ABOUT ISLAM

Tampilkan postingan dengan label Kitab. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kitab. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 09 Agustus 2008

BADUT - BADUT BODOH

Allah SWT telah berfirman, "Katakanlah, "Dialah Allah yang Maha Esa, Allah 'tempat' meminta, Dia tidak beranak dan tidak pula diperanakkan, dan tidak ada sesuatupun yang setara denganNya" (QS.112:1-4).
Firman Allah SWT ditujukan bagi seluruh manusia, agar hanya memperTuhankan Allah SWT. Untuk itu Allah SWT juga membekalkan bagi manusia Kitab Suci Al Qur'an, agar manusia dapat mempelajari nilai-nilai Islam, yang merupakan nilai-nilai kebenaran, karena merupakan nilai-nilai yang diridhai Allah SWT.
Namun demikian, firman Allah SWT dalam QS.112:1-4 (QS. Al Ikhlas) juga merupakan teguran tegas Allah SWT, kepada manusia yang mengajak manusia lain mempertuhankan tuhan selain Allah SWT. Manusia semacam ini layak ditegur secara tegas oleh Allah SWT. Bahkan manusia semacam ini layak disebut "Badut-Badut Bodoh".
Betapa tidak, Badut-Badut Bodoh ini berkumpul disuatu tempat pada suatu waktu. Mereka kemudian bersepakat mempertuhankan seorang manusia. Kemudian dengan bersemangat kemaksiatan yang tinggi, Badut-Badut Bodoh bergerak ke segenap penjuru dunia menjajakan kesesatannya.
Mereka yang bersedia mengikuti kebodohan mereka dipuja-puja dan dielu-elukan sebagai orang cerdas. Sebaliknya yang menolak dan melawan Badut-Badut Bodoh ini dihinakan dan dicerca sebagai orang bodoh, primitif, dan ketinggalan zaman.
Sebagai referensi kebodohannya mereka membawa naskah yang dikatakannya dari Tuhan. Padahal Allah SWT telah membuka tipu muslihat mereka dengan berfirman, "Kecelakaan besarlah bagi orang-orang yang menulis Al Kitab dengan tangan mereka sendiri, lalu dikatakannya, "Ini dari Allah, " karena mereka hendak memperoleh keuntungan yang sedikit dari perbuatan itu. Maka kecelakaan besarlah bagi mereka, atas hal-hal yang ditulis oleh mereka itu. Dan kecelakaan besarlah bagi mereka atas yang mereka kerjakan" (QS.2:79).
Oleh karena itu sudah selayaknya manusia berpegang pada nilai-nilai Islam, yang berisi akidah, ibadah, muamallah, adab, dan akhlak. Sudah selayaknya pula manusia menghindarkan diri dari tipudaya para Badut-Badut Bodoh, yang membawa kemaksiatan dengan jubah kemegahan dunia, padahal hanya mengajak manusia menyembah sesuatu yang bukan Tuhan. Semoga Allah SWT membantu manusia menghadapi Badut-badut Bodoh ini. Dan semoga Allah SWT meridhai perjuangan setiap manusia yang berupaya menegakkan nilai-nilai Islam.

Minggu, 02 Desember 2007

ADANYA GANGGUAN DAN UJIAN

Allah SWT berfirman, "Sungguh kamu akan diuji terhadap harta dan dirimu, serta kamu akan mendengar dari orang-orang yang diberi Kitab sebelum kamu, dan dari orang-orang yang mempersekutukan Allah, berupa gangguan yang banyak; tetapi jika kamu sabar dan taqwa, maka yang demikian itu termasuk urusan yang memerlukan keteguhan hati" (QS.3:186).
Jika setiap muslim berkenan memperhatikan firman Allah SWT tersebut, maka ia akan mengerti bahwa setiap muslim wajib melakukan kebajikan Islami atau amal shaleh, yang berkaitan dengan harta dan dirinya. Untuk itu, ia harus melakukan optimalisasi manfaat harta dan dirinya, bagi penegakan nilai-nilai Islam.
Hanya saja setiap muslim juga harus mengerti, bahwa ketika ia sedang melakukan optimalisasi manfaat harta dan dirinya, maka ia akan mendapat gangguan yang banyak dari orang-orang yang mendustai Allah SWT. Oleh karena itu, setiap muslim harus mampu bersabar, dan tetap tegar menghadapi gangguan yang banyak.
Pemikiran, sikap, dan perilaku muslim yang sabar dan tegar merupakan sesuatu yang penting, agar ia tergolong sebagai orang-orang yang bertaqwa. Gangguan yang banyak dari orang-orang yang mendustai Allah SWT, merupakan hal yang sudah sejak lama terjadi. Sehingga kesabaran dan ketaqwaan sangat diperlukan, agar setiap muslim dapat mengatasi dinamika kehidupan dirinya dan umat Islam.
Kesabaran dan ketaqwaan diperlukan agar setiap muslim dapat melakukan optimalisasi manfaat harta dan dirinya, bagi penegakan nilai-nilai Islam. Hal ini sangat relevan dengan firman Allah SWT yang menyatakan, bahwa optimalisasi manfaat harta dan diri seorang muslim, merupakan urusan yang memerlukan keteguhan hati (lihat kembali QS.3:186).
Sementara itu, M. Quraish Shihab dalam "Tafsir Al Mishbah" menyoroti aspek "ujian" yang terdapat dalam QS.3:186. Menurutnya QS.3:186 mengandung hiburan, karena: Pertama, ayat ini menetapkan bahwa ujian merupakan keniscayaan untuk semua orang. Oleh karena itu mereka yang dihadapkan pada ujian, hendaknya mengerti bahwa ia bukanlah orang pertama ataupun orang terakhir yang mengalaminya.
Kedua, penyampaian tentang keniscayaan ujian merupakan persiapan mental untuk menghadapinya. Sehingga kedatangannya yang telah diduga itu, dapat meringankan beban mental orang yang bersangkutan.
Akhirnya dapatlah difahami, bahwa supaya setiap muslim dapat mengatasi gangguan dan ujian terhadap amal shalehnya, maka muslim tersebut harus berpikir, bersikap, dan berperilaku dalam koridor AIM-A2 (Aqidah, Ibadah, Muamallah, Adab, dan Akhlak). Ia juga harus sangat bersungguh-sungguh memperlihatkan performa muslim yang FAST-I2R (Fathonah, Amanah, Shiddiq, Tabligh, Istiqamah, Ikhlas, dan Ridha).