahkan nyawa atas nama negara di Afghanistan dan Iraq.
Itulah sebabnya, saat ini banyak rakyat Amerika Serikat yang berbondong-bondong menjadi muslim. Kecerdasan mereka yang relatif tinggi, akan lebih mudah menerima nilai-nilai Islam daripada nilai-nilai kapitalisme dan demokrasi liberal.
Terimakasih yaa Allah SWT.
Dan selamat datang di nilai-nilai Islam, saudara-saudaraku warga Amerika Serikat.

Rabu, 07 November 2007

FENOMENA KESESATAN

Ketika manusia berkenan membaca dan memahami Al Qur'an, maka ia akan faham dengan fenomena kekinian, yaitu fenomena kesesatan. Ia akan faham ketika Majelis Ulama Indonesia (MUI) menyebutkan tentang adanya beberapa aliran sesat di Indonesia. Bukankah bagian akhir dari Al Qur'an telah mengisyaratkan fenomena ini dalam Surah An Naas atau QS.114:1-6,
Allah SWT berfirman, "Katakanlah, "Aku berlindung kepada Allah yang memelihara manusia, yang menguasai manusia, Tuhan bagi manusia; dari kejahatan bisikan setan yang tersembunyi, yang membisikkan dalam dada (kesadaran) manusia; dari jenis jin dan manusia" (QS.114:1-6).
Berdasarkan firman Allah SWT tersebut difahami bahwa: Pertama, ada jenis jin dan manusia yang selalu berupaya melakukan bisikan setan, yang antara lain berwujud kesesatan.
Kedua, bisikan itu ditujukan atau diarahkan pada manusia.
Ketiga, bisikan itu menyerang akal manusia, yang sesungguhnya merupakan instrumen untuk mengingat Allah SWT.
Keempat, ada manusia-manusia tertentu yang akalnya dapat "dimatikan" oleh serangan tersebut, misal melalui sihir, maka kesadarannya menjadi rusak.
Kelima, ada pula manusia-manusia tertentu yang akalnya tidak "dimatikan" oleh serangan tersebut, namun mindsetnya diserang dengan berbagai pemikiran kufur, seperti: sekularisme, liberalisme, atheisme, dan lain-lain. Akibatnya mindsetnya menjadi rusak, yang menyebabkan rusaknya kesadaran manusia.
Keenam, pada saat kesadaran manusia rusak karena sihir maupun karena pemikiran kufur, maka saat itulah manusia tersebut tergiring pada kesesatan.

Selasa, 14 Agustus 2007

LHA... FAKTANYA...?

Hermawan Kertajaya dalam bukunya "On Marketing" (2003:112) menyatakan, bahwa di banyak negara, masyarakat tersegmentasi menjadi: Pertama, kelompok kaya urban, sebesar 3 % dari populasi. Kedua, kelompok kaya rural, sebesar 7 % dari populasi. Ketiga, kelompok miskin urban, sebesar 27 % dari populasi. Keempat, kelompok miskin rural, sebesar 63 % dari populasi.
Bila pernyataan Hermawan Kertajaya dilihat dalam konteks kekinian (tahun 2007), maka pernyataan tersebut masih relevan. Bahkan boleh jadi prosentase kelompok miskin di banyak negara cenderung meningkat (silahkan melihat data melalui internet). Demikian pula dalam kasus Indonesia, bukankah tidak terlalu sukar bagi kita untuk mencari orang miskin di sekitar kita?
Pertanyaannya, mengapa demikian? Bagaimana dengan globalisasi? Bagaimana dengan liberalisasi perdagangan? Dan juga, bagaimana dengan kapitalisasi? Atau, bagaimana dengan globalisme? Bagaimana dengan liberalisme? Dan juga, bagaimana dengan kapitalisme?
Ternyata, globalisasi, liberalisasi perdagangan, kapitalisasi, globalisme, liberalisme, dan kapitalisme telah "menina-bobokan" masyarakat dunia. Masyarakat dunia menyambut dengan gegap gempita, penuh sorak sorai, seperti bertemu dewa dan dewi. Namun ternyata globalisasi, liberalisasi perdagangan, kapitalisasi, globalisme, liberalisme, dan kapitalisme telah gagal mengentaskan kemiskinan, serta telah gagal memperhatikan dan membantu kelompok miskin keluar dari kemiskinannya.
Pertanyaan berikut, mengapa masyarakat dunia masih gegap gempita dan penuh sorak sorai bergembira menerima globalisasi, liberalisasi perdagangan, kapitalisasi, globalisme, liberalisme, dan kapitalisme? Untuk menjawab pertanyaan ini mari kita perhatikan sindiran dari Allah SWT kepada masyarakat dunia.
Allah SWT berfirman, bahwa yang demikian itu adalah karena mereka benar-benar kaum yang tidak mau mempergunakan akal (lihat QS.5:58). Karena sesungguhnya kehinaan akan menimpa kaum yang tidak mempergunakan akalnya (lihat QS.10:100). Oleh karena itu Allah SWT memberikan tanda-tanda (simbol) yang terang kepada kaum yang berakal (lihat QS.29:35). Maka tentulah tidak dapat mengambil pelajaran, selain kaum yang mempunyai pikiran (lihat QS.3:7).
Oleh karena itu, sekiranya penduduk suatu negara beriman dan bertaqwa, pastilah Allah SWT akan melimpahkan kepada mereka keberkahan dari langit dan bumi. Tetapi mereka mendustakan ayat-ayat Allah SWT, maka mereka mendapat kesulitan karena perbuatan mereka itu (lihat QS.7:96).
Sesungguhnya keimanan dan ketaqwaan penduduk suatu negara, akan mendorong mereka berada pada koridor nilai-nilai Islam, yaitu aqidah (sistem Ketuhanan), ibadah (sistem peribadatan), muamallah (sistem interaksi sosial), adab (sistem etika atau kesopanan), dan akhlak (sistem ekspresi orang yang beraqidah, beribadah, bermuamallah, dan beradab). Koridor ini akan mengantarkan mereka pada karakter fathonah (cerdas), amanah (dapat dipercaya), shiddiq (obyektif), tabligh (informatif), istiqomah (konsisten), ikhlas (tulus hati), dan ridha (lapang dada). Kondisi ini selanjutnya akan memberi peluang bagi penduduk negara tersebut untuk membangun peradaban yang transcendent (meruhani), humanis (sesuai fitrah kesucian manusia), dan emansipatori (membebaskan manusia dari jebakan jahiliah modern).