ABOUT ISLAM

Tampilkan postingan dengan label ilmu. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label ilmu. Tampilkan semua postingan

Minggu, 04 September 2011

MAMPU BERDIRI SENDIRI

Pada postingan sebelumnya, blog ini pernah menyebutkan tentang “beralamat sendiri”, yang mengandung makna mandiri. Seseorang dikatakan telah beralamat sendiri, bila pemikiran, sikap, dan perilaku orang tersebut tidaklah dideterminir atau ditentukan oleh pihak lain di luar dirinya. Berbekal kemampuan, kepercayaan, dan potensi yang dimilikinya, orang tersebut menetapkan sendiri pemikiran, sikap, dan perilakunya.


Pengertian “berdiri sendiri” memiliki persamaan dan perbedaan dengan “beralamat sendiri”. Persamaannya, keduanya sama-sama mengandung makna mandiri. Hanya saja, beralamat sendiri belum memperhitungkan kemampuan menahan “badai sosial”, sedangkan berdiri sendiri sudah memperhitungkan kemampuan menahan “badai sosial”.


Badai sosial merupakan sesuatu yang lazim dialami oleh seorang manusia kapanpun dan di manapun ia berada. Semakin besar peran yang dimainkan oleh seseorang dalam mewujudkan kebajikan, maka akan semakin besar pula badai sosial yang menerpanya.


Sebagai contoh, seseorang yang berperan dalam upaya merubah perilaku sekelompok penjudi agar tidak lagi berjudi, akan diterpa oleh berbagai tekanan dan intimidasi dari pihak-pihak yang selama ini memperoleh keuntungan besar dari bisnis judi. Semakin besar peran orang tersebut dalam merubah perilaku penjudi, maka akan semakin besar pula tekanan dan intimidasi dari pihak-pihak yang mendukung perjudian.


Seseorang yang mampu berdiri sendiri, adalah seseorang yang pemikiran, sikap, dan perilakunya tidak dideterminir atau ditentukan oleh pihak lain di luar dirinya, melainkan dia sendirilah yang menentukannya. Berbekal kemampuan, kepercayaan, dan potensi yang dimilikinya, orang tersebut menetapkan sendiri pemikiran, sikap, dan perilakunya dalam menahan dan menepis badai sosial.


Contoh, seseorang yang merintis usaha rumah makan di lingkungan yang telah banyak berdiri rumah makan, maka selain harus menyajikan makanan yang halal dan sehat dalam suasana nyaman, ia juga harus memiliki kiat dan jaringan pertemanan yang siap menghadapi intimidasi dari pemilik rumah makan yang telah ada sebelumnya dan gangguan dari preman setempat.


Saat ini, berdiri sendiri merupakan suatu kemampuan yang penting bagi manusia, karena kemampuan ini menjadikan manusia dapat menghadapi badai sosial dengan mata terbuka, dan tetap fokus pada kebajikan yang diperjuangkan. Kebajikan merupakan perbuatan baik yang bermanfaat di dunia dan akherat bagi yang membantu dan yang dibantu.


Untuk itu, seseorang yang ingin memiliki kemampuan berdiri sendiri hendaknya bersungguh-sungguh membangun kecerdasannya. Ia juga harus terus menerus berinteraksi dengan orang-orang yang cerdas dunia dan cerdas akherat.


Kata kuncinya, “Jangan pernah kehilangan kesempatan berbuat kebajikan, karena hidup di dunia hanya satu kali dan tak akan terulang kembali.”


Allah s.w.t. berfirman, “Dan janganlah engkau turut segala sesuatu yang tidak engkau ketahui ilmunya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan, dan hati, semuanya akan ditanya” (QS.17:36).


Dengan demikian, seorang manusia yang ingin mampu berdiri sendiri, hendaknya: Pertama, bersungguh-sungguh mempelajari ilmu tentang kemampuan berdiri sendiri. Hal ini akan menjadikan pendengaran, penglihatan, dan hatinya menjadi pendengaran, penglihatan, dan hati yang mampu berkontribusi bagi yang bersangkutan, dalam mewujudkan kemampuan berdiri sendiri.


Kedua, bersungguh-sungguh mempelajari ilmu tentang kebajikan dalam persepektif Allah SWT. Hal ini akan menjadikan pendengaran, penglihatan, dan hatinya menjadi pendengaran, penglihatan, dan hati yang mampu berkontribusi bagi yang bersangkutan, dalam melakukan kebajikan.


Selamat berikhtiar, semoga Allah SWT meridhai…

Jumat, 13 November 2009

ILMU DAN ADZAB

Hari-hari terakhir ini, beberapa stasiun televisi memberitakan adanya musibah yang memprihatinkan, yaitu adanya seribu orang warga yang mengalami keracunan obat pencegah kaki gajah, dan delapan orang di antaranya tewas. Kegiatan ini dilakukan oleh Departemen Kesehatan bekerjasama dengan WHO (World Health Organization), dengan tujuan untuk menekan angka penderita kaki gajah. Namun karena tidak sempurnanya sosialisasi yang berkaitan dengan karakteristik obat kepada masyarakat, dan juga karena ketidak-cermatan masyarakat dalam mengkonsumsi obat, maka terjadilah musibah ini.
Fenomena ini menunjukkan tentang pentingnya ilmu. Bagi Departemen Kesehatan, selain ilmu kesehatan mereka juga perlu mengkonsumsi sosiologi (ilmu tentang masyarakat), psikologi (ilmu tentang kejiwaan individu), dan komunikasi. Sementara itu, masyarakat juga perlu memiliki ilmu tentang kecermatan dalam mengkonsumsi obat-obatan. Bukankah Allah SWT, melalui nilai-nilai Islam telah mengajarkan tentang pentingnya ilmu? Amal tanpa ilmu tertolak! Kejujuran tanpa ilmu hanyalah kebohongan belaka!
Ketika Allah SWT mengirim Rasulullah Muhammad SAW bagi manusia di alam semesta, maka peristiwa ini sesungguhnya memberi simbol tentang pentingnya ilmu. Allah SWT berkehendak agar Rasulullah Muhammad SAW memperbaiki pemikiran, sikap, dan perilaku manusia melalui seperangkat nilai-nilai, yang disebut "Islam". Dengan kata lain, peristiwa ini menjadi bukti, bahwa pemikiran, sikap, dan perilaku manusia dapat diperbaiki melalui ilmu.
Pada saat manusia menolak ilmu (nilai-nilai Islam) yang disampaikan oleh Rasulullah Muhammad SAW, maka sebagaimana umat manusia terdahulu (Kaum Ad dan Kaum Tsamud), mereka akan mendapat adzab, yang berupa kesulitan dan kesukaran hidup, serta bencana alam dan kemanusiaan. Adzab yang mendatangi manusia sesungguhnya karena diundang oleh manusia, melalui penolakan ilmu. Para penolak ilmu lebih memilih adzab, sebagai konsekuensi logis dari ketiadaan ilmu.
Kepemilikan ilmu tidak ditunjukkan oleh sertipikat (ijazah), tetapi ditunjukkan oleh kemampuan seseorang mengantisipasi dan menyelesaikan masalah. Apabila suatu masyarakat sangat lemah kemampuannya dalam mengantisipasi masalah, maka berapapun banyaknya sertipikat keilmuan yang mereka miliki, tiadalah gunanya. Bahkan sertipikat itu hanya akan menjadi bahan olok-olok, sebagai sertipikat "aspal", yaitu sertipikat asli (kertas dan formalitasnya) tetapi palsu (substansi dan aksinya).
Semoga Bangsa Indonesia lebih senang belajar lewat ilmu, daripada belajar lewat adzab. Kalaupun adzab telah datang, semoga Bangsa Indonesia segera bertaubat, dan bersegera mempelajari ilmu (nilai-nilai Islam).

Minggu, 09 Desember 2007

BERSABAR DALAM KETAQWAAN

Allah SWT berfirman, "Dan berapa banyak nabi yang berperang, yang bersama-sama mereka ikut serta sejumlah besar pengikut yang bertaqwa. Mereka tidak menjadi lemah karena bencana (kesulitan) yang menimpanya di jalan Allah, dan tidak lesu, serta tidak menyerah; Karena Allah menyukai orang-orang yang sabar" (QS.3:146).
Bila umat Islam berkenan berhikmah dan berkhidmat pada QS.3:146, maka ia akan mengerti bahwa ketika berjuang menjalani hidup dalam konteks kekinian, diperlukan taqwa kepada Allah SWT.
Bila umat Islam bertaqwa, maka ia tidak akan lemah, tidak akan lesu, dan pantang menyerah ketika berjuang menjalani hidup dalam konteks kekinian. Dengan kata lain umat Islam memiliki kesabaran, ketika berjuang menjalani hidup di dunia, yang nantinya akan menjadi bekal hidup di akherat.
M. Quraish Shihab dalam "Tafsir Al Mishbah" menjelaskan, bahwa sabar (dalam QS.3:146) memiliki makna tabah dalam melaksanakan kewajiban, tabah ketika menderita, serta tabah dalam menghadapi musuh-musuh Islam, yaitu: segala bentuk kemaksiatan.
Sedangkan lemah, lesu, dan menyerah (dalam QS.3:146) memiliki makna adanya tiga hal yang bertingkat (berurutan), yaitu: Pertama, mula-mula lemah, yang berkaitan dengan jasmani dan ruhani. Kedua, lalu menimbulkan kelesuan, yang akan menurunkan tekad dan semangat juang. Ketiga, sehingga menimbulkan sikap menyerah kepada musuh-musuh Islam.
Oleh karena itu umat Islam harus bersabar, tabah, dan bersungguh-sungguh ketika menjalani hidup. Caranya dengan terus menerus mencari ilmu, dan pengetahuan, serta menguasai teknologi, dalam bingkai kokoh nilai-nilai Islam.
Ilmu, adalah cara untuk memahami atau mengetahui kaidah-kaidah, yang meliputi: Pertama, ilmu kealaman (seperti: ilmu pengetahuan alam dan ilmu pengetahuan sosial), yaitu ilmu tentang alam semesta dan seisinya, yang harus dicerahkan oleh; Kedua, ilmu keIslaman (seperti: aqidah, ibadah, muamallah, adab, dan akhlak), yaitu ilmu tentang tata laksana hidup di dunia (alam semesta) dan konsekuensi yang akan diperoleh di akherat.
Sedangkan pengetahuan, adalah kaidah-kaidah di alam semesta, serta tata laksana hidup di dunia (alam semesta) dan konsekuensi yang akan diperoleh di akherat, yang berhasil diketahui manusia dengan menggunakan ilmu.
Ketika ditentang oleh sebagian manusia, Rasulullah Muhammad SAW berdoa, "Ya Allah, limpahkanlah petunjuk kepada mereka, karena sesungguhnya mereka tidak mengetahui" (HR: Bukhari dan Muslim dari Sahal Ibn Said RA).
Sementara itu, teknologi, adalah instrumen atau alat/konsepsi yang dihasilkan oleh manusia sebagai respon terhadap adanya kaidah-kaidah di alam semesta.
Allah SWT berfirman dalam QS.55:33, "Hai sekalian jin dan manusia, jika kamu mampu melintasi segenap penjuru langit dan bumi, maka lintasilah. Namun kamu tidak akan dapat melintasinya melainkan dengan kekuatan (ilmu, pengetahuan, dan teknologi)."