ABOUT ISLAM

Tampilkan postingan dengan label Al Qur'an.. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Al Qur'an.. Tampilkan semua postingan

Minggu, 11 September 2011

MAMPU MENGENDALIKAN DIRI

Pada “bulan suci”, yaitu Ramadhan, Umat Islam menunaikan Ibadah Puasa. Hikmah pelaksanaan Ibadah Puasa oleh Umat Islam pada Bulan Ramadhan antara lain sebagai bentuk latihan yang dilakukan oleh seseorang dalam mengendalikan diri, agar ia memiliki kepekaan sosial yang tinggi; selain kepekaan ruhani, yaitu berbakti kepada Allah SWT. Dengan kepekaan sosial yang tinggi, maka ia dapat membangun motivasi yang mampu merespon dinamika sosial.


Seseorang dikatakan mampu mengendalikan diri, apabila ia memiliki kekuatan dan aturan yang ditetapkan dan dipatuhi oleh diri sendiri, yang bersumber dari nilai-nilai Islam. Dengan demikian ia dapat berpikir, bersikap, bertindak, dan berperilaku sesuai dengan visi, misi, dan tujuan hidupnya.


Berdasarkan pengertian tersebut, maka ada dua hal penting dalam mengendalikan diri, yaitu kekuatan (power), dan aturan (rule). Kekuatan yang dimaksud dalam hal ini adalah kekuatan yang ada pada diri sendiri, yaitu kekuatan pemikiran, kekuatan sikap, kekuatan tindakan, dan kekuatan perilaku yang ada pada orang tersebut. Demikian pula dengan aturan, yaitu aturan yang ditetapkan oleh diri sendiri dan dipatuhi pula oleh diri sendiri, sehingga dapat mendukung munculnya kekuatan pemikiran, kekuatan sikap, kekuatan tindakan, dan kekuatan perilaku yang ada pada orang tersebut.


Orang yang mampu mengendalikan diri adalah orang yang memiliki kekuatan untuk mengendalikan (power to control), serta memiliki aturan untuk mengendalikan (rule to control). Bagi orang ini, kekuatan dan aturan adalah dua instrumen pribadi miliknya, yang ia gunakan untuk mengendalikan dirinya.


Kekuatan yang ada pada dirinya digunakan untuk memampukan dirinya dalam membangkitkan energi diri, yang akan mempengaruhi dan membentuknya menjadi orang yang terkendali. Demikian pula halnya dengan aturan yang ditetapkan dan dipatuhi oleh dirinya sendiri.


Baginya, aturan tersebut merupakan beberapa prinsip yang menjadi pegangan hidup. Aturan tersebut berisi instruksi pemikiran, sikap, tindakan, dan perilaku, yang akan memimpinnya agar hidup dalam cara-cara yang biasa, namun mampu memberikan hasil yang luar biasa. Hasil tersebut berupa kebajikan yang mampu membahagiakan manusia, dan menjadikan Allah SWT berkenan memberi nilai positif padanya atas segenap proses yang dilalui.


Orang yang mampu mengendalikan diri mengerti, bahwa Allah SWT melarang manusia mengabaikan akalnya. Seharusnya manusia memanfaatkan dan mengembangkan akalnya, agar ia dapat memunculkan kekuatan pemikiran, yang kemudian akan mendorong munculnya kekuatan, sikap, tindakan, dan perilaku.


Tanpa kesediaan memanfaatkan dan mengembangkan akal, manusia akan sulit mengendalikan diri, karena kekuatan dan aturan yang ia tetapkan dan laksanakan sendiri membutuhkan akal dalam operasionalisasinya. Sementara itu, tanpa kemampuan mengendalikan diri, maka manusia akan hidup dalam ombang-ambing badai individual (dari diri sendiri) dan badai sosial (dari pihak lain).


Oleh karena itu, bangun terus kemampuan mengendalikan diri, serta kembangkan dan manfaatkan akal untuk menggalang kekuatan dan aturan yang mampu membahagiakan. Jadikan kemampuan mengendalikan diri sebagai pendorong munculnya pemikiran, sikap, tindakan, dan perilaku yang mampu mewujudkan kebajikan.


Allah SWT mengingatkan dalam Al Qur’an agar seorang muslim sungguh-sungguh mempergunakan akalnya (lihat QS.5:58). Pemahaman manusia saat ini telah sampai pada pengertian bahwa akal identik dengan logika, rasionalitas dan proses penyimpulan. Dengan demikian akal merupakan instrumen yang penting dalam kehidupan seorang manusia.


Hanya saja yang penting untuk diperhatikan prosedurnya bukanlah mengakalkan Al Qur’an, melainkan meng-Al Qur’an-kan akal. Tepatnya menundukkan akal manusia pada kebenaran Allah SWT yang tertuang dalam Al Qur’an. Allah SWT menjelaskan bahwa kebenaran itu ditentukan oleh Allah SWT (lihat QS.2:147), kalau kebenaran itu ditentukan oleh manusia maka terjadilah kerusakan di alam semesta (lihat QS.23:71).


Selamat berikhtiar, semoga Allah SWT meridhai...

Jumat, 22 Mei 2009

JANGAN BOROS YAA....

Allah SWT telah berfirman, "Dan jika engkau berpaling dari mereka, karena engkau menginginkan rahmat Tuhanmu, sebagai sesuatu yang engkau harapkan, maka berkatalah kepada mereka dengan perkataan yang menyenangkan" (lihat QS.17:28).
QS.17:28 merupakan ayat dalam Al Qur'an (firman Allah SWT) yang memberi informasi pada manusia dalam berpikir, bersikap, bertindak, dan berperilaku dalam konteks berinteraksi dengan individu-individu yang boros.
Boros tidaklah hanya menyangkut hal-hal yang berhubungan dengan uang, melainkan segenap energi dan potensi yang ada pada diri manusia. Seorang manusia yang terlalu banyak bicara, juga berpeluang disebut manusia yang boros, jika kata-kata yang keluar dari mulutnya tidak berisi informasi dan ajakan pada manusia lain untuk menjadi orang yang bertaqwa kepada Allah SWT.
Seorang manusia yang giat bekerja, atau tekun menghabiskan sebagian besar waktunya bagi pekerjaannya, juga berpeluang disebut manusia yang boros, jika kesibukan yang menghabiskan waktunya itu semata-mata diperuntukkan bagi pengabaian nilai-nilai Islam.
QS.17:28 mengajarkan manusia agar berpikir, bersikap, bertindak, dan berperilaku tepat dalam menghadapi manusia boros. QS.17:28 mengajarkan agar manusia (yang tidak boros) berkenan berkomunikasi dengan manusia boros.
Komunikasi dibangun dalam konstruksi yang menyenangkan secara proporsional, yaitu suatu komunikasi yang sepanjang memungkinkan (tidak melanggar syariah dan tidak berpeluang merugikan) dibangun dalam suasana dan substansi yang menyenangkan. Dalam prakteknya, dapat dilakukan perbincangan yang mampu mendorong para pihak mengingat kembali nilai-nilai Islam, yang wajib diperjuangkan oleh manusia.