ABOUT ISLAM

Tampilkan postingan dengan label ibadah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label ibadah. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 19 Mei 2012

MENGGAPAI KESELAMATAN


“Selamat”, merupakan keinginan setiap orang. Oleh karena itu, setiap orang berupaya agar selamat. Ia ingin agar segenap aktivitasnya mengarah pada keselamatan, baik keselamatan di dunia, maupun keselamatan di akherat.

Untuk menggapai keselamatan, maka ia tekun beribadah kepada Allah SWT, dan memberi manfaat optimal bagi lingkungannya atau rahmatan lil’alamiin. Ia memiliki gairah (passion) dalam beribadah dan rahmatan lil’alamiin. Ia menanamkan dalam hati dan pikirannya untuk beribadah dan rahmatan lil’alamiin, agar otaknya memproses informasi itu secara terus menerus, sehingga menimbulkan gairah untuk mewujudkannya.

Ketika beribadah dan rahmatan lil’alamiin, ia melakukannya dengan senang hati. Dinamika yang dialaminya setiap hari merupakan hari-hari yang indah bagi dirinya. Ia akan terus bersemangat dalam beribadah dan rahmatan lil’alamiin. Bahkan ia semakin penasaran, ketika menyadari bahwa ibadah dan rahmatan lil’alamiin yang ia lakukan belumlah sebaik yang diharapkan.

Selanjutnya, ia berupaya memiliki pemikiran, sikap, tindakan, dan perilaku baru, yang dapat memperbaiki kualitas ibadah dan rahmatan lil’alamiin yang ia lakukan. Ketika ikhtiar ini mengalami beberapa kendala, maka ia akan menerimanya dalam perspektif yang positif. Berdasarkan perspektif tersebut, ia siap untuk terus menerus memperbaiki diri. Akhirnya, ia senantiasa bersyukur atas setiap keadaan yang dialaminya.

Untuk mendapat keselamatan, ia bersungguh-sungguh memahami visi dan misi hidupnya. Kesungguhan itu mengantarkannya pada kemampuan merumuskan tujuan hidupnya. Ia faham, bahwa visi hidup manusia adalah menggapai ridha Allah SWT, sedangkan misinya adalah melakukan ibadah dan rahmatan lil’alamiin. 

Oleh karena itu, tujuan hidup manusia adalah memenuhi tuntutan visi dan misi hidupnya, agar selamat di dunia dan akherat. Ia berani menjalankan visi, misi, dan tujuan hidupnya, sebagai indikasi keunggulan seorang manusia. Ia faham, bahwa tidak banyak orang yang berani menjalankan visi, misi, dan tujuan hidup manusia.

Sebagian besar manusia di dunia ini, bahkan lebih senang membuat visi, misi, dan tujuan hidupnya sendiri. Akibatnya visi, misi, dan tujuan hidup sebagian besar manusia di dunia bertentangan dengan tata nilai yang ditetapkan oleh Allah SWT, yang telah menciptakan manusia.

Sebagai orang yang ingin selamat di dunia dan akherat, ia terus berupaya menjalankan visi, misi, dan tujuan hidup manusia berdasarkan tata nilai yang ditetapkan oleh Allah SWT, meskipun banyak kendala yang harus dihadapi. Ia berupaya hidup jujur dan siap bekerja keras, agar dapat mewujudkan kebajikan.

Ia memiliki pandangan, bahwa selamat adalah sesuatu yang penting. Oleh karena itu, ia akan melakukan hal penting (ibadah dan rahmatan lil’alamiin). Pemikiran, sikap, tindakan, dan perilakunya akan terus menerus dikembangkan, agar mampu mewujudkan kebajikan, sehingga Allah SWT berkenan meridhainya.

Selamat merenungkan, dan jangan lupa berdoa kepada Allah SWT, untuk kebaikan Bangsa Indonesia, Bangsa Palestina, dan Umat Islam di seluruh dunia.

Semoga Allah SWT berkenan meridhai...

...

Sabtu, 28 April 2012

MENGASIHANI DIRI SENDIRI


Ada orang yang gemar mengasihani diri sendiri. Oleh karena itu, ia enggan mengajak dirinya bekerja keras. Alasannya, “Kasihan…!” Kalau ia pelajar atau mahasiswa, maka ia enggan memaksa dirinya untuk belajar. Alasannya, “Kasihan…!”

Kalau ia pekerja, buruh, atau karyawan, maka ia enggan memaksa dirinya untuk disiplin dalam bekerja. Alasannya, “Kasihan…!” Kalau ia wirausahawan, maka ia enggan memaksa dirinya untuk berikhtiar sungguh-sungguh membesarkan usahanya. Alasannya, “Kasihan…!”

Akibatnya, kalau ia pelajar atau mahasiswa, maka ia adalah pelajar atau mahasiswa yang lemah dalam ilmu, pengetahuan, dan keterampilan. Kalau ia pekerja, buruh, atau karyawan, maka ia adalah pekerja, buruh, atau karyawan yang lemah prestasi. Kalau ia wirausahawan, maka ia adalah wirausahawan yang lemah.

Oleh karena itu, setiap orang hendaknya berkenan bekerja keras mendisiplinkan diri, dan jangan terbiasa mengasihani diri. Bukankah lebih baik, seseorang itu “keras” terhadap dirinya agar “dunia” lembut terhadap dirinya. Daripada ia lemah terhadap dirinya, sehingga dunia “keras” terhadap dirinya.

Untuk itu setiap orang hendaknya berkenan bekerja keras. Kemudian, agar faham tentang cara bekerja keras yang baik, maka ia perlu membaca firman Allah SWT dan hadist Rasulullah Muhammad SAW, tentang cara hidup yang baik.

Cara hidup yang baik menurut Allah SWT, adalah: Pertama, beribadah kepada Allah SWT, yaitu dengan melaksanakan ibadah yang Allah SWT perintahkan kepada manusia. Selanjutnya menjadikan nilai-nilai ibadah sebagai sumber inspirasi dalam memberi manfaat optimal bagi lingkungan;

Kedua, rahmatan lil’alamiin atau memberi manfaat optimal bagi lingkungan, yaitu dengan menggunakan setiap potensi diri bagi kebaikan manusia dan lingkungan sekitar. Cara hidup seperti ini mendorong yang bersangkutan untuk terus menerus menggali potensi diri, dan mengubahnya menjadi kemampuan diri atau mampu melakukan aktualisasi potensi diri.

Agar mampu mengaktualisasi potensi diri, ada dua hal yang perlu diperhatikan oleh seseorang, yaitu: Pertama, referensi. Ia harus memperhatikan bacaan yang selama ini ia baca, di mana bacaan itu harus mampu menginspirasi dirinya sehingga mampu memperbaiki diri. Ia juga harus memperhatikan tokoh yang ia jadikan acuan atau contoh, di mana tokoh itu haruslah tokoh yang mampu menginspirasi dirinya sehingga mampu memperbaiki diri;

Kedua, sahabat. Ia harus bersinergi dengan banyak orang yang bersedia bekerjasama dalam beribadah kepada Allah SWT, dan memberi manfaat optimal bagi lingkungan. Oleh karena itu, ia harus pandai memilih sahabat yang bersedia bersinergi, agar ia tidak tertipu oleh orang yang menyatakan sahabat, tetapi tidak bersedia bersinergi.

Selamat merenungkan, dan jangan lupa berdoa kepada Allah SWT untuk kebaikan Bangsa Indonesia, Bangsa Palestina, dan Umat Islam di seluruh dunia.

Semoga Allah SWT berkenan meridhai...

...

Sabtu, 14 April 2012

MENGHITUNG DIRI SENDIRI


Seorang manusia tidak layak mengabaikan diri sendiri, namun seorang manusia juga tak layak mengagungkan diri sendiri. Seorang manusia hendaknya mampu menghitung diri sendiri. Ia harus mampu memperhitungkan positioning dirinya di hadapan Allah SWT dan di hadapan masyarakat. Ia haruslah berada pada posisi taqwa di hadapan Allah SWT, dan berada pada posisi rahmatan lil’alamiin di hadapan masyarakat.

Setiap manusia memiliki modal dasar, yang berupa: Pertama, potensi diri, yaitu kemampuan yang masih bersifat potensial, atau belum diwujudkan. Kedua, kemampuan diri, yaitu potensi yang telah berhasil diaktualisasikan, atau telah berhasil diwujudkan.

Modal dasar yang dimiliki oleh setiap manusia ini selanjutnya dilibatkan dalam prosesi (proses menuju sukses), yaitu: Pertama, beribadah kepada Allah SWT. Kedua, memberi manfaat optimal bagi orang lain dan lingkungan, atau rahmatan lil’alamiin.

Tujuan pelibatan modal dasar oleh setiap manusia dalam proses, hanyalah satu, yaitu mencapai sukses, yang berupa keberhasilan menggapai ridha Allah SWT. Dalam prosesi, selain melibatkan modal dasar, maka setiap manusia juga membutuhkan alat, agar prosesi dapat mencapai tujuan (ridha Allah SWT). Alat menuju sukses (ridha Allah SWT) antara lain berupa: harta, jabatan, peringkat / gelar, dan keluarga.

Untuk mendapatkan alat menuju sukses dalam kualitas yang setinggi-tingginya, maka setiap manusia harus terlebih dahulu memenuhi syarat-syaratnya, yang berupa:

Pertama, hidup dalam koridor Islam, yaitu berpikir, bersikap, bertindak, dan berperilaku dalam tuntunan dan ketentuan yang berkaitan dengan aqidah, ibadah, muamallah, adab, dan akhlak.

Kedua, kelola pemikiran, sikap, tindakan, dan perilaku secara Islami, yaitu: fathonah atau cerdas, amanah atau dapat dipercaya, shiddiq atau obyektif / jujur, dan tabligh atau informatif.

Ketiga, ambil peran sebagai muslim, yaitu: sebagai mujahiddin atau pejuang kebenaran / agama, uswatun hasanah atau teladan / contoh yang baik, assabiquunal awwalluun atau pioner / pendahulu, sirajan muniran atau pencerah, dan rahmatan lil’alamiin. 

Selamat merenungkan, dan jangan lupa berdoa kepada Allah SWT untuk kebaikan Bangsa Indonesia dan Bangsa Palestina.

Semoga Allah SWT berkenan meridhai...

...

Minggu, 25 September 2011

JANGAN MERUSAK DIRI

Merusak diri, adalah suatu kondisi di mana seseorang berupaya menggagalkan kesuksesan atau kemenangan dirinya atas segenap dinamika sosial yang dihadapinya.


Agar berhasil merusak dirinya sendiri, seseorang biasanya mengawali dengan merusak kesehatannya, yang kemudian dilanjutkan dengan merusak mindset atau pola pikirnya. Akibatnya segenap pemikiran, sikap, tindakan, dan perilakunya akan rusak, atau jauh dari kebajikan.


Agar tidak merusak diri, setiap orang hendaknya berupaya menghilangkan penyakit dalam “hatinya”, seperti rasa tamak (serakah), dan dengki (iri hati). Hal ini perlu dilakukan agar ia tidak terjebak dalam “jalan” sesat yang mengakibatkan psike atau jiwanya menjadi tak tenang, dan akhirnya sesak nafas atau stroke.


Agar tidak merusak diri, setiap orang hendaknya terus menerus mempelajari konsepsi kehidupan dengan baik. Selayaknya ia mengenali konsepsi kehidupan, dengan cara mempelajari kajian akademik tentang konsepsi kehidupan, dan informasi popular tentang konsepsi kehidupan.


Kesediaan mempelajari konsepsi kehidupan, akan menjadikan seseorang memiliki pengetahuan yang cukup tentang konsepsi kehidupan. Pengetahuan inilah yang kemudian digunakan sebagai dasar bagi seseorang dalam merespon dinamika sosial yang dihadapinya, agar ia tetap berada pada jalur pencapaian kebajikan.


Tepatlah kiranya bila ia selalu berdoa kepada Allah SWT, agar Allah SWT berkenan melimpahkan petunjuk kepadanya. Saat itulah secara bersamaan ia berhasil mencegah mindset-nya dari kerusakan. Mindset yang baik, akan mendorong pemikiran, sikap, tindakan, dan perilaku seseorang tetap berada pada jalur pencapaian kebajikan yang diperintahkan oleh Allah SWT.


Oleh karena buruknya akibat yang ditimbulkan dari aktivitas merusak diri, maka setiap orang dianjurkan untuk “Jangan Merusak Diri”. Untuk itu, setiap orang hendaknya bersungguh-sungguh berupaya sukses (success). Sebagaimana diketahui, sukses adalah suatu kondisi ketika seseorang berhasil mencapai sesuatu yang ingin dicapainya.


Seseorang dinyatakan sukses, ketika ia mampu mendapatkan kemajuan (achievement) yang berupa suatu kebajikan. Kesuksesan seseorang ditentukan oleh pencapaian kebajikan yang berhasil ia lakukan, karena seseorang yang sedang berupaya untuk sukses, akan berusaha agar pemikiran, sikap, tindakan, dan perilakunya bernilai (valuable) serta berguna (useful) bagi dirinya dan masyarakat.


Allah SWT berfirman, “Dan Aku tidak ciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepadaKu” (QS.51:56).


Allah SWT juga berfirman, “Dan Kami tiada mengutusmu melainkan sebagai rahmatan lil’alamiin” (QS.21:107).


Dengan memperhatikan firman Allah SWT dalam QS.51:56 dan QS.21:107 sudah selayaknya seorang manusia tidak merusak diri, agar ia berkesempatan memadukan semangat beribadah kepada Allah SWT dengan semangat rahmatan lil’alamiin.


Selamat berikhtiar, semoga Allah SWT meridhai...

Sabtu, 18 Desember 2010

MAKHLUK CIPTAAN ALLAH SWT

Manusia adalah makhluk ciptaan Allah SWT, ia (manusia) diciptakan dari tiada menjadi ada (lihat QS.76:1-2). Manusia setelah Nabi Adam AS memiliki korelasi genetik dengan Nabi Adam AS, karena Nabi Adam AS merupakan manusia pertama yang diciptakan oleh Allah SWT, sedangkan manusia-manusia sesudahnya merupakan hasil reproduksi dari Nabi Adam AS dan keturunannya.


Penciptaan manusia oleh Allah SWT diketahui memiliki empat varian, yaitu: Pertama, penciptaan Adam AS yang memiliki keunikan, karena diciptakan dari tanah yang selanjutnya disempurnakan kejadiannya dan dilengkapi dengan ruh ciptaan Allah SWT (lihat QS.3:59);


Kedua, penciptaan Hawa (istri Nabi Adam AS) yang memiliki keunikan, karena diciptakan dari diri Adam AS (lihat QS.4:1). Penciptaan Hawa ini sekaligus memberi hikmah, tentang pentingnya suami istri bersatu dalam nilai-nilai Islam.


Ketiga, penciptaan Isa AS yang memiliki keunikan, karena diciptakan oleh Allah SWT tanpa melalui proses reproduksi sebagaimana manusia pada umumnya. Isa a.s. lahir dari seorang wanita suci bernama Maryam, yang tidak pernah “disentuh” laki-laki (lihat QS.4:171 dan QS.19:20).


Keempat, penciptaan manusia pada umumnya melalui proses reproduksi (lihat QS.23:12-14). Penciptaan ini memberi peluang bagi upaya mempertahankan eksistensi manusia di alam semesta, dalam rangka menjalankan nilai-nilai Islam.


Sebagai makhluk ciptaan Allah SWT, manusia harus berpegang pada aqidah, bahwa Tuhan semesta alam adalah Tuhan Yang Maha Esa, yaitu Allah SWT (lihat QS.112:1-4). Oleh karena itu kehadiran manusia di dunia memiliki dua tugas utama, yaitu: Pertama, beribadah atau berbakti kepada Allah SWT (lihat QS.51:56). Kedua, menjadi rahmat bagi alam semesta atau rahmatan lil’alamiin (lihat QS.21:107).


Sebagai salah satu wujud dari pelaksanaan tugasnya, manusia harus dapat mengelola alam semesta dengan sebaik-baiknya. Untuk itu manusia harus memiliki kualitas yang baik (fathonah, amanah, shiddiq, dan tabligh), agar ia dapat mengelola alam semesta dengan baik.


Salah satu indikator manusia yang berkualitas baik, adalah ketika ia mampu menata emosinya. Kemampuan ini akan memberi kontribusi pada manusia yang bersangkutan untuk secara optimal mengelola alam semesta.


Dengan demikian manusia dapat memberi makna dalam kehadirannya di alam semesta, dan benarlah kehendak Allah SWT yang berkenan menciptakan manusia. Hal ini sekaligus merupakan wujud rasa syukur manusia kepada Allah SWT.

Jumat, 19 November 2010

BANGSA INDONESIA MEMBUTUHKAN NILAI - NILAI ISLAM

Perhatikan media massa, baik cetak maupun elektronik, yang banyak mengungkapkan salah urus dalam mengelola segenap sumberdaya di Negara Kesatuan Republik Indonesia. Perhatikan berita yang menyebutkan seorang tahanan di sebuah rumah tahanan dapat melenggang ke luar dan piknik ke suatu tempat wisata. Perhatikan berita anggota parlemen yang berkunjung ke luar negeri dengan biaya besar, di saat sebagian rakyat terkena bencana. Perhatikan berita tentang para penegak hukum yang mudah disuap oleh para perusak hukum. Perhatikan saham badan usaha milik negara (rakyat) yang dijual murah. Perhatikan, perhatikan, dan perhatikan, maka sebagai Bangsa Indonesia kita tentu sedih, dan berharap saat-saat memilukan ini segera berakhir.


Sebagai Bangsa Indonesia, kita berharap Negara Kesatuan Republik Indonesia dikelola dengan mindset hanya mempertuhankan Allah SWT. Oleh karena itu, mindset ini harus diwujudkan dalam bentuk semangat untuk melawan setiap isme atau faham yang mendurhakai Allah SWT. Wujud kegiatannya berupa ”amar makruf nahi munkar”, dengan menggelar berbagai kegiatan yang mencerahkan, dan menghentikan berbagai kegiatan maksiat.


Sebagai Bangsa Indonesia, kita berharap Negara Kesatuan Republik Indonesia dikelola dengan mindset ingin berbakti kepada Allah SWT. Oleh karena itu, mindset ini harus diwujudkan dalam bentuk berbagai kegiatan yang dapat memberi manfaat optimal bagi rakyat, sebagai arahan ”rahmatan lil’alamiin” dari Allah SWT. Tegakkan hukum sebaik-baiknya, jangan jual saham badan usaha milik negara dengan harga murah, dan lain-lain. Jadikan Negara Kesatuan Republik Indonesia yang berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar Tahun 1945 ini sebagai negara yang diberkahi Allah SWT.


Sebagai Bangsa Indonesia, kita berharap Negara Kesatuan Republik Indonesia dikelola dengan mindset interaksi sosial yang baik. Oleh karena itu, mindset ini harus diwujudkan dengan sikap saling menghormati antar warga bangsa. Ada semangat untuk bekerjasama dalam hal-hal kebajikan, tetapi menolak bekerjasama dalam hal-hal maksiat. Sinergi antar lembaga tinggi negara hendaknya diarahkan untuk sebesar-besar kesejahteraan rakyat.


Sebagai Bangsa Indonesia, kita berharap Negara Kesatuan Republik Indonesia dikelola dengan mindset etika yang baik. Oleh karena itu, mindset ini harus diwujudkan dengan berbagai kegiatan yang memuliakan manusia. Sudah saatnya warga miskin mendapat perhatian utama, agar mereka dapat keluar dari kemiskinannya. Indikatornya jelas, yaitu menurunnya jumlah keluarga miskin di Indonesia dari tahun ke tahun.


Sebagai Bangsa Indonesia, kita berharap Negara Kesatuan Republik Indonesia dikelola dengan mindset perilaku yang baik. Oleh karena itu mindset ini harus diwujudkan dalam perilaku yang mencerminkan bangsa yang mempertuhankan Allah SWT, berbakti kepadaNya, berinteraksi dengan baik, dan memiliki etika yang baik. Dengan demikian Allah SWT akan berkenan mencurahkan berkahnya. Jadikan Bangsa Indonesia sebagai bangsa yang layak diberkahi Allah SWT.


Akhirnya tiada kesimpulan lain, selain kesimpulan bahwa Bangsa Indonesia membutuhkan nilai-nilai Islam, yang antara lain terdiri dari aqidah, ibadah, muamallah, adab, dan akhlak. Bangsa Indonesia membutuhkan aqidah agar memiliki mindset hanya mempertuhankan Allah SWT. Bangsa Indonesia membutuhkan ibadah agar memiliki mindset ingin berbakti kepada Allah SWT. Bangsa Indonesia membutuhkan muamallah agar memiliki mindset interaksi sosial yang baik. Bangsa Indonesia membutuhkan adab agar memiliki mindset etika yang baik. Bangsa Indonesia membutuhkan akhlak agar memiliki mindset perilaku yang baik.

Sabtu, 17 Oktober 2009

MANAJEMEN HARTA

Allah SWT berfirman, "Dan orang-orang yang apabila menginfaqkan harta, mereka tidak berlebihan, namun tidak pula kikir, melainkan di antara keduanya secara wajar" (QS.25:67).
Firman Allah SWT ini mengingatkan manusia tentang manajemen harta. Tentu saja sebagai manusia, setiap manusia wajib memanaje (mengelola) harta dengan baik. Pemahaman ini penting, karena tak ada seorang manusiapun yang dapat memastikan harta yang diperolehnya. Sesungguhnya hanya Allah SWT yang memastikan harta bagi setiap manusia.
QS.25:67 menekankan manajemen harta pada sisi proporsionalitas, yang dalam terminologi Al Qur'an disebut "wajar". Proporsionalitas mendorong setiap manusia yang memanaje harta, untuk memperhatikan efektivitas (pengutamaan dampak sebesar-besarnya), dan efisien (pengutamaan maksimalisasi hasil per satuan usaha).
Oleh karena itu, setiap manusia wajib membuat perencanaan, pelaksanaan, pengendalian, dan evaluasi pengelolaan harta yang dimilikinya. Dalam format proporsionalitas, harta dimanaje dengan memperhatikan koridor aqidah (keimanan Islami), koridor ibadah (format berbakti kepada Allah SWT), koridor muamallah (tata interaksi sosial Islami), koridor adab (tata kesopanan dan etika Islami), dan koridor akhlak (format ekspresi manusia, sebagai konsekuensi manusia yang beraqidah, beribadah, bermuamallah, beradab, dan berakhlak).

Sabtu, 07 Maret 2009

HARMONI SOSIAL BERBASIS KETUHANAN

Suatu masyarakat akan berada dalam ketertiban, ketentraman, dan kenyamanan, bila berhasil membangun harmoni sosial. Banyak hal yang berkaitan dengan harmoni sosial, baik dari aspek ideologi, politik, ekonomi, budaya, pertahanan, dan keamanan. Dalam aspek ekonomi, harmoni sosial akan terwujud bila ada distribusi kekayaan yang adil.
Pengertian adil dalam hal ini, bukanlah berarti sama rata, sama rasa, sama ukuran, dan sama format. Pengertian adil dalam konteks aspek ekonomi pada harmoni sosial, adalah tercapainya keadilan kontributif setelah adanya keadilan distributif.
Keadilan distributif tercapai, ketika setiap anggota masyarakat memperoleh kebutuhan-kebutuhan dasarnya. Sementara itu, keadilan kontributif tercapai, ketika setiap anggota masyarakat yang telah memperoleh kebutuhan dasarnya, mendapat kesempatan untuk memberi kontribusi optimal bagi kemajuan masyarakat secara keseluruhan.
Untuk memicu adanya keadilan distributif, Allah SWT berfirman dalam QS.2:43, "Dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat, serta rukulah (shalat berjamaahlah) bersama orang-orang yang ruku (shalat berjamaah)."
Allah SWT juga berfirman, "Sesungguhnya orang-orang yang beriman, mengerjakan amal shaleh, mendirikan shalat, dan menunaikan zakat. Mereka mendapatkan pahala di sisi Tuhannya. Tidak ada kekhawatiran bagi mereka, dan tidak ada kesedihan bagi mereka" (QS.2:227).
Dalam QS.2:43 dan QS.2:227 Allah SWT telah memberikan suatu formula aksi dalam mewujudkan keadilan distributif, yang akan memberi peluang bagi diwujudkannya keadilan kontributif. Formula yang diberikan oleh Allah SWT adalah zakat. Dengan demikian zakat merupakan formula bagi pencapaian harmoni sosial dengan berbasiskan kepada Ketuhanan, yaitu sebagai bentuk ibadah kepada Allah SWT.

Kamis, 05 Februari 2009

KRISIS ADAB

Kejadian yang mengenaskan di Medan, di mana Ketua DPRD Provinsi Sumatera Utara dianiaya oleh demonstran pendukung pembentukan Provinsi Tapanuli, masuk dalam ingatan kita. Lebih mengenaskan lagi ketika mengetahui, bahwa Ketua DPRD tersebut, Abdul Aziz Angkat, meninggal dunia. Inilah fenomena buruk ketiadaan adab, yang membahayakan kehidupan berbangsa dan bernegara di Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Fenomena tersebut, dan fenomena-fenomena sejenisnya menunjukkan, bahwa telah terjadi krisis adab di Indonesia. Krisis ini menggugah setiap muslim untuk memberi kontribusi dalam mengatasinya. Sudah saatnya, nilai-nilai Islam yang selama ini diremehkan oleh sebagian kecil masyarakat, dimanfaatkan secara optimal untuk memperbaiki adab manusia. Perbaikan ini meliputi mereka yang berada di level elit, hingga yang berada di level grass root (lapis terbawah).
Selama ini level elit mengalami krisis adab, dengan saling mencaci, dan tidak saling menghormati. Sementara itu, di level yang lebih rendah, masyarakat gemar menggunakan kekerasan tanpa dasar yang kuat. Akibatnya timbul konflik di banyak tempat. Untuk itulah, manusia perlu kembali memperhatikan dan menerapkan nilai-nilai Islam, agar hidup lebih beradab.
Dalam nilai-nilai Islam, ada satu paket nilai penting yang harus diterapkan secara bersama-sama, yaitu ibadah, muamallah, dan adab. Ibadah, adalah tata cara berbakti kepada Allah SWT. Sedangkan muamallah, adalah tata cara berinteraksi sosial. Sementara itu, adab, adalah tata cara beretika atau bersopan santun.
Namun demikian perlu diketahui, bahwa ibadah, muamallah, dan adab akan buruk, atau ditolak oleh Allah SWT, karena bertentangan dengan ketentuan Islam, apabila tidak didahului oleh aqidah yang benar. Aqidah, adalah keyakinan tentang Allah SWT yang merupakan Tuhan, Yang Maha Esa, sebagaimana dimaksud dalam QS.112 atau QS. Al Ikhlas. Selain itu aqidah juga meliputi keyakinan, bahwa Rasulullah Muhammad SAW, adalah utusan terakhir Allah SWT.
Aqidah yang benar, akan menghasilkan ibadah, muamallah, dan adab yang benar, yang pada gilirannya akan membuahkan akhlak terbaik seorang manusia, atau suatu masyarakat. Oleh karena itu, tingkatkan terus kualitas ketaqwaan kita, dengan beraqidah, beribadah, bermuamallah, beradab, dan berakhlak sebagaimana ditentukan oleh Allah SWT dalam Al Qur'an, dan dicontohkan oleh Rasulullah Muhammad SAW dalam Al Hadist.

Selasa, 08 Juli 2008

PERADABAN AMERIKA SERIKAT

Amerika Serikat adalah contoh ideal yang menggambarkan peradaban Yahudi-Kristen (Judeo-Christian). Dalam perspektif Islam (berdasarkan Al Qur'an dan Al Hadist) mereka yang menyebut diri "Kristen" (Katholik, Protestan, dan sejenisnya) disebut dengan istilah "Nasrani", yaitu sekelompok manusia yang mempertuhankan seorang manusia, yang dalam hal ini mereka sebut Yesus, yang mereka sangka adalah Isa Alaihi Salam (yang merupakan salah satu Nabi yang dimuliakan oleh Umat Islam).
Peradaban ini sering pula disebut peradaban Barat. Istilah "Barat" dibuat oleh bangsa-bangsa Eropa, untuk membedakan mereka dari bangsa-bangsa lain yang mereka sebut "Timur". Saat istilah "Barat" dibuat, bangsa-bangsa Eropa belum mengerti bahwa bumi bulat, sehingga mereka tidak menyangka bahwa yang mereka sebut "Timur" sesungguhnya juga terletak di sebelah barat mereka.
Dalam perkembangannya, peradaban Barat menyebar ke berbagai penjuru dunia, yaitu mulai dari benua Eropa, dan Amerika, hingga Australia. Bahkan ketika apartheid (rasisme) masih berkuasa di Afrika Selatan dan Rhodesia (sekarang Zimbabwe), pemerintah kedua negara ini (yang dikuasai kulit putih) menyebut diri bangsa Barat. Oleh karena itu, istilah "Barat" tidak lagi relevan jika dimaknai sebagai arah mata-angin, ketika dikontekskan pada peradaban.
Dalam konteks peradaban, istilah "Barat" lebih tepat dimaknai sebagai peradaban Yahudi-Kristen. Oleh karena itu, ketika seseorang menyebut "Barat" dalam konteks peradaban, maka yang dimaksud adalah peradaban Yahudi-Kristen, yaitu suatu peradaban yang dibangun atas dasar nilai-nilai Yahudi dan Kristen (Nasrani).
Fakta kekinian menunjukkan, bahwa dalam konteks global peradaban Barat sedang memusuhi peradaban Islam, yaitu peradaban yang dibangun atas dasar nilai-nilai Islam. Para penganut peradaban Barat mencerca (menghina atau merendahkan) segala sesuatu yang memperlihatkan nuansa nilai-nilai Islam, mulai dari pemikiran, dan sikap, hingga perilaku. Cercaan ini tentu menjengkelkan Umat Islam, dan telah memprovokasi sebagian kecil Umat Islam.
Dalam konteks global, cercaan kepada Umat Islam dan nilai-nilai Islam secara nyata dipimpin oleh Amerika Serikat, dan diikuti secara setia oleh negara-negara Eropa (terutama yang tergabung dalam Uni Eropa), serta Australia, dan Selandia Baru. Uniknya, negara-negara pencerca nilai-nilai Islam melakukan hubungan perdagangan dan bisnis dengan negara-negara Arab, yang merupakan pewaris nilai-nilai Islam. Oleh karena itu, beberapa kalangan bangsa Arab, berharap agar negara-negara Arab tidak terlalu akrab dengan para pencerca nilai-nilai Islam.
Saat ini Umat Islam dicerca, dihujat, dihina, direndahkan, dan difitnah oleh para penganut peradaban Barat di bawah pimpinan Amerika Serikat. Pada saat yang sama, negeri-negeri muslim seperti Palestina, Afghanistan. dan Irak telah dirampok oleh bangsa Barat atau penganut peradaban Barat di bawah pimpinan Amerika Serikat. Para pejuang pembebasan di Palestina, Afghanistan, dan Irak difitnah sebagai teroris, padahal mereka berjuang membebaskan negeri mereka dari terorisme Barat.
Dunia berada dalam kegelapan jahiliah, ketika Barat menyebut diri pahlawan. Dunia berada dalam kegelapan peradaban ketika Amerika Serikat memimpin dunia, dan mengedarkan peradaban Barat. Dunia berada dalam kegelapan aqidah (keimanan), karena peradaban Barat memaksa manusia mempertuhankan tuhan yang bukan Tuhan. Dunia berada dalam kegelapan aqidah, karena peradaban Barat memaksa manusia memusuhi Allah SWT.
Dunia berada dalam kegelapan ibadah, karena peradaban Barat memaksa manusia menjadikan kedzaliman sebagai ritus "ibadah". Dunia berada dalam kegelapan ibadah, karena peradaban Barat memaksa manusia agar tidak beribadah kepada Allah SWT. Dunia berada dalam kegelapan ibadah, karena peradaban Barat memaksa manusia menjadikan tokoh-tokoh Barat sebagai "sesembahan" manusia.
Dunia berada dalam kegelapan muamallah (interaksi sosial), karena peradaban Barat menjadikan Umat Islam sebagai sasaran kedzaliman mereka. Dunia berada dalam kegelapan muamallah, karena peradaban Barat menjadikan manusia hanya sebagai obyek kemaksiatan dan perdagangan. Dunia berada dalam kegelapan muamallah, karena meskipun peradaban Barat menggembar-gemborkan hak asasi manusia, namum faktanya merekalah yang paling serius melanggar hak asasi manusia.
Dunia berada dalam kegelapan adab (etika atau sopan santun), karena peradaban Barat memaksa manusia untuk membangun peradaban tak beradab. Bukankah peradaban Barat yang mempopulerkan seks bebas dan penyimpangan seks (lesbianisme dan homoseksualisme), serta peradaban yang merendahkan martabat manusia hingga berada pada posisi seperti hewan, bahkan lebih rendah lagi.
Dunia berada dalam kegelapan akhlak, karena peradaban Barat terus menerus merusak pemikiran, sikap, dan perilaku manusia hingga tidak nampak lagi nilai-nilai keimanan kepada Tuhan, yaitu Allah SWT; hingga tidak nampak lagi orang-orang yang bersedia beribadah kepada Tuhan, yaitu Allah SWT; hingga tidak nampak lagi orang-orang yang bersedia berinteraksi sosial secara saling mencerahkan; dan hingga tidak nampak lagi orang-orang yang memiliki etika dan sopan santun kepada Tuhan dan sesama manusia.
Semua ini tidak boleh menggentarkan Umat Islam, karena telah dijelaskan dalam QS.2:120. Allah SWT berpesan, "Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan senang kepadamu (Umat Islam) sebelum kamu mengikuti cara hidup mereka" (lihat QS.2:120).
Oleh karena itu, inilah saatnya Umat Islam bekerja keras, bangun dan tingkatkan kualitas diri, bangun dan tingkatkan pemahaman dan implementasi aqidah, ibadah, muamallah, dan adab dalam akhlak seorang muslim. Jangan gentar dengan peradaban Barat, dan jangan gentar dengan peradaban Amerika Serikat, karena mereka hanya menjajakan peradaban masa lalu, yaitu peradaban jahiliah, peradaban dusta, dan peradaban maksiat. Semoga Allah SWT meridhai.

Senin, 28 April 2008

MENATA CINTA

Beraneka ragam perasaan dapat "menghampiri" manusia, yang diawali dari perasaan menerima (acceptance), patuh (submission), heran (surprise), terpesona (awe), takut (fear), kecewa (disappointment), sedih (sadness), menyesal (remorse), jijik karena faktor internal (disgust), jijik karena faktor eksternal (contempt), marah (anger), agresif (aggressiveness), pengharapan (anticipation), optimis (optimism), sukacita (joy), dan memuncak pada perasaan cinta (love).
Perasaan kecewa dan menyesal akan menghampiri manusia, ketika ia gagal mencintai Allah SWT. Kegagalan ini dapat berdampak buruk pada dirinya, ketika ia menjadi jijik kepada kebajikan, dan bertindak agresif pada sesama manusia dan lingkungannya.
Bila hal ini telah terjadi, jangan putus asa, melainkan segera perbaiki diri. Bukankah manusia mengetahui bahwa Allah SWT, Maha Pengampun, Maha Pengasih, dan Maha Penyayang.
Oleh karena itu, hendaknya manusia bersungguh-sungguh mencintai Allah SWT, yang dibuktikan dengan patuh kepada Allah SWT. Kesemua ini dikarenakan ia terpesona oleh Maha Pengampun, Maha Pengasih, dan Maha Penyayangnya Allah SWT, padahal sesungguhnya Allah SWT Maha Berkehendak. Bukankah Allah SWT Maha Esa? maka Ia Maha Berkehendak. Tetapi Ia ternyata Maha Pengasih dan Maha Penyayang.
Dengan demikian wajar saja jika manusia "meletakkan" cintanya hanya untuk Allah SWT, Rasulullah Muhammad SAW, dan jihad di "jalan" Allah SWT (sesuai QS.9:24). Cinta ini diwujudkan dalam format beribadah kepada Allah SWT (sesuai QS.51:56), dan rahmatan lil'alamiin (sesuai QS.21:107).