ABOUT ISLAM

Tampilkan postingan dengan label makna. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label makna. Tampilkan semua postingan

Minggu, 05 Juni 2011

MEMAKNAI SUKSES

“Sukses” haruslah dimaknai dengan tepat, karena beberapa orang seringkali keliru dalam memaknai “sukses”. Apabila kurang berhati-hati dalam memaknai “sukses”, seseorang dapat terjebak pada makna palsu.


Dalam maknanya yang palsu, “sukses” seringkali dimaknai sebagai keberhasilan seseorang dalam mengumpulkan harta, mencapai peringkat tertinggi dalam hal pangkat, jabatan, dan gelar (sosial dan akademik), serta mampu membangun keluarga dalam jumlah anggota yang relatif besar.


Sesungguhnya makna “sukses” tidaklah sesempit itu. Sesungguhnya makna “sukses” sangat esensial, bersifat saripati atau bersifat intisari. “Sukses” sesungguhnya, atau sukses yang sebenar-benarnya sukses, adalah ketika seseorang mampu melakukan dua hal penting dalam hidupnya, yaitu: Pertama, beribadah kepada Tuhan Yang Maha Esa. Kedua, memberi manfaat optimal kepada orang lain dan lingkungannya.


Oleh karena “sukses” dapat dimaknai dengan benar (sesungguhnya) dan dapat pula dimaknai secara keliru (salah), maka setiap orang perlu berikhtiar untuk sukses (berhasil) dalam memilih makna “sukses” yang benar, atau sukses yang sesungguh-sungguhnya sukses. Dengan kata lain setiap orang harus sukses dalam memaknai “sukses”.


Setelah berhasil memaknai “sukses” dengan benar, maka ia akan mengetahui adanya “jalan” yang berbeda dalam mencapai sukses semu (salah atau keliru) dengan sukses sesungguhnya (benar atau tepat). Hal ini berarti setiap orang harus sukses memilih “jalan” menuju sukses. Dengan kata lain setiap orang perlu SMS (Sukses Menuju Sukses).


Menurut Abdullah Gymnastiar, agar mencapai sukses, yaitu ridha Allah SWT, maka setiap manusia hendaknya perlu hidup dalam tiga dimensi, yaitu: Pertama, dimensi dzikir, yang menekankan keikhlasan dan penyerahan diri kepada Allah SWT. Kedua, dimensi pikir yang menegaskan pentingnya rasionalitas dalam setiap tindakan keseharian seseorang, sehingga setiap langkah merupakan bagian dari perencanaan yang matang. Ketiga, dimensi ikhtiar yang menekankan pentingnya etos kerja, melalui hidup penuh kesungguhan dan kerja keras tanpa kenal putus asa.


Masih menurut Abdullah Gymnastiar, “Kalau kita mau sukses, kunci pertama adalah jujur, karena dengan bermodalkan kejujuran, orang akan percaya kepada kita. Kedua, professional. Kita harus cakap sehingga siapapun yang memerlukan kita merasa puas dengan yang kita kerjakan. Ketiga, inovatif, artinya kita harus mampu menciptakan sesuatu yang baru, jangan hanya menjiplak atau meniru yang sudah ada.”


Selamat mencoba, dan semoga Allah SWT berkenan meridhai...

Sabtu, 08 Maret 2008

SPIRITUAL DAN TRANSCENDENTAL

Sebagian umat Islam (baik awam maupun ilmuwan) seringkali keliru menggunakan istilah. Sebagai contoh mereka seringkali keliru menggunakan istilah "spiritual" untuk hal-hal yang berhubungan dengan ruhani, misalnya mereka menggunakan istilah "kecerdasan spiritual" untuk menggantikan istilah "kecerdasan ruhani". Sebagai muslim hendaknya kita berhati-hati dalam memahami dan menjelaskan konsepsi "ruhani" kepada saudara-saudara se-Islam (muslim) lainnya.
Dalam nilai-nilai Islam, pengertian "ruhani" tidaklah sama dengan pengertian "psike" dalam psikologi atau nilai-nilai non Islam. "Psike" tidak berhubungan dengan religiusitas, sedangkan "ruhani" sangat berhubungan erat dengan religiusitas. "Psike" hanyalah sebatas yang bukan jasad pada manusia, sedangkan "ruhani" adalah sesuatu yang bukan jasad pada manusia yang mengakui keberadaan dan posisi Allah SWT sebagai Tuhan bagi semesta alam (alam semesta dan alam akherat).
Orang-orang yang tidak mengakui dan tidak bersedia menerapkan nilai-nilai Islam, adalah orang-orang yang memiliki "psike", tetapi tidak memiliki ruhani, karena ruhaninya telah mati ketika ia mendustai dan mendurhakai Allah SWT. Sebaliknya orang-orang yang mengakui dan bersedia menerapkan nilai-nilai Islam, adalah orang-orang yang memiliki ruhani, dan ruhaninya tetap hidup sebagai pendorong dirinya berbakti kepada Allah SWT dan rahmatan lil'alamiin.
Orang-orang yang tidak mengakui dan tidak bersedia menerapkan nilai-nilai Islam, adalah orang-orang yang tidak lagi memiliki "Kontrak Ruhani" (lihat QS.7:172) dengan Allah SWT, karena telah melanggar kontrak tersebut, sehingga tentulah Allah SWT akan menganugerahkan kepedihan (neraka) kepada mereka di akherat kelak. Sebaliknya, orang-orang yang mengakui dan bersedia menerapkan nilai-nilai Islam, adalah orang-orang yang berpegang teguh pada "Kontrak Ruhani" dan berupaya memenuhinya, sehingga tentulah Allah SWT akan menganugerahkan kebahagiaan (surga) kepada mereka di akherat kelak (lihat QS.89:27-30) .
Oleh karena itu, secara terminologi (peristilahan) istilah "ruhani" lebih dekat kepada istilah "transcendental" daripada istilah "spiritual". Danah Zohar dan Ian Marshal (penulis "Spiritual Quotient", 2001) pada halaman 7-8 mengakui, bahwa spiritualitas tidak berhubungan dengan religiusitas. Spiritualitas hanyalah sebatas pemaknaan hidup dalam perspektif manusia yang bersangkutan.
Dengan demikian sudah saatnya umat Islam memahami perbedaan antara "spiritual" dengan "transcendental", dan antara "spiritualitas " dengan "transcendentalitas", serta antara "kecerdasan spiritual" dengan "kecerdasan transcendental".
Transcendentalitas adalah pemaknaan hidup dalam perspektif manusia yang telah dicerahkan oleh perspektif Allah SWT melalui nilai-nilai Islam yang tertuang dalam Al Qur'an dan Al Hadist. Oleh karena itu, kecerdasan transcendental adalah kemampuan manusia untuk secara efektif dan efisien merespon dinamika kehidupan berdasarkan transcendentalitas yang dimilikinya. Dalam konteks kekinian, hal ini akan memudahkan manusia memahami perbedaan antara tentara Amerika Serikat di Irak dengan para pejuang Irak.
Boleh jadi tentara Amerika Serikat di Irak memiliki spiritualitas, tetapi mereka tidak memiliki transcendentalitas. Boleh jadi tentara Amerika Serikat di Irak merasa hidupnya bermakna dalam perspektif keiblisan manusia (lihat QS.114:1-6), tetapi sesungguhnya hidup mereka tidak bermakna dalam perspektif Allah SWT (lihat QS.21:107).
Sebaliknya, boleh jadi para pejuang Irak dipandang rendah oleh Amerika Serikat dan para pengikutnya, tetapi mereka memiliki transcendentalitas yang tinggi. Hidup para pejuang Irak sangat bermakna dalam perspektif Allah SWT, karena sesuai dengan QS.21:107. Boleh jadi para pejuang Irak dihinakan sebagai teroris oleh Amerika Serikat dan para pengikutnya, tetapi mereka disanjung dan diberi kedudukan terhormat oleh Allah SWT, sebagaimana dimaksud QS.89:27-30.
Allah SWT berfirman, "Hai jiwa yang tenang, kembalilah kepada Tuhanmu (Allah) dengan hati yang puas lagi diridhaiNya, maka masuklah ke dalam jama'ah hamba-hambaKu, dan masuklah ke dalam surgaKu" (QS.89:27-30).
Biarlah dunia menghinakan kita, asalkan Allah SWT meridhai kita. Biarlah dunia merendahkan kita, asalkan Allah SWT menyanjung kita. Biarlah dunia memusuhi kita, asalkan Allah SWT mencintai kita.
Oleh karena itu, sudah selayaknya umat Islam terus berjuang menerapkan nilai-nilai Islam, agar tercipta masyarakat yang transcenden (meruhani), humanis (sesuai fitrah manusia), dan emansipatori (bebas dari nilai-nilai jahiliah).
Ketika manusia dirundung masalah kebodohan dan kemiskinan, sudah seharusnya ada sebagian umat Islam yang berupaya mencerdaskan manusia, sedangkan sebagian yang lain berusaha mensejahterakan manusia. Ingatlah firman Allah SWT dalam QS.21:107. Semoga Allah SWT meridhai perjuangan kita.