ABOUT ISLAM

Jumat, 13 November 2009

ILMU DAN ADZAB

Hari-hari terakhir ini, beberapa stasiun televisi memberitakan adanya musibah yang memprihatinkan, yaitu adanya seribu orang warga yang mengalami keracunan obat pencegah kaki gajah, dan delapan orang di antaranya tewas. Kegiatan ini dilakukan oleh Departemen Kesehatan bekerjasama dengan WHO (World Health Organization), dengan tujuan untuk menekan angka penderita kaki gajah. Namun karena tidak sempurnanya sosialisasi yang berkaitan dengan karakteristik obat kepada masyarakat, dan juga karena ketidak-cermatan masyarakat dalam mengkonsumsi obat, maka terjadilah musibah ini.
Fenomena ini menunjukkan tentang pentingnya ilmu. Bagi Departemen Kesehatan, selain ilmu kesehatan mereka juga perlu mengkonsumsi sosiologi (ilmu tentang masyarakat), psikologi (ilmu tentang kejiwaan individu), dan komunikasi. Sementara itu, masyarakat juga perlu memiliki ilmu tentang kecermatan dalam mengkonsumsi obat-obatan. Bukankah Allah SWT, melalui nilai-nilai Islam telah mengajarkan tentang pentingnya ilmu? Amal tanpa ilmu tertolak! Kejujuran tanpa ilmu hanyalah kebohongan belaka!
Ketika Allah SWT mengirim Rasulullah Muhammad SAW bagi manusia di alam semesta, maka peristiwa ini sesungguhnya memberi simbol tentang pentingnya ilmu. Allah SWT berkehendak agar Rasulullah Muhammad SAW memperbaiki pemikiran, sikap, dan perilaku manusia melalui seperangkat nilai-nilai, yang disebut "Islam". Dengan kata lain, peristiwa ini menjadi bukti, bahwa pemikiran, sikap, dan perilaku manusia dapat diperbaiki melalui ilmu.
Pada saat manusia menolak ilmu (nilai-nilai Islam) yang disampaikan oleh Rasulullah Muhammad SAW, maka sebagaimana umat manusia terdahulu (Kaum Ad dan Kaum Tsamud), mereka akan mendapat adzab, yang berupa kesulitan dan kesukaran hidup, serta bencana alam dan kemanusiaan. Adzab yang mendatangi manusia sesungguhnya karena diundang oleh manusia, melalui penolakan ilmu. Para penolak ilmu lebih memilih adzab, sebagai konsekuensi logis dari ketiadaan ilmu.
Kepemilikan ilmu tidak ditunjukkan oleh sertipikat (ijazah), tetapi ditunjukkan oleh kemampuan seseorang mengantisipasi dan menyelesaikan masalah. Apabila suatu masyarakat sangat lemah kemampuannya dalam mengantisipasi masalah, maka berapapun banyaknya sertipikat keilmuan yang mereka miliki, tiadalah gunanya. Bahkan sertipikat itu hanya akan menjadi bahan olok-olok, sebagai sertipikat "aspal", yaitu sertipikat asli (kertas dan formalitasnya) tetapi palsu (substansi dan aksinya).
Semoga Bangsa Indonesia lebih senang belajar lewat ilmu, daripada belajar lewat adzab. Kalaupun adzab telah datang, semoga Bangsa Indonesia segera bertaubat, dan bersegera mempelajari ilmu (nilai-nilai Islam).

3 komentar:

Rihar Diana(dhana) mengatakan...

asslmkum..wr.wb
salam sahabat
SubHanAllah membaca artikel Anda menjadikan hati saya merasa mendapatkan sesuatu yang berharga,terima kasih
wasslmkum..wr.wb

Muchlisin mengatakan...

Sangat mendukung statemen terakhir:
Semoga Bangsa Indonesia lebih senang belajar lewat ilmu, daripada belajar lewat adzab. Kalaupun adzab telah datang, semoga Bangsa Indonesia segera bertaubat, dan bersegera mempelajari ilmu (nilai-nilai Islam).

ARISTIONO NUGROHO mengatakan...

Assallamu'alaikum Wr. Wb.
Thanks buat Rihar Diana, dan Muchlisin, atas komentarnya.