ABOUT ISLAM

Tampilkan postingan dengan label amarah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label amarah. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 12 Desember 2009

KEMAMPUAN MENAHAN AMARAH

Allah SWT berfirman, "Bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu (Allah), dan surga yang luasnya seluas langit dan bumi, yang disediakan bagi orang-orang yang bertaqwa, yaitu orang-orang yang menafkahkan hartanya pada waktu lapang dan waktu sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya, serta memaafkan kesalahan orang lain. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebaikan" (QS.3:133-134).
Firman Allah SWT dalam QS.3:133-134 menempatkan kemampuan menahan amarah sebagai kemampuan orang yang bertaqwa, yang disejajarkan dengan kemampuan menafkahkan harta, dan memaafkan kesalahan orang lain. Relasi ketiga kemampuan ini dapat dipandang sebagai relasi yang bersifat paralel, maupun linier. Ketika dipandang sebagai relasi paralel, maka masing-masing kemampuan difahami sebagai kemampuan yang dapat dikonstruksi secara bersamaan. Sebaliknya, ketika dipandang sebagai relasi linier, maka kemampuan awal yang dapat dikonstruksi adalah kemampuan menahan amarah, lalu kemampuan memaafkan orang lain, dan akhirnya kemampuan menafkahkan harta.
Secara rasional diketahui, bahwa kemampuan menahan amarah pada diri seseorang, akan memberinya kesempatan untuk memaafkan kesalahan orang lain, yang telah menimbulkan amarah. Pada gilirannya, setelah seseorang berdamai dengan orang lain, dan kemudian menjadi sahabat atau merasa sebagai saudara, maka seseorang tersebut berpeluang menafkahkan hartanya (misal: memberi hadiah) kepada orang lain sebagaimana dimaksud.
Demikianlah Allah SWT melalui Rasulullah Muhammad SAW mengajarkan dan mengajak manusia untuk berbuat kebaikan. Karena sesungguhnya, nilai-nilai Islam yang merupakan terminologi kodifikan (istilah yang menyatukan) segenap ajaran Islam, merupakan seperangkat nilai-nilai kebaikan. Oleh karena itu pula, setiap manusia hendaknya bersungguh-sungguh menerapkan nilai-nilai Islam dalam kehidupan sehari-hari.

Rabu, 27 Februari 2008

TAWURAN LAGI, TAWURAN LAGI

Ada fenomena menarik di Indonesia. Bila sebelum 1998 yang tawuran adalah anak-anak SMA, maka sejak 1998 hingga sekarang (2008) yang tawuran adalah para mahasiswa. Ketika anak-anak SMA tawuran dikatakan karena mereka belum dewasa, maka bila yang tawuran adalah mahasiswa tentulah karena sudah kehilangan kedewasaannya.
Kehilangan kedewasaan tidak berhubungan dengan umur, melainkan berhubungan dengan keterampilan emosi. Seseorang yang tidak memiliki keterampilan emosi, memiliki dua kemungkinan penyebab, yaitu: (1) belum memiliki kedewasaan, seperti anak-anak SMA yang tawuran, atau (2) sudah kehilangan kedewasaan, seperti para mahasiswa yang tawuran.
Kedewasaan (keterampilan emosi) adalah keterampilan seseorang dalam mengendalikan perasaan, pemikiran, sikap, dan perilakunya dalam berinteraksi sosial, sehingga memberi manfaat optimal bagi diri dan sahabat interaksinya.
Kedewasaan ditunjukkan oleh kemampuan seseorang dalam mentransformasi nafsu amarah dan lawwamah menjadi nafsu muthmainnah. Nafsu amarah adalah perasaan, pemikiran, sikap, dan perilaku seseorang yang tunduk pada dorongan syahwat (seksual maupun non seksual). Perhatikan QS.12:53.
Sedangkan nafsu lawwamah adalah perasaan, pemikiran, sikap, dan perilaku seseorang yang sudah berusaha mengendalikan dorongan syahwatnya, namun masih sering melakukan kecerobohan, hingga tidak berhasil mengendalikan syahwat secara optimal. Perhatikan QS.75:1-5.
Sementara itu, nafsu muthmainnah adalah perasaan, pemikiran, sikap, dan perilaku seseorang yang telah mampu mengendalikan dorongan syahwat secara optimal, dengan menghindari kecerobohan. Perhatikan QS.89:27-30.
Allah SWT berfirman, "Hai jiwa yang tenang (nafsul muthmainnah) kembalilah kepada Tuhanmu (Allah) dengan ridha dan diridhai. Maka masuklah ke dalam golongan hamba-hambaKu, dan masuklah ke dalam surgaKu" (QS.89:27-30).
Oleh karena itu anak-anak SMA atau para mahasiswa yang tawuran telah melanggar nilai-nilai Islam. Hal ini dapat terjadi karena mereka gagal melakukan internalisasi nilai-nilai Islam ke dalam dirinya (perasaan, pemikiran, sikap, dan perilaku). Oleh karena itu menjadi tugas dan sekaligus tantangan bagi para aktivitis unit kegiatan Islam di kampus SMA maupun perguruan tinggi untuk melakukan pencerahan kepada sahabat-sahabatnya. Semoga Allah SWT berkenan meridhai........