ABOUT ISLAM

Tampilkan postingan dengan label buruk. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label buruk. Tampilkan semua postingan

Minggu, 10 Juni 2012

MEMBANGUN HARGA DIRI


Setiap manusia memiliki harga diri, karena Allah SWT telah menciptakan manusia sebagai makhluk yang mulia. Harga diri seorang manusia tidak boleh dikorbankan, karena hal itu berarti mengabaikan kemuliaan yang dihadiahkan Allah SWT kepada manusia.

Harga diri seorang manusia tidak ditentukan oleh kelimpahan harta, tidak ditentukan oleh ketinggian pangkat dan jabatan, tidak ditentukan oleh tingginya peringkat dan gelar (akademis dan sosial), serta tidak ditentukan oleh asal muasal keturunan.

Harga diri seorang manusia ditentukan oleh ketaqwaannya kepada Allah SWT. Ketaqwaan seorang manusia kepada Allah SWT mendorongnya beribadah kepada Allah SWT dan rahmatan lil’alamiin (bermanfaat optimal bagi lingkungan atau alam semesta).

Dalam konteks rahmatan lil’alamiin, seorang manusia perlu menghindarkan diri dari prasangka buruk, terutama prasangka buruk kepada Allah SWT. Prasangka buruk kepada Allah SWT merupakan sesuatu yang dapat mengganggu kehidupan seorang manusia. Oleh karena itu, setiap manusia dianjurkan untuk berprasangka baik kepada Allah SWT.

Prasangka buruk kepada Allah SWT mengakibatkan timbulnya suasana hati yang mudah cemas berlebihan, dan tidak nyaman. Akibatnya kinerja seorang manusia yang berprasangka buruk kepada Allah SWT seringkali tidak optimal. Tidak sedikitpun prasangka buruk kepada Allah SWT dapat memberi manfaat kepada manusia. Bahkan apabila tidak segera dihilangkan, prasangka buruk kepada Allah SWT dapat menjebak seorang manusia, sehingga ia percaya pada prasangka buruknya.

Prasangka buruk kepada Allah SWT merupakan pikiran menyesatkan yang merasuk pada diri seorang manusia. Oleh karena itu, prasangka buruk kepada Allah SWT harus dilawan, dan harus segera dihadirkan pesaingnya, yaitu prasangka baik kepada Allah SWT. Untuk itu, setiap manusia harus memeriksa pikirannya sejak dini, atau sejak ia sadar tentang pentingnya memeriksa pikiran.

Caranya, upayakan agar pikiran mengarah pada dorongan peningkatan kualitas diri, terutama peningkatan taqwa kepada Allah SWT. Bangun pikiran yang mampu meningkatkan taqwa kepada Allah SWT dengan menghasilkan pikiran yang bersedia terus menerus menyemangati diri dalam berbuat kebajikan.

Upayakan agar pikiran dapat memanfaatkan semangat berbuat kebajikan, dengan menghasilkan pikiran baru yang dapat mengotimalkan manfaat kebajikan yang telah dilakukan bagi orang lain. Pikiran yang berisi optimalisasi manfaat kebajikan ini dapat mendorong terciptanya pikiran yang mampu menyediakan solusi, bila ada pihak atau orang lain yang belum mampu memanfaatkan kebajikan yang telah dilakukan. Dengan kata lain, pikiran baru perlu dihasilkan, yaitu pikiran yang mampu menyediakan solusi.

Selamat merenungkan, dan jangan lupa berdoa kepada Allah SWT, untuk kebaikan Bangsa Indonesia, Bangsa Palestina, dan Umat Islam di seluruh dunia.

Semoga Allah SWT berkenan meridhai...

...

Sabtu, 03 Juli 2010

PEMIMPIN TAK ADIL

Allah SWT dan Rasullullah Muhammad SAW selalu mengingatkan tentang pentingnya setiap manusia menjadi orang-orang yang adil. Terlebih lagi bila bila seseorang menjadi pemimpin, maka ia harus menjadi pemimpin yang adil. Allah SWT telah menjanjikan bahwa salah satu tipe manusia yang akan diadzab olehNya di akherat adalah pemimpin yang tidak adil.


Namun demikian pada kenyataannya banyak pemimpin yang mengabaikan seruan Allah SWT dan Rasulullah Muhammad SAW. Pemimpin semacam ini sangat cinta dengan kekuasaan, kewenangan, dan kehendak dzalimnya. Ia mengerti, bahwa ia menjadi pemimpin bukan karena dibutuhkan oleh orang-orang yang dipimpinnya melainkan karena kedekatannya dengan pemimpin puncak, yang menugaskan dirinya untuk memimpin suatu organisasi tertentu.


Ia membeda-bedakan sikap dan perilakunya terhadap bawahan, staf, atau orang yang dipimpinnya berdasarkan kedekatan dengan dirinya. Kedekatan ditentukan oleh organisasi yang dikelolanya. Apabila ia berasal dari organisasi A, maka ketika ia memimpin organisasi B, orang-orangnya yang berasal dari organisasi A adalah orang-orang yang dekat dengannya.


Ketika ia memimpin organisasi B, maka ia membawa orang-orangnya dari organisasi A untuk masuk dalam organisasi B. Ia memperlakukan orang-orang dari organisasi A sangat istimewa dihadapan orang-orang organisasi B. Baginya orang-orang di organisasi B adalah orang-orang yang tidak bermutu, sedangkan orang-orangnya dari organisasi A adalah para super hero yang sangat hebat mujarobat.


Ia tidak bersedia menghargai orang-orang di organisasi B yang selama ini telah berupaya memberi kontribusi optimal bagi organisasi B, di tengah lemahnya kepemimpinan pada masa itu dan terbatasnya dukungan infra struktur dan dana pada masa itu. Baginya orang-orang di organisasi B adalah orang-orang lemah yang berkualitas rendah, yang harus banyak belajar pada orang-orangnya dari organisasi A. Ia menutup mata atas orang-orangnya dari organisasi A yang berkualitas rendah ketika disandingkan dengan sebagian orang-orang di organisasi B.


Ia pandai membangun citra buruk orang-orang di organisasi B, dan membangun citra heroik menakjubkan bagi orang-orangnya dari organisasi A. Apapun yang dilakukan oleh orang-orang di organisasi B buruk baginya, dan sebaliknya, apapun yang dilakukan oleh orang-orangnya dari organisasi A adalah heroik baginya. Ia hanya memuji orang-orang di organisasi B yang pandai menjilatnya, serta menguntungkan dirinya dan orang-orangnya dari organisasi A.


Ia berupaya agar sebagian besar dana yang ada pada organisasi B dapat dicurahkan kepada orang-orangnya dari organisasi A. Hal ini didukung oleh kemampuannya menciptakan ketentuan dan tolok ukur yang dapat mewujudkan kondisi tersebut, serta dukungan orang-orang di organisasi B yang menjadi penjilatnya dan yang tak berdaya menghadapi kekuasaannya.


Inilah sebagian dari ciri-ciri pemimpin tak adil yang harus dihindari oleh setiap manusia, karena selain merugikan dirinya sendiri (dimurkai Allah SWT dan Rasulullah Muhammad SAW) juga merugikan orang-orang yang dipimpinnya. Orang-orang yang dipimpinnya akan berdoa, “Semoga Allah SWT berkenan mengadzabnya!”

Rabu, 26 Maret 2008

MENGELOLA HARTA

Allah SWT berfirman, "Hai orang-orang yang beriman, nafkahkanlah (di jalan Allah) sebagian dari hasil usahamu yang baik-baik, dan sebagian dari apa yang Kami (Allah) keluarkan dari bumi untukmu. Dan janganlah kamu memilih yang buruk-buruk lalu kamu nafkahkan dari padanya, padahal kamu sendiri tidak mau mengambilnya, melainkan dengan memicingkan mata terhadapnya. Dan ketahuilah, bahwa Allah Maha Kaya lagi Maha Terpuji" (QS.2:267).
Firman Allah tersebut merupakan seruan agar orang-orang beriman (mukmin, muslim, muttaqin, dan mukhlisin) mengelola hartanya dalam perspektif sosial-empatik. Orang-orang beriman wajib mendistribusikan hartanya kepada masyarakat, dengan mengikuti ketentuan Islami. Harta yang didistribusikan harus optimal dari aspek kualitas, kuantitas, dan waktu.
Konsep distribusi inilah yang membedakan nilai-nilai Islam dengan nilai-nilai kapitalis. Ketika nilai-nilai Islam memerintahkan distribusi, maka nilai-nilai kapitalis menganjurkan akumulas (penimbunan harta). Ajaran kapitalis (kapitalisme) berpandangan, bahwa manusia yang sukses adalah manusia yang mampu melakukan akumulasi harta sebanyak-banyaknya. Pandangan inilah yang dikenali sebagai materialisme.
Turunan dari kapitalis yaitu marketisme, juga berpandangan mirip. Pasar adalah tempat (baik konkret maupun abstrak) terjadinya persaingan antar para pihak. Selanjutnya marketisme semakin menguat dengan adanya liberalisme yang mendorong persaingan bebas (semu atau palsu) antara pengusaha kuat dengan pengusaha lemah (korban penjajahan). Oleh karena itu, maka kini dunia memiliki fenomena "yang kaya makin kaya, dan yang miskin makin miskin".
Oleh karena itu setiap muslim wajib mengelola hartanya secara bijaksana, misalnya dengan menerapkan zakat, infak, dan sedekah. Hal ini penting dilakukan sebagai bukti, kesediaan berbakti kepada Allah SWT dengan memenuhi perintahnya (rahmatan lil'alamiin). Zakat, infak, dan sedekah juga merupakan wujud dari kolaborasi sosial (social collaboration).