ABOUT ISLAM

Jumat, 30 Januari 2009

FENOMENA BUNUH DIRI

Ada fenomena menarik di kalangan tentara Amerika Serikat yang menjajah Afghanistan dan Iraq, yaitu "bunuh diri". Sejak menjajah Afghanistan (tahun 2002) dan Iraq (tahun 2003) telah banyak tentara Amerika Serikat yang melakukan bunuh diri. Selama tahun 2008 saja telah 143 orang tentara Amerika Serikat melakukan bunuh diri.
Dalam perspektif Islam, fenomena ini telah dijanjikan oleh Allah SWT, di mana Allah SWT tidak akan meridhai siapapun, dan tidak akan memberi petunjuk (hidayah) kepada siapapun yang telah berbuat dzalim. Penjajahan Amerika Serikat dan sekutu-sekutunya terhadap Afghanistan dan Iraq merupakan bentuk kedzaliman di masa kini, sehingga Allah SWT membiarkan para penjajah ini hidup dalam kesesatan, tanpa petunjuk, tanpa tujuan, dan tanpa kebahagian. Akibatnya, tentara para penjajah berupaya melakukan substitusi terhadap berbagai ketiadaan yang ditimpakan Allah SWT tersebut, dengan berbagai kegiatan seperti: meminum minuman keras (mabuk), berzinah, berjudi, dan perbuatan maksiat lainnya. Namun itu semua tetap tidak membahagiakan mereka. Akibatnya ribuan tentara Amerika Serikat mengalami gangguan jiwa, dan ratusan lainnnya melakukan bunuh diri.
Dalam perspektif sosiologi, ada beberapa penjelasan yang dapat diberikan terhadap maraknya bunuh diri di kalangan tentara Amerika Serikat, yaitu: Pertama, adanya fenomena fatalistic suicide. Fenomena ini menunjukkan adanya sebagian tentara Amerika Serikat yang tidak berdaya menghadapi tekanan keadaan di wilayah jajahan. Misalnya, ketidak-berdayaan tentara Amerika Serikat menghadapi Pejuang Muslim Afghanistan dan Iraq yang gigih berjuang, meskipun memiliki berbagai keterbatasan fasilitas. Hal ini menimbulkan tekanan berat bagi tentara Amerika Serikat yang berkelimpahan fasilitas, tapi kosong rohani.
Kedua, adanya fenomena anomic suicide. Fenomena ini menunjukkan adanya sebagian tentara Amerika Serikat yang merasa tidak adanya nilai-nilai bersama. Sebagian tentara ini merasa diperlakukan tidak adil, karena di saat warga negara Amerika Serikat hidup bebas, aman, dan nyaman di Amerika Serikat, mereka justru harus berhadapan dengan Pejuang Muslim Afghanistan dan Iraq yang tangguh, ulet, dan sangat militan. Terlebih-lebih lagi mereka ketahui, bahwa yang paling banyak menikmati keuntungan adalah beberapa pengusaha yang dekat dengan George Walker Bush.
Ketiga, adanya fenomena egoistic suicide. Fenomena ini menunjukkan adanya sebagian tentara Amerika Serikat yang telah terjebak oleh sistem nilai kapitalis dan liberalis yang kuat. Tetapi mereka kecewa karena sistem ini gagal memberi ketangguhan sikap juang pada diri mereka. Hal berbeda mereka temukan pada Pejuang Muslim Afghanistan dan Iraq, yang dalam jumlah sedikit dan fasilitas seadanya memiliki ketangguhan sikap juang yang tinggi. Satu hal yang tidak difahami oleh tentara Amerika Serikat adalah kenyamanan berada di "jalan" Allah SWT.
Keempat, adanya fenomena altruistic suicide. Fenomena ini menunjukkan adanya upaya dari sebagian tentara Amerika Serikat untuk "mempertuhankan" kepentingan bangsa dan negaranya, dengan cara berperang di Afghanistan dan Iraq. Namun mereka ini kemudian kecewa, ketika mengetahui bahwa penjajahan di Afghanistan dan Iraq dilakukan untuk kepentingan beberapa pengusaha yang dekat dengan George Walker Bush, dan untuk kepentingan mengamankan Negara Israel, yang selama ini "menjajah" Amerika Serikat.
Kelima, adanya fenomena individualistic suicide. Fenomena ini menjukkan adanya sebagian tentara Amerika Serikat yang merasa bahwa pengiriman mereka ke Afghanistan atau Iraq merupakan suatu proses pengasingan sosial. Hal ini dikarenakan mereka harus kehilangan kenyamanan berada di tanah airnya sendiri (Amerika Serikat) dengan berperang di Afghanistan atau Iraq, padahal yang harus mereka hadapi adalah ketangguhan dan keuletan Pejuang Muslim Afghanistan atau Iraq, yang terkenal memiliki basis rohani yang kuat.
Keenam, adanya fenomena institutional suicide. Fenomena ini menunjukkan adanya sebagian tentara Amerika Serikat yang merasa, bahwa negara mereka telah memaksa mereka melakukan bunuh diri massal dengan mengirim mereka ke Afghanistan atau Iraq. Hal ini dikarenakan negara mereka memaksakan perang terhadap suatu bangsa yang memiliki pijakan rohani yang kuat, yang bahagia ketika berjuang, dan sangat senang ketika berkorban demi kejayaan nilai-nilai Islam. Sebaliknya tentara Amerika Serikat harus berperang dalam basis nilai-nilai yang tidak memiliki unsur rohani, dan dicaci banyak bangsa beradab.
Inilah fenomena yang dapat dijelaskan dalam perspektif Islam dan sosiologi, sehingga memudahkan pemahaman terhadap maraknya bunuh diri di kalangan tentara Amerika Serikat, terutama yang bertugas menjajah di Afghanistan dan Iraq.

1 komentar:

erika mengatakan...

wah...blognya kompleks sekali pak...:)