ABOUT ISLAM

Tampilkan postingan dengan label beriman. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label beriman. Tampilkan semua postingan

Rabu, 04 Februari 2009

BERITA DUKA DARI MEDAN

Hari Selasa, tanggal 3 Februari 2009, Ketua DPRD (Dewan Perwakilan Rakyat Daerah) Provinsi Sumatera Utara, Abdul Azis Angkat, meninggal dunia. Menurut keterangan Polisi, beliau meninggal terkena serangan jantung. Hanya saja serangan jantung ini bertepatan dengan kejadian yang dialami beliau (Abdul Azis Angkat), ketika beliau dikejar-kejar dan dipukuli para demonstran yang berhasil masuk Gedung DPRD Provinsi Sumatera Utara.
Para demonstran menuntut pembentukan Provinsi Tapanuli (pisah dari Provinsi Sumatera Utara). Jika tidak mengakibatkan korban jiwa, maka demonstrasi semacam ini, sah-sah saja. Tetapi jika mengakibatkan korban jiwa, maka demonstrasi semacam ini, harus dihindari. Untunglah, Polisi telah menangani kasus ini, dan menetapkan Chandra Panggabean (Ketua Panitia Pembentukan Provinsi Tapanuli) sebagai tersangka utama (sumber: beberapa stasiun televisi nasional pada tanggal 4 Februari 2009)
Sebagai muslim, kita tentu mengharapkan kasus ini dapat diusut tuntas, agar tidak terulang di masa yang akan datang. Harapan kita tentulah, agar hukum dapat ditegakkan secara adil. Sedangkan bagi Almarhum (Abdul Azis Angkat), kita berharap, agar Allah s.w.t. berkenan menerima amal ibadahnya selama ia hidup di dunia ini.
Allah s.w.t. berfirman, "Dan barangsiapa datang kepada Tuhannya dalam keadaan beriman, dan sungguh-sungguh telah beramal saleh, maka mereka itulah orang-orang yang memperoleh tempat-tempat yang tinggi (mulia), yaitu Surga 'Adn, yang mengalir sungai-sungai di bawahnya. Mereka kekal di dalamnya. Dan itu adalah balasan bagi orang-orang yang bersih dari kekafiran dan kemaksiatan (QS.20:75-76).

Jumat, 12 September 2008

BODOH ADALAH SUATU KEBURUKAN

Allah SWT berfirman, "Apabila dikatakan kepada mereka (orang-orang munafik) , "Berimanlah kamu sebagaimana orang-orang lain telah beriman!" Mereka menjawab, "Apakah kami akan beriman, sebagaimana orang-orang bodoh telah beriman?" Ingatlah, sesungguhnya merekalah (orang-orang munafik) yang merupakan orang-orang bodoh, tetapi mereka tidak mengetahuinya" (QS.2:13).
Furman Allah SWT tersebut menunjukkan, bahwa kebodohan dapat menjadikan seseorang melakukan kesalahan dalam berpikir, bersikap, dan berperilaku. Hanya saja kebodohan yang dialami seseorang dapat dimaklumi, hanya jika dikarenakan faktor eksternal, atau faktor di luar dirinya yang tak mampu dikontrol oleh dirinya. Tetapi bila kebodohan itu terjadi karena faktor internal, misalnya karena yang bersangkutan tidak menghargai ilmu, pengetahuan, dan teknologi, maka kebodohan akibat hal-hal semacam ini tidak dapat dimaklumi.
Sikap menentang dan siap memperbaiki kebodohan, merupakan sikap penting, agar setiap manusia dapat cerdas memikirkan, mensikapi, dan berperilaku terhadap kebodohan. Bila kebodohan tidak diikuti dengan upaya perbaikan, maka kebodohan semakin menjadi-menjadi. Akibatnya terbentuklah umat yang bodoh, yang hanya menimbulkan keburukan bagi perkembangan Umat Manusia.

Rabu, 26 Maret 2008

MENGELOLA HARTA

Allah SWT berfirman, "Hai orang-orang yang beriman, nafkahkanlah (di jalan Allah) sebagian dari hasil usahamu yang baik-baik, dan sebagian dari apa yang Kami (Allah) keluarkan dari bumi untukmu. Dan janganlah kamu memilih yang buruk-buruk lalu kamu nafkahkan dari padanya, padahal kamu sendiri tidak mau mengambilnya, melainkan dengan memicingkan mata terhadapnya. Dan ketahuilah, bahwa Allah Maha Kaya lagi Maha Terpuji" (QS.2:267).
Firman Allah tersebut merupakan seruan agar orang-orang beriman (mukmin, muslim, muttaqin, dan mukhlisin) mengelola hartanya dalam perspektif sosial-empatik. Orang-orang beriman wajib mendistribusikan hartanya kepada masyarakat, dengan mengikuti ketentuan Islami. Harta yang didistribusikan harus optimal dari aspek kualitas, kuantitas, dan waktu.
Konsep distribusi inilah yang membedakan nilai-nilai Islam dengan nilai-nilai kapitalis. Ketika nilai-nilai Islam memerintahkan distribusi, maka nilai-nilai kapitalis menganjurkan akumulas (penimbunan harta). Ajaran kapitalis (kapitalisme) berpandangan, bahwa manusia yang sukses adalah manusia yang mampu melakukan akumulasi harta sebanyak-banyaknya. Pandangan inilah yang dikenali sebagai materialisme.
Turunan dari kapitalis yaitu marketisme, juga berpandangan mirip. Pasar adalah tempat (baik konkret maupun abstrak) terjadinya persaingan antar para pihak. Selanjutnya marketisme semakin menguat dengan adanya liberalisme yang mendorong persaingan bebas (semu atau palsu) antara pengusaha kuat dengan pengusaha lemah (korban penjajahan). Oleh karena itu, maka kini dunia memiliki fenomena "yang kaya makin kaya, dan yang miskin makin miskin".
Oleh karena itu setiap muslim wajib mengelola hartanya secara bijaksana, misalnya dengan menerapkan zakat, infak, dan sedekah. Hal ini penting dilakukan sebagai bukti, kesediaan berbakti kepada Allah SWT dengan memenuhi perintahnya (rahmatan lil'alamiin). Zakat, infak, dan sedekah juga merupakan wujud dari kolaborasi sosial (social collaboration).