ABOUT ISLAM

Tampilkan postingan dengan label pengendalian. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label pengendalian. Tampilkan semua postingan

Minggu, 03 Juni 2012

MELINDUNGI DIRI SENDIRI


“Melindungi diri sendiri” merupakan sebuah konsepsi yang fitri, atau sesuai fitrah manusia. Ketika Allah SWT menciptakan manusia, maka Ia membekalkan manusia kemampuan dasar untuk melindungi diri sendiri. Kemampuan ini harus terus menerus ditingkatkan, untuk mengimbangi masalah yang juga terus menerus meningkat.

Salah satu hal penting dalam melindungi diri sendiri adalah kemampuan pengendalian diri, sebab tidak jarang masalah terberat seorang manusia justru datang dari dirinya sendiri. Oleh karena itu, setiap manusia perlu berlatih melakukan pengendalian diri, agar ia dapat mengendalikan dirinya dalam suka dan duka.

Ada empat alasan yang menunjukkan tentang pentingnya latihan pengendalian diri, yaitu: Pertama, setiap manusia hendaknya mengerti, bahwa dalam hidupnya sehari-hari ia akan menghadapi masalah, hambatan, kendala, atau tantangan. Adakalanya seseorang bermasalah karena tidak memiliki harta, sehingga ia sulit membiayai hidup dan aktivitas kebajikannya.

Namun adakalanya pula seseorang bermasalah, karena memiliki harta yang berlimpah, di mana ia memanfaatkan hartanya untuk hal-hal yang bertentangan dengan nilai-nilai Islam. Kondisi ini menunjukkan, bahwa harta menjadi alat untuk menguji manusia, yang hasilnya dapat berupa pemikiran, sikap, tindakan, dan perilaku yang bernuansa kebajikan; namun dapat pula berupa pemikiran, sikap, tindakan, dan perilaku yang bernuansa keburukan.

Kedua, setiap manusia hendaknya mengerti, bahwa dalam hidupnya sehari-hari ia berpeluang menghadapi sesuatu yang menyakitkan hati. Adakalanya seseorang dapat menahan diri, ketika menghadapi sesuatu yang menyakitkan hati. Namun adakalanya pula seseorang sulit menahan diri, ketika menghadapi sesuatu yang menyakitkan hati.

Oleh karena itu, setiap orang perlu berlatih dalam mengendalikan diri, sehingga sesuatu yang menyakitkan hati tidak akan melukai dirinya. Kondisi ini menunjukkan, bahwa sesuatu yang menyakitkan hati merupakan alat untuk menguji manusia, yang hasilnya dapat berupa pemikiran, sikap, tindakan, dan perilaku yang bernuansa kebajikan; namun dapat pula berupa pemikiran, sikap, tindakan, dan perilaku yang bernuansa keburukan.

Ketiga, latihan pengendalian diri seorang manusia, akan membentuk sosok diri yang penyabar dan bertaqwa. Ia akan bersabar dalam melakukan berbagai tindak kebajikan, meskipun banyak masalah, hambatan, kendala, atau tantangan yang harus dihadapi. Ia juga akan meningkatkan ketaqwaan, meskipun banyak godaan yang menawarkan kesuksesan palsu, kemuliaan palsu, dan kebahagiaan palsu.

Dengan demikian latihan pengendalian diri seorang manusia merupakan suatu urusan yang patut diutamakan. Setiap manusia harus bersungguh-sungguh berlatih mengendalikan diri, terutama yang berkaitan dengan harta dan sesuatu yang menyakitkan hati, agar ia dapat melakukan tindakan kebajikan dengan hartanya, dan memiliki kekebalan ketika terjadi sesuatu yang menyakitkan hati.

Keempat, latihan pengendalian diri insyaAllah akan menjadikan seorang manusia mampu mengatasi godaan harta. Ia juga tabah menghadapi segenap fitnah yang menyakitkan hati. Baginya kesabaran merupakan keharusan, sebagai bukti ketaqwaannya kepada Allah SWT.

Hal ini telah diarahkan oleh Allah SWT dalam QS.3:186, sebagai berikut: “Kamu pasti akan diuji dengan hartamu dan dirimu. Dan pasti kamu akan mendengar banyak hal yang sangat menyakitkan hati dari orang-orang yang diberi Kitab sebelum kamu, dan dari orang-orang musyrik. Jika kamu bersabar dan bertakwa, maka sesungguhnya yang demikian itu termasuk urusan yang patut diutamakan” (QS.3:186).

Selamat merenungkan, dan jangan lupa berdoa kepada Allah SWT, untuk kebaikan Bangsa Indonesia, Bangsa Palestina, dan Umat Islam di seluruh dunia.

Semoga Allah SWT berkenan meridhai...

... 

Minggu, 04 Desember 2011

MEMBANGUN HARGA DIRI

Harga diri (esteem) adalah suatu kondisi di mana seseorang menghormati dirinya sendiri, dengan cara memberi citra baik bagi dirinya, melalui berbagai aktivitas kebajikan. Untuk itu ia menunjukkan perilaku yang halus, lembut, dan tidak kasar, serta berupaya menunjukkan pada khalayak bahwa ia memperhatikan kesetaraan kepentingan dirinya dengan orang lain.


Ketika seseorang berupaya membangun harga dirinya, maka ada beberapa hal yang harus ia lakukan, yaitu: Pertama, ia harus menghindarkan diri dari kondisi tenggelam, atau larut dalam masalah, karena kondisi ini akan menjadikan ia hidup tanpa solusi atas masalah yang dihadapi.


Kedua, ia harus menghindarkan diri dari kondisi tenggelam dalam kepasrahan, serta jangan pernah hanya mengharap keajaiban dan tanpa upaya, melainkan terus menerus berupaya mengatasi masalah sebagai suatu cara membuat keajaiban.


Ketiga, ia harus lakukan penataan emosi dalam format sadar diri, dengan memanfaatkan potensi untuk mencari solusi.


Ketiga upaya tersebut membutuhkan kesediaannya untuk memperhatikan hal-hal sebagai berikut: Pertama, ia harus memperhatikan content, konten, atau isi, seperti: isi pengendalian diri, semangat, ketekunan, dan kemampuan memotivasi diri sendiri.


Kedua, ia harus memperhatikan context, konteks, atau relevansi, seperti: berbagai situasi dan kondisi yang terkait dengan interaksi antara yang bersangkutan dengan orang lain.


Ketiga, ia harus memperhatikan goal atau tujuan, seperti: pemenuhan kepentingan diri sendiri dan orang lain.


Setiap orang hendaknya bersegera membangun harga diri, dengan cara memberi citra baik bagi dirinya, melalui berbagai aktivitas kebajikan. Salah satu kebajikan yang dapat diraih melalui pengendalian diri adalah menahan amarah dan memaafkan kesalahan orang lain.


Perilaku menahan amarah merupakan perilaku seseorang yang memiliki harga diri. Perilaku ini berpasangan secara relasional (sebab akibat) dengan perilaku memaafkan kesalahan orang lain.


Kedua perilaku ini dapat dipandang sebagai perilaku yang bersifat parallel (sejajar), maupun linear (serial). Dalam perspektif parallel masing-masing perilaku (menahan amarah, dan memaafkan kesalahan orang lain) difahami dapat muncul bersamaan.


Sedangkan dalam perspektif linear difahami, bahwa perilaku diawali oleh perilaku menahan amarah. Perilaku ini memberi kesempatan pada individu yang bersangkutan untuk memunculkan perilaku memaafkan kesalahan orang lain.


Seseorang yang memiliki harga diri akan secara sadar mengekspresikan perilaku menahan amarah dan memaafkan kesalahan orang lain. Kesadaran diri sendiri ini mencakup dua hal, yaitu: kesadaran terhadap adanya proses berpikir atau metakognisi (metacognition), dan kesadaran terhadap adanya penataan emosi atau metamood.


Metakognisi dan metamood menghasilkan kesadaran individu terhadap adanya pemikiran tentang perlunya penataan emosi. Hal ini memberi pilihan bagi individu tersebut untuk melakukan penekanan emosi, yang akan menimbulkan pemberontakan; atau melakukan pembebasan emosi, yang akan menimbulkan kejenuhan.


Oleh karena penekanan dan pembebasan emosi menimbulkan efek negatif pada individu, berupa pemberontakan dan kejenuhan pada diri individu yang bersangkutan, maka dibutuhkan adanya solusi emosional berupa pengendalian emosi. Pengendalian emosi, merupakan konsepsi perilaku diri sendiri yang bersifat individual, sadar, rasional, internal, dan sukarela.


Seseorang yang mampu mengendalikan emosi memiliki karakteristik, sebagai berikut: Pertama, ia mengerti dengan sungguh-sungguh, bahwa Tuhan dapat dimohon pertolonganNya terhadap apapun situasi dan kondisi yang dialami.


Kedua, ia bersikap dan berperilaku tetap tenang, saat menerima informasi, deskripsi, atau berita apapun.


Ketiga, ia bersikap dan berperilaku tetap tenang, saat menerima pengakuan dari pihak yang telah berbuat salah atau merugikan dirinya.


Keempat, ia memiliki kesabaran (dalam arti tetap gigih mencari solusi) dan dapat menahan perasaan, ketika mengetahui ada kejanggalan atau mengalami situasi dan kondisi yang tidak sesuai dengan keinginan.


Pengendalian emosi yang dilakukan oleh individu, akan dapat menetralisir pemberontakan dan kejenuhan diri, melalui penyikapan kebutuhan secara tepat, yaitu: ada kebutuhan emosi yang dapat dipenuhi secara proporsional karena bermanfaat; dan ada kebutuhan emosi yang tidak dapat dipenuhi, karena tidak bermanfaat.


Ketika seseorang berhasil melakukan hal ini, maka ia telah mengakses jalan bagi pembangunan dirinya menjadi manusia yang memiliki harga diri.


Selamat berikhtiar, semoga Allah SWT meridhai...