ABOUT ISLAM

Tampilkan postingan dengan label munafik. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label munafik. Tampilkan semua postingan

Minggu, 13 April 2008

MUNAFIK TERANG BENDERANG

Bila kita mendengar kata "terang benderang", maka yang termaknai segera adalah suatu keadaan yang jelas dan mudah dilihat. Oleh karena itu, "munafik terang benderang" berarti suatu karakter munafik yang diperlihatkan oleh seseorang secara jelas dan mudah dilihat.
Lihatlah informasi entertainment beberapa hari ini, maka anda akan melihat seorang artis (wanita) dari aliran musik tertentu telah memperlihatkan kemunafikannya secara terang benderang. Sang Artis adalah sosok wanita yang gemar menyanyikan lagu sambil menggerakkan tubuhnya secara liar, untuk memancing syahwat lawan jenis. Sang Artis juga dikenal sebagai sosok wanita yang gemar memperlihatkan auratnya kepada lawan jenis ketika show, tujuannya jelas (tak dapat dipungkiri) untuk memancing syahwat lawan jenis.
Pertanyaannya, apa pengaruhnya untuk umat Islam pada umumnya?
Jawabannya tentulah tidak sederhana, karena tindakan Sang Artis bersifat multiplier effect (efek berganda). Salah satunya, antara lain semakin menyulitkan para ulama, dai, dan ustadz dalam memperbaiki akhlak umat, karena memiliki pesaing berupa tindakan jahiliah Sang Artis. Selain itu, pengaruh yang lebih membahayakan adalah disinformasi yang dilakukan Sang Artis, ketika ia memberikan penjelasan munafik kepada pers, seputar pencekalannya oleh beberapa Bupati dan Walikota. Kemunafikan tersebut antara lain:
Pertama, Sang Artis menginformasikan bahwa ia hanyalah seorang entertainer yang mencari rezeki halal dengan menyenangkan hati client-nya. Padahal ia dicekal oleh beberapa Bupati dan Walikota karena pakaian dan aksi panggungnya yang seronok. Uniknya, Sang Artis merasa ia sedang mencari rezeki halal dengan menjajakan auratnya melalui aksi panggung dan pakaiannya yang seronok. Inilah ciri munafik terang benderang, karena dalam memberi penjelasan kepada pers Sang Artis selalu menyebut-nyebut "Allah", "Alhamdulillah", dan senang membaca Qur'an, bahkan siap menjadi dai.
Kedua, Sang Artis bertahan mati-matian, bahwa ia adalah seorang entertainer, maka siapapun silahkan memberi masukan atau kritik, tetapi tidak mengenai profesinya sebagai entertainer. Bagi Sang Artis, entertainer adalah agama keduanya (selain Islam), tempat ia memuja dan mengabdikan diri. Agama "entertainer" yang dianutnya, bagi Sang Artis bahkan dapat mengalahkan seruan kebajikan dan kehormatan wanita, sebagaimana dimaksud dalam QS.24:31. Inilah ciri munafik yang terang benderang, karena Sang Artis seringkali menyebut dirinya adalah wanita beriman (muslimah).
Allah SWT berfirman, "Katakanlah kepada wanita yang beriman, "Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kehormatannya, serta janganlah mereka menampakkan auratnya, kecuali bagian tubuh yang biasa terlihat (seperti telapak tangan dan wajah) ..." (QS.24:31).
Pertanyaan selanjutnya, bagaimana jika Sang Artis ingin bertaubat, dan membatasi aktivitasnya sendiri agar sesuai dengan nilai-nilai Islam?
Jawabannya tentulah silahkan, dan sangat berpeluang mendapat ampunan Allah SWT, karena Allah SWT adalah Maha Pengampun dan selalu menerima taubat dari hamba-hambanya. Silahkan memperbaiki diri, dengan mempelajari nilai-nilai Islam. Selain itu jauhi orang-orang yang mengajak pada aktivitas yang mendurhakai Allah SWT. Ketahuilah Allah SWT telah berfirman dalam QS.114:4-6, bahwa ada setan dari golongan manusia yang selalu mengajak pada kesesatan dan kejahatan.
Bila Sang Artis berkenan bertaubat, dan memperbaiki diri, maka ia berpeluang menjadi wanita shalihah. Suatu karakter wanita mulia yang dihormati orang-orang beriman, dan yang dirindukan kehadirannya oleh segenap penduduk surga. Bukankah Allah SWT telah berfirman, "Hai jiwa yang tenang (nafsul muthmainnah) kembalilah kepada Tuhanmu (Allah) dengan ridha dan diridhai. Maka masuklah ke dalam golongan hamba-hambaKu, dan masuklah ke dalam surgaKu" (QS.89:27-30).
Semoga Sang Artis bertaubat, doa kita untuk kesadarannya, dengan harapan ia berkenan kembali menjalani hidupnya yang indah dalam nilai-nilai Islam. Amiin yaa Allah, amiiin.

Minggu, 30 September 2007

JANGAN MUNAFIK YAA...

Pada masa kini pengertian "munafik" seringkali diselewengkan. Seorang muslim yang menolak ajakan maksiat sering dicemooh sebagai orang munafik. Seorang muslim yang berupaya sungguh-sungguh untuk menerapkan nilai-nilai Islam, bahkan juga dicemooh sebagai orang munafik. Inilah kesesatan dunia yang menyesatkan orang-orang yang tidak waspada terhadap tipudaya dunia. Mereka hanya berpikir, "Apa kata dunia?"
Sesungguhnya kata "munafik" berarti seorang manusia yang berpenampilan formal sebagai muslim (semua identitas tertulis menunjukkan bahwa yang bersangkutan adalah muslim), dan menjalankan ibadah ritual (misal: shalat, puasa, zakat,atau haji), namun hatinya sangat membenci nilai-nilai Islam dan orang-orang yang berusaha menerapkannya (ia belum bisa tidur bila dalam satu hari belum menghujat nilai-nilai Islam dan orang-orang yang berusaha menerapkannya).
Allah SWT menjelaskan, "Dan apabila dikatakan kepada mereka (orang-orang munafik), "Mari kita berhukum kepada yang diturunkan Allah kepada Rasul (Al Qur'an)", maka engkau dapati orang-orang munafik itu akan menolak dengan sekuat-kuatnya" (QS.4:61).
Penjelasan Allah SWT tersebut menunjukkan bagian detail dari sifat orang munafik yang menyimpan kebencian terhadap nilai-nilai Islam dan orang-orang yang berusaha menerapkannya. Penjelasan Allah SWT tersebut menggambarkan, bahwa: Pertama, orang-orang munafik tidak berkenan menggunakan nilai-nilai Islam sebagai acuan pemikiran, sikap, dan perilaku. Kedua, orang-orang munafik enggan menjadikan Al Qur'an dan Al Hadist sebagai sumber nilai-nilai yang dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Ketiga, orang-orang munafik gemar berpaling sekuat-kuatnya dari nilai-nilai yang terdapat dalam Al Qur'an dan Al Hadist.
Oleh karena itu setiap muslim harus bersungguh-sungguh menghindarkan diri dari ciri-ciri orang munafik, caranya: Pertama, tetap tegar menolak ajakan maksiat meskipun dicemooh sebagai orang munafik. Kedua, tetap berupaya sungguh-sungguh menerapkan nilai-nilai Islam dalam kehidupan sehari-hari, meskipun dicemooh sebagai orang munafik. Ketiga, tetap berpegang kuat pada nilai-nilai Islam, meskipun dunia mencemooh nilai-nilai Islam. Keempat, tetap berpenampilan sebagai muslim, tetap menjalankan ibadah sebagaimana dicontohkan oleh Rasulullah Muhammad SAW, tetap berupaya mencintai dan menerapkan nilai Islam serta mendukung orang-orang yang berusaha menerapkan nilai-nilai Islam. Kelima, tetap menjadikan Al Qur'an dan Al Hadist sebagai sumber nilai-nilai yang akan diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Keenam, tetap berupaya sekuat-kuatnya (dengan penuh kesabaran), dalam menjelaskan kepada orang-orang munafik tentang kekeliruan pemikiran, sikap, dan perilaku mereka.

Kamis, 09 Agustus 2007

BERBEKAL PSIKOSOSIAL

Setelah memahami "jiwa" masyarakat, maka seorang muslim dapat memetakan masyarakat yang sedang berinteraksi dengannya. Peta tersebut dapat memuat kategori masyarakat, seperti: kafir, fasiq, musyrik, munafik, atau muttaqiin. Bila suatu masyarakat masih dikategorikan sebagai masyarakat yang kafir, fasiq, musyrik, atau munafik, maka menjadi kewajiban bagi seorang muslim untuk mengajak mereka ke "jalan" taqwa, sehingga mencapai derajat muttaqiin. Pencerahan didahului dengan menyampaikan firman Allah SWT, bahwa Allah SWT telah memilihkan Agama Islam untuk manusia, maka janganlah mati melainkan dalam keadaan muslim (lihat QS.2:132). Meskipun sesungguhnya tidak ada paksaan dalam memeluk Agama Islam, karena sudah jelas "jalan" yang benar dengan yang salah (lihat QS.2:256). Sesungguhnya agama yang diridhai di sisi Allah SWT hanyalah Agama Islam (lihat QS.3:19). Oleh karena itu, barangsiapa memeluk agama selain Agama Islam, maka tidak akan diterima agamanya itu (lihat QS.3:85).