ABOUT ISLAM

Tampilkan postingan dengan label Allah SWT.. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Allah SWT.. Tampilkan semua postingan

Senin, 13 September 2010

THE TRUE RELIGION

Islamic world has refers to the worldwide community of moslems. This community number about 1.3 - 1.5 billion people, roughly one-fifth of the world population. This community is spread across many different nations and ethnic groups connected by religion and a shared sense of humanity.
In a historical or geopolitical sense the term usually refers collectively to moslem majority countries or countries in which Islam dominates politically. Moslem history involves the history of the Islamic faith as a religion, and as a social institution.

The history of Islam began in Arabia with The Prophet Muhammad (peace be upon him) first recitations of The Holy Qur'an in the 7th century. The Caliphate grew rapidly geographically expansion of moslem power well beyond the Arabian peninsula in the form of a vast moslem empire with an area of influence that stretched from northwest India, across Central Asia, the Middle East, North Africa, southern Italy, and the Iberian Peninsula, to the Pyrenees.


The Islamic Empire significantly contributed to globalization during the Islamic Golden Age, when the knowledge, trade, and economies from many previously isolated regions, and civilizations began integrating due to contacts with moslem explorers, sailors, scholars, traders, and travelers. This helped establish the Islamic Empire as the world's leading extensive economic power throughout the 7th-13th centuries. Several contemporary medieval Arabic reports also suggest that moslem explorers from al-Andalus (Spain) may have travelled in expeditions across the Atlantic Ocean between the 9th and 14th centuries.


Now, many peoples in West world have Islamic phobia. They manifest their phobia in attack to moslem peoples in West world, and Islamic world. The U.S.-led "war on terrorism" has been a war on Islam.

Continously devastating condition of Palestinians, who have robbered their lands by Israel (the tyrant and unjust and ilegal authoritizing). USA and NATO invations on Afghanistan (2002 until now), and Iraq (2003 until now), had destruction and killings of several hundred thousand moslems people of Afghanistan and Iraq. Evil treatment of prisoners by USA military in Abu Ghraib (Iraq, 2004), and Guantanamo (Cuba region, 2003 until now) are some of the major factors which have turned the world into lawless, and unjust.

That cases were give many evidence that USA, NATO, and Israel had turned the world into a lawless and unjust, and had destruction and killings of several hundred thousand moslems people.

Who is moslems people in Palestine, Afghanistan, and Iraq? They are the man and womens who pray five times each day. They attend their mosques or places of worship each week (on friday). They fast during Ramadhan and try to perform a pilgrimage to the Ka'bah in Mecca (Saudi Arabia) at least once in their lives.

As moslems, they have a book called "The Holy Qur'an". This book is the word of God (Allah). The Holy Qur'an lays down, "Whoseover kills a human being without any reason like man slaughter, or corruption on earth. It is as though he had killed all mankind" (Qur'an 5:32).

Although Islam is regarded as the youngest of all revealed religions, it is not a new religions, but continuation of the first religion of God (Allah) to man, purged, and purified, time after time, from all human adulterations, and restored to its original purity. Thus all prophet from Adam to Muhammad (peace be upon them) came to preach the same religion, which continued to grow and grow until it reached perfection at the hand of the prophet Muhammad (peace be upon him).

When The Prophet Muhammad wife, Aisyah, was asked to described the mode of his life and conduct, she replied, "His morals are The Holy Qur'an." In other words, his daily life was a true picture of The Qur'anic teachings. He was an embodiment of all the virtues which have been enunciated by The Holy Qur'an.

The record of his life which shed light on his conduct as a child, as a father, as a neighbor, as a merchant, as a preacher, as a persecuted fugitive, as a friend, as a warrior, as an army commander, as a conqueror, as a judge, as a law giver, as a ruler and above all, as a devotee of God (Allah), and was all an exemplification on The Book of God (Allah). The sincerity and purity of his pious living was clearly revealed in his daily routine.

But The Prophet Muhammad only a man. He is only "the comforter" or "the spirit of truth", who would guide human beings into all truth. He shall not speak of him self, but shall speak of God (Allah) words. Compare with The New Testament, John 14:16, 15:26, and 16:7 please...

If anyone has a real desire to be a moslem and has full conviction and strong belief, that Islam is the true religion ordained by God (Allah) for all human beings, then one should pronounce, that Shahada, "I bear witness that there is no deity worthy to be worshipped but Allah, and I bear witness the Muhammad is His (Allah) servant and messenger."

The Holy Qur'an is explicit in this regard as God (Allah) has stated, "Truly, the religion on the sight of Allah is Islam" (Qur'an 3:19).

In another verse of The Holy Qur'an, God (Allah) has stated, "And whosoever desire a religion other that Islam, never will it accepted of him, and in the hereafter he will be in the ranks of those who are lost" (Qur'an 3:85).

In addition, Islam is the only religion prevailing over all other religions. God (Allah) has stated in The Holy Qur'an, "And to thee. We have sent The Book (The Holy Qur'an) in truth. This Qur'an confirming the scripture that came before it, and a witness over it" (Qur'an 5:48).

The Prophet Muhammad (peace and blessing of Allah be upon him) said, "Islam is based on five pillars: testifying that there is no God worthy to be worshipped but Allah, and that Muhammad is the messenger of Allah and His servant; performing the prayer (shalat); paying the zakat (obligatory charity); fasting the month of Ramadhan (shaum); and performing hajj (yearly pilgrimage)."

Sabtu, 31 Juli 2010

SHALAT TARAWIH

Assalamu'alaikum Wr.Wb.

Pembaca blog yang dirahmati Allah SWT, blog "NU Online" (http://www.nu.or.id) dalam postingnya tanggal 24-6-2008 pernah menulis artikel menarik, berjudul "Praktik Bid'ah Hasanah Para Sahabat Setelah Rasulullah Wafat". Artikel itu memberi contoh salah satu praktik bid'ah hasanah adalah Shalat Tarawih berjamaah di Bulan Ramadhan.

Artikel itu menjelaskan, bahwa Umar ibn Khattab R.A. mengumpulkan sebagian Umat Islam untuk mendirikan Shalat Tarawih berjamaah pada Bulan Ramadhan. Ketika Umar ibn Khattab R.A. melihat orang-orang berkumpul untuk Shalat Tarawih berjamaah, ia berkata, "Sebaik-baik bid'ah adalah ini."

Setelah membaca blog tersebut, saya kemudian mencari definisi bid'ah. Akhirnya saya menemukan definisi bid'ah menurut Imam Asy Syathibi. Menurutnya, bid'ah adalah suatu cara dalam beragama (beribadah) yang dibuat untuk menandingi syari'at yang ada. Imam Asy Syathibi juga menjelaskan, bahwa bid'ah menjadikan seseorang berlebih-lebihan dalam beribadah.

Sementara itu, saya teringat dalam suatu pengajian di Masjid Darunnajah Kampus STPN-Yogyakarta tahun 2008, seorang ustadz menjelaskan tentang perbedaan antara ibadah dengan muamallah. Menurut ustadz tersebut: Pertama, dalam ibadah, pada prinsipnya segala sesuatunya dilarang, kecuali yang diperintahkan. Kedua, dalam muamallah, pada prinsipnya segala sesuatunya dibolehkan, kecuali yang dilarang.

Kemudian saya mencoba menelusuri sikap dan perilaku Rasulullah Muhammad SAW pada Bulan Ramadhan. Ketika membaca "Terjemah Hadits Shahih Bukhari" Jilid I - IV, yang diterjemahkan dari teks aslinya oleh Zainuddin Hamidy dan kawan-kawan, serta diterbitkan oleh Penerbit Fa. Wijaya Jakarta bekerjasama dengan CV. Wicaksana Semarang, saya menemukan Hadits No.587, sebagai berikut:

Diceritakan dari Aisyah R.A., bahwa pada suatu malam di Bulan Ramadhan, Rasulullah Muhammad SAW berada di masjid. Rasulullah Muhammad SAW shalat, maka orang banyak mengikuti pula beliau shalat. Malam berikutnya Rasulullah Muhammad SAW shalat, maka orang yang mengikuti beliau shalat bertambah banyak. Pada malam ketiga, orang semakin banyak berkumpul, tetapi Rasulullah Muhammad SAW tidak datang. Keesokan paginya Rasulullah Muhammad SAW bersabda, "Sesungguhnya aku telah tahu apa yang kamu lakukan. Tidak sesuatupun yang melarangku untuk keluar, untuk shalat malam bersama-sama kamu sekalian. Hanya aku khawatir, kalau-kalau perbuatan itu menjadi wajib atasmu."

Berdasarkan Hadits Shahih No.587 yang diriwayatkan Bukhari, maka diketahui bahwa Rasulullah Muhammad SAW tidak melaksanakan Shalat Tarawih berjamaah di Bulan Ramadhan sebagaimana yang dilakukan sebagian Umat Islam saat ini. Rasulullah Muhammad SAW telah mencontohkan Shalat Lail (Malam) yang dilakukan secara individual (perseorangan), semasa hidup beliau, termasuk pada Bulan Ramadhan.

Oleh karena itu, nampaknya lebih tepat jika Umat Islam mendahulukan Shalat Lail seperti yang dicontohkan oleh Rasulullah Muhammad SAW. Untuk aktivitas Ramadhan yang memakmurkan Masjid, dapat dilakukan kajian tentang nilai-nilai Islam, yang topiknya dipilih yang paling mendesak urgensinya dalam membangkitkan kemajuan Umat Islam.

Inilah sekedar bahan pemikiran kita bersama, sebagai upaya mencontoh Rasulullah Muhammad SAW dan menggapai ridha Allah SWT. Akhir kata, demikian yang dapat disampaikan, mohon maaf bila ada kesalahan.

Wassalamu'alaikum Wr.Wb.

Kamis, 06 Mei 2010

PEMIMPIN YANG DZALIM

"Pemimpin yang dzalim" bukanlah terminologi yang baik. Sosok ini bukanlah penebar kebajikan, melainkan penebar ketidak-adilan, kesengsaraan, dan maksiat. Hanya para penjilatlah yang menyatakan, bahwa "pemimpin yang dzalim" adalah sosok yang adil, serta penebar kesejahteraan dan kemanfaatan.

Allah SWT telah menjanjikan adzab yang pedih bagi "pemimpin yang dzalim" baik di dunia maupun di akherat. Hal ini dikarenakan proses, output (hasil atau keluaran), dan outcome (dampak atau akibat) dari kedzalimannya telah memperlihatkan ciri:

Pertama, adanya pengabaian terhadap perintah dan larangan Allah SWT;

Kedua, adanya religiusitas yang tidak lebih dari sekedar ritual tanpa makna, sebagai penghapus kewajiban psikologikal, dan hanya pembentuk citra (image) sosial yang positif;

Ketiga, adanya interaksi sosial yang dibangun atas dasar konsepsi "pengikut dan bukan pengikut", yang menumbuh-kembangkan sifat penjilat dan mematikan sifat kritis konstruktif orang-orang yang berinteraksi dengannya. Pemimpin yang dzalim telah membuat kategori, bahwa mereka yang mampu secara optimal melakukan penjilatan adalah pengikutnya, sedangkan yang bersungguh-sungguh memberikan kritik konstruktif adalah bukan pengikutnya. Pemberian sedikit kesejahteraan diperuntukkan bagi para pengikut, sedangkan hukuman, sanksi, dan pengucilan diberikan bagi yang bukan pengikut;

Keempat, adanya etika yang dibangun atas dasar konsepsi "atas dan bawah". Pemimpin berada di atas, maka "pointer" etika ditentukan olehnya, sebaliknya para pengikut berada di bawah, maka mereka wajib menjalankan dan memperagakan setiap "pointer" etika yang dibuat oleh sang pemimpin. Bagi yang tidak menjadi pengikut, maka segenap sopan santun dan etika yang ditampilkan tidaklah akan pernah dipandang sebagai sebuah sopan santun atau etika.

Kelima, adanya perilaku yang nampak indah di mata pengikutnya, karena kepiawaian sang pemimpin dalam menata mindset (pola pikir) para pengikutnya. Meskipun di mata mereka yang bukan pengikutnya, sang pemimpin nampak sebagai sosok yang tidak adil, menyengsarakan, dan menebarkan maksiat. Pemimpin yang dzalim juga pandai mengemas (membungkus) eksploitasi dengan kemasan (bungkusan) motivasi, sehingga para pengikutnya dan orang yang berinteraksi dengannya tidak menyadari bahwa eksploitasi sedang berlangsung atas dirinya.

Lima ciri keburukan yang ada pada proses, output, dan outcome kedzaliman dari pemimpin yang dzalim, tentulah cukup menjadikan setiap muslim berupaya dengan sungguh-sungguh untuk menghindarinya. Apabila karena satu dan lain hal, seorang muslim berada pada suatu organisasi yang dipimpin oleh pemimpin yang dzalim, maka berupayalah untuk bersabar dengan cara mendoakan pemimpin yang dzalim tersebut agar berhenti dari kedzalimannya.

Berupayalah untuk tidak terlalu dekat dengan pemimpin yang dzalim, karena akan menjadikannya sebagai pengikut dan penjilat. Tetap lakukan kritik konstruktif sesuai "dosis" yang paling memungkinkan, dan cara yang paling memungkinkan; serta bantulah para sahabat yang menjadi korban kedzaliman, sesuai dengan kemampuan dan infra struktur yang serba terbatas.

Semoga Allah SWT berkenan menghentikan kedzaliman pemimpin yang dzalim, atau menggantikannya dengan pemimpin yang Islami, yaitu pemimpin yang beraqidah, beribadah, bermuamallah, beradab, dan berakhlak Islam.

Sabtu, 15 Agustus 2009

MEMAHAMI POSISI MANUSIA

Posisi manusia terhadap Allah SWT bersifat strukturatif atau atas bawah (dalam strata tak terhingga), di mana manusia merupakan hamba (makhluk ciptaan Allah SWT), sedangkan Allah SWT merupakan Tuhan bagi semesta alam, yaitu alam semesta dan alam akherat beserta segenap isinya. Sementara itu posisi manusia terhadap manusia lainnya bersifat cluster, equal, atau setara, di mana setiap manusia merupakan sama-sama makhluk ciptaan Allah SWT, dan sekaligus juga merupakan sama-sama hamba Allah SWT.
Dalam konteks posisi, manusia berada pada posisi yang didominasi oleh Allah SWT, karena segala sesuatu yang berkaitan dengan manusia tidak pernah luput dari kontrol atau kendali Allah SWT. Posisi hamba pada manusia, dan Tuhan pada Allah SWT merupakan posisi yang diumumkan oleh Allah SWT dalam sebuah "dokumen suci", yaitu Al Qur'an, tepatnya pada QS.96:1-5 dan QS.19:93. Oleh karena itu, setiap manusia terikat untuk melaksanakan tugas dan fungsinya sebagai hamba Allah SWT, yaitu beribadah kepada Allah SWT (lihat QS.51:56), dan menjadi rahmatan lil'alamiin (lihat QS.21:107).
Allah SWT berfirman, "Bacalah dengan nama Tuhanmu (Allah) yang telah menciptakan. Dia menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Maha Pemurah, yang mengajari manusia dengan perantaraan kalam (firman). Dia mengajari manusia hal-hal yang belum diketahuinya" (QS.96:1-5).
Sementara itu, dalam QS.19:93 Allah SWT berfirman, "Tidak ada seorangpun di langit dan di bumi melainkan datang sebagai hamba kepada Yang Maha Pengasih (Allah)."

Kamis, 19 Februari 2009

TUHAN ITU MAHA ESA

Umat Islam adalah satu-satunya komunitas manusia di dunia, yang dalam menjalani hidup dan kehidupannya, berpedoman pada petunjuk Tuhan (Allah SWT). Tak ada satupun komunitas manusia di dunia ini, yang menjalani hidup dan kehidupannya seperti itu. Hal ini disebabkan, hanya Umat Islamlah yang memperTuhankan Tuhan, karena hanya Umat Islamlah yang memperTuhankan Tuhan Yang Maha Esa. Sesuatu Dzat disebut Tuhan, hanya jika Ia Maha Esa.
Komunitas lain, seringkali menyatakan diri memperTuhankan Tuhan. Tetapi Tuhan yang mereka perTuhankan bukanlah Tuhan Yang Maha Esa. Komunitas ini, lebih senang menyatakan Tuhan mereka adalah Tuhan Yang Maha Kuasa.
Sesungguhnya bila sesuatu dzat diklaim sebagai Maha Kuasa, tetapi ia tidak Maha Esa, maka dzat tersebut bukanlah Tuhan. Tidaklah mungkin suatu dzat Maha Kuasa, bila ia tidak Maha Esa. Hanya Dzat yang Maha Esa saja, yang berhak diklaim sebagai Maha Kuasa, dan akhirnya berhak diklaim sebagai Tuhan.
Dengan demikian, hanya agama yang mengajarkan penyembahan kepada Tuhan yang Maha Esa sajalah, yang sebenar-benarnya agama. Contoh: Bila tuhan tidak Maha Esa, misal tuhan itu empat, maka masing-masing tuhan hanya berkuasa sebesar 1/4 bagian. Maka tuhan-tuhan semacam ini, tentulah bukan Tuhan. Bila tuhan yang empat ini, diklaim sebagai satu pribadi, maka hal itu adalah kebohongan terbesar, sebab tuhan-tuhan ini masing-masing memiliki dzat dan sifat yang berbeda-beda.
Oleh karena itu, Umat Islam hendaklah bersyukur pada Allah SWT, yang telah berkenan memberikan pemahaman yang benar, atau aqidah yang benar bagi Umat Islam, sebagaimana tertuang dalam QS. Al Ikhlas, atau QS.112.
Maka katakanlah, bahwa Tuhan itu Maha Esa. Dialah Allah SWT. Hanya kepada Allah SWT, manusia dapat memohon pertolongan. Dia (Allah SWT) tidaklah beranak-pinak dan tidak pula dilahirkan sebagai anak. Tidak ada sesuatu, dan tidak ada seorangpun yang setara dengan Allah SWT.