ABOUT ISLAM

Tampilkan postingan dengan label bersyukur. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label bersyukur. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 05 Desember 2009

PROSES PEMBELAJARAN SOSIAL

Umat yang memiliki kualitas interaksi sosial yang benar, baik, dan indah adalah umat yang berkenan menerapkan konsepsi muamallah secara tepat, sesuai dengan nilai-nilai Islam yang menjadi acuannya. Untuk itu dibutuhkan suatu upaya yang disebut "PPS" atau "Proses Pembelajaran Sosial" (Social Learning Process), yang tujuannya agar umat memiliki kecerdasan sosial yang memadai.
Kecerdasan sosial adalah suatu kemampuan pada diri individu atau masyarakat (society), untuk mengendalikan pemikiran, sikap, dan perilakunya bagi kepentingan bersama (masyarakat), sesuai dengan nilai-nilai Islam yang menjadi acuannya.
Nilai-nilai Islam, antara lain memuat konsepsi, bahwa: Pertama, setiap manusia hendaknya hidup dalam koridor AIM-A2 (Aqidah, Ibadah, Muamallah, Adab, dan Akhlak). Kedua, dengan berpikir, bersikap, dan berperilaku FAST-I2R (Fathonah, Amanah, Shiddiq, Tabligh, Istiqamah, Ikhlas, dan Ridha). Ketiga, untuk menjalankan peran sebagai MUASiR (Mujahiddin, Uswatun hasanah, Assabiquunal awwalluun, Sirajan muniran, dan Rahmatan lil'alamiin). Keempat, sehingga terbentuk peradaban Islam yang TRANSHUME (TRANSenden, HUManis, dan Emansipatori).
Sebagai panduan pelaksanaan PPS, Allah SWT menjelaskan tentang perlunya menggunakan Al Qur'an sebagai referensi utama. Allah SWT berfirman, "Inilah ayat-ayat Kitab yang penuh hikmah, sebagai petunjuk dan rahmat bagi orang-orang yang berbuat kebaikan" (QS.31:2-3).
Dalam PPS ada beberapa faktor yang perlu diperhatikan oleh individu atau masyarakat, yang tertuang dalam firman Allah SWT sebagai berikut, "Maka hal-hal yang diberikan kepada kamu, itu adalah kenikmatan hidup yang ada di dunia. Namun hal-hal yang berada di sisi Allah adalah lebih baik, dan lebih kekal bagi orang-orang yang beriman. Hanya kepada Tuhannya (Allah) mereka bertawakal (berserah diri). Yaitu orang-orang yang menjauhi dosa-dosa besar, dan perbuatan-perbuatan keji, serta apabila mereka marah, mereka akan memberi maaf" (QS.42:36-37).
Berdasarkan QS.42:36-37 diketahui, bahwa faktor-faktor yang perlu diperhatikan oleh individu atau masyarakat dalam PPS, antara lain: Pertama, kemampuan bersyukur kepada Allah SWT. Kedua, kemampuan memahami bahwa dekat dengan Allah SWT merupakan sesuatu yang memiliki nilai tertinggi. Ketiga, kemampuan berserah diri kepada Allah SWT. Keempat, kemampuan menjauhi (tidak melakukan) perbuatan dosa dan keji. Kelima, kemampuan mengelola amarah secara proporsional, yang biasa disebut "angry management".
Bersumber dari faktor-faktor yang perlu diperhatikan tersebut, lembaga atau institusi penyelenggara dapat menuangkannya ke dalam kurikulum pendidikan dan latihan. Dengan demikian kurikulum pendidikan dan latihan PPS merupakan perwujudan arahan QS.42:36-37, sehingga diharapkan PPS yang diselenggarakan mendapat ridha Allah SWT dan bermanfaat bagi individu dan masyarakat. InsyaAllah........

Sabtu, 24 Januari 2009

BERSYUKURLAH PADA ALLAH SWT

Tidak ada kata yang tepat diucapkan, selain "Alhamdulillaahi rabbil'alamiin" (segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam) ketika kita mengamati Negara Kesatuan Republik Indonesia, yang dibangun oleh Bangsa Indonesia dengan nilai-nilai Islam, dalam format ideologi dan konstitusi nasional, yang berupa Pancasila dan Undang-Undang Dasar Tahun 1945.
Rasa syukur kepada Allah SWT perlu terus menerus disampaikan dalam wujud penguatan aqidah, ibadah, muamallah, adab, dan akhlak. Bukankah kita faham, bahwa Allah SWT menyayangi Bangsa Indonesia. Tanpa pertolongan Allah SWT, boleh jadi saat ini kita sedang mengalami nasib seperti saudara-saudara kita di Palestina yang tanahnya di rampok oleh Yahudi Israel (anggota Komunitas Iblis Internasional).
Bukankah Belanda (anggota Komunitas Iblis Internasional) dahulu juga berencana mendirikan Negara Hindia Belanda di tanah Indonesia. Bukankah Belanda saat itu memiliki persenjataan lengkap untuk menguasai tanah Indonesia. Bukankah Inggris yang bersenjata lengkap juga pernah berupaya menguasai tanah Indonesia, melalui serangannya ke Surabaya, di tahun 1945. Bukankah Bangsa Indonesia hanya memiliki "Bambu Runcing" dan senjata seadanya. Bukankah para pejuang selalu meneriakkan "Allah Akbar", ketika bertempur.
Oleh karena itu, para pendiri Negara Kesatuan Republik Indonesia mencantumkan kalimat, "Atas rahmat Allah..." di dalam konstitusi nasional (Undang-Undang Dasar Tahun 1945). "Allah" yang dimaksud dalam konstitusi nasional adalah, "Allah, Tuhan Yang Maha Esa," sebagaimana dimaksud dalam QS.112 atau QS. Al Ikhlas. Hal ini terlihat dari dasar negara, yang tercantum pada alinea ke-4 Undang-Undang Dasar Tahun 1945, atau Pancasila (ideologi nasional), di mana sila pertamanya adalah, "Ketuhanan Yang Maha Esa."
Berbekal rasa syukur kepada Allah SWT, maka Bangsa Indonesia bersimpati pada upaya Pejuang Muslim di Afghanistan, Iraq, dan Palestina dalam mengusir Komunitas Iblis Internasional (Yahudi Israel, Amerika Serikat, Inggris, Perancis, dan sekutu-sekutunya) dari tanah Afghanistan, Iraq, dan Palestina. Kita juga selayaknya mendukung rakyat dan Pemerintah Iran, yang akan dijadikan sasaran berikutnya kedzaliman neo kolonialisme dan neo imperialisme Amerika Serikat (anggota Komunitas Iblis Internasional).
Semoga Allah SWT, Tuhan Yang Maha Esa, berkenan meridhai upaya segenap manusia, ketika mereka bersungguh-sungguh mencegah dan mengatasi kerusakan yang ditimbulkan oleh Komunitas Iblis Internasional.