ABOUT ISLAM

Tampilkan postingan dengan label aqidah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label aqidah. Tampilkan semua postingan

Jumat, 19 November 2010

BANGSA INDONESIA MEMBUTUHKAN NILAI - NILAI ISLAM

Perhatikan media massa, baik cetak maupun elektronik, yang banyak mengungkapkan salah urus dalam mengelola segenap sumberdaya di Negara Kesatuan Republik Indonesia. Perhatikan berita yang menyebutkan seorang tahanan di sebuah rumah tahanan dapat melenggang ke luar dan piknik ke suatu tempat wisata. Perhatikan berita anggota parlemen yang berkunjung ke luar negeri dengan biaya besar, di saat sebagian rakyat terkena bencana. Perhatikan berita tentang para penegak hukum yang mudah disuap oleh para perusak hukum. Perhatikan saham badan usaha milik negara (rakyat) yang dijual murah. Perhatikan, perhatikan, dan perhatikan, maka sebagai Bangsa Indonesia kita tentu sedih, dan berharap saat-saat memilukan ini segera berakhir.


Sebagai Bangsa Indonesia, kita berharap Negara Kesatuan Republik Indonesia dikelola dengan mindset hanya mempertuhankan Allah SWT. Oleh karena itu, mindset ini harus diwujudkan dalam bentuk semangat untuk melawan setiap isme atau faham yang mendurhakai Allah SWT. Wujud kegiatannya berupa ”amar makruf nahi munkar”, dengan menggelar berbagai kegiatan yang mencerahkan, dan menghentikan berbagai kegiatan maksiat.


Sebagai Bangsa Indonesia, kita berharap Negara Kesatuan Republik Indonesia dikelola dengan mindset ingin berbakti kepada Allah SWT. Oleh karena itu, mindset ini harus diwujudkan dalam bentuk berbagai kegiatan yang dapat memberi manfaat optimal bagi rakyat, sebagai arahan ”rahmatan lil’alamiin” dari Allah SWT. Tegakkan hukum sebaik-baiknya, jangan jual saham badan usaha milik negara dengan harga murah, dan lain-lain. Jadikan Negara Kesatuan Republik Indonesia yang berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar Tahun 1945 ini sebagai negara yang diberkahi Allah SWT.


Sebagai Bangsa Indonesia, kita berharap Negara Kesatuan Republik Indonesia dikelola dengan mindset interaksi sosial yang baik. Oleh karena itu, mindset ini harus diwujudkan dengan sikap saling menghormati antar warga bangsa. Ada semangat untuk bekerjasama dalam hal-hal kebajikan, tetapi menolak bekerjasama dalam hal-hal maksiat. Sinergi antar lembaga tinggi negara hendaknya diarahkan untuk sebesar-besar kesejahteraan rakyat.


Sebagai Bangsa Indonesia, kita berharap Negara Kesatuan Republik Indonesia dikelola dengan mindset etika yang baik. Oleh karena itu, mindset ini harus diwujudkan dengan berbagai kegiatan yang memuliakan manusia. Sudah saatnya warga miskin mendapat perhatian utama, agar mereka dapat keluar dari kemiskinannya. Indikatornya jelas, yaitu menurunnya jumlah keluarga miskin di Indonesia dari tahun ke tahun.


Sebagai Bangsa Indonesia, kita berharap Negara Kesatuan Republik Indonesia dikelola dengan mindset perilaku yang baik. Oleh karena itu mindset ini harus diwujudkan dalam perilaku yang mencerminkan bangsa yang mempertuhankan Allah SWT, berbakti kepadaNya, berinteraksi dengan baik, dan memiliki etika yang baik. Dengan demikian Allah SWT akan berkenan mencurahkan berkahnya. Jadikan Bangsa Indonesia sebagai bangsa yang layak diberkahi Allah SWT.


Akhirnya tiada kesimpulan lain, selain kesimpulan bahwa Bangsa Indonesia membutuhkan nilai-nilai Islam, yang antara lain terdiri dari aqidah, ibadah, muamallah, adab, dan akhlak. Bangsa Indonesia membutuhkan aqidah agar memiliki mindset hanya mempertuhankan Allah SWT. Bangsa Indonesia membutuhkan ibadah agar memiliki mindset ingin berbakti kepada Allah SWT. Bangsa Indonesia membutuhkan muamallah agar memiliki mindset interaksi sosial yang baik. Bangsa Indonesia membutuhkan adab agar memiliki mindset etika yang baik. Bangsa Indonesia membutuhkan akhlak agar memiliki mindset perilaku yang baik.

Sabtu, 17 Oktober 2009

MANAJEMEN HARTA

Allah SWT berfirman, "Dan orang-orang yang apabila menginfaqkan harta, mereka tidak berlebihan, namun tidak pula kikir, melainkan di antara keduanya secara wajar" (QS.25:67).
Firman Allah SWT ini mengingatkan manusia tentang manajemen harta. Tentu saja sebagai manusia, setiap manusia wajib memanaje (mengelola) harta dengan baik. Pemahaman ini penting, karena tak ada seorang manusiapun yang dapat memastikan harta yang diperolehnya. Sesungguhnya hanya Allah SWT yang memastikan harta bagi setiap manusia.
QS.25:67 menekankan manajemen harta pada sisi proporsionalitas, yang dalam terminologi Al Qur'an disebut "wajar". Proporsionalitas mendorong setiap manusia yang memanaje harta, untuk memperhatikan efektivitas (pengutamaan dampak sebesar-besarnya), dan efisien (pengutamaan maksimalisasi hasil per satuan usaha).
Oleh karena itu, setiap manusia wajib membuat perencanaan, pelaksanaan, pengendalian, dan evaluasi pengelolaan harta yang dimilikinya. Dalam format proporsionalitas, harta dimanaje dengan memperhatikan koridor aqidah (keimanan Islami), koridor ibadah (format berbakti kepada Allah SWT), koridor muamallah (tata interaksi sosial Islami), koridor adab (tata kesopanan dan etika Islami), dan koridor akhlak (format ekspresi manusia, sebagai konsekuensi manusia yang beraqidah, beribadah, bermuamallah, beradab, dan berakhlak).

Selasa, 08 Juli 2008

PERADABAN AMERIKA SERIKAT

Amerika Serikat adalah contoh ideal yang menggambarkan peradaban Yahudi-Kristen (Judeo-Christian). Dalam perspektif Islam (berdasarkan Al Qur'an dan Al Hadist) mereka yang menyebut diri "Kristen" (Katholik, Protestan, dan sejenisnya) disebut dengan istilah "Nasrani", yaitu sekelompok manusia yang mempertuhankan seorang manusia, yang dalam hal ini mereka sebut Yesus, yang mereka sangka adalah Isa Alaihi Salam (yang merupakan salah satu Nabi yang dimuliakan oleh Umat Islam).
Peradaban ini sering pula disebut peradaban Barat. Istilah "Barat" dibuat oleh bangsa-bangsa Eropa, untuk membedakan mereka dari bangsa-bangsa lain yang mereka sebut "Timur". Saat istilah "Barat" dibuat, bangsa-bangsa Eropa belum mengerti bahwa bumi bulat, sehingga mereka tidak menyangka bahwa yang mereka sebut "Timur" sesungguhnya juga terletak di sebelah barat mereka.
Dalam perkembangannya, peradaban Barat menyebar ke berbagai penjuru dunia, yaitu mulai dari benua Eropa, dan Amerika, hingga Australia. Bahkan ketika apartheid (rasisme) masih berkuasa di Afrika Selatan dan Rhodesia (sekarang Zimbabwe), pemerintah kedua negara ini (yang dikuasai kulit putih) menyebut diri bangsa Barat. Oleh karena itu, istilah "Barat" tidak lagi relevan jika dimaknai sebagai arah mata-angin, ketika dikontekskan pada peradaban.
Dalam konteks peradaban, istilah "Barat" lebih tepat dimaknai sebagai peradaban Yahudi-Kristen. Oleh karena itu, ketika seseorang menyebut "Barat" dalam konteks peradaban, maka yang dimaksud adalah peradaban Yahudi-Kristen, yaitu suatu peradaban yang dibangun atas dasar nilai-nilai Yahudi dan Kristen (Nasrani).
Fakta kekinian menunjukkan, bahwa dalam konteks global peradaban Barat sedang memusuhi peradaban Islam, yaitu peradaban yang dibangun atas dasar nilai-nilai Islam. Para penganut peradaban Barat mencerca (menghina atau merendahkan) segala sesuatu yang memperlihatkan nuansa nilai-nilai Islam, mulai dari pemikiran, dan sikap, hingga perilaku. Cercaan ini tentu menjengkelkan Umat Islam, dan telah memprovokasi sebagian kecil Umat Islam.
Dalam konteks global, cercaan kepada Umat Islam dan nilai-nilai Islam secara nyata dipimpin oleh Amerika Serikat, dan diikuti secara setia oleh negara-negara Eropa (terutama yang tergabung dalam Uni Eropa), serta Australia, dan Selandia Baru. Uniknya, negara-negara pencerca nilai-nilai Islam melakukan hubungan perdagangan dan bisnis dengan negara-negara Arab, yang merupakan pewaris nilai-nilai Islam. Oleh karena itu, beberapa kalangan bangsa Arab, berharap agar negara-negara Arab tidak terlalu akrab dengan para pencerca nilai-nilai Islam.
Saat ini Umat Islam dicerca, dihujat, dihina, direndahkan, dan difitnah oleh para penganut peradaban Barat di bawah pimpinan Amerika Serikat. Pada saat yang sama, negeri-negeri muslim seperti Palestina, Afghanistan. dan Irak telah dirampok oleh bangsa Barat atau penganut peradaban Barat di bawah pimpinan Amerika Serikat. Para pejuang pembebasan di Palestina, Afghanistan, dan Irak difitnah sebagai teroris, padahal mereka berjuang membebaskan negeri mereka dari terorisme Barat.
Dunia berada dalam kegelapan jahiliah, ketika Barat menyebut diri pahlawan. Dunia berada dalam kegelapan peradaban ketika Amerika Serikat memimpin dunia, dan mengedarkan peradaban Barat. Dunia berada dalam kegelapan aqidah (keimanan), karena peradaban Barat memaksa manusia mempertuhankan tuhan yang bukan Tuhan. Dunia berada dalam kegelapan aqidah, karena peradaban Barat memaksa manusia memusuhi Allah SWT.
Dunia berada dalam kegelapan ibadah, karena peradaban Barat memaksa manusia menjadikan kedzaliman sebagai ritus "ibadah". Dunia berada dalam kegelapan ibadah, karena peradaban Barat memaksa manusia agar tidak beribadah kepada Allah SWT. Dunia berada dalam kegelapan ibadah, karena peradaban Barat memaksa manusia menjadikan tokoh-tokoh Barat sebagai "sesembahan" manusia.
Dunia berada dalam kegelapan muamallah (interaksi sosial), karena peradaban Barat menjadikan Umat Islam sebagai sasaran kedzaliman mereka. Dunia berada dalam kegelapan muamallah, karena peradaban Barat menjadikan manusia hanya sebagai obyek kemaksiatan dan perdagangan. Dunia berada dalam kegelapan muamallah, karena meskipun peradaban Barat menggembar-gemborkan hak asasi manusia, namum faktanya merekalah yang paling serius melanggar hak asasi manusia.
Dunia berada dalam kegelapan adab (etika atau sopan santun), karena peradaban Barat memaksa manusia untuk membangun peradaban tak beradab. Bukankah peradaban Barat yang mempopulerkan seks bebas dan penyimpangan seks (lesbianisme dan homoseksualisme), serta peradaban yang merendahkan martabat manusia hingga berada pada posisi seperti hewan, bahkan lebih rendah lagi.
Dunia berada dalam kegelapan akhlak, karena peradaban Barat terus menerus merusak pemikiran, sikap, dan perilaku manusia hingga tidak nampak lagi nilai-nilai keimanan kepada Tuhan, yaitu Allah SWT; hingga tidak nampak lagi orang-orang yang bersedia beribadah kepada Tuhan, yaitu Allah SWT; hingga tidak nampak lagi orang-orang yang bersedia berinteraksi sosial secara saling mencerahkan; dan hingga tidak nampak lagi orang-orang yang memiliki etika dan sopan santun kepada Tuhan dan sesama manusia.
Semua ini tidak boleh menggentarkan Umat Islam, karena telah dijelaskan dalam QS.2:120. Allah SWT berpesan, "Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan senang kepadamu (Umat Islam) sebelum kamu mengikuti cara hidup mereka" (lihat QS.2:120).
Oleh karena itu, inilah saatnya Umat Islam bekerja keras, bangun dan tingkatkan kualitas diri, bangun dan tingkatkan pemahaman dan implementasi aqidah, ibadah, muamallah, dan adab dalam akhlak seorang muslim. Jangan gentar dengan peradaban Barat, dan jangan gentar dengan peradaban Amerika Serikat, karena mereka hanya menjajakan peradaban masa lalu, yaitu peradaban jahiliah, peradaban dusta, dan peradaban maksiat. Semoga Allah SWT meridhai.

Selasa, 15 April 2008

BREAKING NEWS

Sudah selayaknya setiap muslim berikhtiar dengan sungguh-sungguh membangun peradaban dunia yang TRANSHUME (TRANSenden, HUManis, dan Emansipatori), dalam koridor AIM-A2 (Aqidah, Ibadah, Muamallah, Adab, dan Akhlak), dengan karakter FAST-I2R (Fathonah, Amanah, Shiddiq, Tabligh, Istiqomah, Ikhlas, dan Ridha), dalam perannya sebagai MUASiR (Mujahiddin, Uswatun-hasanah, Asabiquunal-awaluun, Sirajan-muniran, dan Rahmatan-lil'alamiin), sehingga dapat "mengangkat" manusia menjadi sosok yang terus meningkat kualitasnya, dalam format 4M (mukminin, muslimin, muttaqiin, dan mukhlisin).
Semoga Allah SWT meridhai.

Jumat, 25 Januari 2008

PAKAIAN MASYARAKAT BERADAB

Setiap masyarakat memiliki karakteristiknya masing-masing, antara lain ada masyarakat yang beradab (memiliki sopan santun) dan ada pula masyarakat yang tidak beradab (tidak memiliki sopan santun). Adab (sopan santun) bukanlah sesuatu yang tiba-tiba ada, ia bersumber dari aqidah yang benar (hanya memperTuhankan Allah SWT). Dengan demikian bila suatu masyarakat tidak memperTuhankan Allah SWT, maka sudah barang tentu mereka tidak akan beradab. Hal ini disebabkan adab adalah bagian dari nilai-nilai Islam (agama yang mengajarkan manusia untuk hanya memperTuhankan Allah). Adab merupakan salah satu unsur dari paket AIM-A2 (Aqidah, Ibadah, Muamallah, Adab, dan Akhlak).
Bagi masyarakat beradab, pakaian merupakan sesuatu yang penting. Oleh karena pakaian merupakan salah satu nilai dalam adab yang berbasis pada aqidah, maka tata cara berpakaian diatur oleh Allah SWT, sebagai berikut: Pertama, pakaian digunakan untuk menutup aurat manusia, atau bagian dari tubuh manusia yang tidak boleh diperlihatkan kepada orang lain, kecuali suami atau istri yang bersangkutan (lihat QS.7:26).
Kedua, pakaian yang indah diperkenankan untuk sekedar sebagai perhiasan (lihat QS.7:26).
Ketiga, pakaian juga dapat digunakan sebagai pelindung dari panas, dan sebagai pelindung dalam peperangan (lihat QS.16:81).
Keempat, dianjurkan untuk mengenakan pakaian terbaik pada saat memasuki masjid (lihat QS.7:31).
Berdasarkan firman Allah SWT dalam QS.7:26 diketahui, bahwa secara filosofi seseorang disebut berpakaian bila pakaiannya menutup aurat. Sebaliknya, seindah apapun pakaian yang dikenakan seseorang, bila pakaian tersebut tidak menutup aurat orang tersebut, maka sesungguhnya orang tersebut belumlah berpakaian.
Bila saat ini ada beberapa artis yang mengenakan pakaian yang tidak menutup aurat mereka, maka sesungguhnya artis tersebut belum berpakaian. Artis semacam ini sedang menjalankan peran setan yang berbentuk manusia sebagaimana dimaksud firman Allah SWT dalam QS.114:1-6.
Artis semacam ini bukan sedang berkesenian, melainkan sedang menjalankan peran setan dalam menjajakan aurat, dan berupaya meluluh-lantahkan kendali hawa nafsu orang-orang di sekitarnya. Bagi artis semacam ini profesionalitas difahami sebagai kesungguhan dan keseriusan menebar maksiat di masyarakat. Penghargaan tertinggi yang diharapkan oleh artis-artis ini adalah predikat sebagai pejuang kesesatan, penebar kefasikan, penunjuk-jalan kemunkaran.
Bila suatu msyarakat banyak dihuni oleh artis-artis semacam ini, maka akan beratlah perjuangan para anggota masyarakatnya untuk menegakkan nilai-nilai Islam. Namun demikian setiap anggota masyarakat yang mencintai Allah SWT dan Rasulullah Muhammad SAW tidak boleh berputus asa, mereka harus terus berjuang memperkenalkan dan mengedukasi masyarakat dengan nilai-nilai Islam.
Sudah saatnya sebagian anggota masyarakat yang telah beradab (menerapkan nilai-nilai Islam), mengedukasi sebagian anggota masyarakat lainnya yang belum beradab, agar mereka dapat menjadi bagian dari masyarakat beradab. Demikian pula halnya dalam konteks pakaian, sudah saatnya sebagian anggota masyarakat yang beradab mengedukasi anggota masyarakat lainnya yang belum beradab dalam hal berpakaian.
Sesungguhnya fitrah manusia adalah berpakaian indah yang menutup aurat, yang dengan pakaiannya itu manusia tersebut terjaga martabat kemanusiaannya. Dengan pakaian itu pula seseorang dapat dikenali sebagai manusia yang beradab, yang siap memberi kontribusi terbaik bagi seluruh masyarakatnya. Semoga.....

Kamis, 27 Desember 2007

MASA LALU ATAU MASA KINI

Bila Umat Islam tidak kritis, maka ia dapat terkecoh oleh tulisan Francis Fukuyama yang berjudul "The End of History and The Last Man" (1992), yang menjelaskan tentang kemenangan Kapitalisme dan Demokrasi Liberal (KDL) terhadap Komunisme dan Sosialis (KS).
Bila Umat Islam tidak kritis, maka ia dapat terkecoh , seolah-olah KS runtuh karena keunggulan nilai-nilai KDL Padahal, sesungguhnya tidaklah demikian. KS runtuh, karena adanya kerapuhan pada nilai-nilai yang diperjuangkan dan dipraktekkan. Uniknya, kerapuhan juga terdapat pada nilai-nilai yang diperjuangkan dan dipraktekkan oleh KDL.
Pertarungan antara KDL dengan KS, adalah seperti pertandingan tinju antara dua orang pengidap busung lapar. Kedua petinju ini akan sama-sama jatuh karena kelaparan (lapar nilai-nilai utama). Dengan kata lain, kedua petinju ini sama-sama rapuh (kerapuhan konsepsi), dan tak layak bertinju (berkompetisi).
Petinju yang satu (KDL) mengklaim telah berhasil merobohkan petinju yang lainnya (KS). Padahal petinju ini (KS) roboh karena kelaparan, bukan karena ditinju oleh lawannya (KDL). Kemudian petinju yang mengklaim diri sebagai pemenang (KDL) jatuh setelah diumumkan sebagai pemenang, juga karena kelaparan.
Jadi KDL dan KS sama-sama jatuh, karena kelaparan (lapar nilai-nilai utama), bukan karena saling menjatuhkan. Jadi, tidak ada hebatnya KDL (Kapitalisme dan Demokrasi Liberal)!
Sesungguhnya KDL identik dengan tradisi jahiliah, ketika nilai-nilai Islam belum dikenal oleh manusia. Bukankah konsepsi pengagungan pemilik modal, pendzaliman manusia yang satu terhadap manusia yang lain, perekonomian ribawi, voting dalam menetapkan jalan kesesatan, perzinahan, penuhanan manusia oleh manusia, dan bentuk-bentuk kesesatan lainnya telah ada sejak dahulu (zaman jahiliah). Jadi, tidak ada hebatnya KDL (Kapitalisme dan Demokrasi Liberal)?
Oleh karena itu Allah SWT berfirman, "Itu adalah umat yang telah lalu, baginya apa yang diusahakannya, dan bagimu apa yang kamu usahakan, dan kamu tidak akan diminta pertanggungan jawab tentang apa yang telah mereka kerjakan" (QS.2:141).
Berdasarkan firman Allah SWT ini diketahui, bahwa umat yang menerapkan nilai-nilai Islam adalah umat masa kini. Sedangkan umat yang tidak bersedia menerapkan nilai-nilai Islam adalah umat masa lalu.
Bila pada masa kini ada umat (masyarakat) yang tidak bersedia menerapkan nilai-nilai Islam, maka ia adalah umat masa lalu yang hidup di masa kini. Ia bukanlah umat masa kini yang sebenarnya, karena nilai-nilai yang dianutnya adalah nilai-nilai masa lalu.
Umat masa lalu ini gagal memahami aqidah, tidak bersedia beribadah kepada Allah SWT, rusak dalam menata muamallah, tidak memiliki adab, hingga guncanglah akhlaknya. Hal ini disebabkan mereka menolak nilai-nilai Islam, yang tertuang dalam Al Qur'an dan Al Hadist.