ABOUT ISLAM

Tampilkan postingan dengan label nilai-nilai Islam. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label nilai-nilai Islam. Tampilkan semua postingan

Selasa, 15 Juni 2010

MELAWAN ISRAEL DENGAN MEMANFAATKAN NILAI - NILAI ISLAM

Perhatikanlah Amerika Serikat dan negara-negara anggota NATO (North Atlantic Treaty Organizations) yang mempraktekkan nilai-nilai Barat, mereka selalu mendukung setiap kejahatan yang dilakukan Israel terhadap Palestina. Bahkan untuk mendukung keunggulan Israel atas negara-negara Islam di sekitarnya, Amerika Serikat dan NATO menyerang Afghanistan dan Iraq yang selalu mendukung Palestina.


Fakta ini menunjukkan lemahnya nilai-nilai Barat dalam memperjuangkan hak asasi manusia, keadilan dan kesejahteraan. Apabila umat manusia terus menerus berpegang pada nilai-nilai Barat, maka ia akan gagal melihat tegaknya hak asasi manusia, keadilan, dan kesejahteraan di dunia. Umat manusia akan terus menerus melihat kejahatan kemanusiaan yang dilakukan Israel terhadap Palestina. Nilai-nilai Barat tidak akan mampu melawan Israel, dan akan gagal menjadikan Israel sebagai bangsa yang beradab.


Allah SWT telah mengingatkan umat manusia tentang lemahnya nilai-nilai Barat dalam memperjuangkan hak asasi manusia, keadilan, dan kesejahteraan. Pernyataan Allah SWT tentang hal ini telah tertuang dalam Al Qur’an (QS. 2:120 dan 114) sejak abad ketujuh, dan masih relevan hingga saat ini. Fakta kejahatan kemanusiaan yang dilakukan oleh Israel terhadap Palestina telah membuktikan relevansi pernyataan Allah SWT tersebut, dan sekaligus menjadi bukti kebenaran segenap pernyataan Allah SWT dalam Al Qur’an.


Perhatikanlah perjuangan Palestina dalam menghadapi kejahatan kemanusiaan yang dilakukan oleh Israel sejak 1920 hingga saat ini (2010). Nilai-nilai Islam yang dipraktekkan oleh Palestina, telah menjadikan mereka mampu terus menerus, tanpa kenal lelah, dan tanpa putus asa berjuang melawan kejahatan kemanusiaan yang dilakukan oleh Israel. Aqidah, ibadah, muamallah, adab, dan akhlak menjadikan mereka mampu bertahan dalam menghadapi serangan udara, darat dan laut oleh Israel, serta blokade oleh Israel dan Mesir.


Ada lima keuntungan yang diperoleh Palestina dari nilai-nilai Islam dalam melawan kejahatan kemanusiaan yang dilakukan oleh Israel, yaitu: Pertama, aqidah menjadikan Palestina mengerti, bahwa Allah SWT memberkahi perjuangan mereka, yang merupakan bentuk pengabdian seorang manusia kepada Tuhannya. Kedua, ibadah menjadikan Palestina mengerti, bahwa pengabdiannya kepada Allah SWT harus pula diwujudkan dengan menghilangkan kejahatan kemanusiaan yang dilakukan oleh Israel. Ketiga, muamallah menjadikan Palestina mengerti, bahwa untuk melawan kejahatan kemanusiaan oleh Israel, maka Palestina harus bekerjasama dengan segenap muslim di seluruh dunia. Keempat, adab menjadikan Palestina mengerti, bahwa perjuangan melawan kejahatan kemanusiaan yang dilakukan oleh Israel harus dilakukan secara sistematis dan cermat. Kelima, akhlak menjadikan Palestina mengerti, bahwa perjuangan melawan kejahatan kemanusiaan yang dilakukan oleh Israel, insyaAllah akan berhasil bila Palestina mampu meningkatkan kualitas, kapasitas, dan kapabilitas para pejuangnya.


Oleh karena itu, bila umat manusia di seluruh dunia sungguh-sungguh ingin menghentikan kejahatan kemanusiaan yang dilakukan oleh Israel, maka praktekkanlah nilai-nilai Islam. Tinggalkanlah nilai-nilai Barat yang telah disusupi oleh nilai-nilai Israel, yang berisi ketamakan, kebengisan, dan kejahatan kemanusiaan. Sudah saatnya umat manusia di seluruh dunia mempelajari nilai-nilai Islam, terutama yang berkaitan dengan aqidah, ibadah, muamallah, adab, dan akhlak. Hal ini perlu dilakukan agar umat manusia di seluruh dunia dapat segera mempraktekkan nilai-nilai Islam, dan dapat segera menghentikan kejahatan kemanusiaan yang dilakukan oleh Israel.

Jumat, 22 Mei 2009

JANGAN BOROS YAA....

Allah SWT telah berfirman, "Dan jika engkau berpaling dari mereka, karena engkau menginginkan rahmat Tuhanmu, sebagai sesuatu yang engkau harapkan, maka berkatalah kepada mereka dengan perkataan yang menyenangkan" (lihat QS.17:28).
QS.17:28 merupakan ayat dalam Al Qur'an (firman Allah SWT) yang memberi informasi pada manusia dalam berpikir, bersikap, bertindak, dan berperilaku dalam konteks berinteraksi dengan individu-individu yang boros.
Boros tidaklah hanya menyangkut hal-hal yang berhubungan dengan uang, melainkan segenap energi dan potensi yang ada pada diri manusia. Seorang manusia yang terlalu banyak bicara, juga berpeluang disebut manusia yang boros, jika kata-kata yang keluar dari mulutnya tidak berisi informasi dan ajakan pada manusia lain untuk menjadi orang yang bertaqwa kepada Allah SWT.
Seorang manusia yang giat bekerja, atau tekun menghabiskan sebagian besar waktunya bagi pekerjaannya, juga berpeluang disebut manusia yang boros, jika kesibukan yang menghabiskan waktunya itu semata-mata diperuntukkan bagi pengabaian nilai-nilai Islam.
QS.17:28 mengajarkan manusia agar berpikir, bersikap, bertindak, dan berperilaku tepat dalam menghadapi manusia boros. QS.17:28 mengajarkan agar manusia (yang tidak boros) berkenan berkomunikasi dengan manusia boros.
Komunikasi dibangun dalam konstruksi yang menyenangkan secara proporsional, yaitu suatu komunikasi yang sepanjang memungkinkan (tidak melanggar syariah dan tidak berpeluang merugikan) dibangun dalam suasana dan substansi yang menyenangkan. Dalam prakteknya, dapat dilakukan perbincangan yang mampu mendorong para pihak mengingat kembali nilai-nilai Islam, yang wajib diperjuangkan oleh manusia.

Rabu, 26 November 2008

DAKWAH UNTUK SEMUA

Setiap muslim wajib berdakwah, yaitu menyampaikan keindahan nilai-nilai Islam kepada manusia atau masyarakat. Semua manusia adalah sasaran dakwah, baik ia telah menerapkan nilai-nilai Islam maupun belum menerapkan nilai-nilai Islam.
Bagi yang telah menerapkan nilai-nilai Islam, maka dakwah diharapkan: Pertama, mendorongnya untuk terus mampu bertahan dari pengaruh jahat. Kedua, mendorongnya untuk mampu berada dalam koridor AIM-A2 (Aqidah, Ibadah, Muamallah, Adab, dan Akhlak). Ketiga, mendorongnya untuk mampu berpikir, bersikap, dan berperilaku FAST (Fathonah, Amanah, Shiddiq, dan Tabligh). Keempat, mendorongnya untuk mampu berperan sebagai MUASiR (Mujahiddin, Uswatun hasanah, Assabiquunal awwaluun, Sirajan muniran, dan Rahmatan lil 'alamiin). Kelima, menjadikannya sebagai sahabat dalam menerapkan nilai-nilai Islam di kehidupan sehari-hari. Keenam, menjadikannya sebagai sumber tenaga dakwah yang FAST. Ketujuh, menjadikannya sebagai sahabat diskusi dalam menyiapkan substansi dakwah yang proporsional dan kondisional. Kedelapan, menjadikannya sebagai mitra strategis dalam berdakwah dengan melakukan dakwah secara sinergik.
Bagi yang belum menerapkan nilai-nilai Islam, maka dakwah diharapkan: Pertama, mendorongnya untuk tidak lagi tertarik pada nilai-nilai yang bertentangan dengan nilai-nilai Islam. Kedua, mendorongnya untuk tidak lagi berpikir, bersikap, dan berperilaku yang bertentangan dengan nilai-nilai Islam. Ketiga, mendorongnya untuk tertarik, dan berkenan menjadi manusia yang bersedia menerapkan nilai-nilai Islam. Keempat, menjadikannya sebagai pembanding tentang keunggulan nilai-nilai Islam. Kelima, menjadikannya sebagai "batu uji" dalam penerapan nilai-nilai Islam. Keenam, menjadikannya sebagai sasaran dan sekaligus sumber inspirasi dalam menentukan substansi dakwah yang proporsional dan kondisional. Ketujuh, menjadikannya sebagai sumberdaya manusia transisional (siap alih), yang akan beralih dari manusia yang belum menerapkan nilai-nilai Islam, menjadi manusia yang siap menerapkan nilai-nilai Islam.

Minggu, 21 September 2008

RESISTENSI TERHADAP NILAI - NILAI ISLAM

Hari - hari terakhir ini, media massa memberitakan adanya beberapa Lembaga Swadaya Masyarakat yang mengkoordinir demonstrasi menentang pengesahan Undang-Undang Anti Pornografi oleh Dewan Perwakilan Rakyat. Sementara itu, ketika diwawancarai beberapa anggota Dewan Perwakilan Rakyat yang turut merumuskan undang-undang tersebut menjelaskan, bahwa mereka yang menentang pengesahan undang-undang tersebut belum sungguh-sungguh memahami substansinya.
Kesemua ini menjadi bukti gugurnya adagium hukum, "Suara Rakyat Adalah Suara Tuhan." Adagium seperti ini sungguh-sungguh tidak mendasar, sebab jika ingin mendengar "suara" Tuhan bukanlah dengan mendengar suara rakyat, melainkan dengan cara membaca Al Qur'an. Seorang pemimpin yang mendengar "suara" Tuhan melalui Al Qur'an, insyaAllah dapat melakukan hal-hal yang bermanfaat dunia dan akherat bagi rakyatnya. Sekalipun rakyatnya tidak mengetahuinya.
Bila seorang pemimpin tinggal di Las Vegas, Amerika Serikat, yang merupakan kota maksiat (ada pelacuran, perjudian, mabuk-mabukan, dan maksiat-maksiat lainnya), maka bila ia menerapkan adagium hukum, "Suara Rakyat Adalah Suara Tuhan," maka tentulah pemimpin tersebut akan melakukan hal-hal yang bertentangan dengan "suara" Tuhan yang sesungguhnya.
Dalam konteks Undang-Undang Anti Pornografi, maka sudah dapat diketahui, bahwa mereka yang menentangnya, adalah rakyat yang menentang "suara" Tuhan. Sebab perintah Tuhan dalam Kitab SuciNya, Al Qur'an adalah, jangan melakukan maksiat, termasuk pornografi dan berbagai turunannya.
Oleh karena itu para Lembaga Swadaya Masyarakat yang menentang Undang-Undang Anti Pornografi adalah institusi pendukung maksiat, yang menentang "suara" Tuhan. Oleh karena itu Tuhan, yaitu Allah SWT, berpesan, "Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik (penentang Allah SWT) dengan suatu berita (bujukan, atau provokasi), maka selidikilah, agar kamu tidak mencelakakan suatu kaum (masyarakat) tanpa mengetahui (menyadari) keadaannya. Kemudian kamu (akan) menyesal atas perbuatanmu itu" (QS.49:6)