Seorang anak berusia dua tahun menangis hebat ketika ditinggal pergi ayah dan bundanya. Ayahnya bekerja di sebuah instansi pemerintah, sedangkan bundanya bekerja di sebuah perusahaan swasta. Dengan menggunakan mobil yang tergolong mahal sang anak ditinggalkan di sebuah tempat, yang oleh pengelolanya digunakan untuk menampung anak-anak usia dini. Sang anak ditinggalkan di tempat itu oleh ayah dan bundanya yang sibuk bekerja.
Tempat yang digunakan untuk menampung anak usia dini, telah mendorong para bunda merasa selamat dari kewajibannya mengelola proses regenerasi muslim. Keberadaan tempat yang disebut “LAUD” (Lokalisasi Anak Usia Dini) seolah telah menggugurkan kewajiban bunda menjaga amanat Allah SWT. Seolah-olah amanat Allah SWT agar para bunda mengelola proses regenerasi muslim telah beralih ke tangan para pengelola LAUD.
Sesungguhnya para bunda itu telah mengabaikan amanat Allah SWT. Mereka telah mengabaikan tuntunan Allah SWT tentang pemikiran, sikap, tindakan, dan perilaku wanita yang tertuang dalam Al Qur’an. Mereka terpesona dengan propaganda (iklan) kaum feminis, kapitalis, dan materialis yang menjadikan wanita hanya sebagai komoditi kerja. Oleh karena itu, para bunda ini insyaAllah mendapat adzab yang pedih dari Allah SWT, karena telah merusak konstruksi kejayaan muslim masa depan, dan eksistensi Islam di masa depan.
Sesungguhnya Allah SWT memerintahkan agar para bunda menghindari keburukan (lihat QS.33:30) dan melakukan kebaikan (lihat QS.33:31), dengan cara berada di dalam rumah (lihat QS.33:33), agar ia dapat mengelola proses regenerasi muslim secara optimal. Sudah selayaknya para bunda menghindari keburukan, dengan tidak menarik perhatian orang-orang di luar rumah (lihat QS.33:32), agar terhindar dari ekses pekerjaan publik, dan mencegah komoditisasi wanita.
Sudah selayaknya para bunda melakukan kebaikan, dengan cara berada di dalam rumah, agar ia dapat fokus pada pekerjaan domestik, dan fokus pada pengelolaan proses regenerasi muslim. Apabila para bunda berkenan melakukan hal ini, maka insyaAllah dihadapan Allah SWT ia akan diakui sebagai wanita shalehah. Bagi wanita shalehah seperti ini, tak pernah terpikir olehnya untuk meninggalkan anak-anaknya di LAUD (Lokalisasi Anak Usia Dini).
Sebaliknya, bagi para bunda yang gemar meninggalkan anak-anaknya di LAUD, maka ia tak layak menyebut dirinya wanita shalehah. Hal ini disebabkan pemikiran, sikap, tindakan, dan perilakunya yang telah mengabaikan amanat Allah SWT tentang pengelolaan proses regenerasi muslim. Bagi wanita-wanita seperti ini, anak bukanlah bagian dari proses regenerasi, melainkan hanya bagian dari proses reproduksi manusia.
Oleh karena itu, Umat Islam sudah selayaknya memberi apresiasi (penghormatan) kepada para bunda yang setia mengelola proses regenerasi muslim, sebagai bakti mereka kepada Allah SWT, yang bermanfaat bagi eksistensi Islam di masa depan.
Setiap manusia, baik muslim maupun non muslim sesungguhnya sedang menyongsong kematian. Suka atau tidak suka, hari-hari yang dilaluinya justru mengarah pada kematian. Ia dapat mengalami kematian kapan saja, dan dengan cara apa saja. Apapun prosedur yang ditempuhnya, ia sedang memproses dirinya menuju kematian. Allah SWT adalah penentu waktu dan cara kematian setiap manusia. Setelah kematiannya, maka manusia yang bersangkutan akan dimintai pertanggung-jawaban atas semua pemikiran, sikap, dan perilakunya ketika masih hidup. Mereka yang tidak mengakui Allah SWT sebagai Tuhan, tentu saja akan terkejut, tetapi semua itu terlambat, karena ia harus segera mempertanggung-jawabkan pemikiran, sikap, dan perilakunya kepada Allah SWT. Saat itu, suasananya tentu sangat mendebarkan dan dramatis. Imam Al-Ghazali pernah mengingatkan, "Akherat mendekat, dan dunia akan segera berlalu. Perjalanan masih panjang, namun bekal sangat kurang, dan "bahaya" semakin besar." Oleh karena kepongahan seorang manusia, ia seringkali melupakan kematian, seolah-olah kematian hanya untuk orang lain. Seolah-olah kematian hanya tayangan di televisi, berita di radio, atau sekedar tulisan di surat kabar harian. Para pecinta dunia, seringkali melupakan akherat. Para pecinta dunia, seringkali mengabaikan kematian. Para pecinta dunia, seringkali meremehkan nilai-nilai Islam. Mereka hidup untuk memperebutkan dunia, dan dengan berbagai cara haram (tidak halal) mereka berupaya mendapatkannya. Mereka terkejut, karena ketika dunia didapatkan, berupa harta, pangkat, jabatan, dan segenap asesorinya, ternyata ia berada pada track menyongsong kematian. Ketika ia sadar, ia telah terlambat, kematian telah datang menjemput. Rasulullah Muhammad SAW pernah mengingatkan, "Banyak-banyaklah mengingat mati, sebab mengingat mati itu akan mengurangi kecintaan seseorang terhadap dunia" (HR. Anas RA).
Allah SWT membuat pernyataan tegas dalam Al Qur'an, khususnya QS.30:8-10, yang intinya bahwa para penentang Rasulullah Muhammad SAW, dan para penentang ajaran yang dibawa oleh Rasulullah Muhammad SAW akan mengalami kehancuran, sebagaimana halnya para penentang Rasul-Rasul Allah SWT di masa lampau. Jika saat ini para penentang nampak menikmati keberhasilan dan kesuksesan, sesungguhnya mereka sedang menghimpun kehancurannya sedikit demi sedikit. Penderitaan muslim di Afghanistan, Iraq, dan Palestina akibat penjajahan dan perampokan tanah mereka oleh Pemerintah Amerika Serikat, NATO, dan Israel, tidak akan pernah tak berbayar. Pada saatnya kelak, masing-masing individu yang terlibat dalam pendzaliman terhadap muslim, akan dimintai pertanggungan-jawab oleh Allah SWT, baik di dunia maupun di akherat. Para penentang ini tidak pernah memikirkan tentang kejadian diri mereka. Seolah mereka tidak tahu, bahwa Allah SWT menciptakan langit dan bumi serta seluruh isi yang ada di antara dan pada keduanya, dengan tujuan yang benar dan pada waktu yang telah ditentukan. Para penentang ini telah berjalan di banyak tempat di permukaan bumi, dan sebagian sangat kecil ruang angkasa, tetapi mereka tetap tidak mengenal Tuhannya. Mereka mengetahui kesudahan orang-orang yang dzalim di masa lalu, tetapi mereka sangat gemar mempraktekkan kedzaliman. Mereka mengetahui bahwa orang-orang dzalim di masa lalu juga memiliki kekuatan sebagaimana mereka sekarang, tetapi bukankah orang-orang dzalim itu mengalami kehancuran. Telah datang kepada para penentang ini seorang Rasul, yaitu Rasulullah Muhammad SAW, tetapi mereka meremehkan dan mengabaikan ajarannya (nilai-nilai Islam). Oleh sebab itu, jika orang-orang dzalim ini mengalami kehancuran, sesungguhnya merekalah yang mengundang kehancuran itu bagi dirinya. Allah SWT menjanjikan adzab kepada para penentang ini, sebagaimana tertuang dalam QS.30:10. Jika yang menjanjikan kehancuran bagi para penentang Rasulullah Muhammad SAW adalah seorang manusia, maka tentulah janjinya itu patut diragukan. Namun bila yang berjanji adalah Allah SWT, maka layaklah bila Umat Muslim menyiapkan diri untuk menyambut perwujudan janji Allah SWT. Bila Romawi dan Uni Sovyet dapat hancur, bukan tidak mungkin bagi Allah SWT menghancurkan Amerika Serikat, NATO, dan Israel. Semoga Allah SWT berkenan...
Dalam beberapa minggu ini "Operasi Adu Domba" antara Indonesia dengan Malaysia relatif lebih gencar dari biasanya. Setelah oknum Tentara Diraja Malaysia dengan menggunakan kapal laut memprovokasi Tentara Nasional Indonesia, yang berada di perairan Blok Ambalat; kini giliran sebuah production house (swasta) Malaysia memproduksi dan mengedarkan sebuah iklan kunjungan wisata ke Malaysia, dengan menjadikan seolah-olah ikon budaya Indonesia (wayang kulit, batik, keris, dan tari pendet) adalah hasil karya Malaysia. Sesungguhnya "Operasi Adu Domba" ini telah berlangsung sejak tahun 2000, dalam bentuk beraneka-ragam kegiatan jahat. Alhamdulillahi Rabbil'alamiin, Pemerintah Indonesia dan Pemerintah Malaysia berhasil mengatasi "Operasi Adu Domba" ini dengan cerdas. Kedua pemerintahan selalu menyelesaikan ekses kegiatan jahat pihak ketiga ini, dengan cara-cara yang bermartabat, dan saling memartabatkan satu sama lain. Demikian pula Umat Islam atau muslim di kedua negara, selalu mensikapi kegiatan jahat (adu domba) ini dengan kepala dingin. Muslim Indonesia berupaya menahan diri, untuk tidak terlalu memojokkan Pemerintah Malaysia, yang sedang sibuk menghadang juru fitnah yang ada di Malaysia. Demikian pula halnya dengan Pemerintah Indonesia yang sedang melakukan hal yang sama di Indonesia. Sesungguhnya Muslim Indonesia dan Muslim Malaysia mempunyai tujuan yang sama, yaitu beribadah kepada Allah SWT, dan rahmatan lil'alamiin. Ukhuwah Islamiah telah mengikat Muslim Indonesia dengan Muslim Malaysia, dengan mengubah sumber konflik menjadi sumber energi. Beberapa keluarga Muslim Malaysia mempekerjakan Muslim Indonesia di perusahaan dan/atau di dalam rumah mereka secara bermartabat. Sementara Muslim Indonesia sangat senang dapat bekerja di Malaysia, karena selain mendapat penghasilan yang memadai, mereka juga merasa senang karena dapat bekerja dengan saudara semuslimnya, yaitu Muslim Malaysia. Fenomena ini tentu tidak menyenangkan pihak-pihak yang menginginkan Muslim Indonesia dengan Muslim Malaysia berperang. Tetapi Muslim Indonesia dan Muslim Malaysia tetap kompak.
Assallamu'alaikum Wr. Wb. Kepada yang saya hormati, para pembaca blog "Sosiologi Dakwah", di manapun Anda berada. Dengan hormat. Berdasarkan informasi dari berbagai media massa (televisi dan surat kabar harian), kita ketahui bahwa saat ini militer Pakistan, atas perintah para petinggi pemerintahan dan militer Pakistan, sedang membabi buta menyerang para pejuang muslim Afghanistan, yang sesungguhnya sedang berjuang membebaskan Afghanistan dari penjajahan. Saat ini Afghanistan sedang dijajah oleh kekuatan Komunitas Iblis Internasional sebagaimana dimaksud dalam QS.2:120, yaitu Amerika Serikat, NATO, dan para sekutunya. Pemerintahan Afghanistan saat ini adalah pemerintahan boneka hasil karya dan untuk diabdikan pada kepentingan Komunitas Iblis Internasional. Pada awalnya tidak ada masalah antara Pakistan dengan pejuang muslim Afghanistan, namun atas bujukan Komunitas Iblis Internasional, beberapa kali militer Pakistan menyerang pejuang muslim Afghanistan yang berada di perbatasan Afghanistan - Pakistan. Pada awalnya pula, pejuang muslim Afghanistan dapat menahan diri dan menghindari pertempuran dengan Pakistan. Namun karena terus menerus diserang oleh militer Pakistan, maka akhirnya pejuang muslim Afghanistan melakukan perlawanan terhadap Pakistan. Kondisi ini kemudian dijadikan alasan oleh para petinggi pemerintahan dan militer Pakistan untuk menghancurkan pejuang muslim Afghanistan. Oleh karena itu, sebagai muslim, dan sebagai orang yang faham tentang kejahatan Komunitas Iblis Internasional, sebagaimana telah diterangkan oleh Allah SWT dalam QS.2:120, maka marilah kita memohon kepada Allah SWT agar berkenan meridhai perjuangan dan ikhtiar para pejuang muslim Afghanistan. Semoga Allah SWT juga berkenan memperkuat para pejuang muslim Afghanistan dengan kekuatan, yang boleh jadi tidak difahami oleh manusia. Demikian yang dapat saya sampaikan, dengan harapan para pembaca blog ini berkenan mendoakan para pejuang muslim Afghanistan. Terimakasih. Wassallamu'alaikum Wr. Wb.
Setiap muslim hendaknya bersungguh-sungguh dalam menjalankan Rukun Iman, yaitu beriman kepada Allah SWT, Malaikat, Rasulullah, Kitab Suci, Hari Akhir (Kiamat), dan Takdir dari Allah SWT. Setiap muslim hendaknya bersungguh-sungguh dalam melaksanakan Rukun Islam, yaitu Syahadat, Shalat, Puasa di Bulan Ramadhan, Zakat, dan Haji bagi yang mampu. Setiap muslim hendaknya bersungguh-sungguh mengupayakan agar hidupnya selalu berada dalam koridor AIM-A2 (Aqidah, Ibadah, Muamallah, Adab, dan Akhlak). Setiap muslim hendaknya bersungguh-sungguh mengupayakan agar pemikiran, sikap, dan perilakunya selalu FAST-I2R (Fathonah, Amanah, Shiddiq, Tabligh, Istiqamah, Ikhlas, dan Ridha). Setiap muslim hendaknya bersungguh-sungguh mengupayakan agar ia dapat berperan sebagai MUASiR (Mujahiddin, Uswatun hasanah, Asabiquunal awaluun, Sirajan muniran, dan Rahmatan lil'alamiin). Setiap muslim hendaknya bersungguh-sungguh mengupayakan agar ia dapat memberi kontribusi dalam membangun peradaban yang TRANSHUME (TRANSenden, HUManis, dan Emansipatori). Oleh karena itu, setiap muslim hendaknya bersungguh-sungguh mengupayakan agar dalam Pemilihan Umum tanggal 9 April 2009, ia hanya memilih partai politik dan/atau calon legislatif yang membela dan memperjuangkan tegaknya nilai-nilai Islam di Negara Kesatuan Republik Indonesia. Semoga Allah SWT berkenan meridhai...
Rohingya, adalah etnis muslim yang mendiami wilayah Rohang (sekarang disebut Arakan), yaitu suatu wilayah di bagian barat laut Myanmar (Birma), yang bagian utara dari wilayah ini berbatasan dengan Bangladesh. Rohingya telah ada di wilayah ini, sebelum negara Birma (dahulu), atau Myanmar (sekarang) berdiri. Telah ratusan tahun muslim Rohingya hidup di wilayah ini (Rohang atau Arakan) dalam tradisi Islam. Namun muslim Rohingya mengalami tekanan sejak abad ke-19, baik oleh masyarakat sekitarnya yang beragama Budha, oleh penguasa Birma atau Myanmar, maupun oleh penjajah wilayah Birma atau Myanmar, yaitu Jepang dan Inggris. Pada tahun 1942 terjadi pembantaian terhadap muslim Rohingya oleh masyarakat Budha di sekitar wilayah Rohang (Arakan), yang mengakibatkan tewasnya 100 ribu orang muslim Rohingya. Pada masa junta militer Myanmar, pembantaian dan pengusiran terhadap muslim Rohingya dilakukan dengan cara yang lebih sistematis. Junta militer Myanmar bekerja sama dengan masyarakat Budha di sekitar wilayah Rohang terus menerus menekan, membunuh, dan mengusir muslim Rohingya dari wilayah Rohang. Data statistik tahun 2006 menunjukkan, bahwa dari 50 juta orang warga Myanmar, 8 juta orang di antaranya adalah muslim. Dari 8 juta orang muslim Myanmar, diketahui 3,5 juta orang di antaranya adalah muslim Rohingya. Tetapi melalui program pembantaian yang sistematis terhadap muslim Rohingya, pada tahun 2008 jumlah muslim Rohingya di Myanmar hanya tersisa 1,5 juta orang. Hingga saat ini pembantaian sistematis terhadap muslim Rohingya terus terjadi di Myanmar (tepatnya di wilayah Rohang). Oleh karena itu, salah besar, bila ada pihak yang menyatakan pengungsi Rohingya yang ada di Indonesia, Malaysia, Bangladesh, dan Thailand, sebagai "Pengungsi Ekonomi". Adalah benar, ketika ada beberapa Ulama dan masyarakat Indonesia yang menyebut pengungsi Rohingya, sebagai "Pengungsi Aqidah". Muslim Rohingya adalah orang-orang yang terusir dari kampung halamannya, karena dimusuhi aqidah Islamnya. Belajar dari Rohingya, maka Umat Islam di manapun ia berada hendaklah semakin mendekatkan diri kepada Allah SWT. Hanya Allah SWT yang dapat melindungi Umat Islam dari pihak-pihak yang menginginkan kehancurannya. Seiring dengan itu, Umat Islam juga harus terus menerus mengembangkan karakter Islam, yang FAST, yaitu: Pertama, fathonah, atau cerdas komprehensif. Kedua, amanah, atau dapat dipercaya. Ketiga, shiddiq, atau obyektif. Keempat, tabligh, atau informatif. Semoga Allah SWT berkenan melindungi Umat Islam di manapun ia berada. Semoga Allah SWT juga berkenan menjadikan Umat Islam, sebagai umat yang rahmatan lil'alamiin, yaitu umat yang mampu memberi kontribusi optimal bagi lingkungannya (abiotik, biotik, dan cultural).
Seorang laki-laki muslim yang beruntung, adalah yang berhasil menikahi seorang wanita muslim (muslimah), karena keduanya akan bahu membahu menggapai ridha Allah SWT. Sebaik-baik muslimah, adalah yang meneladani Rasulullah Muhammad SAW, meneladani kehidupan keluarga Rasulullah Muhammad SAW, dan meneladani istri-istri Rasulullah Muhammad SAW. Istri-istri Rasulullah Muhammad SAW, merupakan teladan yang baik bagi muslimah, karena mereka hidup dalam binaan langsung Rasulullah Muhammad SAW. Oleh karena itu, tepatlah kiranya, bila muslimah sama sekali tidak meneladani artis hollywood, bollywood, maupun indowood (artis Indonesia). Salah satu istri Rasulullah Muhammad SAW, yang patut diteladani oleh muslimah, dan wajib dihormati oleh laki-laki muslim, adalah Khadijah binti Khuwalid. Keutamaan Khadijah, sesungguhnya juga menunjukkan keutamaan muslimah, seperti: Pertama, kecerdasan beliau (Khadijah), ketika menolak lamaran beberapa laki-laki yang berorientasi harta dan kecantikan wanita, merupakan fenomena kecerdasan seorang muslimah. Kedua, kecermatan beliau, ketika menerima lamaran Rasulullah Muhammad SAW, yang didasarkan pada adanya data tentang keunggulan pribadi Rasulullah Muhammad SAW, merupakan fenomena kecermatan seorang muslimah. Ketiga, ketepatan sikap beliau, ketika menjadi wanita pertama yang beriman kepada Allah SWT dan Rasulullah Muhammad SAW (bersyahadat), merupakan ketepatan sikap seorang muslimah. Keempat, kasih sayang beliau, ketika berperan sebagai istri Rasulullah Muhammad SAW, merupakan fenomena kasih sayang seorang muslimah. Kelima, ketegaran beliau, ketika berperan sebagai pendamping perjuangan Rasulullah Muhammad SAW, merupakan fenomena ketegaran seorang muslimah. Dengan kata lain, sesungguhnya keutamaan Khadijah binti Khuwalid, merupakan fenomena keutamaan muslimah. Kecerdasan, kecermatan, ketepatan sikap, kasih sayang, dan ketegaran Khadijah binti Khuwalid, merupakan fenomena kecerdasan, kecermatan, ketepatan sikap, kasih sayang, dan ketegaran seorang muslimah. Oleh karena itu, agar seorang laki-laki muslim beruntung, maka hendaklah ia hanya menikahi muslimah. Dengan demikian, adalah suatu kebenaran, ketika nilai-nilai Islam menolak pernikahan lintas agama, atau beda agama. Dalam Al Qur'an, Allah SWT berfirman, bahwa laki-laki muslim untuk wanita muslim, dan wanita muslim untuk laki-laki muslim. Artinya, hanya laki-laki muslim yang berhak menikahi wanita muslim (muslimah).
Ada fenomena menarik di kalangan tentara Amerika Serikat yang menjajah Afghanistan dan Iraq, yaitu "bunuh diri". Sejak menjajah Afghanistan (tahun 2002) dan Iraq (tahun 2003) telah banyak tentara Amerika Serikat yang melakukan bunuh diri. Selama tahun 2008 saja telah 143 orang tentara Amerika Serikat melakukan bunuh diri. Dalam perspektif Islam, fenomena ini telah dijanjikan oleh Allah SWT, di mana Allah SWT tidak akan meridhai siapapun, dan tidak akan memberi petunjuk (hidayah) kepada siapapun yang telah berbuat dzalim. Penjajahan Amerika Serikat dan sekutu-sekutunya terhadap Afghanistan dan Iraq merupakan bentuk kedzaliman di masa kini, sehingga Allah SWT membiarkan para penjajah ini hidup dalam kesesatan, tanpa petunjuk, tanpa tujuan, dan tanpa kebahagian. Akibatnya, tentara para penjajah berupaya melakukan substitusi terhadap berbagai ketiadaan yang ditimpakan Allah SWT tersebut, dengan berbagai kegiatan seperti: meminum minuman keras (mabuk), berzinah, berjudi, dan perbuatan maksiat lainnya. Namun itu semua tetap tidak membahagiakan mereka. Akibatnya ribuan tentara Amerika Serikat mengalami gangguan jiwa, dan ratusan lainnnya melakukan bunuh diri. Dalam perspektif sosiologi, ada beberapa penjelasan yang dapat diberikan terhadap maraknya bunuh diri di kalangan tentara Amerika Serikat, yaitu: Pertama, adanya fenomena fatalistic suicide. Fenomena ini menunjukkan adanya sebagian tentara Amerika Serikat yang tidak berdaya menghadapi tekanan keadaan di wilayah jajahan. Misalnya, ketidak-berdayaan tentara Amerika Serikat menghadapi Pejuang Muslim Afghanistan dan Iraq yang gigih berjuang, meskipun memiliki berbagai keterbatasan fasilitas. Hal ini menimbulkan tekanan berat bagi tentara Amerika Serikat yang berkelimpahan fasilitas, tapi kosong rohani. Kedua, adanya fenomena anomic suicide. Fenomena ini menunjukkan adanya sebagian tentara Amerika Serikat yang merasa tidak adanya nilai-nilai bersama. Sebagian tentara ini merasa diperlakukan tidak adil, karena di saat warga negara Amerika Serikat hidup bebas, aman, dan nyaman di Amerika Serikat, mereka justru harus berhadapan dengan Pejuang Muslim Afghanistan dan Iraq yang tangguh, ulet, dan sangat militan. Terlebih-lebih lagi mereka ketahui, bahwa yang paling banyak menikmati keuntungan adalah beberapa pengusaha yang dekat dengan George Walker Bush. Ketiga, adanya fenomena egoistic suicide. Fenomena ini menunjukkan adanya sebagian tentara Amerika Serikat yang telah terjebak oleh sistem nilai kapitalis dan liberalis yang kuat. Tetapi mereka kecewa karena sistem ini gagal memberi ketangguhan sikap juang pada diri mereka. Hal berbeda mereka temukan pada Pejuang Muslim Afghanistan dan Iraq, yang dalam jumlah sedikit dan fasilitas seadanya memiliki ketangguhan sikap juang yang tinggi. Satu hal yang tidak difahami oleh tentara Amerika Serikat adalah kenyamanan berada di "jalan" Allah SWT. Keempat, adanya fenomena altruistic suicide. Fenomena ini menunjukkan adanya upaya dari sebagian tentara Amerika Serikat untuk "mempertuhankan" kepentingan bangsa dan negaranya, dengan cara berperang di Afghanistan dan Iraq. Namun mereka ini kemudian kecewa, ketika mengetahui bahwa penjajahan di Afghanistan dan Iraq dilakukan untuk kepentingan beberapa pengusaha yang dekat dengan George Walker Bush, dan untuk kepentingan mengamankan Negara Israel, yang selama ini "menjajah" Amerika Serikat. Kelima, adanya fenomena individualistic suicide. Fenomena ini menjukkan adanya sebagian tentara Amerika Serikat yang merasa bahwa pengiriman mereka ke Afghanistan atau Iraq merupakan suatu proses pengasingan sosial. Hal ini dikarenakan mereka harus kehilangan kenyamanan berada di tanah airnya sendiri (Amerika Serikat) dengan berperang di Afghanistan atau Iraq, padahal yang harus mereka hadapi adalah ketangguhan dan keuletan Pejuang Muslim Afghanistan atau Iraq, yang terkenal memiliki basis rohani yang kuat. Keenam, adanya fenomena institutional suicide. Fenomena ini menunjukkan adanya sebagian tentara Amerika Serikat yang merasa, bahwa negara mereka telah memaksa mereka melakukan bunuh diri massal dengan mengirim mereka ke Afghanistan atau Iraq. Hal ini dikarenakan negara mereka memaksakan perang terhadap suatu bangsa yang memiliki pijakan rohani yang kuat, yang bahagia ketika berjuang, dan sangat senang ketika berkorban demi kejayaan nilai-nilai Islam. Sebaliknya tentara Amerika Serikat harus berperang dalam basis nilai-nilai yang tidak memiliki unsur rohani, dan dicaci banyak bangsa beradab. Inilah fenomena yang dapat dijelaskan dalam perspektif Islam dan sosiologi, sehingga memudahkan pemahaman terhadap maraknya bunuh diri di kalangan tentara Amerika Serikat, terutama yang bertugas menjajah di Afghanistan dan Iraq.
Muslim adalah seorang manusia (bila individual) atau suatu komunitas (bila kolektif), yang memiliki karakteristik tertentu, sebagaimana diungkapkan oleh Allah SWT dalam Al Qur'an, dan dijelaskan oleh Rasulullah Muhammad SAW. Ada tujuh point yang menjadi karakteristik muslim, yaitu: persyaratan, tanggung-jawab, tugas dan fungsi, hubungan kerja, identitas, tuntutan fisik, dan lingkungan sosial. Pertama, persyaratan menjadi muslim terdiri dari kesiapan mempraktekkan Rukun Iman dan Rukun Islam dalam kehidupan sehari-hari. Kedua, muslim bertanggung-jawab atas kemanfaatan alam semesta, sebagai sarana dan prasarana beribadah kepada Allah SWT. Ketiga, ada tugas dan fungsi yang diemban oleh seorang muslim, yaitu: (1) menjadi mujahiddin atau pembela kebenaran, (2) menjadi uswatun hasanah atau teladan yang baik, (3) menjadi asabiquunal awaluun atau pendahulu dalam melaksanakan kebajikan, (4) menjadi sirajan muniran atau pencerah bagi manusia lainnya, dan (5) rahmatan lil'alamiin atau memberi manfaat optimal bagi alam semesta (termasuk manusianya). Keempat, seorang muslim mampu melakukan harmonisasi hubungan kerja dengan muslim lainnya, agar terjadi sinergi antar muslim dalam memenuhi tugas dan fungsinya. Kelima, muslim memiliki identitas yang khas, yaitu hanya memperTuhankan Allah SWT, Tuhan Yang Maha Esa. Keenam, muslim dituntut memiliki fisik yang sehat, tegar, dan terlatih, karena seringkali kekuatan fisik sangat dibutuhkan dalam menegakkan kebenaran, dan menghancurkan kedzaliman yang dilakukan oleh Komunitas Iblis Internasional (Yahudi Israel, Amerika Serikat, Inggris, Perancis, dan sekutu-sekutunya). Ketujuh, muslim memiliki lingkungan sosial yang beraneka ragam, yang menuntut kemampuan antisipatifnya.
Sejak kemarin Tentara Yahudi Israel menarik diri dari Gaza, alasan formalnya adalah gencatan senjata sepihak yang dinyatakan oleh Pemerintah Yahudi Israel. Padahal sesungguhnya mereka gentar menghadapi strategi sniper yang ditampilkan Hamas (Pejuang Muslim Palestina). Para sniper Hamas yang berada di reruntuhan gedung siap mencabut nyawa manusia berhati Iblis, yaitu Tentara Yahudi Israel yang berada di Gaza. Penarikan Tentara Yahudi Israel dari Gaza, hendaknya jangan membuat Umat Islam terkesima. Jangan pernah berpikir, bahwa Yahudi Israel adalah komunitas cinta damai. Karena anggota Komunitas Iblis Internasional ini keluar dari Gaza, setelah membantai 1.400 orang Bangsa Palestina, yang sebagian besar adalah wanita dan anak-anak. Jangan pernah terkesima pada Yahudi Israel, baik tentara, pemerintah, maupun rakyatnya. Bila Umat Islam terkesima, berarti Umat Islam tertipu, karena Pemerintah, Tentara, dan Rakyat Yahudi Israel adalah perampok tanah Palestina, dan sebagai bagian dari Komunitas Iblis Internasional mereka selalu siap berbuat kerusakan di muka bumi, terutama di Palestina. Umat Islam juga selayaknya jangan terkesima pada terpilihnya Barack Obama sebagai presiden di Amerika Serikat, karena sebagai suatu sistem yang mapan, Amerika Serikat insyaAllah tak akan berubah. Amerika Serikat akan tetap sebagai bagian dari Komunitas Iblis Internasional, bersama-sama dengan Yahudi Israel, Inggris, dan Perancis. Oleh karena itu, Umat Islam tetap harus tenang. Kuatkan doa kepada Allah SWT, agar suatu saat Hadist Rasulullah Muhammad SAW dapat terwujud, yaitu "Tidak akan terjadi kiamat, sampai Umat Islam berhasil mengalahkan Yahudi." Dengan demikian Para Pejuang Muslim di Afghanistan, Iraq, dan Palestina teruslah berjuang, sampai suatu saat Anda berhasil mengalahkan Komunitas Iblis Internasional (Yahudi Israel, Amerika Serikat, Inggris, Perancis, dan sekutu-sekutunya). Tidak ada damai, antara Umat Islam dengan Komunitas Iblis Internasional hingga akhir zaman. Lihatlah firman Allah SWT dalam QS.2:120 dan QS.114. Tidak ada damai antara perampok tanah Palestina (Yahudi Israel) dengan pemilik tanah Palestina (Bangsa Palestina), sampai sang perampok keluar dari seluruh tanah yang didudukinya, yang diklaimnya sebagai wilayah Israel. Selamat berjuang saudaraku Pejuang Muslim di Afghanistan, Iraq, dan Palestina. Ketahuilah Allah SWT meridhai perjuangan Anda. Selamat berjuang, dan maafkan kami yang hanya mampu berdoa.........
Assallamu'alaikum Wr.Wb. Saudara-Saudaraku, Umat Islam di seluruh dunia. Sampai dengan hari ini telah 1.050 orang Bangsa Palestina yang tewas di Gaza, akibat gempuran Tentara Yahudi Israel (anggota Komunitas Iblis Internasional). Sesungguhnya, bila Allah SWT berkenan, maka sangatlah mudah bagi Allah SWT untuk memusnahkan Komunitas Iblis Internasional. Hal ini pernah Allah SWT perlihatkan, ketika Ia memusnahkan Bangsa Ad, Bangsa Tsamud, dan Bangsa-Bangsa Dzalim lainnya. Nampaknya, kali ini Allah SWT menampilkan skenario yang lain, yaitu "Skenario Ladang Amal". Nampaknya Allah SWT hendak memberi kesempatan pada Umat Islam yang diridhaiNya, untuk beramal sebanyak-banyaknya, sehebat-hebatnya, dan setinggi-tingginya dengan cara "membiarkan" Komunitas Iblis Internasional melakukan kerusakan di alam semesta, dalam batas-batas ketentuanNya. Berdasarkan "Skenario Ladang Amal", maka terbuka kesempatan seluas-luasnya bagi setiap muslim, untuk berbakti kepada Allah SWT dengan cara memperbaiki kerusakan yang ditimbulkan oleh Komunitas Iblis Internasional (Yahudi Israel, Amerika Serikat, Inggris, Perancis, dan sekutu-sekutunya). Bila Komunitas Iblis Internasional melakukan kerusakan dalam format peperangan, maka tersedia "Ladang Jihad" bagi Umat Islam yang mampu melakukannya. Sebaik-baik jalan menghentikan peperangan, adalah dengan cara memerangi pihak yang mengobarkannya. Bila Komunitas Iblis Internasional melakukan kerusakan dalam format ideologi, politik, ekonomi, sosial, budaya, dan lain-lain, maka tersedia "Ladang Amal" bagi Umat Islam yang mampu melakukannya. Sesungguhnya, segenap kerusakan yang dilakukan oleh Komunitas Iblis Internasional, merupakan "Ladang Amal" bagi Umat Islam. Oleh karena itu, sudah selayaknya Umat Islam bersyukur kepada Allah SWT, yang berkenan menerapkan "Skenario Ladang Amal" pada sekuen akhir zaman ini. Wahai Umat Islam di seluruh dunia, sambutlah "Skenario Ladang Amal" yang diberlakukan oleh Allah SWT di akhir zaman ini. Berbondong-bondonglah menjadi pesertanya, sesuai dengan kemampuan, kompetensi, dan keahlian masing-masing. Bagi Umat Islam yang belum berkesempatan menghadiri "Ladang Jihad" di Afghanistan, Iraq, dan Palestina, maka berbaktilah kepada Allah SWT sesuai dengan kemampuan, kompetensi, dan keahlian masing-masing. Tingkatkan kualitas diri, agar semakin bertaqwa, dan rahamatan lil'alamiin. InsyaAllah niat, pemikiran, sikap, dan perilaku bakti setiap muslim kepada Allah SWT, akan mendapat ridhaNya, dan bermanfaat bagi kehidupan Umat Manusia. Demikian yang dapat disampaikan, dan mohon maaf bila ada kata-kata yang salah. Wassallamu'alaikum Wr.Wb. Aristiono Nugroho
Di sebuah ruang publik (tempat umum, misal: kantor, sekolah, dan lain-lain), seseorang merokok dengan santainya. Ia beranggapan, bahwa yang ia lakukan tidak mengganggu orang lain. Baginya, kalaupun ia suatu saat sakit karena merokok, biarlah itu menjadi resikonya sendiri. Baginya merokok tidaklah haram (dalam syariat Islam merokok dikenai ketentuan "makruh"). Oleh karena itu, ia merasa tetap dapat masuk surga, meskipun ia merokok. Satu hal yang dilupakan oleh orang ini, bahwa asap rokok itu tidak seluruhnya ia hisap, sebagian besar asap itu justru keluar dari mulutnya, dan meracuni udara di sekitarnya. Bila ia merokok di ruang publik, maka asap rokok yang dikeluarkannya akan meracuni udara di ruang tersebut. Saat itulah orang yang merasa baik ini, telah berbuat kejahatan. Ia telah meracuni orang lain, dengan budaya primitifnya (tidak memperhatikan kepentingan orang lain). Bila ia telah meninggalkan ruangan, maka racun asap rokonya tetap berada di ruang itu, terutama bila ruangan ber-AC. Orang seperti ini, tentu tidak layak mengklaim diri sebagai orang baik. Jika ia seorang muslim, ia tentu tidak layak mengklaim diri sebagai orang shaleh, karena orang shaleh bersifat rahmatan lil'alamiin, bukan gemar meracuni orang lain (dengan asap rokoknya). Oleh karena itu, sesungguhnya makin tinggi tingkat kesalehan seseorang maka tentulah ia tidak merokok.
Pertama, di masa kolonial menjajah dan merampas hasil bumi, wilayah-wilayah muslim. Kedua, mendorong dan membantu berdirinya Negara Israel di Tanah Bangsa Palestina, sejak tahun 1920 sampai berdirinya Negara Israel tahun 1948, dan hingga kini. Ketiga, mendorong agen Inggris, Kemal Ataturk, menghancurkan Kekhalifahan Islam Ottoman, dan mendirikan Negara Turki yang sekuler. Keempat, menyediakan London bagi Markas Besar Ahmadiyah Internasional, yang mendirikan Kekhalifahan Islam Palsu, dan merusak atau menodai Islam. Kelima, membantu Amerika Serikat menjajah Negeri-Negeri Muslim, seperti Afghanistan dan Irak. Keenam, dan lain-lain
Bagi yang membutuhkan referensi tentang keterkaitan antara ketaqwaan kepada Allah SWT dengan kualitas diri dalam merespon lingkungan, dapat membaca buku, antara lain: (1) "Menuju Muslim Kaffah: Menggali Potensi Diri", karya Drs. H. Toto Tasmara; atau (2) "Transcendental Intelligent", karya Drs. H. Toto Tasmara.
Bagi umat Islam di seluruh dunia, bila selesai shalat, berdoalah untuk muslim Gaza. Berdoalah untuk mereka, yang selalu diteror oleh tentara Israel. Hampir setiap hari selalu ada muslim Gaza yang tewas dibunuh tentara Israel, baik laki-laki maupun wanita, baik dewasa maupun anak-anak. Jangan ragu dengan doa anda, karena Allah SWT berjanji akan mengabulkan doa setiap muslim bila ia berdoa. Bila Romawi dapat runtuh, bila Uni Sovyet dapat runtuh, maka tidak mustahil suatu saat Amerika Serikat dan Israel akan runtuh. Tentang bagaimana proses keruntuhannya, biarlah Allah SWT yang menentukan. Tidak ada janji Allah SWT yang tidak ditepatiNya, termasuk janji Allah SWT untuk mengadzab orang-orang kafir, seperti tentara Israel dan pendukungnya. Anda tentu masih ingat Ariel Sharon, tentara Israel yang kemudian menjadi Perdana Menteri Israel. Orang bengis yang telah membantai ribuan muslim Palestina. Sejak 13 Januari 2006 hingga saat ini dalam keadaan koma, atau dalam perspektif umat Islam tentulah dalam keadaan sakaratul maut. Dalam keadaan sakaratul maut itu seseorang ditunjukkan sepak terjangnya ketika masih sehat. Oleh karena itu , setiap muslim tentu maklum, bahwa saat ini Ariel Sharon sedang ditunjukkan sepak terjangnya ketika masih sehat. Dalam posisi sakaratul maut, para pemuja setan seperti Ariel Sharon tentu berharap ia dapat kembali seperti semula untuk berbuat baik. Tetapi insyaAllah permintaannya tidak dikabulkan. Begitulah janji Allah SWT bagi orang-orang kafir dan dzalim, yaitu adzab yang sangat pedih di akherat. Namun demikian kaum kafir tentu tidak faham dengan pengetahuan ini, maka mereka tetap bersemangat membantai umat Islam di manapun umat Islam berada. Oleh karena itu, marilah berdoa kepada Allah SWT, dan berikhtiarlah agar nilai-nilai Islam dapat tegak di alam semesta.
Allah SWT berfirman, "Sungguh kamu akan diuji terhadap harta dan dirimu, serta kamu akan mendengar dari orang-orang yang diberi Kitab sebelum kamu, dan dari orang-orang yang mempersekutukan Allah, berupa gangguan yang banyak; tetapi jika kamu sabar dan taqwa, maka yang demikian itu termasuk urusan yang memerlukan keteguhan hati" (QS.3:186). Jika setiap muslim berkenan memperhatikan firman Allah SWT tersebut, maka ia akan mengerti bahwa setiap muslim wajib melakukan kebajikan Islami atau amal shaleh, yang berkaitan dengan harta dan dirinya. Untuk itu, ia harus melakukan optimalisasi manfaat harta dan dirinya, bagi penegakan nilai-nilai Islam. Hanya saja setiap muslim juga harus mengerti, bahwa ketika ia sedang melakukan optimalisasi manfaat harta dan dirinya, maka ia akan mendapat gangguan yang banyak dari orang-orang yang mendustai Allah SWT. Oleh karena itu, setiap muslim harus mampu bersabar, dan tetap tegar menghadapi gangguan yang banyak. Pemikiran, sikap, dan perilaku muslim yang sabar dan tegar merupakan sesuatu yang penting, agar ia tergolong sebagai orang-orang yang bertaqwa. Gangguan yang banyak dari orang-orang yang mendustai Allah SWT, merupakan hal yang sudah sejak lama terjadi. Sehingga kesabaran dan ketaqwaan sangat diperlukan, agar setiap muslim dapat mengatasi dinamika kehidupan dirinya dan umat Islam. Kesabaran dan ketaqwaan diperlukan agar setiap muslim dapat melakukan optimalisasi manfaat harta dan dirinya, bagi penegakan nilai-nilai Islam. Hal ini sangat relevan dengan firman Allah SWT yang menyatakan, bahwa optimalisasi manfaat harta dan diri seorang muslim, merupakan urusan yang memerlukan keteguhan hati (lihat kembali QS.3:186). Sementara itu, M. Quraish Shihab dalam "Tafsir Al Mishbah" menyoroti aspek "ujian" yang terdapat dalam QS.3:186. Menurutnya QS.3:186 mengandung hiburan, karena: Pertama, ayat ini menetapkan bahwa ujian merupakan keniscayaan untuk semua orang. Oleh karena itu mereka yang dihadapkan pada ujian, hendaknya mengerti bahwa ia bukanlah orang pertama ataupun orang terakhir yang mengalaminya. Kedua, penyampaian tentang keniscayaan ujian merupakan persiapan mental untuk menghadapinya. Sehingga kedatangannya yang telah diduga itu, dapat meringankan beban mental orang yang bersangkutan. Akhirnya dapatlah difahami, bahwa supaya setiap muslim dapat mengatasi gangguan dan ujian terhadap amal shalehnya, maka muslim tersebut harus berpikir, bersikap, dan berperilaku dalam koridor AIM-A2 (Aqidah, Ibadah, Muamallah, Adab, dan Akhlak). Ia juga harus sangat bersungguh-sungguh memperlihatkan performa muslim yang FAST-I2R (Fathonah, Amanah, Shiddiq, Tabligh, Istiqamah, Ikhlas, dan Ridha).
Pada masa kini pengertian "munafik" seringkali diselewengkan. Seorang muslim yang menolak ajakan maksiat sering dicemooh sebagai orang munafik. Seorang muslim yang berupaya sungguh-sungguh untuk menerapkan nilai-nilai Islam, bahkan juga dicemooh sebagai orang munafik. Inilah kesesatan dunia yang menyesatkan orang-orang yang tidak waspada terhadap tipudaya dunia. Mereka hanya berpikir, "Apa kata dunia?" Sesungguhnya kata "munafik" berarti seorang manusia yang berpenampilan formal sebagai muslim (semua identitas tertulis menunjukkan bahwa yang bersangkutan adalah muslim), dan menjalankan ibadah ritual (misal: shalat, puasa, zakat,atau haji), namun hatinya sangat membenci nilai-nilai Islam dan orang-orang yang berusaha menerapkannya (ia belum bisa tidur bila dalam satu hari belum menghujat nilai-nilai Islam dan orang-orang yang berusaha menerapkannya). Allah SWT menjelaskan, "Dan apabila dikatakan kepada mereka (orang-orang munafik), "Mari kita berhukum kepada yang diturunkan Allah kepada Rasul (Al Qur'an)", maka engkau dapati orang-orang munafik itu akan menolak dengan sekuat-kuatnya" (QS.4:61). Penjelasan Allah SWT tersebut menunjukkan bagian detail dari sifat orang munafik yang menyimpan kebencian terhadap nilai-nilai Islam dan orang-orang yang berusaha menerapkannya. Penjelasan Allah SWT tersebut menggambarkan, bahwa: Pertama, orang-orang munafik tidak berkenan menggunakan nilai-nilai Islam sebagai acuan pemikiran, sikap, dan perilaku. Kedua, orang-orang munafik enggan menjadikan Al Qur'an dan Al Hadist sebagai sumber nilai-nilai yang dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Ketiga, orang-orang munafik gemar berpaling sekuat-kuatnya dari nilai-nilai yang terdapat dalam Al Qur'an dan Al Hadist. Oleh karena itu setiap muslim harus bersungguh-sungguh menghindarkan diri dari ciri-ciri orang munafik, caranya: Pertama, tetap tegar menolak ajakan maksiat meskipun dicemooh sebagai orang munafik. Kedua, tetap berupaya sungguh-sungguh menerapkan nilai-nilai Islam dalam kehidupan sehari-hari, meskipun dicemooh sebagai orang munafik. Ketiga, tetap berpegang kuat pada nilai-nilai Islam, meskipun dunia mencemooh nilai-nilai Islam. Keempat, tetap berpenampilan sebagai muslim, tetap menjalankan ibadah sebagaimana dicontohkan oleh Rasulullah Muhammad SAW, tetap berupaya mencintai dan menerapkan nilai Islam serta mendukung orang-orang yang berusaha menerapkan nilai-nilai Islam. Kelima, tetap menjadikan Al Qur'an dan Al Hadist sebagai sumber nilai-nilai yang akan diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Keenam, tetap berupaya sekuat-kuatnya (dengan penuh kesabaran), dalam menjelaskan kepada orang-orang munafik tentang kekeliruan pemikiran, sikap, dan perilaku mereka.
Setiap muslim hendaknya cermat dalam memperhatikan suatu issue yang berkaitan dengan prospek umat, misalnya issue tentang peran perempuan (wanita) dalam rumah tangga. Dalam konteks ini MUI (Majelis Ulama Indonesia) mendorong perempuan untuk kembali ke rumah, kecuali untuk profesi seperti dokter ahli kandungan dan profesi lain yang khusus berinteraksi dengan perempuan (lihat Harian Republika tanggal 16 Desember 2004). MUI menyerukan kepada seluruh masyarakat untuk melakukan gerakan kembali ke rumah bagi perempuan. Hal ini dikarenakan rumah merupakan wahana pendidikan pertama dan utama untuk membentengi anak dari serbuan budaya yang bertentangan dengan nilai-nilai Islam. Seruan MUI menjadi penting karena saat ini rumah cenderung hanya berfungsi sebagai "terminal" (tempat persinggahan) anggota keluarga, tanpa ada interaksi yang berkualitas (saling menyayangi). Kecenderungan ini tentu mencemaskan setiap muslim, karena menjadi ancaman regeneratif umat. Oleh karena itu, hal ini perlu diatasi agar setiap keluarga muslim dapat menghadapi beratnya tantangan agresi budaya yang bertentangan dengan nilai-nilai Islam. Agresi budaya ini wujudnya berupa kemerosotan akhlak, seperti: minum-minuman keras dan penggunaan narkotika, perjudian, perzinahan, dan lain-lain. Allah SWT telah mengingatkan agar orang tua (ayah dan bunda) berbagi fungsi, agar umat terhindar dari generasi berikutnya yang lemah. Tepatnya Allah SWT berfirman, "Dan hendaklah takut kepada Allah , orang-orang yang sekiranya meninggalkan anak-anak yang lemah di belakang mereka, yang mereka khawatir terhadap anak-anak mereka. Maka hendaklah mereka bertaqwa kepada Allah , dan hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang benar" (QS.4:9). Firman Allah SWT ini hendaknya menjadi titik tumpu bagi laki-laki dan perempuan yang telah menikah dalam merancang sinergi. Berbasis nilai-nilai Islam, sudah saatnya laki-laki dengan didukung perempuan mengambil peran sebagai pencari nafkah (pekerjaan publik), sedangkan perempuan dengan didukung laki-laki mengambil peran sebagai pendidik anak yang utama (pekerjaan domestik). Sudah saatnya pula laki-laki dan perempuan saling menghargai perannya masing-masing, dan bertanggungjawab atas perannya itu kepada Allah SWT dan anggota keluarga. Bila ini terjadi, maka saat itulah terjadi gerakan perempuan-perempuan muslim untuk kembali ke rumah, demi bakti kepada Allah SWT, dengan mencetak generasi muslim yang unggul. Saat itu pula, setiap laki-laki muslim wajib menghormati dan menyayangi istri mereka msing-masing, karena Allah SWT akan memurkai laki-laki yang mengkhianati perempuan-perempuan mulia ini. Perempuan-perempuan muslim yang bersedia kembali ke rumah.
Setiap muslim wajib berusaha mewujudkan peradaban dunia yang TRANSHUME (TRANSenden, HUManis, dan Emansipatori), dalam koridor AIM-A2 (Aqidah, Ibadah, Muamallah, Adab, dan Akhlak), melalui karakter muslim yang FAST-I2R (Fathonah, Amanah, Shiddiq, Tabligh, Istiqomah, Ikhlas, dan Ridha), dalam perannya sebagai MUASIR (Mujahiddin, Uswatun hasanah, Assabiquunal awaluun, SIrajan muniran, dan Rahmatan lil'alamiin. Peradaban TRANSHUME, adalah peradaban yang dibangun berdasarkan konsepsi-konsepsi ruhani (transenden), kemanusian (humanis), dan membebaskan (emansipatori). Konsepsi-konsepsi ruhani (Agama Islam) akan mendorong setiap muslim untuk menata pemikiran, sikap, dan perilakunya sesuai dengan nilai-nilai Islam sebagai nilai-nilai utama (ultimate values). Pemikiran, sikap, dan perilaku yang sesuai dengan nilai-nilai Islam ini kemudian menciptakan peradaban yang menempatkan manusia berada pada posisinya sebagai manusia, atau sesuai dengan fitrahnya. Manusia tidak diposisikan sebagai super-ordinat, melainkan dalam posisi sub-ordinat. Super-ordinat (yang harus dipatuhi) semesta alam adalah Allah SWT, sedangkan manusia adalah sub-ordinat (yang harus mematuhi) dari Allah SWT. Semangat transenden dan humanis dalam koridor nilai-nilai Islam (AIM-A2) selanjutnya akan menciptakan peradaban yang emansipatori, yaitu peradaban yang membebaskan manusia dari penjajahan, eksploitasi, dan kedzaliman lainnya.
George Ritzer dan Douglas J. Goodman dalam "Modern Sociological Theory" (2003) menjelaskan, bahwa ada kecenderungan masyarakat dunia untuk menganggap sosiologi sebagai fenomena Barat. Padahal sesungguhnya Abdulrahman Ibnu Khaldun (1332-1400) telah sejak lama mengajarkan ilmu tentang masyarakat kepada para mahasiswa atau santrinya di Universitas Al Azhar, Mesir, yang merupakan universitas tertua di dunia. Barulah kemudian pada tahun 1842 Auguste Comte (1798-1857) memberi nama bagi ilmu tentang masyarakat ini dengan sebutan "sosiologi". Pendapat yang senada sebelumnya telah disampaikan oleh Bjorn Eriksson (1993), bahkan dengan tegas Bjorn Eriksson menolak sebutan "Bapak Sosiologi" bagi Auguste Comte. Bagi seorang muslim sebenarnya tidaklah terlalu penting tentang sebutan "Bapak Sosiologi". Seorang muslim lebih mementingkan rasa syukur kepada Allah SWT yang telah memperkenankan hadirnya seorang muslim bernama Abdulrahman Ibnu Khaldun, yang memiliki keahlian dalam sosiologi. Dengan demikian setiap muslim perlu memanfaatkan sosiologi dalam menebar nilai-nilai Islam di seluruh dunia, agar setiap manusia berkesempatan menyerap "cahaya" Islam. Agar dunia berkesempatan membangun peradaban Islam, yang memanusiakan manusia.
Saya adalah dosen pada STPN (Sekolah Tinggi Pertanahan Nasional) yang beralamat di Jalan Tata Bumi Nomor 5 Yogyakarta. Saya juga mengajar (Sosiologi Dakwah) di Pesantren Mahasiswa Takwinul Muballighin, yang beralamat di Desa Condong Catur, Kecamatan Depok, Kabupaten Sleman, Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta pada tahun 2004 sampai dengan tahun 2009. Saya juga pernah menjadi anggota Tim Ahli Pertanahan dan Pemetaan Kota, Dinas Pertanahan dan Pemetaan Provinsi DKI Jakarta pada tahun 2003 sampai dengan tahun 2005.
Berdasarkan kompetensi saya, saya berupaya mengembangkan Sosiologi Pertanahan di STPN, dan mengembangkan Sosiologi Dakwah di Pesantren Mahasiswa Takwinul Muballighin.
Saya memiliki seorang istri bernama Rahimah Ipa Lubis yang selalu mendukung kegiatan saya. Saya juga memiliki ayah, Untung Suharjo (almarhum), dan ibu (Sukartini). Selain itu, saya memiliki ayah mertua, Kasim Manan Lubis (almarhum), dan ibu mertua (Nurjani).
Allah SWT telah berpesan dalam QS.4:34, "Arrijaalu qawwaamuunaa 'alan nisaa-i" (laki-laki adalah pemimpin bagi wanita). Pesan ini tidak mengindikasikan diktatoriat seorang laki-laki, melainkan memerintahkan pelaksanaan sebuah tanggung jawab kepada laki-laki. Seorang laki-laki bertanggung- jawab atas semua yang berada dalam tanggungjawabnya. Bila ia sudah menikah, maka ia bertanggungjawab memenuhi kebutuhan keluarganya. Oleh karena itu, bila ada seorang istri yang ke luar rumah untuk mencari nafkah dalam rangka memenuhi kebutuhan keluarga, maka perlu dipertanyakan, "Sejauhmana ikhtiar suaminya, dalam memenuhi kebutuhan keluarga?" Demikian pula bila seorang anak ke luar rumah untuk memenuhi kebutuhan keluarga, maka perlu dipertanyakan, "Sejauhmana ikhtiar ayahnya, dalam memenuhi kebutuhan keluarga?" Bila jawabannya adalah, "Ikhtiar suami/ayah belum maksimal!" , maka sesungguhnya laki-laki itu (suami/ayah itu) tergolong lak-laki yang dzalim. Ia telah melanggar QS.4:34, ia telah melalaikan tanggungjawabnya. Ia telah menyebabkan terjadinya eksploitasi istri/anak dalam keluarganya. Dengan demikian ia telah merusak tatanan masyarakat, karena gagal menata dan mengelola keluarganya, yang merupakan bagian dari masyarakat.
ABOUT VIETNAM WAR
NIKMATNYA BERISLAM
Allah SWT telah berfirman, bahwa Ia telah menyempurnakan nikmatNya bagi manusia, melalui ridhanya terhadap Agama Islam (lihat QS.5:3). Oleh karena itu umat manusia perlu bersyukur kepada Allah SWT, dengan cara mempelajari, dan mengimplementasikan nilai-nilai Islam dalam kehidupan sehari-hari, sebagai nilai-nilai utama (ultimate values). Selain itu, dalam rangka melestarikan nilai-nilai Islam, perlu disiapkan sebagian anggota masyarakat untuk mempelajari Islam dengan sungguh-sungguh (lihat QS.9:122). Dengan demikian umat manusia mendapat kesempatan untuk menghadapkan diri dengan lurus (sebenar-benarnya) kepada Allah SWT (lihat QS.30:30). Hal ini penting karena contains Agama Islam, yang sesuai dengan fitrah (kondisi asasi) manusia. Hal ini terbukti dari substansi aqidahnya yang valid dan reliable, sebagaimana dimuat dalam QS.112:1-4). Aqidah tersebut berisikan komitmen manusia, bahwa: (1) Allah itu Maha Esa; (2) hanya kepada Allah, manusia mengharapkan dan meminta sesuatu; (3) Allah tidak beranak, dan tidak pula diperanakkan; serta (4) tak ada sesuatupun yang setara denganNya.