ABOUT ISLAM

Tampilkan postingan dengan label tentara. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label tentara. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 14 Agustus 2010

ADZAB BAGI ARIEL SHARON

Ariel Sharon lahir dari keluarga Yahudi di Palestina tahun 1928, yang saat itu dijajah oleh Inggris. Sesuai dengan sifat perusak yang dianutnya, Pemerintah Inggris memiliki program memasukkan warga Yahudi sebanyak-banyaknya ke wilayah Palestina sejak tahun 1920. Akibatnya, berbondong-bondong warga Yahudi memasuki Palestina dan secara sistematis berhasil mengusir warga Palestina dari beberapa wilayah Palestina.

Pada saat berusia 14 tahun Ariel Sharon bergabung dalam “Hagana”, sebuah organisasi militer Bangsa Yahudi yang berupaya mengusir warga Palestina dari tanah Palestina melalui berbagai tindakan teror dan pembunuhan. Hagana inilah yang dikemudian hari menjadi inti kekuatan Tentara Israel.

Tahun 1953 Ariel Sharon menjadi Komandan Kesatuan 101 Tentara Israel yang bertugas mengusir warga Palestina dari desa-desa dan kota-kota Palestina, dengan tindak biadab sebagai berikut:

Pertama, Agustus 1953 Ariel Sharon memimpin pasukannya membantai warga Palestina (terutama wanita dan anak-anak) di Kamp Pengungsi Al Buraij, Gaza.

Kedua, Oktober 1953 Ariel Sharon memimpin pasukannya membantai warga Palestina (terutama wanita dan anak-anak) di Desa Qibya.

Ketiga, tahun 1956 Ariel Sharon bergabung dengan Tentara Inggris dan Perancis yang membantai warga Sudan yang sedang bekerja membangun jalan di Mesir.

Keempat, tahun 1967 Ariel Sharon menjabat Komandan Tentara Israel Wilayah Selatan, yang bertugas membantai warga Palestina di Palestina Bagian Selatan. Saat itulah terjadi penghancuran desa-desa dan kota-kota Palestina (termasuk Jalur Gaza) oleh pasukan Ariel Sharon, serta pembantaian terhadap warga Palestina. Termasuk dalam hal ini, mengusir 17 ribu warga Palestina dari desa-desa dan kota-kota Palestina dan memaksa mereka mengungsi ke Yordania.

Kelima, pada 16 September 1982 pasukan Ariel Sharon mengepung Kamp Pengungsi Shabra dan Shatila yang berada di wilayah Libanon, kemudian memfasilitasi Tentara Libanon Selatan (South Lebanon Army) yang non muslim dan anti Palestina untuk membantai warga Palestina. Akibatnya 12 ribu warga Palestina (terutama wanita dan anak-anak) tewas.

Keenam, pada tahun 2000 Ariel Sharon dengan sombongnya memasuki Masjid Al Aqsa dengan dikawal dua ribu Polisi dan Tentara Israel. Tindakan ini dilakukan untuk menunjukkan pada dunia, bahwa Israel adalah penguasa atas Masjid Al Aqsa.

Ketujuh, pada tahun 2001 Ariel Sharon menjadi Perdana Menteri Israel, yang salah satu tindak biadabnya adalah menyerang desa-desa dan kota-kota Palestina di Tepi Barat dan Jalur Gaza, dengan tujuan membantai warga Palestina dan infrastruktur Palestina. Kebiadaban Ariel Sharon terus menerus berlangsung, selama ia menjabat sebagai Perdana Menteri Israel.

Kebiadabannya baru terhenti, ketika Allah SWT berkenan membuatnya koma pada tanggal 4 Januari 2006 akibat stroke berat.

Sejak terkena stroke, awalnya Ariel Sharon dirawat di Rumah Sakit Hadasa di Israel, namun kemudian dipindah ke Rumah Sakit Syaiba di Israel. Beberapa dokter rumah sakit memberitakan, bahwa Ariel Sharon mengalami pembusukan organ tubuh secara akut. Akibatnya otaknya mengalami penyumbatan, yang berakibat pada kelumpuhan. Sampai saat ini (tahun 2010), Ariel Sharon masih hidup di rumah sakit dalam keadaan organ tubuh terus membusuk, dan koma.

Dengan demikian sejak 4 Januari 2006 sampai dengan saat ini, atau telah 5 tahun Ariel Sharon mengalami adzab Allah SWT di dunia, yang berupa pembusukan organ tubuh secara terus menerus. Dalam menghadapi adzab Allah SWT di dunia ini, Ariel Sharon hanya dapat koma dan lumpuh tak berdaya. Namun adzab Allah SWT bukanlah hanya di dunia ini, dalam berbagai firmanNya di Al Qur’an, Allah SWT menjanjikan adzab yang lebih pedih di akherat.

Allah SWT berfirman, “Dan jangan sekali-kali orang-orang kafir menyangka, bahwa pemberian tangguh Kami (Allah) kepada mereka adalah lebih baik bagi mereka. Sesungguhnya Kami memberi tangguh kepada mereka, hanyalah supaya bertambah-tambah dosa mereka, dan bagi mereka disediakan adzab yang menghinakan” (QS.3:178).

Dengan demikian, umat manusia mengetahui bahwa Allah SWT menghentikan kebiadaban Ariel Sharon melalui serangan stroke dan pembusukan organ tubuh pada tahun 2006 hingga saat ini (2010). Umat manusia saat ini, memang belum mengetahui tindakan Allah SWT di dunia terhadap George Walker Bush yang telah membantai jutaan warga Afghanistan (tahun 2002) dan warga Iraq (tahun 2003). Umat manusia juga belum mengetahui tindakan Allah SWT terhadap manusia-manusia dzalim yang saat ini gemar melecehkan dan menghina Umat Islam.

Semoga, Allah SWT berkenan memperlihatkan tindakanNya di dunia …

Khusus bagi Bangsa Indonesia, ”Selamat Hari Ulang Tahun Kemerdekaan Negara Kesatuan Republik Indonesia, 17 Agustus 1945 – 17 Agustus 2010, Semoga Allah SWT Berkenan Meridhai...”

Jumat, 30 Januari 2009

FENOMENA BUNUH DIRI

Ada fenomena menarik di kalangan tentara Amerika Serikat yang menjajah Afghanistan dan Iraq, yaitu "bunuh diri". Sejak menjajah Afghanistan (tahun 2002) dan Iraq (tahun 2003) telah banyak tentara Amerika Serikat yang melakukan bunuh diri. Selama tahun 2008 saja telah 143 orang tentara Amerika Serikat melakukan bunuh diri.
Dalam perspektif Islam, fenomena ini telah dijanjikan oleh Allah SWT, di mana Allah SWT tidak akan meridhai siapapun, dan tidak akan memberi petunjuk (hidayah) kepada siapapun yang telah berbuat dzalim. Penjajahan Amerika Serikat dan sekutu-sekutunya terhadap Afghanistan dan Iraq merupakan bentuk kedzaliman di masa kini, sehingga Allah SWT membiarkan para penjajah ini hidup dalam kesesatan, tanpa petunjuk, tanpa tujuan, dan tanpa kebahagian. Akibatnya, tentara para penjajah berupaya melakukan substitusi terhadap berbagai ketiadaan yang ditimpakan Allah SWT tersebut, dengan berbagai kegiatan seperti: meminum minuman keras (mabuk), berzinah, berjudi, dan perbuatan maksiat lainnya. Namun itu semua tetap tidak membahagiakan mereka. Akibatnya ribuan tentara Amerika Serikat mengalami gangguan jiwa, dan ratusan lainnnya melakukan bunuh diri.
Dalam perspektif sosiologi, ada beberapa penjelasan yang dapat diberikan terhadap maraknya bunuh diri di kalangan tentara Amerika Serikat, yaitu: Pertama, adanya fenomena fatalistic suicide. Fenomena ini menunjukkan adanya sebagian tentara Amerika Serikat yang tidak berdaya menghadapi tekanan keadaan di wilayah jajahan. Misalnya, ketidak-berdayaan tentara Amerika Serikat menghadapi Pejuang Muslim Afghanistan dan Iraq yang gigih berjuang, meskipun memiliki berbagai keterbatasan fasilitas. Hal ini menimbulkan tekanan berat bagi tentara Amerika Serikat yang berkelimpahan fasilitas, tapi kosong rohani.
Kedua, adanya fenomena anomic suicide. Fenomena ini menunjukkan adanya sebagian tentara Amerika Serikat yang merasa tidak adanya nilai-nilai bersama. Sebagian tentara ini merasa diperlakukan tidak adil, karena di saat warga negara Amerika Serikat hidup bebas, aman, dan nyaman di Amerika Serikat, mereka justru harus berhadapan dengan Pejuang Muslim Afghanistan dan Iraq yang tangguh, ulet, dan sangat militan. Terlebih-lebih lagi mereka ketahui, bahwa yang paling banyak menikmati keuntungan adalah beberapa pengusaha yang dekat dengan George Walker Bush.
Ketiga, adanya fenomena egoistic suicide. Fenomena ini menunjukkan adanya sebagian tentara Amerika Serikat yang telah terjebak oleh sistem nilai kapitalis dan liberalis yang kuat. Tetapi mereka kecewa karena sistem ini gagal memberi ketangguhan sikap juang pada diri mereka. Hal berbeda mereka temukan pada Pejuang Muslim Afghanistan dan Iraq, yang dalam jumlah sedikit dan fasilitas seadanya memiliki ketangguhan sikap juang yang tinggi. Satu hal yang tidak difahami oleh tentara Amerika Serikat adalah kenyamanan berada di "jalan" Allah SWT.
Keempat, adanya fenomena altruistic suicide. Fenomena ini menunjukkan adanya upaya dari sebagian tentara Amerika Serikat untuk "mempertuhankan" kepentingan bangsa dan negaranya, dengan cara berperang di Afghanistan dan Iraq. Namun mereka ini kemudian kecewa, ketika mengetahui bahwa penjajahan di Afghanistan dan Iraq dilakukan untuk kepentingan beberapa pengusaha yang dekat dengan George Walker Bush, dan untuk kepentingan mengamankan Negara Israel, yang selama ini "menjajah" Amerika Serikat.
Kelima, adanya fenomena individualistic suicide. Fenomena ini menjukkan adanya sebagian tentara Amerika Serikat yang merasa bahwa pengiriman mereka ke Afghanistan atau Iraq merupakan suatu proses pengasingan sosial. Hal ini dikarenakan mereka harus kehilangan kenyamanan berada di tanah airnya sendiri (Amerika Serikat) dengan berperang di Afghanistan atau Iraq, padahal yang harus mereka hadapi adalah ketangguhan dan keuletan Pejuang Muslim Afghanistan atau Iraq, yang terkenal memiliki basis rohani yang kuat.
Keenam, adanya fenomena institutional suicide. Fenomena ini menunjukkan adanya sebagian tentara Amerika Serikat yang merasa, bahwa negara mereka telah memaksa mereka melakukan bunuh diri massal dengan mengirim mereka ke Afghanistan atau Iraq. Hal ini dikarenakan negara mereka memaksakan perang terhadap suatu bangsa yang memiliki pijakan rohani yang kuat, yang bahagia ketika berjuang, dan sangat senang ketika berkorban demi kejayaan nilai-nilai Islam. Sebaliknya tentara Amerika Serikat harus berperang dalam basis nilai-nilai yang tidak memiliki unsur rohani, dan dicaci banyak bangsa beradab.
Inilah fenomena yang dapat dijelaskan dalam perspektif Islam dan sosiologi, sehingga memudahkan pemahaman terhadap maraknya bunuh diri di kalangan tentara Amerika Serikat, terutama yang bertugas menjajah di Afghanistan dan Iraq.