ABOUT ISLAM

Tampilkan postingan dengan label manusia. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label manusia. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 18 Desember 2010

MAKHLUK CIPTAAN ALLAH SWT

Manusia adalah makhluk ciptaan Allah SWT, ia (manusia) diciptakan dari tiada menjadi ada (lihat QS.76:1-2). Manusia setelah Nabi Adam AS memiliki korelasi genetik dengan Nabi Adam AS, karena Nabi Adam AS merupakan manusia pertama yang diciptakan oleh Allah SWT, sedangkan manusia-manusia sesudahnya merupakan hasil reproduksi dari Nabi Adam AS dan keturunannya.


Penciptaan manusia oleh Allah SWT diketahui memiliki empat varian, yaitu: Pertama, penciptaan Adam AS yang memiliki keunikan, karena diciptakan dari tanah yang selanjutnya disempurnakan kejadiannya dan dilengkapi dengan ruh ciptaan Allah SWT (lihat QS.3:59);


Kedua, penciptaan Hawa (istri Nabi Adam AS) yang memiliki keunikan, karena diciptakan dari diri Adam AS (lihat QS.4:1). Penciptaan Hawa ini sekaligus memberi hikmah, tentang pentingnya suami istri bersatu dalam nilai-nilai Islam.


Ketiga, penciptaan Isa AS yang memiliki keunikan, karena diciptakan oleh Allah SWT tanpa melalui proses reproduksi sebagaimana manusia pada umumnya. Isa a.s. lahir dari seorang wanita suci bernama Maryam, yang tidak pernah “disentuh” laki-laki (lihat QS.4:171 dan QS.19:20).


Keempat, penciptaan manusia pada umumnya melalui proses reproduksi (lihat QS.23:12-14). Penciptaan ini memberi peluang bagi upaya mempertahankan eksistensi manusia di alam semesta, dalam rangka menjalankan nilai-nilai Islam.


Sebagai makhluk ciptaan Allah SWT, manusia harus berpegang pada aqidah, bahwa Tuhan semesta alam adalah Tuhan Yang Maha Esa, yaitu Allah SWT (lihat QS.112:1-4). Oleh karena itu kehadiran manusia di dunia memiliki dua tugas utama, yaitu: Pertama, beribadah atau berbakti kepada Allah SWT (lihat QS.51:56). Kedua, menjadi rahmat bagi alam semesta atau rahmatan lil’alamiin (lihat QS.21:107).


Sebagai salah satu wujud dari pelaksanaan tugasnya, manusia harus dapat mengelola alam semesta dengan sebaik-baiknya. Untuk itu manusia harus memiliki kualitas yang baik (fathonah, amanah, shiddiq, dan tabligh), agar ia dapat mengelola alam semesta dengan baik.


Salah satu indikator manusia yang berkualitas baik, adalah ketika ia mampu menata emosinya. Kemampuan ini akan memberi kontribusi pada manusia yang bersangkutan untuk secara optimal mengelola alam semesta.


Dengan demikian manusia dapat memberi makna dalam kehadirannya di alam semesta, dan benarlah kehendak Allah SWT yang berkenan menciptakan manusia. Hal ini sekaligus merupakan wujud rasa syukur manusia kepada Allah SWT.

Sabtu, 21 November 2009

VARIAN PENCIPTAAN MANUSIA

Manusia adalah makhluk ciptaan Allah SWT, yang diciptakan dari tiada menjadi ada (lihat QS.76:1-2). Manusia setelah Rasulullah Adam AS memiliki korelasi genetik dengan Rasulullah Adam AS, karena Rasulullah Adam AS merupakan manusia pertama yang diciptakan oleh Allah SWT, sedangkan manusia-manusia sesudahnya merupakan hasil reproduksi dari Adam AS dan keturunannya.
Penciptaan manusia oleh Allah SWT diketahui memiliki empat varian, yaitu: Pertama, penciptaan Adam AS, yang memiliki keunikan, karena diciptakan dari tanah yang selanjutnya disempurnakan kejadiannya dan dilengkapi dengan ruh ciptaan Allah SWT (lihat QS.3:59). Kedua, penciptaan Hawa, yaitu istri Rasulullah Adam AS, yang memiliki keunikan, yang diciptakan dari diri Adam AS (lihat QS.4:1). Ketiga, penciptaan Rasulullah Isa AS, yaitu putra dari Maryam, yang memiliki keunikan, karena diciptakan oleh Allah SWT tanpa melalui proses reproduksi sebagaimana manusia pada umumnya. Rasulullah Isa AS lahir dari Maryam, yang merupakan seorang wanita suci yang tidak pernah "disentuh" oleh laki-laki (lihat QS.4:171 dan QS.19:20). Keempat, penciptaan manusia pada umumnya, yang memiliki keunikan, karena diciptakan oleh Allah SWT melalui proses reproduksi, yang dijalani oleh manusia sebagaimana manusia pada umumnya (lihat QS.23:12-14).
Sebagai makhluk ciptaan Allah SWT, maka manusia harus berpegang teguh pada aqidah, yang dituntunkan Allah SWT kepada manusia melalui Rasulullah Muhammad SAW, yang berisi komitmen kekinian yang berlaku hingga akhir masa, sebagaimana diajarkan dalam QS.112:1-4. Oleh karena itu kebodohan manusia terbesar sepanjang masa, adalah ketika manusia tidak mempertuhankan Allah SWT. Sangat sesatlah orang-orang yang mempertuhankan selain Allah SWT. Posisi orang-orang sesat ini dalam pandangan Allah SWT adalah seperti hewan ternak, atau yang lebih rendah lagi.

Jumat, 09 Oktober 2009

MENYONGSONG KEMATIAN

Setiap manusia, baik muslim maupun non muslim sesungguhnya sedang menyongsong kematian. Suka atau tidak suka, hari-hari yang dilaluinya justru mengarah pada kematian. Ia dapat mengalami kematian kapan saja, dan dengan cara apa saja. Apapun prosedur yang ditempuhnya, ia sedang memproses dirinya menuju kematian. Allah SWT adalah penentu waktu dan cara kematian setiap manusia.
Setelah kematiannya, maka manusia yang bersangkutan akan dimintai pertanggung-jawaban atas semua pemikiran, sikap, dan perilakunya ketika masih hidup. Mereka yang tidak mengakui Allah SWT sebagai Tuhan, tentu saja akan terkejut, tetapi semua itu terlambat, karena ia harus segera mempertanggung-jawabkan pemikiran, sikap, dan perilakunya kepada Allah SWT. Saat itu, suasananya tentu sangat mendebarkan dan dramatis.
Imam Al-Ghazali pernah mengingatkan, "Akherat mendekat, dan dunia akan segera berlalu. Perjalanan masih panjang, namun bekal sangat kurang, dan "bahaya" semakin besar." Oleh karena kepongahan seorang manusia, ia seringkali melupakan kematian, seolah-olah kematian hanya untuk orang lain. Seolah-olah kematian hanya tayangan di televisi, berita di radio, atau sekedar tulisan di surat kabar harian.
Para pecinta dunia, seringkali melupakan akherat. Para pecinta dunia, seringkali mengabaikan kematian. Para pecinta dunia, seringkali meremehkan nilai-nilai Islam. Mereka hidup untuk memperebutkan dunia, dan dengan berbagai cara haram (tidak halal) mereka berupaya mendapatkannya. Mereka terkejut, karena ketika dunia didapatkan, berupa harta, pangkat, jabatan, dan segenap asesorinya, ternyata ia berada pada track menyongsong kematian. Ketika ia sadar, ia telah terlambat, kematian telah datang menjemput.
Rasulullah Muhammad SAW pernah mengingatkan, "Banyak-banyaklah mengingat mati, sebab mengingat mati itu akan mengurangi kecintaan seseorang terhadap dunia" (HR. Anas RA).

Sabtu, 15 Agustus 2009

MEMAHAMI POSISI MANUSIA

Posisi manusia terhadap Allah SWT bersifat strukturatif atau atas bawah (dalam strata tak terhingga), di mana manusia merupakan hamba (makhluk ciptaan Allah SWT), sedangkan Allah SWT merupakan Tuhan bagi semesta alam, yaitu alam semesta dan alam akherat beserta segenap isinya. Sementara itu posisi manusia terhadap manusia lainnya bersifat cluster, equal, atau setara, di mana setiap manusia merupakan sama-sama makhluk ciptaan Allah SWT, dan sekaligus juga merupakan sama-sama hamba Allah SWT.
Dalam konteks posisi, manusia berada pada posisi yang didominasi oleh Allah SWT, karena segala sesuatu yang berkaitan dengan manusia tidak pernah luput dari kontrol atau kendali Allah SWT. Posisi hamba pada manusia, dan Tuhan pada Allah SWT merupakan posisi yang diumumkan oleh Allah SWT dalam sebuah "dokumen suci", yaitu Al Qur'an, tepatnya pada QS.96:1-5 dan QS.19:93. Oleh karena itu, setiap manusia terikat untuk melaksanakan tugas dan fungsinya sebagai hamba Allah SWT, yaitu beribadah kepada Allah SWT (lihat QS.51:56), dan menjadi rahmatan lil'alamiin (lihat QS.21:107).
Allah SWT berfirman, "Bacalah dengan nama Tuhanmu (Allah) yang telah menciptakan. Dia menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Maha Pemurah, yang mengajari manusia dengan perantaraan kalam (firman). Dia mengajari manusia hal-hal yang belum diketahuinya" (QS.96:1-5).
Sementara itu, dalam QS.19:93 Allah SWT berfirman, "Tidak ada seorangpun di langit dan di bumi melainkan datang sebagai hamba kepada Yang Maha Pengasih (Allah)."

Selasa, 24 Februari 2009

CITRA MANUSIA

Assalamu'alaikum Wr. Wb.
Kita seringkali lupa, bahwa Allah SWT memberi citra positif bagi manusia. Padahal dalam berbagai firmanNya dalam Al Qur'an, Allah SWT menunjukkan hal itu. Allah SWT memperlihatkan kebanggaannya pada manusia, ketika Ia meminta para malaikat memperhatikan penjelasan Adam AS, tentang hal-hal yang diketahuinya. Allah SWT juga menjelaskan, bahwa Ia menciptakan manusia dalam format yang sempurna (sebaik-baik bentuk).
Apabila Allah SWT telah mencitrakan manusia, sebagai makhluk positif, atau makhluk unggul, yaitu lebih unggul dari malaikat, dan sudah barang tentu lebih unggul dari iblis, maka alangkah naifnya ketika manusia tidak percaya diri sebagai manusia. Lihatlah fenomena Indonesia, beberapa tokoh mengatakan, bahwa dalam mengatasi dinamika (kesulitan multi aspek) Indonesia, dibutuhkan malaikat sebagai pemimpin. Ucapan tokoh ini menunjukkan, bahwa ia (dan pengikutnya) tidak percaya diri sebagai manusia.
Selain itu, dalam konteks manusia secara luas, manusia juga seringkali terpeleset menjadi iblis, dengan mendurhakai Allah SWT (tidak memperTuhankan Allah SWT). Kondisi ini, sesungguhnya juga menunjukkan, bahwa manusia tidak percaya diri sebagai manusia. Seharusnya tentulah tidak demikian. Seharusnya manusia percaya diri sepenuhnya sebagai manusia dengan berpegang pada petunjuk Allah SWT, yaitu nilai-nilai Islam.
Jika seorang manusia sungguh-sungguh percaya diri sebagai manusia, maka ia akan hidup dalam koridor AIM-A2 (Aqidah, Ibadah, Muamallah, Adab, dan Akhlak), dengan berpikir, bersikap, dan berperilaku FAST-I2R (Fathonah, Amanah, Shiddiq, Tabligh, Istiqamah, Ikhlas, dan Ridha), sehingga dapat berperan sebagai MUASiR (Mujahiddin, Uswatun hasanah, Asabiquunal awaluun, Sirajan muniran, dan Rahmatan lil'alamiin), yang pada akhirnya kolektivisasi aktivitas ini akan menghasilkan peradaban manusia yang TRANSHUME (TRANSenden, HUManis, dan Emansipatori).
Inilah indahnya nilai-nilai Islam, dan indahnya suatu kondisi, ketika manusia percaya diri, karena ia faham bahwa Allah SWT memberikan citra manusia yang positif (unggul).
Wassallamu'alaikum Wr.Wb.

Rabu, 18 Februari 2009

PERANGKAT PADA MANUSIA

Allah SWT Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang telah menciptakan manusia dalam bentuk yang paling sempurna, yaitu sempurna dalam konteks tugas dan fungsi manusia. Allah SWT telah memberikan perangkat (ware) pada diri manusia, dalam berbagai konteks. Sebagai contoh, dalam konteks aqidah, Allah SWT telah memberikan manusia perangkat keras atau hard ware biologis, yaitu "god spot"; dan perangkat lunak atau soft ware biologis, yaitu "kontrak rohani".
God spot, adalah bagian dari otak manusia, yang terletak di antara hubungan-hubungan saraf, dalam cuping-cuping temporal otak. Bagian dari otak manusia ini ditemukan oleh neurolog dari California University, yang bernama V.S. Ramachandran, pada tahun 1997. Bagian ini disebut "god spot", karena melalui pengamatan terhadap otak, dengan menggunakan emisi positron, bagian ini akan bereaksi ketika orang yang diamati otaknya diajak berdiskusi mengenai topik-topik Ketuhanan.
Kontrak rohani, adalah suatu kontrak (janji) yang dibuat oleh manusia dengan Allah SWT, sesaat sebelum ia dilahirkan ke dunia. Isi kontrak ini diabadikan oleh Allah SWT dalam QS.7:172 untuk mengingatkan manusia tentang kontraknya dengan Allah SWT, agar ia tidak mendustai keberadaan Allah SWT, dan agar ia melaksanakan komitmennya untuk hanya memperTuhankan Allah SWT.
Allah SWT menyatakan, "Dan Ingatlah ketika Tuhanmu menjadikan keturunan Bani Adam dari "tulang punggung" mereka, dan Allah mengambil kesaksian atas diri mereka, "Bukankah Aku (Allah) ini Tuhanmu?" Mereka menjawab. "Betul kami menjadi saksi." Yang demikian itu, supaya kamu tidak mengatakan di hari kiamat, "Sesungguhnya kami orang-orang yang lalai tentang ini" (QS.7:172).
Dengan demikian, saat hadir di dunia (alam semesta), manusia telah dibekali oleh Allah SWT dengan bekal hard ware biologis yang berupa "god spot", dan bekal soft ware biologis yang berupa "kontrak rohani". Oleh karena itu, telah jelaslah fitrah manusia yang mengarah pada keIslaman. Sangat bodohlah seorang manusia, ketika ia memilih tidak berIslam. Ada lima alasan mengenai ini, yaitu: Pertama, sesungguhnya Allah SWT telah memilihkan Agama Islam untuk manusia, maka janganlah mati dalam keadaan tidak berIslam (lihat QS.2:132). Kedua, tidak ada paksaan dalam memeluk Agama Islam, karena sudah jelas antara jalan yang benar dengan jalan yang salah (lihat QS.2:256). Ketiga, sesungguhnya agama yang diridhai oleh Allah SWT hanyalah Agama Islam (lihat QS.3:19). Keempat, oleh karena itu, sangat bodohlah seorang manusia, jika ia memeluk agama, selain Agama Islam (lihat QS.3:83). Kelima, seorang manusia yang memeluk agama, selain Agama Islam, maka tidak akan diterima segala amalannya (lihat QS.3:85).

Kamis, 11 Desember 2008

KEJAHATAN MALAM

Dalam QS. Al Falaq (QS.113:1-5) disebutkan adanya "kejahatan malam". Secara simbolik, "kejahatan malam" dapat dimaknai sebagai kejahatan saat gelap gulita, termasuk gelap gulitanya hati (rasio dan rasa) manusia. Ketika hati seorang manusia telah gelap gulita (sebagaimana dimaksud QS. Al Falaq), maka manusia tersebut tak ingat lagi pada Allah SWT.
Manusia tersebut tidak lagi mau memohon petunjuk kepada Allah SWT (sebagaimana dianjurkan QS. Al Fatihah). Bahkan, manusia tersebut tidak lagi peduli dengan konsepsi "jalan lurus" (sebagaimana diingatkan QS. Al Fatihah).
Manusia tersebut selanjutnya siap berpikir, bersikap, dan berperilaku jahat, termasuk dengan meminta bantuan dukun atau tukang sihir (sebagaimana dijelaskan dalam QS. Al Falaq), atau bekerjasama dengan orang-orang yang dengki (sebagaimana dijelaskan dalam QS. Al Falaq).
Manusia-manusia semacam inilah yang harus diwaspadai oleh setiap muslim (sebagaimana diingatkan QS. An Nas). Hal ini perlu difahami, agar manusia-manusia jahat tersebut gagal menyesatkan manusia (sebagaimana diingatkan QS. An Nas). Selain itu, juga agar manusia-manusia jahat ini gagal menjadikan manusia lainnya sebagai korban mereka (sebagaimana diingatkan QS. An Nas).

Rabu, 26 November 2008

DAKWAH UNTUK SEMUA

Setiap muslim wajib berdakwah, yaitu menyampaikan keindahan nilai-nilai Islam kepada manusia atau masyarakat. Semua manusia adalah sasaran dakwah, baik ia telah menerapkan nilai-nilai Islam maupun belum menerapkan nilai-nilai Islam.
Bagi yang telah menerapkan nilai-nilai Islam, maka dakwah diharapkan: Pertama, mendorongnya untuk terus mampu bertahan dari pengaruh jahat. Kedua, mendorongnya untuk mampu berada dalam koridor AIM-A2 (Aqidah, Ibadah, Muamallah, Adab, dan Akhlak). Ketiga, mendorongnya untuk mampu berpikir, bersikap, dan berperilaku FAST (Fathonah, Amanah, Shiddiq, dan Tabligh). Keempat, mendorongnya untuk mampu berperan sebagai MUASiR (Mujahiddin, Uswatun hasanah, Assabiquunal awwaluun, Sirajan muniran, dan Rahmatan lil 'alamiin). Kelima, menjadikannya sebagai sahabat dalam menerapkan nilai-nilai Islam di kehidupan sehari-hari. Keenam, menjadikannya sebagai sumber tenaga dakwah yang FAST. Ketujuh, menjadikannya sebagai sahabat diskusi dalam menyiapkan substansi dakwah yang proporsional dan kondisional. Kedelapan, menjadikannya sebagai mitra strategis dalam berdakwah dengan melakukan dakwah secara sinergik.
Bagi yang belum menerapkan nilai-nilai Islam, maka dakwah diharapkan: Pertama, mendorongnya untuk tidak lagi tertarik pada nilai-nilai yang bertentangan dengan nilai-nilai Islam. Kedua, mendorongnya untuk tidak lagi berpikir, bersikap, dan berperilaku yang bertentangan dengan nilai-nilai Islam. Ketiga, mendorongnya untuk tertarik, dan berkenan menjadi manusia yang bersedia menerapkan nilai-nilai Islam. Keempat, menjadikannya sebagai pembanding tentang keunggulan nilai-nilai Islam. Kelima, menjadikannya sebagai "batu uji" dalam penerapan nilai-nilai Islam. Keenam, menjadikannya sebagai sasaran dan sekaligus sumber inspirasi dalam menentukan substansi dakwah yang proporsional dan kondisional. Ketujuh, menjadikannya sebagai sumberdaya manusia transisional (siap alih), yang akan beralih dari manusia yang belum menerapkan nilai-nilai Islam, menjadi manusia yang siap menerapkan nilai-nilai Islam.

Jumat, 12 September 2008

BODOH ADALAH SUATU KEBURUKAN

Allah SWT berfirman, "Apabila dikatakan kepada mereka (orang-orang munafik) , "Berimanlah kamu sebagaimana orang-orang lain telah beriman!" Mereka menjawab, "Apakah kami akan beriman, sebagaimana orang-orang bodoh telah beriman?" Ingatlah, sesungguhnya merekalah (orang-orang munafik) yang merupakan orang-orang bodoh, tetapi mereka tidak mengetahuinya" (QS.2:13).
Furman Allah SWT tersebut menunjukkan, bahwa kebodohan dapat menjadikan seseorang melakukan kesalahan dalam berpikir, bersikap, dan berperilaku. Hanya saja kebodohan yang dialami seseorang dapat dimaklumi, hanya jika dikarenakan faktor eksternal, atau faktor di luar dirinya yang tak mampu dikontrol oleh dirinya. Tetapi bila kebodohan itu terjadi karena faktor internal, misalnya karena yang bersangkutan tidak menghargai ilmu, pengetahuan, dan teknologi, maka kebodohan akibat hal-hal semacam ini tidak dapat dimaklumi.
Sikap menentang dan siap memperbaiki kebodohan, merupakan sikap penting, agar setiap manusia dapat cerdas memikirkan, mensikapi, dan berperilaku terhadap kebodohan. Bila kebodohan tidak diikuti dengan upaya perbaikan, maka kebodohan semakin menjadi-menjadi. Akibatnya terbentuklah umat yang bodoh, yang hanya menimbulkan keburukan bagi perkembangan Umat Manusia.

Jumat, 22 Agustus 2008

SILAHKAN BERI KOMENTAR

Assallamu'alaikum Wr.Wb.
Para pembaca blog yang dirahmati Allah SWT, perkenankan saya meminta Anda berkomentar tentang posting saya kali ini. Pada posting kali ini saya akan menampilkan terjemahan QS. Al Fatihah atau QS.1:1-7, yang merupakan Surat "Pembukaan" dalam Al Qur'an; dan QS. An Nas atau QS.114:1-6, yang merupakan Surat "Penutup" dalam Al Qur'an.
Saya mohon Anda berkomentar tentang hikmah yang dapat diperoleh oleh manusia, ketika Allah SWT menempatkan QS.1:1-7 sebagai "Pembukaan" dan QS.114:1-6 sebagai "Penutup" firman-firman Allah SWT dalam Al Qur'an. Untuk itu saya mengucapkan terimakasih atas kesediaan Anda berkomentar, semoga Allah SWT berkenan meridhai segala amal shaleh Anda.
Wassallamu'alaikum Wr.Wb.

Allah SWT berfirman dalam QS.1:1-7, sebagai berikut: "Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam. Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. Yang menguasai hari pembalasan. Hanya kepada Engkau-lah kami menyembah, dan hanya kepada Engkau-lah kami memohon pertolongan. Tunjukilah kami jalan yang lurus, yaitu jalan orang-orang yang telah Engkau anugerahkan nikmat kepada mereka, bukan jalan mereka yang dimurkai, dan bukan pula jalan mereka yang sesat."

Allah SWT berfirman dalam QS.114:1-6, sebagai berikut: "Katakanlah, "Aku berlindung kepada Tuhan yang memelihara dan menguasai manusia. Raja manusia. Sembahan manusia. Dari kejahatan bisikan syaitan yang biasa bersembunyi, yang membisikkan kejahatan ke dalam dada manusia, dari golongan jin dan dari golongan manusia."

Minggu, 09 Desember 2007

BERSABAR DALAM KETAQWAAN

Allah SWT berfirman, "Dan berapa banyak nabi yang berperang, yang bersama-sama mereka ikut serta sejumlah besar pengikut yang bertaqwa. Mereka tidak menjadi lemah karena bencana (kesulitan) yang menimpanya di jalan Allah, dan tidak lesu, serta tidak menyerah; Karena Allah menyukai orang-orang yang sabar" (QS.3:146).
Bila umat Islam berkenan berhikmah dan berkhidmat pada QS.3:146, maka ia akan mengerti bahwa ketika berjuang menjalani hidup dalam konteks kekinian, diperlukan taqwa kepada Allah SWT.
Bila umat Islam bertaqwa, maka ia tidak akan lemah, tidak akan lesu, dan pantang menyerah ketika berjuang menjalani hidup dalam konteks kekinian. Dengan kata lain umat Islam memiliki kesabaran, ketika berjuang menjalani hidup di dunia, yang nantinya akan menjadi bekal hidup di akherat.
M. Quraish Shihab dalam "Tafsir Al Mishbah" menjelaskan, bahwa sabar (dalam QS.3:146) memiliki makna tabah dalam melaksanakan kewajiban, tabah ketika menderita, serta tabah dalam menghadapi musuh-musuh Islam, yaitu: segala bentuk kemaksiatan.
Sedangkan lemah, lesu, dan menyerah (dalam QS.3:146) memiliki makna adanya tiga hal yang bertingkat (berurutan), yaitu: Pertama, mula-mula lemah, yang berkaitan dengan jasmani dan ruhani. Kedua, lalu menimbulkan kelesuan, yang akan menurunkan tekad dan semangat juang. Ketiga, sehingga menimbulkan sikap menyerah kepada musuh-musuh Islam.
Oleh karena itu umat Islam harus bersabar, tabah, dan bersungguh-sungguh ketika menjalani hidup. Caranya dengan terus menerus mencari ilmu, dan pengetahuan, serta menguasai teknologi, dalam bingkai kokoh nilai-nilai Islam.
Ilmu, adalah cara untuk memahami atau mengetahui kaidah-kaidah, yang meliputi: Pertama, ilmu kealaman (seperti: ilmu pengetahuan alam dan ilmu pengetahuan sosial), yaitu ilmu tentang alam semesta dan seisinya, yang harus dicerahkan oleh; Kedua, ilmu keIslaman (seperti: aqidah, ibadah, muamallah, adab, dan akhlak), yaitu ilmu tentang tata laksana hidup di dunia (alam semesta) dan konsekuensi yang akan diperoleh di akherat.
Sedangkan pengetahuan, adalah kaidah-kaidah di alam semesta, serta tata laksana hidup di dunia (alam semesta) dan konsekuensi yang akan diperoleh di akherat, yang berhasil diketahui manusia dengan menggunakan ilmu.
Ketika ditentang oleh sebagian manusia, Rasulullah Muhammad SAW berdoa, "Ya Allah, limpahkanlah petunjuk kepada mereka, karena sesungguhnya mereka tidak mengetahui" (HR: Bukhari dan Muslim dari Sahal Ibn Said RA).
Sementara itu, teknologi, adalah instrumen atau alat/konsepsi yang dihasilkan oleh manusia sebagai respon terhadap adanya kaidah-kaidah di alam semesta.
Allah SWT berfirman dalam QS.55:33, "Hai sekalian jin dan manusia, jika kamu mampu melintasi segenap penjuru langit dan bumi, maka lintasilah. Namun kamu tidak akan dapat melintasinya melainkan dengan kekuatan (ilmu, pengetahuan, dan teknologi)."

Rabu, 07 November 2007

FENOMENA KESESATAN

Ketika manusia berkenan membaca dan memahami Al Qur'an, maka ia akan faham dengan fenomena kekinian, yaitu fenomena kesesatan. Ia akan faham ketika Majelis Ulama Indonesia (MUI) menyebutkan tentang adanya beberapa aliran sesat di Indonesia. Bukankah bagian akhir dari Al Qur'an telah mengisyaratkan fenomena ini dalam Surah An Naas atau QS.114:1-6,
Allah SWT berfirman, "Katakanlah, "Aku berlindung kepada Allah yang memelihara manusia, yang menguasai manusia, Tuhan bagi manusia; dari kejahatan bisikan setan yang tersembunyi, yang membisikkan dalam dada (kesadaran) manusia; dari jenis jin dan manusia" (QS.114:1-6).
Berdasarkan firman Allah SWT tersebut difahami bahwa: Pertama, ada jenis jin dan manusia yang selalu berupaya melakukan bisikan setan, yang antara lain berwujud kesesatan.
Kedua, bisikan itu ditujukan atau diarahkan pada manusia.
Ketiga, bisikan itu menyerang akal manusia, yang sesungguhnya merupakan instrumen untuk mengingat Allah SWT.
Keempat, ada manusia-manusia tertentu yang akalnya dapat "dimatikan" oleh serangan tersebut, misal melalui sihir, maka kesadarannya menjadi rusak.
Kelima, ada pula manusia-manusia tertentu yang akalnya tidak "dimatikan" oleh serangan tersebut, namun mindsetnya diserang dengan berbagai pemikiran kufur, seperti: sekularisme, liberalisme, atheisme, dan lain-lain. Akibatnya mindsetnya menjadi rusak, yang menyebabkan rusaknya kesadaran manusia.
Keenam, pada saat kesadaran manusia rusak karena sihir maupun karena pemikiran kufur, maka saat itulah manusia tersebut tergiring pada kesesatan.

Senin, 05 November 2007

KEBENARAN DAN KEADILAN

Allah SWT berfirman, "Dan di antara orang-orang yang Kami (Allah) ciptakan ada umat yang memberi petunjuk dengan haq, dan dengannya mereka berlaku adil" (QS.7:181).
Bila seorang muslim berkenan membaca "Tafsir Al Mishbah" yang ditulis oleh ulama Indonesia, yaitu: M. Quraish Shihab, maka ia tentu akan mengerti, bahwa QS.7:181 menunjukkan keterangan, sebagai berikut: Pertama, di setiap masa selalu ada sekelompok manusia yang memperjuangkan kebenaran dan keadilan, yang bersumber dari Allah SWT.
Kedua, dalam konteks kekinian, sumber rujukan bagi kebenaran dan keadilan tersebut adalah Al Qur'an (firman Allah SWT), serta Al Hadist (perkataan, perbuatan, dan isyarat persetujuan Rasulullah Muhammad SAW).
Ketiga, penempatan QS.7:181 setelah firman Allah SWT dalam QS.7:180 memiliki makna yang khusus. Sebagaimana diketahui QS.7:180 menguraikan tentang perintah agar manusia menyeru Allah SWT dengan nama dan sifatNya yang indah.
Keempat, dengan demikian QS.7:181 bermakna isyarat, bahwa mereka yang memperjuangkan kebenaran dan keadilan, adalah mereka yang menyeru Allah SWT dengan nama dan sifatNya yang indah.
Kelima, mereka yang memperjuangkan kebenaran dan keadilan, serta menyeru Allah SWT dengan nama dan sifatNya yang indah, adalah Umat Islam.
Oleh karena itu, bila seorang muslim berkenan membaca dan memahami firman Allah SWT dalam QS.7:181 maka ia akan mengerti, bahwa ia diperintahkan untuk memperjuangkan kebenaran dan keadilan.
Untuk itu, dalam konteks kebenaran yang akan diperjuangkannya, seorang muslim harus mengerti, bahwa: (1) kebenaran itu adalah dari Allah SWT (lihat QS.2:147 dan QS.18:29); serta (2) bila kebenaran itu berdasarkan kebenaran manusia maka, maka terjadilah kekacauan di alam semesta (lihat QS.23:71).
Sedangkan dalam konteks keadilan, seorang muslim harus harus mengerti, bahwa: (1) keadilan berkait erat dengan kebenaran filosofis, dan kesaksian fenomenologis (lihat QS.5:8), dan (2) keadilan hanya dapat ditegakkan dengan hukum yang adil pula (lihat QS.4:58).
Dalam konteks keadilan, selayaknya seorang muslim bersungguh-sungguh memperjuangkan keadilan distributif, yang indikatornya adalah pemenuhan kebutuhan fisik dasar masyarakat, seperti: pangan (makanan), sandang (pakaian), dan papan (perumahan).
Setelah tercapainya keadilan distributif, perjuangan seorang muslim dilanjutkan dengan upaya mencapai keadilan kontributif, yang indikatornya adalah terciptanya kondisi kompetitif yang sehat di masyarakat. Keadilan kontributif akan memberi peluang bagi tiap individu di masyarakat untuk melakukan yang terbaik.
Dengan demikian seorang muslim telah melaksanakan amanat QS.21:107 (rahmat bagi alam semesta).

Minggu, 26 Agustus 2007

MONUMEN TERORISME

Allah SWT berfirman dalam QS.10:2 sebagai berikut: "Apakah manusia heran, bahwa Kami (Allah, Tuhan Yang Maha Esa)) telah mewahyukan kepada seorang laki-laki di antara mereka (Muhammad). (Dan memerintahkan kepadanya) "Hendaklah engkau (Muhammad) memberi peringatan kepada manusia, dan gembirakanlah orang-orang yang beriman karena mereka mempunyai pendirian yang benar di sisi Tuhan mereka." (Meskipun) orang-orang kafir itu berkata, "Sesungguhnya orang ini (Muhammad) adalah ahli sihir yang nyata."
Setiap umat Islam tentu faham, bahwa yang dimaksud dengan orang-orang kafir dalam firman Allah ini adalah orang-orang yang menentang Allah SWT, yang dalam konteks real (nyata) berupa nilai-nilai Islam yang bersumber dari Allah SWT yang disampaikan oleh Rasulullah Muhammad SAW. Sementara itu, dalam konteks kekinian (sekarang) orang-orang kafir meliputi orang-orang yang anti nilai-nilai Islam, anti Allah SWT, anti Rasulullah Muhammad SAW, dan anti umat Islam, yang tercermin pada peradaban Barat saat ini.
Peradaban Barat telah memvonis, bahwa umat Islam identik dengan teroris. Satu hal yang mereka lupa namun telah menjadi Monumen Terorisme adalah Negara Israel, yang didirikan dengan merampok tanah Bangsa Palestina, dan menteror Bangsa Palestina sejak tahun 1920 hingga saat ini. Padahal Monumen Kedzaliman ini dibangun oleh peradaban Barat, dan didukung hingga kini oleh peradaban Barat.
Peradaban Barat juga lupa, bahwa mereka telah menebar kolonialisme dan imperialisme sejak berabad-abad hingga kini. Sejarah membuktikan, bahwa setiap bangsa yang melakukan perlawanan akan diberi sebutan dengan sebutan yang buruk. Ingatlah pengalaman Indonesia yang dijajah Belanda selama lebih dari 250 tahun, maka ketika Bangsa Indonesia melakukan perlawanan, Belanda menyebut para pejuang (mujahid) Indonesia dengan sebutan "ekstrimis". Hal yang sama kini terjadi di Irak yang dijajah Bangsa Barat (Amerika Serikat dan sekutu-sekutunya), maka ketika Bangsa Irak melakukan perlawanan, Bangsa Barat menyebut para pejuang Irak dengan sebutan "teroris."
Oleh karena itu ketahuilah, bahwa Islam adalah agama yang cinta damai. Agama Islam mengajarkan silaturahmi atau upaya membangun ikatan sosial yang harmonis. Namun agama Islam juga mengajarkan, bahwa setiap muslim harus berupaya menyampaikan kebenaran dan mampu menegakkan kebenaran, agar harkat dan martabat manusia terjaga secara baik. Semoga perdaiaman dunia dapat terwujud, amin....