ABOUT ISLAM

Senin, 04 Juli 2011

MAMPU "BERALAMAT" SENDIRI

“Beralamat sendiri”, mengandung makna “mandiri”. Seseorang yang mampu “beralamat sendiri” berarti orang yang mandiri. Pemikiran, sikap, dan perilaku orang tersebut tidaklah dideterminir atau ditentukan oleh pihak lain di luar dirinya, melainkan dia sendirilah yang menentukan pemikiran, sikap, dan perilakunya. Berbekal kemampuan, kepercayaan, dan potensi yang dimilikinya, orang tersebut menetapkan pemikiran, sikap, dan perilakunya.


Dengan demikian ada tiga hal yang dibutuhkan oleh seseorang agar ia mampu “beralamat sendiri”, yaitu: Pertama, “beralamat sendiri” membutuhkan pemikiran, di mana pemikiran adalah suatu kondisi di mana seseorang: (1) memiliki opini tentang sesuatu atau tentang seseorang; (2) mempertimbangkan suatu ide atau suatu permasalahan; dan (3) memiliki keyakinan bahwa sesuatu itu benar, atau mengharapkan bahwa sesuatu akan terjadi meskipun orang tersebut tidak setuju. Dengan demikian pemikiran meliputi tiga hal, yaitu opini, pertimbangan, dan harapan.


Kedua, “beralamat sendiri” membutuhkan sikap, di mana sikap adalah suatu keputusan atau ketetapan yang diambil seseorang setelah ia berpikir. Berdasarkan pemikirannya, seseorang berhasil menyediakan beberapa alternatif solusi atas suatu masalah. Beberapa alternatif solusi inilah yang kemudian salah satu di antaranya dipilih oleh seseorang untuk dilaksanakan, karena dipandang paling sesuai atau paling menguntungkan. Proses memilih salah satu di antara beberapa alternatif solusi inilah yang disebut “sikap”.


Selain ditentukan oleh pemikiran, sikap juga ditentukan oleh perasaan seseorang terhadap sesuatu, yang kemudian diekspresikannya dalam format tertentu. Perasaan merupakan suatu instrumen kepekaan (sensitivitas) yang ada pada diri seseorang dalam merespon pengalaman, pemikiran, dan persinggungan dengan pihak lain. Orang-orang yang memiliki perasaan yang peka (sensitif) seringkali mengekspresikan sikapnya dengan penuh sopan santun, dalam rangka menjaga perasaan orang lain atau masyarakat. Sebagaimana diketahui, sopan santun berarti melakukan atau menyampaikan sesuatu dengan cara yang tepat dan sesuai dengan norma-norma (ketentuan-ketentuan) yang berlaku di masyarakat.


Ketiga, “beralamat sendiri” membutuhkan perilaku, di mana perilaku adalah tindakan yang dilakukan berulang-ulang. Tindakan adalah sesuatu yang dilakukan oleh seseorang, yang biasanya dikarenakan sesuatu itu menarik atau dipandang penting oleh seseorang. Dalam konteks interaksi sosial, tindakan (selain bersifat individual) juga bersifat sosial, atau sesuatu yang melibatkan pihak lain. Beberapa kemungkinan yang melatar-belakangi pelibatan pihak lain dalam tindakan, antara lain: (1) karena sesuatu yang dilakukan diperlukan oleh pihak lain, (2) karena sesuatu yang dilakukan berakibat atau berdampak pada pihak lain, dan (3) karena sesuatu yang dilakukan tersebut oleh pihak lain dipandang sebagai bagian dari dirinya.


Oleh karena itu, seseorang yang ingin ”beralamat sendiri” hendaknya bersungguh mengembangkan pemikiran, sikap, dan perilakunya. Ia harus berupaya agar pemikirannya mampu memberi opini yang tepat, mempertimbangkan segala sesuatu secara komprehensif (menyeluruh), dan memuat harapan yang baik. Ia juga harus berupaya agar sikapnya sesuai dengan norma-norma yang berlaku di masyarakat. Selain itu, ia juga hendaknya berupaya agar perilakunya merupakan pengulangan atas tindakan yang diperlukan bagi dirinya dan pihak lain, dan memberi dampak yang baik bagi dirinya dan pihak lain, sehingga dipandang sebagai bagian dari dirinya dan pihak lain.


Sebagai orang yang mandiri, maka seorang manusia hendaknya menyadari, bahwa Allah SWT menugaskan manusia sebagai pemakmur bumi (lihat QS.11:61). Oleh karena itu, seorang manusia harus mendekatkan diri kepada Allah SWT, agar Allah SWT berkenan membantunya dalam menjalankan tugas sebagai pemakmur bumi. Kondisi ini disebut taqwa. tepatnya seorang manusia harus bertaqwa kepada Allah SWT (lihat QS.39:16) dengan sebenar-benarnya taqwa (lihat QS.3:102).


Selamat mencoba, semoga Allah SWT berkenan meridhai...

Minggu, 12 Juni 2011

MEMBANGUN PERCAYA DIRI

Allah SWT berfirman, “Sungguh Kami (Allah) menciptakan manusia dalam sebaik-baik bentuk” (QS.95:4).


Firman Allah SWT dalam QS.95:4 menunjukkan, bahwa sebaik-baik manusia adalah manusia yang percaya bahwa dirinya diciptakan Allah SWT dalam sebaik-baik bentuk. Oleh karena itu, seorang manusia harus percaya bahwa dirinya dapat dipercaya; dan untuk itu ia harus bersungguh-sungguh membangun percaya diri.


Percaya diri adalah suatu kondisi ketika seseorang meyakini, bahwa: Pertama, dirinya mampu melakukan sesuatu dengan baik. Kemampuan, adalah kualitas atau keahlian fisikal (bersifat fisik) atau mental (bersifat non fisik) yang dibutuhkan dalam melakukan sesuatu.


Kualitas ini perlu diperlihatkan melalui pembuktian atas hasil terbaik atau tertinggi yang dapat dicapai ketika melakukan sesuatu. Bila kemampuan dirasa kurang, maka ia perlu memperbaiki kemampuannya agar tercapai standar kemampuan yang dibutuhkan.


Kedua, dirinya dapat dipercaya sebagai orang yang mampu memberikan hasil terbaik. Kepercayaan, adalah keyakinan bahwa seseorang dipandang mampu untuk memberikan hasil terbaik. Keyakinan didasarkan pada pemikiran, yang menunjukkan kebenaran atas pandangan tentang kemampuan orang tersebut.


Sementara itu, kebenaran pandangan didasarkan pada adanya kondisi nyata tentang kemampuan seseorang. Dengan demikian, agar dapat memperoleh kepercayaan sebagai orang yang mampu memberikan hasil terbaik, maka seseorang perlu membangun keyakinan orang lain atas dirinya, dengan menunjukkan kebenaran, melalui kondisi nyata atas kemampuan terbaiknya.


Ketiga, dirinya memiliki sesuatu yang secara potensial dapat menghasilkan sesuatu yang baik. Potensi, adalah suatu kondisi di mana seseorang memiliki peluang atau kemungkinan untuk mewujudkan kualitas terbaik atas sesuatu.


Potensi dapat mewujud bila seseorang berkenan mengoptimalkan energi, dan kekuatan dengan sepenuh hati. Energi, adalah kemampuan untuk menjadi sangat aktif dan tidak cepat lelah. Sementara itu, kekuatan adalah kemampuan untuk mengendalikan dan mempengaruhi orang lain melalui keberhasilan mewujukan sesuatu yang terbaik.


Percaya diri hendaknya dimiliki manusia, karena Allah SWT Maha Pengasih, Maha Penyayang, dan Maha Pengampun. Sebesar apapun kesalahan seorang manusia, sepanjang ia bertaubat dengan sesungguh-sungguhnya maka Allah SWT akan mengampuninya.


Rasulullah Adam AS melakukan satu kali kesalahan, maka ia dikeluarkan dari surga. Sementara itu, manusia akhir zaman melakukan banyak kesalahan, tetapi ingin masuk surga. Maka apabila digunakan logika manusia, maka hal ini tidak mungkin.


Tetapi surga adalah hak Allah SWT. Oleh karena itu, Allah SWT melalui firmannya dalam Al Qur’an, yang juga dijelaskan oleh Rasulullah Muhammad SAW dalam Al Hadist menyatakan; bahwa Allah SWT akan mengampuni dosa sebesar apapun yang disandang seorang muslim, sepanjang muslim tersebut berkenan bertaubat dengan sesungguh-sungguhnya.


Inilah bukti, bahwa Allah SWT Maha Pengasih, Maha Penyayang, dan Maha Pengampun; maka bangunlah percaya diri!


Selamat mencoba, semoga Allah SWT berkenan meridhai...

Minggu, 05 Juni 2011

MEMAKNAI SUKSES

“Sukses” haruslah dimaknai dengan tepat, karena beberapa orang seringkali keliru dalam memaknai “sukses”. Apabila kurang berhati-hati dalam memaknai “sukses”, seseorang dapat terjebak pada makna palsu.


Dalam maknanya yang palsu, “sukses” seringkali dimaknai sebagai keberhasilan seseorang dalam mengumpulkan harta, mencapai peringkat tertinggi dalam hal pangkat, jabatan, dan gelar (sosial dan akademik), serta mampu membangun keluarga dalam jumlah anggota yang relatif besar.


Sesungguhnya makna “sukses” tidaklah sesempit itu. Sesungguhnya makna “sukses” sangat esensial, bersifat saripati atau bersifat intisari. “Sukses” sesungguhnya, atau sukses yang sebenar-benarnya sukses, adalah ketika seseorang mampu melakukan dua hal penting dalam hidupnya, yaitu: Pertama, beribadah kepada Tuhan Yang Maha Esa. Kedua, memberi manfaat optimal kepada orang lain dan lingkungannya.


Oleh karena “sukses” dapat dimaknai dengan benar (sesungguhnya) dan dapat pula dimaknai secara keliru (salah), maka setiap orang perlu berikhtiar untuk sukses (berhasil) dalam memilih makna “sukses” yang benar, atau sukses yang sesungguh-sungguhnya sukses. Dengan kata lain setiap orang harus sukses dalam memaknai “sukses”.


Setelah berhasil memaknai “sukses” dengan benar, maka ia akan mengetahui adanya “jalan” yang berbeda dalam mencapai sukses semu (salah atau keliru) dengan sukses sesungguhnya (benar atau tepat). Hal ini berarti setiap orang harus sukses memilih “jalan” menuju sukses. Dengan kata lain setiap orang perlu SMS (Sukses Menuju Sukses).


Menurut Abdullah Gymnastiar, agar mencapai sukses, yaitu ridha Allah SWT, maka setiap manusia hendaknya perlu hidup dalam tiga dimensi, yaitu: Pertama, dimensi dzikir, yang menekankan keikhlasan dan penyerahan diri kepada Allah SWT. Kedua, dimensi pikir yang menegaskan pentingnya rasionalitas dalam setiap tindakan keseharian seseorang, sehingga setiap langkah merupakan bagian dari perencanaan yang matang. Ketiga, dimensi ikhtiar yang menekankan pentingnya etos kerja, melalui hidup penuh kesungguhan dan kerja keras tanpa kenal putus asa.


Masih menurut Abdullah Gymnastiar, “Kalau kita mau sukses, kunci pertama adalah jujur, karena dengan bermodalkan kejujuran, orang akan percaya kepada kita. Kedua, professional. Kita harus cakap sehingga siapapun yang memerlukan kita merasa puas dengan yang kita kerjakan. Ketiga, inovatif, artinya kita harus mampu menciptakan sesuatu yang baru, jangan hanya menjiplak atau meniru yang sudah ada.”


Selamat mencoba, dan semoga Allah SWT berkenan meridhai...

Minggu, 29 Mei 2011

LIBERALISME: DOGMA ILUSIONIS BARAT

Dogma adalah dekrit (pernyataan) yang dikeluarkan oleh institusi otoritatif, sehingga bagi yang tidak melaksanakan akan mendapat sanksi dari institusi tersebut. Institusi yang dimaksud dalam hal ini dapat berupa negara, organisasi, dan perguruan tinggi.


Ilusionis adalah orang, lembaga, atau negara yang gemar berilusi, berangan-angan, atau berkhayal tentang sesuatu. Ilusionis Barat, artinya orang, tokoh, lembaga, atau negara-negara Barat yang gemar berilusi, berangan-angan, atau berkhayal.


Ilusi, angan-angan, atau khayalan orang, tokoh, lembaga, atau negara-negara Barat ini merupakan dongeng yang ditebarkan oleh Bangsa Yahudi (Zionis), untuk mengelabui mereka (Barat) agar bersedia mendukung dan membantu secara membabi-buta Bangsa Yahudi (Zionis) yang ingin menguasai dunia, yang diawali dengan merampok Tanah Palestina dan mendirikan Negara Israel di atas tanah Bangsa Palestina.


Liberalisme adalah dogma yang dikeluarkan oleh negara-negara Barat, berdasarkan petunjuk organisasi-organisasi di negara-negara Barat, organisasi-organisasi internasional, dan perguruan tinggi terkenal yang ada di Barat dan pro Barat.


Oleh karena itu, negara-negara yang tidak berkenan menerapkan liberalisme akan mendapat sanksi dari negara-negara Barat, organisasi-organisasi internasional, dan perguruan tinggi terkenal yang ada di Barat dan pro Barat. Sanksinya berupa pengucilan, dan penghentian pemberian hutang, atau biasa disebut dengan ”penghentian pemberian bantuan”.


Liberalisme, adalah suatu faham yang menyatakan bahwa kebebasan adalah nilai utama dalam masyarakat. Faham ini merupakan dogma, sebab faham ini bukanlah sesuatu yang sebenarnya, karena kebenarannya bersifat relatif. Dengan demikian liberalisme hanyalah suatu takhyul yang dikemas secara ilmiah, atau “takhayul ilmiah”.


Liberalisme merupakan dekrit yang dikeluarkan oleh institusi otoritatif, sehingga negara atau masyarakat yang menolak dogma Barat ini, akan mendapat sanksi dari institusi otoritatif tersebut.


Sesungguhnya sesuatu disebut benar, bila sesuai dengan perspektif Allah SWT (penentu kebenaran mutlak), yang tertuang dalam nilai-nilai Islam, yang meliputi: aqidah, ibadah, muamallah (tata interaksi sosial), adab (tata etika), dan akhlak (ekspresi beraqidah, beribadah, bermuamallah, dan beradab).


Liberalisme yang digembar-gemborkan Barat, sesungguhnya merupakan dogma yang sengaja ditebarkan oleh Bangsa Yahudi (Zionis) untuk menguasai dunia. Dogma ini sejak tahun 1897 telah dimuat dalam Protocol of Zion point 1 dan 2, yang secara ringkas isinya: sebagai berikut: Pertama, liberalisme, kemerdekaan, persamaan, dan persaudaraan yang dikembangkan oleh Bangsa Yahudi, hanyalah jerat halus untuk menangkap mangsa, yaitu Bangsa Non Yahudi. Kedua, ideologi Bangsa Yahudi, yaitu liberalisme, bagi orang yang tidak menjalankan agama dengan baik akan mudah diterima.


Nafsu Bangsa Yahudi, Zionis, atau Israel untuk menguasai dunia, nampak dari keseriusannya merampok tanah Bangsa Palestina, sebagai lokasi awal mengusai dunia. Salah satu strategi akhirnya adalah merebut Tepi Barat (West Bank) dan Jalur Gaza (Gaza Strip) yang masih dikuasai oleh Bangsa Palestina.


Oleh karena itu, Bangsa Yahudi, Zionis, dan Israel berang dan marah ketika beberapa hari yang lalu Pemerintah Mesir (hasil reformasi pada awal tahun 2011), berkenan membuka secara permanen perbatasan Mesir dengan Gaza, tepatnya di Kota Rafah, yang selama Pemerintah Mesir sebelumnya (Hosni Mubarak) selalu ditutup untuk mendukung Israel mengisolasi Jalur Gaza.



Allah SWT berfirman, “Dan demikianlah untuk setiap nabi, Kami menjadikan musuh yang terdiri dari setan yang berwujud manusia dan jin. Sebagian mereka membisikkan kepada sebagian yang lain perkataan yang indah, sebagai tipuan. Dan kalau Tuhanmu menghendaki, niscaya mereka tidak akan melakukannya. Maka biarkanlah mereka bersama kebohongan yang mereka ada-adakan. Dan agar hati kecil orang-orang yang tidak beriman kepada akherat tertarik pada bisikan itu dan menyenanginya. Dan agar mereka melakukan hal-hal yang biasa mereka lakukan” (QS.6:112-113).



Firman Allah SWT dalam QS.6:112-113 menjelaskan bahwa: Pertama, setiap masa selalu ada setan yang berwujud manusia, atau selalu ada manusia yang berpikir, bersikap, bertindak, dan berperilaku sebagaimana setan. Kedua, para setan ini membisikkan berbagai tipuan yang indah kepada umat manusia, yang merupakan kebohongan yang diada-adakan. Ketiga, orang-orang yang tidak sungguh-sungguh berpegang teguh pada nilai-nilai Islam, akan mudah tertarik pada tipuan yang indah tersebut. Keempat, orang-orang ini tidak menyadari, bahwa ia tertipu oleh suatu kebohongan yang diada-adakan oleh setan berwujud manusia (lihat juga QS.114).



Berdasarkan firman Allah SWT dalam QS.6:112-113 dan QS.114 maka dapatlah dikatakan, bahwa liberalisme adalah suatu tipudaya yang ditebarkan oleh Bangsa Yahudi (Zionis) dan Barat, yang menjadi pendukung Bangsa Yahudi (Zionis). Liberalisme merupakan kebohongan yang diada-adakan oleh Bangsa Yahudi dan pendukungnya (Barat) yang tujuannya adalah untuk menguasai bangsa-bangsa lain di dunia. Oleh karena itu, umat Islam perlu menjadikan nilai-nilai Islam sebagai solusi dalam mengatasi desakan liberalisme, seraya berlindung kepada Allah SWT.


Semoga Allah SWT berkenan melindungi Bangsa Indonesia dari desakan liberalisme, sehingga bangsa ini dapat terus mempertahankan Negara Kesatuan Republik Indonesia, yang dibangun berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar Tahun 1945.



InsyaAllah...

Minggu, 22 Mei 2011

SEHAT SEPERTI RASULULLAH MUHAMMAD SAW

Rasulullah Muhammad SAW wafat pada usia 63 tahun, di mana sepanjang hidupnya beliau hanya mengalami dua kali sakit ringan. Bahkan hingga menjelang wafatnya, beliau masih gemar makan daging kambing, terutama paha kambing. Oleh karena kesehatan beliau yang prima, maka kita layak belajar dan mencontoh gaya hidup sehat beliau.


Dalam Hadist Riwayat Tirmidzi disebutkan bahwa Aisyah RA menyatakan, bahwa Rasulullah Muhammad SAW sering makan mentimun dicampur dengan kurma basah. Inilah tradisi Rasulullah Muhammad SAW dalam menjaga kesehatannya.


Mentimun mengandung: (1) protein 0,65 %, (2) lemak 0,1 %, dan karbohidrat 2,2 %. Selain itu mentimun mengandung zat bermanfaat, seperti: kalsium, zat besi, magnesium, fosforus, vitamin A, vitamin B1, vitamin B2, dan vitamin C. Oleh karena itu, mentimun sangat baik bila digunakan sebagai tonik (untuk menjaga kesehatan).


Jus mentimun dapat mendinginkan badan, dan menurunkan panas saat seseorang demam. Mentimun juga berguna untuk menurunkan tekanan darah pada pasien hipertensi, dan menyehatkan saluran pencernaan makananan.


Selain mentimun, Rasulullah Muhammad SAW juga gemar makan labu. Dalam Hadist Riwayat Muslim disebutkan bahwa Anas RA menyatakan, bahwa ia berangkat bersama Rasulullah Muhammad SAW menghadiri jamuan makan. Kepada Rasulullah Muhammad SAW tuan rumah menghidangkan roti dari gandum serta kuah berisi labu dan dendeng. Anas RA melihat Rasulullah mencari labu dari mangkok kuahnya.


Oleh karena sangat menggemari labu, Rasulllah Muhammad SAW pernah berpesan kepada Aisyah RA untuk memperbanyak labu dalam masakannya. Buah labu bersifat dingin dan basah sehingga memberi asupan gizi ringan. Biji labu mengandung asam amino khusus yang berkhasiat mencegah dan mengatasi hipertrofi, atau pembesaran prostat.


Demikianlah sekelumit konsumsi Rasullah Muhammad SAW. Tetapi perlu diketahui bahwa Rasulullah Muhammad SAW juga menjaga kesehatan akal dan pikirannya. Untuk itu Rasulullah Muhammad SAW mengelola pola pikir, sikap, tindak, dan perilaku yang khas, yaitu: fathonah, amanah, shiddiq, dan tabligh.


Berbekal kesehatan fisik, akal, dan pikirannya, sepanjang hidupnya Rasulullah Muhammad SAW giat memperjuangkan aqidah, ibadah, muamallah, adab, dan akhlak. Melalui perjuangannya, Rasulullah Muhammad SAW berikhtiar membangun peradaban yang: (1) transenden atau meruhani, yaitu bertaqwa kepada Allah SWT; (2) humanis atau manusiawi, yaitu mampu mempertuhankan Allah SWT dan sanggup rahmatan lil’alamiin; dan (3) emansipatoris atau pembebasan, yaitu membebaskan manusia dari jerat kejahiliahan, baik jahiliah kuno, maupun jahiliah modern.


Inilah cara Rasulullah Muhammad SAW menjaga kesehatannya. Selamat mencoba cara tersebut, semoga Allah SWT berkenan meridhai...

Selasa, 17 Mei 2011

HARI KEDZALIMAN INTERNASIONAL

Tahukah Anda? Bahwa Hari Kedzaliman Internasional jatuh pada tanggal 14 Mei, yaitu hari berdirinya Negara Israel, yang tepatnya pada tanggal 14 Mei 1948. Negara Israel merupakan bio-monumen (monumen hidup) kedzaliman manusia. Pada hari itu, dimulai upaya besar-besaran perampokan Tanah Palestina oleh Bangsa Yahudi, yang disertai pembunuhan massal dan pengusiran terhadap Bangsa Palestina.


Perampokan Tanah Palestina dan berdirinya Negara Israel merupakan bagian skenario yang telah disiapkan Bangsa Yahudi, sejak berdirinya Yahudi Internasional yang berlabel Zionis Internasional pada tahun 1897. Theodore Herzl sebagai pendiri organisasi ini, dalam pidatonya menyatakan, “Dalam lima puluh tahun yang akan datang, akan berdiri sebuah Negara Yahudi.”


Pernyataan Theodore Herzl tersebut merupakan sebagian dari isi Protocol of Zion yang detailnya telah disetujui oleh peserta Kongres Zionis Internasional tahun 1897. Protokol yang bersifat rahasia ini menjadi panduan Yahudi Internasional yang tergabung dalam gerakan Zionis Internasional untuk menguasai dunia.


Tahun 1901 melalui investigasi yang rumit akhirnya Protocol of Zion berhasil diketahui oleh Professor Seygel Nilus (Warga Negara Rusia) yang sedang meneliti tentang Gerakan Zionis Internasional. Tahun 1902 Professor Seygel Nilus menerbitkan Protocol of Zion dalam bahasa Rusia (“Protokolat Zionism”), untuk memberitahu masyarakat dunia tentang rencana Bangsa Yahudi menguasai dunia.


Tahun 1912 Victor E. Mars (wartawan “The Morning Post”, London) menerjemahkan Buku “Protokolat Zionism” karya Professor Seygel Nilus dalam Bahasa Inggris (“Protocol of Zion”). Tahun 1917 Buku “Protokolat Zionism” karya Professor Seygel Nilus terbit di Jerman dalam Bahasa Jerman. Sejak tahun 1918 Buku “Protokolat Zionism” karya Professor Seygel Nilus diterjemahkan dalam berbagai bahasa dan terbit di berbagai negara.


Tetapi pengetahuan masyarakat dunia tentang Protocol of Zion gagal membendung pelaksanaan Protocol of Zion oleh Bangsa Yahudi. Buktinya, pada tahun 1917 Menteri Luar Negeri Inggris yang keturunan Yahudi, Arthur James Balfour, atas restu Pemerintah dan Kerajaan Inggris mengeluarkan Deklarasi Balfour, yang isinya mendukung berdirinya Negara Yahudi (Israel) di Tanah Palestina, yang saat itu sedang dijajah Inggris. Sejak Deklarasi Balfour ratusan ribu orang Yahudi dari segenap penjuru Eropa atas fasilitasi Pemerintah Inggris memasuki Tanah Palestina.


Protocol of Zion berisi uraian secara detail dan sistematis tentang rencana Bangsa Yahudi untuk menguasai dunia, yang terbagi dalam 24 (dua puluh empat) bagian. Secara ringkas isi Protocol of Zion adalah sebagai berikut:


(1) Liberalisme, kemerdekaan, persamaan, dan persaudaraan yang kita (Bangsa Yahudi) kembangkan hanyalah jerat halus untuk menangkap mangsa (Bangsa Non Yahudi).

(2) Ideologi kita (Bangsa Yahudi), yaitu liberalisme, bagi orang yang tidak menjalankan agama dengan baik akan mudah diterima.

(3) Untuk menguasai suatu negara, maka kita (Bangsa Yahudi) harus mempertajam pertentangan antara pemerintah dengan rakyatnya.

(4) Liberalisme harus kita (Bangsa Yahudi) sebarkan ke seluruh dunia, agar terjadi dis-integrasi dan kehancuran Bangsa Non Yahudi.

(5) Nama baik pendeta, ulama, dan tokoh agama harus kita (Bangsa Yahudi) cemarkan, agar mereka dipandang hina oleh masyarakat.

(6) Untuk mengusir Bangsa Non Yahudi dari tanahnya, maka kita (Bangsa Yahudi) harus mendorong peningkatan pajak tanah dan biaya pengolahan tanah.

(7) Kita (Bangsa Yahudi) harus mendorong masyarakat Eropa untuk memusuhi bangsa-bangsa yang tinggal di benua lain.

(8) Kita (Bangsa Yahudi) harus berupaya agar pemimpin di setiap negara adalah orang yang lemah atau berperangai buruk, agar kemarahan rakyat mudah meledak.

(9) Kita (Bangsa Yahudi) harus menempatkan orang-orang yang pro Yahudi pada posisi penting dan strategis di setiap negara.

(10) Kita (Bangsa Yahudi) harus memecah belah dan menghapus adat istiadat dan budaya yang dianut oleh Bangsa Non Yahudi.

(11) Kita (Bangsa Yahudi) harus menjadi serigala bagi Bangsa Non Yahudi, yang sesungguhnya seperti biri-biri.

(12) Kita (Bangsa Yahudi) harus mendominasi dan mengendalikan media massa.

(13) Kita (Bangsa Yahudi) harus menghambat dan mematikan pemikiran yang benar yang dirancang oleh Bangsa Non Yahudi.

(14) Kita (Bangsa Yahudi) harus mengikis habis agama lain selain Agama Yahudi, agar di dunia hanya ada satu agama, yaitu Yahudi.

(15) Agen-agen Yahudi harus menyebar ke seluruh dunia, untuk mempersiapkan penguasaan dunia oleh Bangsa Yahudi.

(16) Kita (Bangsa Yahudi) harus tampil terdepan dalam hal pendidikan, agar Bangsa Non Yahudi tunduk pada tradisi Yahudi.

(17) Kita (Bangsa Yahudi) harus tampil sebagai pahlawan, dengan cara menciptakan musuh masyarakat, kemudian kita yang memusnahkan musuh masyarakat tersebut.

(18) Kita (Bangsa Yahudi) harus pandai menciptakan kekacauan, untuk kemudian berpura-pura menyelesaikannya, hingga predikat pahlawan terus melekat pada kita.

(19) Kita (Bangsa Yahudi) harus pandai mencemarkan nama baik para pejuang yang membela kebenaran, agar masyarakat menyamakannya dengan penjahat.

(20) Kita (Bangsa Yahudi) harus pandai menjerat bangsa-bangsa lain dengan pinjaman atau hutang, yang mereka pandang sebagai bantuan.

(21) Kita (Bangsa Yahudi) harus pandai menggalang bantuan dari para kapitalis atau pemilik modal besar, demi tercapainya upaya kita menguasai dunia.

(22) Untuk mencapai tujuannya maka kekerasan boleh dilakukan oleh Bangsa Yahudi di bawah panji-panji Zionisme.

(23) Setelah tujuan tercapai, yaitu berkuasanya Bangsa Yahudi atas dunia, maka pihak-pihak yang pernah membantu kita (Bangsa Yahudi) harus kita musnahkan.

(24) Orang yang memimpin dunia harus dari Bangsa Yahudi yang mendukung Zionisme.


Sumber:

Buku ”Dahsyatnya Lobi-Lobi Gila Internasional Israel” karya Dewi Mustofiah (2011).

Minggu, 08 Mei 2011

PERSPEKTIF KEPENTINGAN OSAMA DAN OBAMA

Beberapa waktu yang lalu, Pemerintah Amerika Serikat, dalam hal ini Presiden Amerika Serikat, Barack Husein Obama, mengumumkan, bahwa Osama bin Laden telah diserang di Pakistan oleh Navy Seal, Pasukan Komando Angkatan Laut Amerika Serikat. Selanjutnya Obama menyatakan, bahwa mayat Osama telah dibuang ke laut. Obama juga menyatakan, bahwa mayat Osama mengerikan karena kepalanya hancur diterjang peluru berkaliber besar dari Navy Seal.


Berdekatan dengan saat pembunuhan terhadap Osama oleh Navy Seal, Allah SWT telah menurunkan Angin Tornado di Negara Bagian Alabama, Amerika Serikat, yang merusak banyak bangunan dan menewaskan 400 (empat ratus) orang warga Amerika Serikat. Bahkan Obama sempat mengunjungi wilayah yang terkena serangan Angin Tornado. Tetapi tak ada seorangpun warga Amerika Serikat yang mampu menghubungkan fenomena Angin Tornado dengan fenomena kedzaliman Amerika Serikat dan sekutunya di Afghanistan, Iraq, dan Libia.


Padahal, bila mereka mampu menghubungkan fenomena Angin Tornado dengan fenomena kedzaliman Amerika Serikat, maka mereka akan menemukan numena, bahwa Allah SWT tidak menyukai kedzaliman hambanya.


Dalam perspektif kepentingan Obama, maka Osama adalah seorang teroris, karena mengganggu kepentingan Amerika Serikat yang sedang sibuk menghamba pada Pemerintah Israel. Sebaliknya dalam perspektif Osama, maka Obama adalah seorang teroris, karena bersedia memimpin Amerika Serikat yang merupakan negara yang menghamba pada Pemerintah Israel, yang terkenal dzalim di dunia.


Demikianlah perspektif manusia, perspektif Obama dan Osama dapat saling bertentangan, karena kebenaran keduanya bersifat relatif. Kebenaran mutlak bukan berada pada manusia, melainkan berada pada Allah SWT. Dengan kata lain Allah SWT adalah penentu kebenaran di semesta alam (alam semesta dan alam akherat).


Sesuatu yang dikatakan benar oleh Allah SWT, maka benarlah ia di semesta alam. Sebaliknya, sesuatu yang dikatakan salah oleh Allah SWT, maka salahlah ia di semesta alam. Oleh karena Allah SWT berfirman dalam Al Qur’an, maka sesungguhnya kebenaran versi Allah SWT dapat dilihat di Al Qur’an.


Inilah kebenaran versi Allah SWT, yang dimuat dalam QS.2:120, sebagai berikut: ”Sesungguhnya Nasrani dan Yahudi tidak akan pernah senang kepadamu (muslim), sebelum kamu (muslim) mengikuti millah (cara hidup) mereka (Nasrani dan Yahudi)”.


Allah SWT juga menyatakan, ”Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan berhijrah serta berjihad dengan harta dan jiwanya pada jalan Allah, dan orang-orang yang memberikan tempat kediaman dan memberi pertolongan, mereka itu satu sama lain saling melindungi...” (QS.8:72).


Allah SWT menjelaskan, ”Tidaklah sama antara orang beriman yang duduk (tidak turut berjuang) tanpa mempunyai uzur (halangan) dengan orang yang berjihad di jalan Allah dengan harta dan jiwanya. Allah melebihkan derajat orang-orang yang berjihad dengan harta dan jiwanya atas orang-orang yang duduk (tidak turut berjuang). ...” (QS.4:94).


Berdasarkan kebenaran versi Allah SWT, maka Osama adalah seorang mujahid (pejuang) yang telah berjihad dengan harta dan jiwanya, terutama dalam upaya membebaskan bumi Afghanistan dari penjajahan Amerika Serikat dan sekutunya. Oleh karena itu, Allah SWT tentulah akan memuliakan Osama dengan karunia dan derajat yang tinggi.


Untuk lebih mudah memahami perbandingan antara Osama dengan Obama dan Pemerintah Amerika Serikat, perhatikan sepak terjang Amerika Serikat selama ini. Pertama, lihatlah jutaan Umat Islam Palestina yang menjadi korban kekejaman Pemerintah Israel yang didukung oleh Pemerintah Amerika Serikat sejak tahun 1948. Kedua, lihatlah jutaan Umat Islam Afghanistan dan Iraq yang menjadi korban kekejaman tentara Amerika Serikat, Inggris, Perancis, dan sekutunya sejak tahun 2002 (Afghanistan) dan 2003 (Iraq). Ketiga, lihatlah Umat Islam Libia yang tewas akibat adu domba dan serangan yang dilakukan oleh Amerika Serikat, Inggris, Perancis dan sekutunya, sejak awal tahun 2011.


Berdasarkan fakta ini, boleh jadi Osama adalah pahlawan, karena berani melawan Amerika Serikat dan sekutunya. Sebaliknya, Obama dan Pemerintah Amerika Serikat serta sekutunya adalah setan yang berbentuk manusia (lihat QS.114). Semoga Allah SWT berkenan menunjukkan yang benar itu benar, dan yang salah itu salah. Selamat jalan Osama... semoga Allah SWT meridhai perjuanganmu...


Khusus bagi Bangsa Indonesia: Semoga Bangsa Indonesia tetap waspada terhadap skenario Amerika Serikat dan sekutunya.


Caranya, Bangsa Indonesia harus tetap bersatu, dan berkenan menghindari anarkisme dan kekerasan, agar tidak terjebak dalam skenario terorisme yang ditebar Amerika Serikat dan sekutunya.


Bangsa Indonesia harus tetap berkomitmen dan berjuang membangun negara yang diridhai Allah SWT dalam bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia yang berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar Tahun 1945.


Apabila ada perbedaan pendapat di antara komponen bangsa, hendaklah diselesaikan secara musyawarah sebagai keluarga bangsa senasib sepenanggungan. Jalin terus hubungan yang harmoni antara Pemerintah Republik Indonesia, Polisi Republik Indonesia, dan Tentara Nasional Indonesia dengan masyarakat Indonesia, demi kesejahteraan dan kepentingan bersama dalam ridha Allah SWT.


Insya-Allah...