ABOUT ISLAM

Tampilkan postingan dengan label harta. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label harta. Tampilkan semua postingan

Minggu, 06 Mei 2012

GAMBARAN DIRI SENDIRI


Setiap orang hendaknya mampu mengenali diri sendiri. Tepatnya, ia faham gambaran tentang dirinya sendiri. Ia faham, bahwa dirinya terikat oleh waktu. Ia pernah berada di masa lalu, ia sedang berada di masa kini, dan suatu saat ia akan berada di masa depan.

Oleh karena itu, penting bagi dirinya memperhatikan pemikiran, sikap, tindakan, dan perilakunya dari waktu ke waktu. Pemikiran, sikap, tindakan, dan perilakunya di masa kini, harus berbasis evaluasi dan analisis terhadap pemikiran, sikap, tindakan, dan perilakunya di masa lalu.

Ia harus mengingat segenap kesalahan dan keburukan pemikiran, sikap, tindakan, dan perilakunya di masa lalu, agar tidak terulang di masa kini. Pada saat yang sama, ia harus mengingat segenap kebajikan pemikiran, sikap, tindakan, dan perilakunya di masa lalu, untuk diulang dan dikembangkan di masa kini dan masa depan.

Penting bagi dirinya mengerahkan segenap indera yang dimilikinya, untuk mewujudkan citra kebajikan dirinya di sepanjang masa (masa lalu, masa kini, dan masa depan). Gambaran tentang diri sendiri haruslah dibentuk dengan sungguh-sungguh, melalui pengalaman dan kinerja kebajikan, sehingga ia berhak disebut sebagai pribadi yang penuh kebajikan.

Tidak penting kharisma yang dimiliki seseorang, karena kharisma tidak bermanfaat bila tiada kebajikan yang dihasilkan. Kharisma hanyalah tampilan menarik seseorang, yang tidak bermakna tanpa substansi kebajikan. Oleh karena itu, penuhilah diri dengan sebanyak mungkin kebajikan, lalu kemas dalam kharisma yang menarik.

Saat itulah, gambaran terindah tentang diri sendiri akan mudah ditangkap oleh orang lain. Ketika seseorang akan membangun gambaran tentang diri sendiri, maka penting baginya memperhatikan proses. Telah menjadi pengetahuan umum, bahwa segala sesuatu melalui proses sedikit demi sedikit dan dari waktu ke waktu.

Oleh karena itu, akumulasikan kebajikan sedikit demi sedikit, dari waktu ke waktu, dengan penuh kesabaran. Saat kebajikan telah melimpah, maka ia akan mendapati gambaran yang baik tentang diri sendiri. Gambaran yang baik tentang diri sendiri, yang berbasis pada akumulasi kebajikan dari waktu ke waktu; akan memudahkan orang lain untuk juga menerima gambaran yang baik tersebut.

Gambaran ini mendorong orang lain memberi kepercayaan yang memadai pada diri orang tersebut, sehingga sinergi antara dirinya dengan orang lain mulai terbuka. Sinergi tersebut dapat diarahkan untuk mendistribusikan kebajikan ke segenap pihak, dan ke seluruh wilayah yang terjangkau.

Keinginan mendistribusikan kebajikan, akan mendorong seseorang untuk bersungguh-sungguh memperoleh harta, pangkat, jabatan, peringkat, dan gelar (sosial dan akademis). Hartanya dapat ia gunakan untuk mendistribusikan kebajikan, dengan cara membantu pihak-pihak yang lemah secara ekonomi. Pangkat dan jabatannya dapat ia gunakan untuk mendistribusikan kebajikan, dengan cara menetapkan keputusan yang dapat membantu pihak-pihak yang membutuhkan bantuan dan perlindungan.

Gelarnya dapat ia gunakan untuk mendistribusikan kebajikan, dengan cara memberi solusi atas kesulitan dan masalah yang dihadapi masyarakat. Demikianlah, gambaran tentang diri sendiri, yang dipenuhi oleh kabajikan, yang dikumpulkan sedikit demi sedikit, dari waktu ke waktu.

Selamat merenungkan, dan jangan lupa berdoa kepada Allah SWT, untuk kebaikan Bangsa Indonesia, Bangsa Palestina, dan Umat Islam di seluruh dunia.

Semoga Allah SWT berkenan meridhai…

Sabtu, 31 Maret 2012

MEMPERSEMBAHKAN KINERJA

Ketika seseorang mempersembahkan hidupnya bagi Allah SWT dengan berupaya menggapai ridhaNya, ia akan menjadikan harta, pangkat / jabatan, dan peringkat / gelar sebagai alat untuk mendukung ibadah kepada Allah SWT, dan rahmatan lil’alamiin (bermanfaat optimal bagi alam semesta / lingkungan).


Untuk itu ia akan berupaya memperoleh alat (harta, pangkat / jabatan, dan peringkat / gelar) dengan cara-cara yang diperkenankan oleh Allah SWT. Selanjutnya, dengan berbekal percaya diri ia akan berupaya memperolehnya dengan melakukan sesuatu yang khas dirinya. Saat itulah, ia mempersembahkan kinerjanya kepada Allah SWT.


Keinginannya mempersembahkan kinerjanya kepada Allah SWT memiliki alasan, antara lain: Ia ingin menghasilkan sesuatu yang bermanfaat. Dalam konteks menuju sukses (menggapai ridha Allah SWT), ia berupaya menghasilkan sesuatu yang akan meningkatkan semangat dirinya dan orang lain untuk beribadah (dalam arti luas) kepada Allah SWT.


Ia juga ingin membuat atau menumbuhkan semangat ”rahmatan lil’alamiin” pada dirinya dan orang-orang di sekitarnya. Untuk itu ia mengikhtiarkan agar kesejahteraan masyarakat dapat terjadi atau ada di masyarakat. Ia bekerjasama dengan masyarakat dalam menciptakan peluang usaha, yang akan menghadirkan kesejahteraan bagi masyarakat.


Ia ingin mengajak masyarakat untuk meningkatkan ketaqwaan kepada Allah SWT, agar segenap upaya meningkatkan kesejahteraan mendapat dukungan Allah SWT. Ia tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan, ketika Allah SWT memberi peluang sukses (menggapai ridha Allah SWT). Bahkan ia juga ingin agar masyarakat dapat memanfaatkan peluang itu. Dengan demikian kesempatan nyata yang diperoleh tidak akan hilang tanpa kesan.


Ia juga ingin mengembangkan kualitas dirinya dan masyarakat agar layak mendapat peluang sukses, serta mendapat kesempatan memperoleh alat terbaik menuju sukses. Ia ingin berubah menjadi lebih maju atau lebih baik, dengan meningkatkan cakupan manfaat kehadirannya di dunia bagi orang lain dan lingkungan.


Ia memiliki keinginan yang kuat untuk memperoleh harta yang relatif banyak, karena akhirnya akan digunakan di “jalan” Allah SWT, misal untuk membantu pembiayaan pendirian pesantren, rumah sakit, dan membiayai anak putus sekolah.


Ia pun memiliki keinginan yang kuat untuk menduduki pangkat / jabatan yang tinggi, karena akhirnya akan digunakan di “jalan” Allah SWT, misal untuk mengambil kebijakan bijaksana (wisdom) yang dapat meringankan beban masyarakat.


Ia juga memiliki keinginan yang kuat untuk memperoleh peringkat / gelar akademis atau sosial yang tinggi, karena akhirnya akan digunakan di “jalan” Allah SWT, misal untuk merumuskan solusi dan membantu penyelesaian masalah yang ada di masyarakat.


Selamat merenungkan, semoga Allah SWT berkenan meridhai…

...

Sabtu, 12 Desember 2009

KEMAMPUAN MENAHAN AMARAH

Allah SWT berfirman, "Bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu (Allah), dan surga yang luasnya seluas langit dan bumi, yang disediakan bagi orang-orang yang bertaqwa, yaitu orang-orang yang menafkahkan hartanya pada waktu lapang dan waktu sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya, serta memaafkan kesalahan orang lain. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebaikan" (QS.3:133-134).
Firman Allah SWT dalam QS.3:133-134 menempatkan kemampuan menahan amarah sebagai kemampuan orang yang bertaqwa, yang disejajarkan dengan kemampuan menafkahkan harta, dan memaafkan kesalahan orang lain. Relasi ketiga kemampuan ini dapat dipandang sebagai relasi yang bersifat paralel, maupun linier. Ketika dipandang sebagai relasi paralel, maka masing-masing kemampuan difahami sebagai kemampuan yang dapat dikonstruksi secara bersamaan. Sebaliknya, ketika dipandang sebagai relasi linier, maka kemampuan awal yang dapat dikonstruksi adalah kemampuan menahan amarah, lalu kemampuan memaafkan orang lain, dan akhirnya kemampuan menafkahkan harta.
Secara rasional diketahui, bahwa kemampuan menahan amarah pada diri seseorang, akan memberinya kesempatan untuk memaafkan kesalahan orang lain, yang telah menimbulkan amarah. Pada gilirannya, setelah seseorang berdamai dengan orang lain, dan kemudian menjadi sahabat atau merasa sebagai saudara, maka seseorang tersebut berpeluang menafkahkan hartanya (misal: memberi hadiah) kepada orang lain sebagaimana dimaksud.
Demikianlah Allah SWT melalui Rasulullah Muhammad SAW mengajarkan dan mengajak manusia untuk berbuat kebaikan. Karena sesungguhnya, nilai-nilai Islam yang merupakan terminologi kodifikan (istilah yang menyatukan) segenap ajaran Islam, merupakan seperangkat nilai-nilai kebaikan. Oleh karena itu pula, setiap manusia hendaknya bersungguh-sungguh menerapkan nilai-nilai Islam dalam kehidupan sehari-hari.

Sabtu, 17 Oktober 2009

MANAJEMEN HARTA

Allah SWT berfirman, "Dan orang-orang yang apabila menginfaqkan harta, mereka tidak berlebihan, namun tidak pula kikir, melainkan di antara keduanya secara wajar" (QS.25:67).
Firman Allah SWT ini mengingatkan manusia tentang manajemen harta. Tentu saja sebagai manusia, setiap manusia wajib memanaje (mengelola) harta dengan baik. Pemahaman ini penting, karena tak ada seorang manusiapun yang dapat memastikan harta yang diperolehnya. Sesungguhnya hanya Allah SWT yang memastikan harta bagi setiap manusia.
QS.25:67 menekankan manajemen harta pada sisi proporsionalitas, yang dalam terminologi Al Qur'an disebut "wajar". Proporsionalitas mendorong setiap manusia yang memanaje harta, untuk memperhatikan efektivitas (pengutamaan dampak sebesar-besarnya), dan efisien (pengutamaan maksimalisasi hasil per satuan usaha).
Oleh karena itu, setiap manusia wajib membuat perencanaan, pelaksanaan, pengendalian, dan evaluasi pengelolaan harta yang dimilikinya. Dalam format proporsionalitas, harta dimanaje dengan memperhatikan koridor aqidah (keimanan Islami), koridor ibadah (format berbakti kepada Allah SWT), koridor muamallah (tata interaksi sosial Islami), koridor adab (tata kesopanan dan etika Islami), dan koridor akhlak (format ekspresi manusia, sebagai konsekuensi manusia yang beraqidah, beribadah, bermuamallah, beradab, dan berakhlak).