ABOUT ISLAM

Minggu, 09 September 2007

MEWASPADAI WAKTU

Allah SWT dalam QS.103:1-3 telah berfirman, "Demi waktu, sesungguhnya manusia dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan beramal saleh, serta saling berwasiat tentang kebenaran dengan kesabaran."
Firman Allah SWT ini menunjukkan adanya proses pada diri manusia, mulai dari pemikiran, dan sikap, hingga menjadi perilaku. Manusia yang sebenar-benarnya manusia (humanis) adalah manusia yang mengembangkan pemikiran yang berada dalam frame (kerangka) iman, sehingga ia berpeluang untuk bersikap sebagai seorang manusia yang beriman.
Pemikiran dan sikap yang berbasis pada keimanan (hanya mempertuhankan Allah SWT) inilah yang akan mendorong seorang manusia untuk berperilaku (beramal) saleh, serta saling berwasiat tentang kebenaran dengan kesabaran.
Pemikiran, sikap, dan perilaku ini dipraktekkan dalam kehidupan sehari-hari dengan memperhatikan sequence (penggalan) waktu yang terus bergerak, tanpa pernah kembali. Oleh karena itu menjadi penting bagi manusia, untuk terus menerus, setiap saat, atau setiap waktu meningkatkan keimanannya, dan beramal saleh, serta saling berwasiat tentang kebenaran dengan kesabaran.
Bila manusia tidak berkenan meningkatkan keimanannya, maka ia akan mustahil beramal saleh, apalagi untuk saling berwasiat tentang kebenaran dengan kesabaran. Selanjutnya, manusia ini akan tergolong sebagai orang-orang yang merugi karena mengabaikan perintah Tuhan (Allah SWT).
Oleh karena itu menjadi mudah untuk difahami, ketika banyak manusia mengekspresikan kegembiraan dengan datangnya Bulan Ramadhan, karena pada bulan inilah manusia kembali mendapat kesempatan berupa kondisi yang ideal (secara ruhani) untuk meningkatkan keimanannya.
Allah SWT berfirman dalam QS.2:183, "Hai orang-orang yang beriman diwajibkan bagi kamu berpuasa, sebagaimana telah diwajibkan pada orang-orang sebelum kamu, agar kamu bertaqwa.

Selasa, 28 Agustus 2007

LAKI - LAKI DAN PEREMPUAN

Neni Utami Adiningsih, seorang penggagas Forum Studi Pemberdayaan Keluarga (Family Empowerment Studies Forum), dalam Harian Republika tanggal 22 Desember 2004 menyatakan, bahwa tingkat partisipasi angkatan kerja perempuan Indonesia mengalami peningkatan dari 38,75 % pada tahun 1970-1980, menjadi 51,65 % pada tahun 1980-1990.
Dengan asumsi bahwa peningkatan terus terjadi, karena berbagai sebab yang bersumber pada keluarga, maka pada tahun 1990-2000 tingkat partisipasi angkatan kerja perempuan Indonesia berpeluang mencapai 64,55 % dan pada tahun 2007 diperkirakan telah mencapai 73,58 %.
Bila angka-angka ini terus merangkak naik, maka tingkat partisipasi angkatan kerja laki-laki Indonesia akan semakin menurun. Akibatnya akan semakin banyak laki-laki yang menganggur, dan menggantungkan nafkahnya pada perempuan (istri).
Uniknya, banyak pihak mengetahui bahwa peningkatan partisipasi angkatan kerja perempuan, antara lain disebabkan terjadinya kekerasan oleh laki-laki terhadap perempuan dalam rumah tangga. Oleh karena itu para perempuan Indonesia berbondong-bondong ke luar rumah untuk mencari penghasilan sendiri, agar lebih dihormati oleh laki-laki (suami), dan sekaligus untuk mengurangi jumlah jam tinggal di rumah yang berresiko mengalami kekerasan dari laki-laki.
Padahal, karena terjadi peningkatan partisipasi angkatan kerja perempuan, maka meningkat pula jumlah laki-laki yang menganggur. Tanpa kemampuan emosional yang baik (karena tidak menerapkan nilai-nilai Islam), maka laki-laki pengangguran ini sangat berpotensi melakukan kekerasan dalam rumah tangga.
Sehingga antara kekerasan dalam rumah tangga, peningkatan partisipasi angkatan kerja perempuan, penurunan partisipasi angkatan kerja laki-laki, peningkatan pengangguran laki-laki, dan kekerasan dalam rumah tangga menjadi siklus yang berbahaya. Dalm konteks keluarga muslim, siklus semacam ini berbahaya bagi perkembangan umat Islam, merapuhkan keluarga-keluarga muslim, dan mengurangi kontribusi muslim bagi masyarakat pada umumnya.
Oleh karena itu, sudah saatnya umat Islam kembali kepada nilai-nilai Islam (Al Qur'an dan Al Hadist). Sudah saatnya laki-laki diberi tanggungjawab sebagai pemimpin, sebagaimana diamanatkan Allah SWT dalam QS.4:34, "Arrijaalu qawwaamuunaa 'alan nisaa-i" (laki-laki itu pemimpin bagi perempuan). Sesuai dengan tanggungjawabnya sebagai pemimpin, tidak ada "ruang" bagi laki-laki untuk melakukan kekerasan dalam rumah tangga. Sesuai dengan tanggungjawabnya, seorang laki-laki harus melindungi dan menyayangi istri (perempuan) dan keluarganya (anak-anaknya).
Berdasarkan nilai-nilai Islam, maka seorang laki-laki wajib bergerak ke luar rumah, untuk mencari nafkah yang akan dipersembahkan bagi istri dan keluarganya. Tidak layak bagi laki-laki yang telah diberi amanat sebagai pemimpin oleh Allah SWT bersantai-santai di rumah, sedangkan istrinya bekerja keras mencari nafkah di luar rumah. Juga tidak layak bagi laki-laki (dengan alasan apapun) melakukan kekerasan terhadap istri dan keluarganya, karena ia telah diberi amanat oleh Allah SWT sebagai pemimpin, bukan sebagai "penjagal". Bila seorang laki-laki tidak menjalankan amanat dari Allah SWT sebagaimana tertuang dalam QS.4:34 maka Allah SWT tentu akan memberi konskuensi (sanksi) yang berat padanya.
Dengan demikian sudah selayaknya seorang istri berada di rumah untuk menjadi ibu bagi putra-putrinya. Bersama-sama dengan suami, seorang istri akan bekerjasama menyiapkan generasi umat Islam berikutnya, yang harus lebih baik kualitasnya dari kedua orangtuanya. Bila ini terjadi, umat Islam akan semakin baik dari generasi ke generasi, sehingga dapat memberi kontribusi yang terus meningkat bagi masyarakat pada umumnya. Sesuai dengan missi kehadiran umat Islam di dunia (alam semesta), yaitu rahmatan lil'alamiin (manfaat optimal bagi alam semesta).

Minggu, 26 Agustus 2007

JANGAN ANARKHIS, LHO...


Bila umat Islam berkenan sungguh- sungguh memper- hatikan firman Allah SWT dalam QS.10:2 maka sesungguhnya umat Islam dilarang berperilaku emosional, dan juga dilarang berperilaku anarkhis. Mengapa demikian? Jawabannya adalah, karena sejak abad ke-7 atau sejak 13 abad (1.300 tahun) yang lalu, sebagian manusia yang menolak nilai-nilai Islam telah berupaya menegasi (menghapus) nilai-nilai tersebut dari permukaan bumi. Oleh karena mereka (kaum anti nilai-nilai Islam) kesulitan dalam mendeskreditkan nilai-nilai Islam yang tertuang dalam Al Qur'an, maka sasaran berikutnya adalah tokoh yang menyampaikan nilai-nilai Islam, yaitu Rasulullah Muhammad SAW.
Dengan demikian benarlah, ketika umat Islam wajib menahan diri, dan mengendalikan diri dari perilaku emosional dan anarkhis. Tidak layak bagi umat Islam melakukan tindakan anarkhis, termasuk ketika sebagian pers dan masyarakat Barat menghina Rasulullah Muhammad SAW. Meskipun data-data yang menunjukkan penghinaan tersebut relatif lengkap dan meluas (meliputi Asia, Eropa, Afrika, Amerika, dan Australia), umat Islam harus menerima fakta penghinaan tersebut dengan penuh kesabaran dalam nuansa semangat dakwah yang tinggi.
Rasulullah Muhammad SAW telah mencontohkan pemikiran, sikap, dan perilaku yang FAST (Fathonah, Amanah, Shiddiq, dan Tabligh) dalam menghadapi berbagai persoalan dakwah. Oleh karena itu: Pertama, umat Islam harus menghadapi penghinaan terhadap Rasulullah Muhammad SAW oleh sebagian pers dan masyarakat Barat dengan berpikir, bersikap, dan berperilaku fathonah atau cerdas. Wujudnya dengan memahami historisitas "nasib" para Rasulullah di hadapan masyarakat Barat. Bagi masyarakat Barat para Rasulullah disikapi dengan dua sikap, yaitu bila tidak dihinakan sehina-hinanya, maka Rasulullah tersebut akan dipertuhankan.
Kedua, umat Islam harus menghadapi penghinaan terhadap Rasulullah Muhammad SAW oleh sebagian pers dan masyarakat Barat dengan berpikir, bersikap, dan berperilaku amanah atau dapat dipercaya. Wujudnya berupa kemampuan memperlihatkan karakter muslim yang berAIM-A2, yaitu ber: Aqidah, Ibadah, Muamallah, Adab, dan Akhlak. Hal ini penting karena sesungguhnya hanya manusia-manusia yang berAIM-A2 yang dapat dipercaya, sebab manusia-manusia ini mengetahui bahwa bahwa Allah SWT mengetahui kebohongan sekecil apapun.
Ketiga, umat Islam harus menghadapi penghinaan terhadap Rasulullah Muhammad SAW oleh sebagian pers dan masyarakat Barat dengan berpikir, bersikap, dan berperilaku shiddiq atau obyektif. Wujudnya dengan memperhatikan fakta sejarah (histori) selama ini, bahwa hanya nilai-nilai Islam yang mampu menjadi kompetitor nilai-nilai Barat, mulai dari ideologi, politik, ekonomi, sosial, dan budaya, hingga pertahanan dan keamanan. Oleh karena itu sangat dapat difahami ketika sebagian pers dan masyarakat Barat yang hina berupaya menghina Rasulullah Muhammad SAW, dalam rangka menegasi nilai-nilai Islam. Sesungguhnya seorang manusia hanya akan terhina, bila ia berpikir, bersikap, dan berperilaku tidak mencerminkan karakter manusia yang beraqidah (berke-Tuhan-an), beribadah (berbakti kepada Tuhan), bermuamallah (berinteraksi sosial secara bermartabat), beradab (beretika dan berkesopanan), serta berakhlak (mengekspresikan diri sebagai manusia yang beraqidah, beribadah, bermuamallah, dan beradab).
Keempat, umat Islam harus menghadapi penghinaan terhadap Rasulullah Muhammad SAW oleh sebagian pers dan masyarakat Barat dengan berpikir, bersikap, dan berperilaku tabligh atau informatif. Wujudnya dengan berdakwah tanpa kenal lelah terutama bagi masyarakat Barat, dengan memanfaatkan segenap teknologi informasi yang dimiliki. Hal ini dilakukan, karena sesunguhnya umat Islam tidak memusuhi masyarakat Barat, melainkan ingin bersama-sama dengan masyarakat Barat membangun peradaban dunia yang TRANSHUME, yaitu peradaban yang: (1) TRANSenden (meruhani, sehingga dapat mengenal Allah SWT, sebagai Tuhan Yang Maha Esa); (2) HUManis (manusiawi, yang memposisikan manusia sesuai dengan fitrahnya); dan (3) Emansipatori (membebaskan, yaitu membebaskan manusia dari kejahiliahan atau nilai-nilai maksiat).

MONUMEN TERORISME

Allah SWT berfirman dalam QS.10:2 sebagai berikut: "Apakah manusia heran, bahwa Kami (Allah, Tuhan Yang Maha Esa)) telah mewahyukan kepada seorang laki-laki di antara mereka (Muhammad). (Dan memerintahkan kepadanya) "Hendaklah engkau (Muhammad) memberi peringatan kepada manusia, dan gembirakanlah orang-orang yang beriman karena mereka mempunyai pendirian yang benar di sisi Tuhan mereka." (Meskipun) orang-orang kafir itu berkata, "Sesungguhnya orang ini (Muhammad) adalah ahli sihir yang nyata."
Setiap umat Islam tentu faham, bahwa yang dimaksud dengan orang-orang kafir dalam firman Allah ini adalah orang-orang yang menentang Allah SWT, yang dalam konteks real (nyata) berupa nilai-nilai Islam yang bersumber dari Allah SWT yang disampaikan oleh Rasulullah Muhammad SAW. Sementara itu, dalam konteks kekinian (sekarang) orang-orang kafir meliputi orang-orang yang anti nilai-nilai Islam, anti Allah SWT, anti Rasulullah Muhammad SAW, dan anti umat Islam, yang tercermin pada peradaban Barat saat ini.
Peradaban Barat telah memvonis, bahwa umat Islam identik dengan teroris. Satu hal yang mereka lupa namun telah menjadi Monumen Terorisme adalah Negara Israel, yang didirikan dengan merampok tanah Bangsa Palestina, dan menteror Bangsa Palestina sejak tahun 1920 hingga saat ini. Padahal Monumen Kedzaliman ini dibangun oleh peradaban Barat, dan didukung hingga kini oleh peradaban Barat.
Peradaban Barat juga lupa, bahwa mereka telah menebar kolonialisme dan imperialisme sejak berabad-abad hingga kini. Sejarah membuktikan, bahwa setiap bangsa yang melakukan perlawanan akan diberi sebutan dengan sebutan yang buruk. Ingatlah pengalaman Indonesia yang dijajah Belanda selama lebih dari 250 tahun, maka ketika Bangsa Indonesia melakukan perlawanan, Belanda menyebut para pejuang (mujahid) Indonesia dengan sebutan "ekstrimis". Hal yang sama kini terjadi di Irak yang dijajah Bangsa Barat (Amerika Serikat dan sekutu-sekutunya), maka ketika Bangsa Irak melakukan perlawanan, Bangsa Barat menyebut para pejuang Irak dengan sebutan "teroris."
Oleh karena itu ketahuilah, bahwa Islam adalah agama yang cinta damai. Agama Islam mengajarkan silaturahmi atau upaya membangun ikatan sosial yang harmonis. Namun agama Islam juga mengajarkan, bahwa setiap muslim harus berupaya menyampaikan kebenaran dan mampu menegakkan kebenaran, agar harkat dan martabat manusia terjaga secara baik. Semoga perdaiaman dunia dapat terwujud, amin....

Sabtu, 18 Agustus 2007

KEMBALI KE RUMAH

Setiap muslim hendaknya cermat dalam memperhatikan suatu issue yang berkaitan dengan prospek umat, misalnya issue tentang peran perempuan (wanita) dalam rumah tangga. Dalam konteks ini MUI (Majelis Ulama Indonesia) mendorong perempuan untuk kembali ke rumah, kecuali untuk profesi seperti dokter ahli kandungan dan profesi lain yang khusus berinteraksi dengan perempuan (lihat Harian Republika tanggal 16 Desember 2004).
MUI menyerukan kepada seluruh masyarakat untuk melakukan gerakan kembali ke rumah bagi perempuan. Hal ini dikarenakan rumah merupakan wahana pendidikan pertama dan utama untuk membentengi anak dari serbuan budaya yang bertentangan dengan nilai-nilai Islam. Seruan MUI menjadi penting karena saat ini rumah cenderung hanya berfungsi sebagai "terminal" (tempat persinggahan) anggota keluarga, tanpa ada interaksi yang berkualitas (saling menyayangi).
Kecenderungan ini tentu mencemaskan setiap muslim, karena menjadi ancaman regeneratif umat. Oleh karena itu, hal ini perlu diatasi agar setiap keluarga muslim dapat menghadapi beratnya tantangan agresi budaya yang bertentangan dengan nilai-nilai Islam. Agresi budaya ini wujudnya berupa kemerosotan akhlak, seperti: minum-minuman keras dan penggunaan narkotika, perjudian, perzinahan, dan lain-lain.
Allah SWT telah mengingatkan agar orang tua (ayah dan bunda) berbagi fungsi, agar umat terhindar dari generasi berikutnya yang lemah. Tepatnya Allah SWT berfirman, "Dan hendaklah takut kepada Allah , orang-orang yang sekiranya meninggalkan anak-anak yang lemah di belakang mereka, yang mereka khawatir terhadap anak-anak mereka. Maka hendaklah mereka bertaqwa kepada Allah , dan hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang benar" (QS.4:9).
Firman Allah SWT ini hendaknya menjadi titik tumpu bagi laki-laki dan perempuan yang telah menikah dalam merancang sinergi. Berbasis nilai-nilai Islam, sudah saatnya laki-laki dengan didukung perempuan mengambil peran sebagai pencari nafkah (pekerjaan publik), sedangkan perempuan dengan didukung laki-laki mengambil peran sebagai pendidik anak yang utama (pekerjaan domestik). Sudah saatnya pula laki-laki dan perempuan saling menghargai perannya masing-masing, dan bertanggungjawab atas perannya itu kepada Allah SWT dan anggota keluarga. Bila ini terjadi, maka saat itulah terjadi gerakan perempuan-perempuan muslim untuk kembali ke rumah, demi bakti kepada Allah SWT, dengan mencetak generasi muslim yang unggul. Saat itu pula, setiap laki-laki muslim wajib menghormati dan menyayangi istri mereka msing-masing, karena Allah SWT akan memurkai laki-laki yang mengkhianati perempuan-perempuan mulia ini. Perempuan-perempuan muslim yang bersedia kembali ke rumah.

Selasa, 14 Agustus 2007

LHA... FAKTANYA...?

Hermawan Kertajaya dalam bukunya "On Marketing" (2003:112) menyatakan, bahwa di banyak negara, masyarakat tersegmentasi menjadi: Pertama, kelompok kaya urban, sebesar 3 % dari populasi. Kedua, kelompok kaya rural, sebesar 7 % dari populasi. Ketiga, kelompok miskin urban, sebesar 27 % dari populasi. Keempat, kelompok miskin rural, sebesar 63 % dari populasi.
Bila pernyataan Hermawan Kertajaya dilihat dalam konteks kekinian (tahun 2007), maka pernyataan tersebut masih relevan. Bahkan boleh jadi prosentase kelompok miskin di banyak negara cenderung meningkat (silahkan melihat data melalui internet). Demikian pula dalam kasus Indonesia, bukankah tidak terlalu sukar bagi kita untuk mencari orang miskin di sekitar kita?
Pertanyaannya, mengapa demikian? Bagaimana dengan globalisasi? Bagaimana dengan liberalisasi perdagangan? Dan juga, bagaimana dengan kapitalisasi? Atau, bagaimana dengan globalisme? Bagaimana dengan liberalisme? Dan juga, bagaimana dengan kapitalisme?
Ternyata, globalisasi, liberalisasi perdagangan, kapitalisasi, globalisme, liberalisme, dan kapitalisme telah "menina-bobokan" masyarakat dunia. Masyarakat dunia menyambut dengan gegap gempita, penuh sorak sorai, seperti bertemu dewa dan dewi. Namun ternyata globalisasi, liberalisasi perdagangan, kapitalisasi, globalisme, liberalisme, dan kapitalisme telah gagal mengentaskan kemiskinan, serta telah gagal memperhatikan dan membantu kelompok miskin keluar dari kemiskinannya.
Pertanyaan berikut, mengapa masyarakat dunia masih gegap gempita dan penuh sorak sorai bergembira menerima globalisasi, liberalisasi perdagangan, kapitalisasi, globalisme, liberalisme, dan kapitalisme? Untuk menjawab pertanyaan ini mari kita perhatikan sindiran dari Allah SWT kepada masyarakat dunia.
Allah SWT berfirman, bahwa yang demikian itu adalah karena mereka benar-benar kaum yang tidak mau mempergunakan akal (lihat QS.5:58). Karena sesungguhnya kehinaan akan menimpa kaum yang tidak mempergunakan akalnya (lihat QS.10:100). Oleh karena itu Allah SWT memberikan tanda-tanda (simbol) yang terang kepada kaum yang berakal (lihat QS.29:35). Maka tentulah tidak dapat mengambil pelajaran, selain kaum yang mempunyai pikiran (lihat QS.3:7).
Oleh karena itu, sekiranya penduduk suatu negara beriman dan bertaqwa, pastilah Allah SWT akan melimpahkan kepada mereka keberkahan dari langit dan bumi. Tetapi mereka mendustakan ayat-ayat Allah SWT, maka mereka mendapat kesulitan karena perbuatan mereka itu (lihat QS.7:96).
Sesungguhnya keimanan dan ketaqwaan penduduk suatu negara, akan mendorong mereka berada pada koridor nilai-nilai Islam, yaitu aqidah (sistem Ketuhanan), ibadah (sistem peribadatan), muamallah (sistem interaksi sosial), adab (sistem etika atau kesopanan), dan akhlak (sistem ekspresi orang yang beraqidah, beribadah, bermuamallah, dan beradab). Koridor ini akan mengantarkan mereka pada karakter fathonah (cerdas), amanah (dapat dipercaya), shiddiq (obyektif), tabligh (informatif), istiqomah (konsisten), ikhlas (tulus hati), dan ridha (lapang dada). Kondisi ini selanjutnya akan memberi peluang bagi penduduk negara tersebut untuk membangun peradaban yang transcendent (meruhani), humanis (sesuai fitrah kesucian manusia), dan emansipatori (membebaskan manusia dari jebakan jahiliah modern).

Senin, 13 Agustus 2007

BINARY NUMBER GAMES


Binary number atau bilangan binair, adalah sistem bilangan yang hanya terdiri dari dua angka, yaitu 0 dan 1. Binary number digunakan dalam proses pengkodean informasi dalam komputer, sehingga komputer dapat memproses berbagai informasi dengan cepat dan tepat. Contoh binary number seperti: 0101, 0111, 0110, 1001, 1011, 1000, 0000, 0100, 0001, 0011, dan seterusnya.
Ada hal yang menarik yang berkaitan dengan binary number, yaitu kombinasi 0 dan 1. Dengan menggunakan perspektif simbolik bernuansa matematika, maka seorang muslim mengetahui bahwa binary number merupakan cermin kebenaran dan implementasi firman Allah SWT dalam QS. 112: 1-4 atau QS. Al Ikhlas.
Dalam QS.112:1-4 Allah SWT berfirman, bahwa: (1) Allah SWT itu Maha Esa; (2) Hanya kepada Allah SWT, manusia meminta atau mohon pertolongan; (3) Allah SWT itu tidak beranak dan tidak pula diperanakkan; dan (4) Tidak ada sesuatupun yang setara atau sebanding dengan Allah SWT.
Berdasarkan QS.112:1-4 diketahui adanya substansi mendasar yang harus diketahui manusia, yaitu: Allah SWT itu Maha Esa. Dengan menggunakan perspektif simbolik bernuansa matematika, maka penyebutan Maha Esa dapat disimbolkan dengan bilangan "1", dengan syarat bilangan ini dimaknai sebagaimana pengertian Maha Esa, dimana ke-Esa-anNya bersifat Maha, yaitu tidak terdiri dari unsur-unsur.
Selanjutnya bila manusia berkenan memperhatikan eksistensi kuantitatif seorang manusia (misal: si fulan), maka ia akan mengetahui bahwa si fulan hanyalah 1 (satu) dari sekian milyar manusia yang berada di bumi, di mana bumi hanyalah salah satu dari sekian planet dalam tata surya, di mana tata surya hanyalah salah satu dari sekian banyak tata surya dalam Galaksi Bimasakti (Milkyway), di mana Galaksi Bimasakti hanyalah salah satu dari sekian banyak galaksi di alam semesta. Berdasarkan pendekatan eksistensi kuantitatif ini maka seorang manusia hanyalah 1/~ atau satu per tak terhingga, yang bila diproses secara matematis maka dapatlah dikatakan bahwa seorang manusia hanyalah "0" (nol).
Pengertian "0" bagi seorang manusia, adalah ia (manusia tersebut) tidaklah berarti apa-apa bila dibandingkan dengan alam semesta yang luasnya tak terhingga. Pengertian ini juga berarti bahwa seorang manusia hanyalah "0" bila dibandingkan dengan Pencipta Alam Semesta, yaitu Allah SWT yang kekuasaan, dan keagunganNya tak terhingga. Berbekal pengertian ini, maka seorang manusia (siapapun dia) tak layak sombong, dan tak layak mendurhakai Allah SWT.
Seorang manusia (disimbulkan dengan huruf "M") yang telah menyadari dirinya "0" akan mengerti, bahwa Allah SWT itu Maha Esa (disimbulkan dengan bilangan "1"), maka secara matematis konsepsi ini dapat dituliskan: "M pangkat 0 sama dengan 1". Pengertiannya, siapapun bila menyadari dirinya "0" akan mengerti bahwa Allah itu Maha Esa. Hanya orang-orang yang sombong atau tidak mengetahui eksistensi dirinya, yang mengatakan Tuhan itu lebih dari satu (misal: tiga).
Seorang manusia (disimbulkan dengan huruf "M") yang telah mengetahui bahwa Allah SWT itu Maha Esa, akan menjadi manusia yang paling merdeka karena ia akan menjadi dirinya sendiri, yang secara matematis konsepsi ini dapat dituliskan: "M pangkat 1 sama dengan M". Dalam matematika bilangan berapapun bila berpangkat 1 maka akan menghasilkan bilangan itu sendiri.
Seorang manusia yang mengetahui dirinya "0", dan mengetahui Tuhannya, yaitu Allah SWT, adalah Maha Esa (disimbulkan dengan "1") akan menempatkan Tuhannya dalam posisi super ordinat (wajib dipatuhi) dan dirinya pada posisi subordinat (wajib mematuhi), sehingga ia akan dapat berfungsi tak terhingga (optimal), yang secara matematis konsepsi ini dapat dituliskan: "1 per 0 sama dengan tak terhingga" atau "1/0 = ~". Dengan kata lain seorang manusia yang berkenan memahami bahwa Allah SWT itu Maha Esa maka ia akan mampu memberi manfaat optimal bagi lingkungannya, yang dalam bahasa Al Qur'an disebut "rahmatan lil'alamiin" (rahmat bagi alam semesta).
Bila seorang muslim berkenan memperhatikan uraian tentang seorang manusia yang mengenal dirinya ("0"), kemudian manusia tersebut memahami bahwa Allah itu Maha Esa ("1"), sehingga ia menjadi manusia yang paling merdeka, dan dapat berfungsi optimal ("~"), maka dapatlah diketahui, bahwa Allah SWT sedang mengajarkan binary number (bilangan 0 dan 1), di mana manusia itu "0", sedangkan Allah SWT itu "1" (Maha Esa).
Bila binary number begitu penting dalam pengelolaan informasi saat ini, maka begitu pula dengan informasi bahwa manusia adalah "0" sedangkan Allah SWT itu "1" (Maha Esa). Dengan demikian inilah binary number games ("permainan" binary number) yang telah diketahui umat Islam sejak abad ke-7 (masa penyampaian Islam oleh Rasulullah Muhammad SAW).