ABOUT ISLAM

Minggu, 18 September 2011

JANGAN MENIPU

Allah SWT mengingatkan, “Hai sekalian manusia, sungguh telah datang kepadamu pengajaran dari Tuhanmu (Allah), penyembuh penyakit-penyakit dalam dada, petunjuk dan rahmat bagi orang-orang yang beriman” (QS.10:57).


Istilah “penyakit-penyakit dalam dada” pada firman Allah SWT ini dapat dimaknai sebagai “berbagai kesalahan pemikiran dan persepsi manusia tentang sesuatu, yang kemudian menyesatkannya, hingga terasa sesak dadanya, karena sulit bernafas dengan baik disebabkan banyaknya persoalan yang tak terpecahkan.”


Salah satu penyakit dalam dada adalah kegemaran menipu diri sendiri dan orang lain. Oleh karena itu, manusia harus terus menerus mempelajari konsepsi kehidupan yang diajarkan Allah SWT, yang antara lain melarang seorang manusia menipu diri sendiri dan orang lain.


Menipu, adalah suatu pemikiran, sikap, tindakan, dan perilaku seseorang terhadap diri sendiri dan orang lain, yang mengakibatkan dirinya dan orang lain percaya pada sesuatu yang tidak benar.


Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan, agar seseorang dapat menghindarkan diri dari upaya menipu diri sendiri dan orang lain, yaitu dengan memperhatikan konsepsi tentang percaya (believe) dan benar (true). “Percaya”, adalah suatu kondisi di mana seseorang berpikir bahwa sesuatu itu benar. Sementara itu, “benar” adalah sesuatu yang real, sungguh-sungguh ada, dan tidak salah yang diakui berdasarkan fakta dan bukan berdasarkan khayalan.


Upaya menghindarkan diri dari menipu diri sendiri dan orang lain merupakan sesuatu yang penting, karena kemampuannya ini bukan saja akan berdampak bagi pelakunya, melainkan juga akan berdampak bagi orang lain (masyarakat).


Penguasa yang gemar menipu diri sendiri (dengan meyakini seolah-olah ia telah melakukan kebajikan dan berbuat adil pada rakyatnya), akan berkembang menjadi penguasa yang gemar menipu orang lain (rakyatnya). Penguasa seperti ini akan menjadikan fitnah sebagai instrumen profesinya, sehingga meskipun ia professional, keprofesionalannya berada dalam ranah sesat dan maksiat.


Dengan demikian “percaya” dan “benar” merupakan dua kata kunci yang penting karena berdampak luas bagi masyarakat. “Percaya” dan “benar” juga merupakan dua kata yang saling terkait dengan sangat erat, karena keduanya mempersyaratkan adanya fakta.


Agar seseorang dapat menghindarkan diri dari upaya menipu, maka ia perlu menjadikan fakta sebagai prasyarat pemikiran, sikap, tindakan, dan perilaku. Ketika fakta menjadi pertimbangan utama dalam pemikiran, sikap, tindakan, dan perilaku seseorang, maka ia akan mampu mengenali dirinya dan orang lain.


Ada pepatah menyatakan, "The first key to success is knowing yourself" (kunci pertama untuk sukses itu dimulai dengan mengenali dirimu sendiri). Upaya mengenali diri, akan menjadikan seseorang mampu menemukan potensi dan bakat unik yang telah dianugerahkan Allah SWT dalam dirinya.


Allah SWT menganugerahkan kemampuan unik pada diri tiap manusia yang diciptakanNya. Oleh karena itu, selalu ada perbedaan kemampuan antara manusia yang satu dengan manusia lainnya.


Perbedaan kemampuan ini tidaklah bersifat strukturatif (atas – bawah), sehingga tidaklah benar apabila ada sebagian masyarakat yang menempatkan kemampuan tertentu pada posisi superior (kuat dan berkuasa), sedangkan kemampuan yang lain berada pada posisi inferior (lemah dan tak berkuasa).


Sesungguhnya perbedaan kemampuan pada diri tiap-tiap manusia dimaksudkan agar manusia dapat saling melengkapi, dan saling memenuhi kebutuhan. Ketika ada anjuran agar manusia mengenali potensi dirinya, sebagian manusia menganggap anjuran itu kuno atau klise.


Tetapi sesungguhnya tidaklah demikian, karena adakalanya hingga tua ada manusia yang tidak tahu tentang potensi, bakat dan keinginan mulianya dalam hidup di dunia. Oleh karena itu, "Kenali dirimu, karena barangsiapa yang mengenali dirinya, maka dia insyaAllah akan mengenali Tuhannya (Allah SWT)."


Selamat berikhtiar, semoga Allah SWT meridhai…

Minggu, 11 September 2011

MAMPU MENGENDALIKAN DIRI

Pada “bulan suci”, yaitu Ramadhan, Umat Islam menunaikan Ibadah Puasa. Hikmah pelaksanaan Ibadah Puasa oleh Umat Islam pada Bulan Ramadhan antara lain sebagai bentuk latihan yang dilakukan oleh seseorang dalam mengendalikan diri, agar ia memiliki kepekaan sosial yang tinggi; selain kepekaan ruhani, yaitu berbakti kepada Allah SWT. Dengan kepekaan sosial yang tinggi, maka ia dapat membangun motivasi yang mampu merespon dinamika sosial.


Seseorang dikatakan mampu mengendalikan diri, apabila ia memiliki kekuatan dan aturan yang ditetapkan dan dipatuhi oleh diri sendiri, yang bersumber dari nilai-nilai Islam. Dengan demikian ia dapat berpikir, bersikap, bertindak, dan berperilaku sesuai dengan visi, misi, dan tujuan hidupnya.


Berdasarkan pengertian tersebut, maka ada dua hal penting dalam mengendalikan diri, yaitu kekuatan (power), dan aturan (rule). Kekuatan yang dimaksud dalam hal ini adalah kekuatan yang ada pada diri sendiri, yaitu kekuatan pemikiran, kekuatan sikap, kekuatan tindakan, dan kekuatan perilaku yang ada pada orang tersebut. Demikian pula dengan aturan, yaitu aturan yang ditetapkan oleh diri sendiri dan dipatuhi pula oleh diri sendiri, sehingga dapat mendukung munculnya kekuatan pemikiran, kekuatan sikap, kekuatan tindakan, dan kekuatan perilaku yang ada pada orang tersebut.


Orang yang mampu mengendalikan diri adalah orang yang memiliki kekuatan untuk mengendalikan (power to control), serta memiliki aturan untuk mengendalikan (rule to control). Bagi orang ini, kekuatan dan aturan adalah dua instrumen pribadi miliknya, yang ia gunakan untuk mengendalikan dirinya.


Kekuatan yang ada pada dirinya digunakan untuk memampukan dirinya dalam membangkitkan energi diri, yang akan mempengaruhi dan membentuknya menjadi orang yang terkendali. Demikian pula halnya dengan aturan yang ditetapkan dan dipatuhi oleh dirinya sendiri.


Baginya, aturan tersebut merupakan beberapa prinsip yang menjadi pegangan hidup. Aturan tersebut berisi instruksi pemikiran, sikap, tindakan, dan perilaku, yang akan memimpinnya agar hidup dalam cara-cara yang biasa, namun mampu memberikan hasil yang luar biasa. Hasil tersebut berupa kebajikan yang mampu membahagiakan manusia, dan menjadikan Allah SWT berkenan memberi nilai positif padanya atas segenap proses yang dilalui.


Orang yang mampu mengendalikan diri mengerti, bahwa Allah SWT melarang manusia mengabaikan akalnya. Seharusnya manusia memanfaatkan dan mengembangkan akalnya, agar ia dapat memunculkan kekuatan pemikiran, yang kemudian akan mendorong munculnya kekuatan, sikap, tindakan, dan perilaku.


Tanpa kesediaan memanfaatkan dan mengembangkan akal, manusia akan sulit mengendalikan diri, karena kekuatan dan aturan yang ia tetapkan dan laksanakan sendiri membutuhkan akal dalam operasionalisasinya. Sementara itu, tanpa kemampuan mengendalikan diri, maka manusia akan hidup dalam ombang-ambing badai individual (dari diri sendiri) dan badai sosial (dari pihak lain).


Oleh karena itu, bangun terus kemampuan mengendalikan diri, serta kembangkan dan manfaatkan akal untuk menggalang kekuatan dan aturan yang mampu membahagiakan. Jadikan kemampuan mengendalikan diri sebagai pendorong munculnya pemikiran, sikap, tindakan, dan perilaku yang mampu mewujudkan kebajikan.


Allah SWT mengingatkan dalam Al Qur’an agar seorang muslim sungguh-sungguh mempergunakan akalnya (lihat QS.5:58). Pemahaman manusia saat ini telah sampai pada pengertian bahwa akal identik dengan logika, rasionalitas dan proses penyimpulan. Dengan demikian akal merupakan instrumen yang penting dalam kehidupan seorang manusia.


Hanya saja yang penting untuk diperhatikan prosedurnya bukanlah mengakalkan Al Qur’an, melainkan meng-Al Qur’an-kan akal. Tepatnya menundukkan akal manusia pada kebenaran Allah SWT yang tertuang dalam Al Qur’an. Allah SWT menjelaskan bahwa kebenaran itu ditentukan oleh Allah SWT (lihat QS.2:147), kalau kebenaran itu ditentukan oleh manusia maka terjadilah kerusakan di alam semesta (lihat QS.23:71).


Selamat berikhtiar, semoga Allah SWT meridhai...

Minggu, 04 September 2011

MAMPU BERDIRI SENDIRI

Pada postingan sebelumnya, blog ini pernah menyebutkan tentang “beralamat sendiri”, yang mengandung makna mandiri. Seseorang dikatakan telah beralamat sendiri, bila pemikiran, sikap, dan perilaku orang tersebut tidaklah dideterminir atau ditentukan oleh pihak lain di luar dirinya. Berbekal kemampuan, kepercayaan, dan potensi yang dimilikinya, orang tersebut menetapkan sendiri pemikiran, sikap, dan perilakunya.


Pengertian “berdiri sendiri” memiliki persamaan dan perbedaan dengan “beralamat sendiri”. Persamaannya, keduanya sama-sama mengandung makna mandiri. Hanya saja, beralamat sendiri belum memperhitungkan kemampuan menahan “badai sosial”, sedangkan berdiri sendiri sudah memperhitungkan kemampuan menahan “badai sosial”.


Badai sosial merupakan sesuatu yang lazim dialami oleh seorang manusia kapanpun dan di manapun ia berada. Semakin besar peran yang dimainkan oleh seseorang dalam mewujudkan kebajikan, maka akan semakin besar pula badai sosial yang menerpanya.


Sebagai contoh, seseorang yang berperan dalam upaya merubah perilaku sekelompok penjudi agar tidak lagi berjudi, akan diterpa oleh berbagai tekanan dan intimidasi dari pihak-pihak yang selama ini memperoleh keuntungan besar dari bisnis judi. Semakin besar peran orang tersebut dalam merubah perilaku penjudi, maka akan semakin besar pula tekanan dan intimidasi dari pihak-pihak yang mendukung perjudian.


Seseorang yang mampu berdiri sendiri, adalah seseorang yang pemikiran, sikap, dan perilakunya tidak dideterminir atau ditentukan oleh pihak lain di luar dirinya, melainkan dia sendirilah yang menentukannya. Berbekal kemampuan, kepercayaan, dan potensi yang dimilikinya, orang tersebut menetapkan sendiri pemikiran, sikap, dan perilakunya dalam menahan dan menepis badai sosial.


Contoh, seseorang yang merintis usaha rumah makan di lingkungan yang telah banyak berdiri rumah makan, maka selain harus menyajikan makanan yang halal dan sehat dalam suasana nyaman, ia juga harus memiliki kiat dan jaringan pertemanan yang siap menghadapi intimidasi dari pemilik rumah makan yang telah ada sebelumnya dan gangguan dari preman setempat.


Saat ini, berdiri sendiri merupakan suatu kemampuan yang penting bagi manusia, karena kemampuan ini menjadikan manusia dapat menghadapi badai sosial dengan mata terbuka, dan tetap fokus pada kebajikan yang diperjuangkan. Kebajikan merupakan perbuatan baik yang bermanfaat di dunia dan akherat bagi yang membantu dan yang dibantu.


Untuk itu, seseorang yang ingin memiliki kemampuan berdiri sendiri hendaknya bersungguh-sungguh membangun kecerdasannya. Ia juga harus terus menerus berinteraksi dengan orang-orang yang cerdas dunia dan cerdas akherat.


Kata kuncinya, “Jangan pernah kehilangan kesempatan berbuat kebajikan, karena hidup di dunia hanya satu kali dan tak akan terulang kembali.”


Allah s.w.t. berfirman, “Dan janganlah engkau turut segala sesuatu yang tidak engkau ketahui ilmunya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan, dan hati, semuanya akan ditanya” (QS.17:36).


Dengan demikian, seorang manusia yang ingin mampu berdiri sendiri, hendaknya: Pertama, bersungguh-sungguh mempelajari ilmu tentang kemampuan berdiri sendiri. Hal ini akan menjadikan pendengaran, penglihatan, dan hatinya menjadi pendengaran, penglihatan, dan hati yang mampu berkontribusi bagi yang bersangkutan, dalam mewujudkan kemampuan berdiri sendiri.


Kedua, bersungguh-sungguh mempelajari ilmu tentang kebajikan dalam persepektif Allah SWT. Hal ini akan menjadikan pendengaran, penglihatan, dan hatinya menjadi pendengaran, penglihatan, dan hati yang mampu berkontribusi bagi yang bersangkutan, dalam melakukan kebajikan.


Selamat berikhtiar, semoga Allah SWT meridhai…

Minggu, 21 Agustus 2011

MAMPU SADAR DIRI

Adakalanya seseorang belum berhasil, ketika ia berupaya menjadi orang yang lebih baik dari sebelumnya. Untuk itu, ia jangan berputus asa, atau jangan patah semangat. Saat itulah ia berkesempatan memanfaatkan kemampuan sadar-dirinya.


Allah SWT berfirman, “Maka hadapkanlah dirimu dengan lurus kepada agama (Islam), sebagai fitrah (agama) Allah yang telah Dia ciptakan manusia atasnya. Tidak ada perubahan bagi ciptaan Allah, itulah agama yang lurus. Tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui dalam keadaan bagaimana kelak kembali kepadaNya. Dan bertaqwalah kepadaNya, serta dirikanlah shalat. Dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang musyrik, yaitu orang-orang yang memecah belah agama mereka sehingga menjadi beberapa golongan. Tiap-tiap golongan bangga dengan hal-hal yang ada pada mereka” (QS.30:30-32).


Berdasarkan firman Allah SWT ini, maka setiap manusia hendaknya mampu sadar diri, agar ia mampu menghadapkan dirinya dengan lurus kepada Islam sebagai fitrah bagi manusia. Sadar dirilah, agar dapat membantu diri sendiri yang sedang berupaya menjadi orang yang mampu berbuat kebajikan.


Sebagaimana diketahui, sadar diri adalah kemampuan seseorang dalam mengetahui tentang adanya atau terjadinya sesuatu pada dirinya, yang dengan itu ia bangkit dan mampu mengambil suatu keputusan, pilihan, atau upaya yang tepat dalam melakukan perbaikan untuk mencapai kebajikan.


Sadar diri bermanfaat bagi seseorang, terutama ketika ia ingin mengetahui posisinya dalam berinteraksi dengan orang lain atau masyarakat. Berdasarkan posisi inilah ia dapat mengambil suatu keputusan, pilihan, atau upaya yang tepat dalam melakukan perbaikan untuk mencapai kebajikan.


Agar mampu sadar diri seseorang perlu memiliki informasi dan pemahaman yang memadai tentang dirinya dan kebajikan yang diperjuangkannya. Informasi ini diperlukan agar ia mengetahui jarak antara dirinya dengan kebajikan.


Bila antara dirinya dengan kebajikan terdapat jarak yang terlalu jauh, maka ia harus berupaya mendekatkan kualitas dirinya dengan kebajikan. Dengan kata lain, kualitas dirinya harus sesuai dengan kebajikan.


Oleh karena itu, seseorang perlu terus menerus memiliki ketertarikan pada kebajikan, dengan cara terus menerus memperbarui informasi dan pemahaman yang memadai tentang kebajikan. Seseorang yang sadar diri juga berikhtiar dengan bersikap, bahwa balasan atas suatu penderitaan yang dialami haruslah sesuatu yang membajikkan.


Balasan juga harus mendorong diri sendiri, orang lain, dan masyarakat semakin senang melakukan kebajikan. Demikian pula dengan balasan atas celaan atau hinaan haruslah sesuatu yang mampu mencerahkan, atau mendorong diri sendiri, orang lain, dan masyarakat semakin gemar memahami kebajikan.


Ikhtiar membajikan dan mencerahkan yang dilakukan oleh seseorang yang sadar diri, berbasis pada kesediaannya untuk menyerap informasi dan pengetahuan sebanyak-banyaknya dari lingkungan. Ia sungguh-sungguh berupaya memanfaatkan inderanya secara optimal, dengan banyak mendengar, melihat, dan mengamati.


Bagi seseorang yang sadar diri, umur tidak mampu menghalanginya untuk terus menerus belajar. Baginya belajar tidak selalu bersekolah, melainkan lebih dimaknai sebagai upaya pembaruan informasi, pengetahuan, dan keterampilan secara terus menerus. Oleh karena itu belajar dapat dilakukan di sekolah maupun di luar sekolah, atau belajar dapat dilakukan oleh siapapun baik ia bersekolah maupun tidak bersekolah.


Selamat mencoba, semoga Allah SWT berkenan meridhai...

Senin, 15 Agustus 2011

MAMPU MENGUPAYAKAN

“Mengupayakan” adalah tindakan seseorang berdasarkan segenap kemampuan, keahlian, dan kompetensinya dalam melakukan suatu kebajikan yang bermanfaat bagi dirinya, orang lain, dan masyarakat. Mengupayakan berkaitan dengan janji (promise) dan kepercayaan (confidence).


Dalam konteks janji, maka “mengupayakan” juga meliputi tindakan seseorang dalam menyampaikan kepada orang lain bahwa sesuatu berpeluang terjadi, karena ia telah bersungguh-sungguh mengupayakannya. Sementara itu, dalam konteks kepercayaan, maka “mengupayakan” juga meliputi tindakan seseorang dalam menyampaikan kepada orang lain bahwa sesuatu berpeluang terjadi, karena ia memiliki kemampuan untuk mengupayakannya.


Allah SWT berfirman, “Dan Dia (Allah) memudahkan untuk kamu segala sesuatu yang di langit dan di bumi, sebagai rahmat dariNya. Sesungguhnya pada yang demikian itu menjadi tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi kaum yang berpikir” (QS.45:13).


Berdasarkan firman Allah SWT, maka setiap orang punya peluang untuk menjadi orang yang mampu mengupayakan, sepanjang ia berkenan menjaga hubungan baik dengan Allah SWT. Caranya dengan melaksanakan segenap perintah Allah SWT, dan tidak melakukan hal-hal yang dilarang oleh Allah SWT. Pandai-pandailah menarik simpati Allah SWT, agar ia berkenan atas setiap upaya yang dilakukan untuk menjadi orang yang mampu mengupayakan.


Ketika seseorang mampu mengupayakan, maka ada beberapa ciri yang ia perlihatkan, yaitu: Pertama, ia memiliki dorongan psikologis dan sosial yang mengarahkannya ke suatu kebajikan yang bermanfaat bagi dirinya, orang lain, dan masyarakat. Hal ini akan membuat orang tersebut terarah dalam pemikiran, sikap, tindakan, dan perilakunya. Ia akan menetapkan cara atau teknik dalam membangkitkan semangat yang meredup dalam dirinya, sehingga tercipta kemauan untuk melakukan suatu kebajikan.


Kedua, ia mengambil semangat kebangkitan diri dari segenap sumber yang terpercaya, baik yang bersifat internal maupun eksternal. Ia mengembangkan mindset (pola pikir) yang dapat merubah suatu kenegatifan menjadi sisi yang positif, sehingga ia berhasil menanamkan pada dirinya sendiri bahwa ia mampu melakukan kebajikan. Oleh karena itu, ia menuntut diri sendiri agar bersedia berpikir, bersikap, bertindak, dan berperilaku terbaik dalam memanfaatkan kemampuannya menghasilkan kebajikan.


Ketiga, ia bersedia memulai hidup baru dengan cara berpikir, bersikap, bertindak, dan berperilaku secara baru. Ia wujudkan kecintaannya kepada Tuhannya dengan mewujudkan kebajikan bagi dirinya, orang lain, dan masyarakat. Rasa cinta kepada Tuhannya akan gagal dibuktikan, bila ia tidak memiliki pengetahuan yang memadai tentang cara-cara mewujudkan kebajikan.


Keempat, ia menyadari adanya faktor kunci pada dirinya, yang berupa pengenalan diri yang kuat dan akurat. Ia faham tentang perlunya: (1) karakter pribadi yang termotivasi secara baik sehingga mampu menghadapi tantangan dan dinamika hidup; (2) bakat, potensi dan kemampuan yang selalu dimanfaatkan olehnya dalam menyusuri setiap lorong-lorong kehidupannya yang penuh suka dan duka; serta (3) pengalaman hidup yang menjadi referensi nyata baginya dalam merancang, menerapkan, dan mengevaluasi capaian kebajikan.


Selamat mencoba, semoga Allah SWT berkenan meridhai...

Minggu, 07 Agustus 2011

MAMPU MEMPERHATIKAN

Sebagaimana diketahui, memperhatikan adalah kemampuan yang dimiliki seseorang dalam mempertimbangkan segenap kemampuannya. Kemampuan ini penting, karena dapat digunakannya sebagai pembanding terhadap kemampuan orang lain. Pembandingan dilakukan untuk menumbuhkan kepekaan, dan kesiapan membantu orang lain.


Agar mampu memperhatikan, ada beberapa hal yang harus dimiliki oleh seseorang, di mana ia hendaknya merasa sangat tertarik pada kebaikan bagi orang lain atau masyarakat, dan sangat ingin terlibat di dalamnya. Untuk itu ia telah memiliki rekam jejak (track record) yang menunjukkan, bahwa ia dapat dipercaya telah bersungguh-sungguh berupaya memenuhi janji baiknya pada orang lain atau masyarakat.


Seseorang yang berupaya untuk memperhatikan juga dapat menjelaskan kepada orang lain atau masyarakat: Pertama, bahwa sesuatu yang baik sangat berpeluang terjadi. Kedua, karena ia telah bersungguh-sungguh mengupayakannya. Ketiga, sehingga orang lain atau masyarakat tidak perlu terlalu mengkhawatirkannya.


Ia telah membuktikan: Pertama, bahwa ia dapat dipercaya. Kedua, karena ia telah memperlihatkan segenap upaya. Ketiga, yang menunjukkan bahwa ia dapat mengendalikan situasi. Keempat, karena ia memiliki kekuatan dalam membuat keputusan. Kelima, dan mampu mengendalikan situasi yang berpeluang timbul.


Kebaikan yang ingin diperjuangkannya, antara lain bersatunya segenap manusia dengan saling mencintai antara satu dengan lainnya, karena meskipun manusia secara fisik dilahirkan berbeda-beda, namun mereka memiliki status kemanusiaan yang sama. Untuk itu ia telah berupaya memperbaiki situasi dengan memulainya dari diri sendiri, lalu ke orang terdekat dan demikian seterusnya hingga mencapai lingkungan yang lebih luas.


Oleh karena itu, ia sangat memiliki kepedulian dalam memperbaiki situasi agar menjadi lebih baik, untuk umat manusia secara keseluruhan. Ia mengerti, bahwa pengalaman-pengalaman dan penderitaan-penderitaan yang dialami oleh orang lain atau masyarakat harus mendapat pertolongan, dukungan dan cinta dari dirinya.


Ukuran sukses bagi dirinya bukanlah pencapaian yang ia raih, melainkan proses kerja yang ia lakukan dengan terus menerus tanpa kenal lelah. Ia faham, bahwa untuk mencapai kesejahteraan manusia atau masyarakat, maka manusia atau anggota masyarakat harus bekerja bersama-sama. Tidak boleh ada seorang manusia yang dikorbankan untuk kesejahteraan orang lain, karena semua terhubung sebagai bagian dari umat manusia.


Allah SWT berfirman, “Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berperang di jalanNya dalam barisan yang teratur, seakan-akan mereka seperti satu bangunan yang tersusun kokoh” (QS.61:4).

Minggu, 31 Juli 2011

MAMPU MENGANGKAT DIRI

“Mengangkat diri” adalah suatu kemampuan yang ada pada diri seseorang, di mana ia dapat menempatkan atau memposisikan dirinya sebagai individu yang memiliki tingkat dan kualitas diri yang lebih baik atau lebih tinggi dari sebelumnya.


Agar seseorang dapat memiliki kemampuan mengangkat diri, maka ia harus memperhatikan tingkat dan kualitas diri yang ingin dicapainya. Tingkat diri yang akan ditetapkan, haruslah berdasarkan kualifikasi diri yang telah dicapainya saat ini, yang meliputi keahlian dan kompetensi yang ada pada dirinya.


Keahlian diperlihatkan oleh kemampuannya dalam melakukan suatu aktivitas atau pekerjaan tertentu dengan baik, berdasarkan latihan yang terus menerus yang dilakukannya selama ini. Sementara itu, kompetensi diperlihatkan oleh kemampuannya dalam melakukan suatu aktivitas atau pekerjaan tertentu dengan baik, berdasarkan keahlian dan bakat yang dimilikinya.


Tingkat diri akan semakin berada pada posisi yang baik (tinggi) bila didukung oleh kualitas diri yang baik pula. Sementara itu, kualitas diri ditandai oleh karakter yang dimiliki seseorang, yang merupakan personalitas atau kepribadian seseorang, yang membuat seseorang berbeda dengan orang lain.


Allah SWT berfirman, “Yaitu orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri, duduk atau dalam keadaan berbaring, dan memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi…” (QS.3:191). Allah SWT juga berfirman, “Maka apabila telah ditunaikan shalat, hendaklah kamu bertebaran di muka bumi dan carilah karunia Allah, serta ingatlah Allah sebanyak-banyaknya supaya kamu beruntung” (QS.62:10).


Firman Allah SWT dalam QS.3:191 dan QS.62:10 menunjukkan, bahwa mengingat Allah SWT dalam berbagai keadaan relevan dengan berbagai aktivitas yang perlu dilakukan oleh seorang manusia. Dengan demikin seorang manusia yang memahami QS.3:191 dan QS.62:10 mengerti, bahwa ia perlu mencapai kualitas diri yang baik, mampu memperhitungkan prospek dirinya, dan menghargai waktu.


Apabila seluruh capaian kualitas diri berada pada ”lintasan” kualitas yang ingin dicapai oleh seseorang, maka hal ini akan menjadikannya memiliki suatu kualitas yang tipikal atau unik. Kualitas tipikal seseorang yang berupaya mengangkat diri akan mewujud dalam kesiapan untuk menjalani hidup sebaik mungkin, dengan tetap memikirkan prospek kehidupannya di masa depan.


Apabila prospek yang dipikirkannya mewujud, ia telah siap menyambutnya dengan responsif. Prospek yang mewujud tidak akan diresponnya secara reaktif (respon berlebihan), tidak pula pasif (tanpa respon), dan tidak pula sekedar aktif (merespon sekedarnya), melainkan secara responsif (merespon secara proporsional).


Ia akan menghargai waktu, karena merupakan bagian dari kehidupannya. Tepatnya, kehidupan merupakan proses mengisi aktifitas pemikiran, sikap, tindakan, dan perilaku dalam rentang waktu tertentu.


Oleh karena itu, menghargai waktu merupakan wujud dari penghargaannya kepada kehidupannya yang penuh makna dihadapan semesta, manusia, dan Allah SWT. Seseorang yang berupaya mengangkat diri memahami, bahwa ia pernah menjalani kehidupannya di masa lalu, sedang menjalani kehidupan di masa kini, dan akan menjalani kehidupan di masa depan. Kehidupan masa depan yang difahaminya juga meliputi kehidupan masa depan duniawi, dan kehidupan masa depan akherat.


Selamat mencoba, semoga Allah SWT meridhai…