ABOUT ISLAM

Tampilkan postingan dengan label Islam.. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Islam.. Tampilkan semua postingan

Selasa, 29 Maret 2011

"ADU DOMBA" BARAT DI LIBIA

Sebagai muslim, kita sedih ada sekian banyak saudara-saudara kita, sesama muslim, yang tewas di Libia, baik dari kalangan oposisi maupun kalangan pro Pemerintah Libia (pro Khadafi). Kita sedih, karena sesama muslim, oposisi dan pro Pemerintah Libia, saling bunuh. Kita sedih, karena muslim dari kalangan pro Pemerintah Libia tewas dibantai oleh Barat, atau Komunitas Iblis Internasional (lihat QS.114 dan QS.2:120).


Sebagai muslim kita faham bahwa di Benua Eropa dan Benua Amerika terdapat masyarakat yang cinta damai, yang menolak sepak terjang Barat. Untuk masyarakat cinta damai ini, Umat Islam memberi apresiasi yang tinggi, dan siap hidup berdampingan secara damai.


Oleh karena itu, yang dimaksud dengan Barat, atau Komunitas Iblis Internasional, adalah komunitas yang terdiri dari Pemerintah Amerika Serikat, Pemerintah Inggris, dan Pemerintah Perancis, serta para pendukungnya (seperti: Pemerintah Israel, Pemerintah Kanada, Pemerintah Italia, dan lain-lain).


Terkejut oleh runtuhnya rezim pro Barat di Afrika Utara dan Timur Tengah (seperti: Rezim Tunisia dan Rezim Mesir), Barat segera melakukan operasi balasan, yaitu melumat Umat Islam di Afrika Utara dan Timur Tengah. Libia dipilih sebagai wilayah operasi, karena situasi dan kondisinya menguntungkan.


Sejak sepuluh tahun terakhir, Moamar Khadafi (penguasa Libia) sangat dekat dengan Barat, minyak bumi Libia sebagian besar mengalir ke Barat, bahkan segenap keluarga Moamar Khadafi bersemangat menabung dan menginvestasikan uangnya di Barat. Pada sisi yang lain, Barat telah sejak lama mendanai berbagai LSM (Lembaga Swadaya Masyarakat) yang ada di Libia, yang bersedia menjadi komparador (agen atau kaki-tangan) Barat di Libia.


Ketika rakyat Libia menuntut pemerintahan yang lebih adil kepada Moamar Khadafi, maka LSM komparador Barat segera melakukan langkah-langkah strategis menunggangi tuntutan rakyat Libia. Sementara itu, agen-agen Barat yang ada di sekitar Moamar Khadafi, yang menduduki jabatan tinggi, juga segera melakukan langkah-langkah strategis untuk menjerumuskan Moamar Khadafi.


Upaya agen Barat berhasil, Moamar Khadafi emosional merespon tuntutan rakyat Libia, dan menuduh Al Qaida sebagai pihak yang mendalangi tuntutan rakyat Libia. Respon ini berhasil memposisikan Moamar Khadafi sebagai lawan Al Qaida, yang merupakan komunitas pejuang muslim dunia.


Pada awalnya Moamar Khadafi seolah berada di atas angin, karena dengan menyebut kata “Al Qaida”, ia seakan mendapat legitimasi untuk mempertahankan kekuasaannya dengan cara apapun.


Pada sisi yang lain LSM komparador Barat di Libia mulai bergerak mempersenjatai rakyat, dengan berbagai cara, termasuk dengan menyerang dan merampas gudang senjata milik polisi dan militer Libia. Setelah kondisi dipandang matang, maka LSM komparador Barat di Libia segera menggerakkan rakyat bersenjata untuk menyerang polisi dan militer Libia.


Dengan demikian kini berhadap-hadapanlah dua kelompok bersenjata, yaitu rakyat bersenjata yang disebut oposisi atau pemberontak, dengan polisi, militer, dan pemerintah Libia yang disebut pro Khadafi. Situasi ini sekaligus meresmikan terjadinya “perang saudara di Libia”, yaitu perang sesama muslim yang menjadi warga negara Libia. Situasi inilah yang menimbulkan kesedihan bagi Umat Islam dunia.


Setelah perang saudara meletus di Libia, Barat memperhitungkan bahwa Moamar Khadafi tidak lagi populer. Oleh karena itu, Barat memutuskan untuk mendukung oposisi atau pemberontak Libia, karena lebih populer, terutama dalam hal tuntutan keadilan dan upaya penegakan demokrasi (ideologi Barat).


Keberpihakan Barat pada oposisi atau pemberontak Barat juga dilatar-belakangi oleh peluang mendapat konsesi atas minyak bumi Libia yang sangat berlimpah, dan kesempatan membekukan kekayaan keluarga besar Moamar Khadafi yang berlimpah ruah di Benua Eropa dan Benua Amerika.


Akhirnya, Barat segera mendorong PBB (Pecundang Bangsa-Bangsa) untuk mengeluarkan resolusi “larangan terbang di wilayah udara Libia”. Berbekal logika penegakan resolusi PBB maka pesawat-pesawat Amerika Serikat, Inggris, dan Perancis segera hilir mudik berpatroli di wilayah udara Libia.


Setelah masyarakat dunia terlihat mendukung resolusi PBB dan penegakkannya oleh Amerika Serikat, Inggris, dan Perancis, maka tibalah waktunya bagi Amerika Serikat, Inggris, dan Perancis untuk membantai Umat Islam Libia yang diidentifikasi sebagai kelompok pro Khadafi. Sejak saat itu, banyak Umat Islam Libia yang tewas dihantam rudal (peluru kendali) Amerika Serikat, Inggris, dan Perancis; demikian juga dengan kota-kota Libia yang luluh lantak oleh serangan rudal Amerika Serikat, Inggris, dan Perancis.


Masyarakat dunia yang cenderung fasiq (mendustai Allah SWT) nampak gamang menyikapi serangan rudal Amerika Serikat, Inggris, dan Perancis terhadap Libia. Akibatnya mengalir dukungan bagi Amerika Serikat, Inggris, dan Perancis yang sedang asyik membantai Umat Islam Libia.


Bahkan beberapa pemerintah negara yang berpenduduk mayoritas muslim, mengisyaratkan dukungannya atas Amerika Serikat, Inggris, dan Perancis, yang kemudian diperluas dengan bergabungnya beberapa anggota NATO (North Atlantic Treaty Organization), seperti: Pemerintah Jerman, Pemerintah Italia, Pemerintah Kanada, dan lain-lain, dalam operasi pembantaian Umat Islam Libia.


Demikianlah pembantaian yang dilakukan Barat terhadap Umat Islam Libia, dengan menggunakan skenario “adu domba”, yang mendapat dukungan masyarakat dunia yang cenderung fasiq. Oleh karena itu, penting bagi Umat Islam di seluruh dunia untuk: Pertama, berikhtiar mendamaikan oposisi dengan Pemerintah Libia. Kedua, mengirim bantuan kemanusiaan untuk mengurangi korban tewas di kalangan oposisi dan Pemerintah Libia. Ketiga, berdoa atau memohon kepada Allah SWT agar berkenan menghentikan perang saudara di Libia, dan mengusir Barat dari bumi Libia.


Pembantaian atas Umat Islam Libia oleh Barat, antara lain dapat difahami dengan memperhatikan firman Allah SWT, sebagai berikut: Pertama, “Barangsiapa yang tidak memutuskan perkara menurut yang ditetapkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang kafir” (QS.5:44). Kedua, “Barangsiapa yang tidak memutuskan perkara menurut yang ditetapkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang dzalim” (QS.5:45). Ketiga, “Barangsiapa yang tidak memutuskan perkara menurut yang ditetapkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang fasiq” (QS.5:47).”


Berdasarkan ketiga firman Allah SWT tersebut, dan sehubungan dengan serangannya atas Libia yang menewaskan banyak Umat Islam Libia, maka Barat adalah komunitas kafir, dzalim dan fasiq di dunia, yang lebih tepat disebut sebagai Komunitas Iblis Internasional (berdasarkan QS.114 dan QS.2:120).


Semoga Allah SWT berkenan melindungi Umat Islam Libia, dan semoga Bangsa Indonesia berkenan bersungguh-sungguh belajar dari peristiwa Libia, dengan menciptakan kedamaian di bumi Indonesia.


Selamat berikhtiar, damai selalu negeriku Indonesia...

Sabtu, 04 Desember 2010

HIJRAH DARI DUNIA JAHILIAH

Tak terasa umat manusia segera memasuki tahun 1432 Hijriah, yang memiliki makna perpindahan masa, dari masa sebelumnya ke masa berikutnya. Dalam konteks dunia, kepindahan ini sekaligus juga bermakna sebagai kepindahan dari situasi dan kondisi jahiliah (kegelapan) menuju ke situasi dan kondisi yang mencerahkan dalam temaram cahaya Islam.


Situasi dan kondisi jahiliah adalah suatu situasi dan kondisi yang dipenuhi oleh kemaksiatan di segala bidang. Pada tataran dunia (global), umat manusia berada pada situasi dan kondisi yang sesat, jenuh, membosankan, dan menyesakkan dada. Perzinahan dengan lawan jenis telah jenuh dan membosankan bagi para penggemar maksiat, sehingga mereka menciptakan perzinahan sejenis.


Kapitalisme, sekularisme, dan liberalisme telah menjadi pedoman hidup masyarakat jahiliah, yang dengan senang hati mereka rasukkan pada semua aspek kehidupan. Akibatnya, kemusyrikan dan aliran sesat dipuja-puja, riba menjadi basis kegiatan usaha, kebejatan menjadi moralitas teragung, serta pejajahan dan imperialisme menjadi sandaran hubungan internasional.


Oleh karena itu, pada tahun 1432 Hijriah, sudah selayaknya umat manusia di dunia berbondong-bondong menjemput cahaya Islam. Sudah saatnya umat manusia menerapkan tata nilai yang transenden (meruhani), humanis (sesuai fitrah manusia), dan emansipatoris (membebaskan manusia dari kejahiliahan). Tata nilai inilah yang disediakan oleh cahaya Islam, namun dibenci oleh warga jahiliah.


Bagi umat manusia yang telah menyadari keburukan nilai-nilai jahiliah, marilah secara terang-terangan atau sembunyi-sembunyi menerapkan nilai-nilai Islam dalam kehidupan sehari-hari. Hiduplah dengan aqidah yang benar, agar ibadah yang dilaksanakan diridhai Allah SWT, dan dapat bermuamallah dengan saling memuliakan, melalui tata nilai yang berbasis pada adab yang shahih, dan akhlak terpuji.


Hiduplah dengan fathonah (cerdas), amanah (dapat dipercaya), shiddiq (obyektif), dan tabligh (informatif), agar substansi hidup yang dijalani dapat rahmatan lil’alamiin, sebagai salah satu wujud ibadah kepada Allah SWT, sebagaimana dicontohkan oleh Rasulullah Muhammad SAW.


Bila setiap individu berkenan berhijrah dari kejahiliahan menuju cahaya. Bila setiap individu berkenan berhijrah dari kegelapan menuju Islam. InsyaAllah, secara kolektif kualitas umat manusia akan semakin baik, sehingga kehidupan umat manusia akan semakin indah, dan keridhaan Allah SWT akan semakin mudah diperoleh.


Bila para pemimpin dunia berkenan berhijrah dari kejahiliahan menuju cahaya, maka tidak akan ada lagi eksploitasi atas negara berkembang atau negara miskin oleh negara-negara maju. Tidak akan ada lagi pemimpin negara berkembang atau negara miskin yang bersedia menghamba pada negara-negara maju. InsyaAllah…….

Jumat, 03 September 2010

PENTINGNYA FPI BAGI UMAT ISLAM

Sebagai salah satu kekuatan massa umat Islam Indonesia, Front Pembela Islam (FPI) yang beranggotakan 7 juta orang dianggap paling berbahaya bagi musuh-musuh Islam. FPI dinilai paling keras dalam memberantas kemaksiatan, sebagai wujud dari pelaksanaan amar makruf nahi munkar. Oleh karena itu, beberapa pihak yang anti nilai-nilai Islam mulai bersatu dan melakukan konspirasi untuk membubarkan FPI.

Pihak-pihak yang berkonspirasi untuk membubarkan FPI, antara lain: Pertama, kelompok yang selama ini melakukan bisnis haram, seperti: sindikat narkoba, perjudian, pelacuran, dan sebagainya. Kedua, kelompok yang ingin menyusupkan sekularisme, dan liberalisme dalam praktek keagamaan masyarakat. Ketiga, kelompok yang merasa kepentingan politiknya terganggu, karena undang-undang yang mereka perjuangkan bertentangan dengan nilai-nilai Islam, misal undang-undang lokalisasi perjudian dan pelacuran.

Berdasarkan fakta-fakta itu, maka Umat Islam layak mendukung keberadaan FPI, dengan tetap mengajak dan mendorong FPI untuk tampil lebih sejuk, dan memperhatikan aspek legal (hukum) dalam perjuangan dan pembelaannya terhadap Islam. Umat Islam tentu masih ingat beberapa kejadian penting, yang menunjukkan pembelaan FPI bagi Umat Islam, misal:

Pertama, FPI yang dideklarasikan pada tanggal 17 Agustus 1998 oleh beberapa ulama dan habaib di Jakarta, pada tanggal 14 – 18 Oktober 1998 membentuk BPF DPP-FPI (Badan Pencari Fakta Dewan Pimpinan Pusat - FPI) untuk mengadakan investigasi terhadap kasus teror, pembantaian, dan pembunuhan terhadap para ulama, kyai, ustadz, dan guru ngaji dengan dalih dukun santet di beberapa wilayah di Pulau Jawa, seperti: Demak, Pasuruan, Jember, Purbalingga, dan Banyuwangi. BPF DPP-FPI dipimpin langsung oleh Ketua Umum FPI Habib Muhammad Rizieq bin Husein Syihab, Lc.

Kedua, pada tanggal 21 Oktober 1998 DPP-FPI mengeluarkan “Pernyataan Sikap dan Seruan kepada Presiden Republik Indonesia” berdasarkan hasil kerja BPF DPP-FPI dari tanggal 14-18 Oktober 1998, yang berkaitan dengan kasus teror, pembantaian, dan pembunuhan terhadap para ulama, kyai, ustadz, dan guru ngaji dengan dalih dukun santet di beberapa wilayah di Pulau Jawa. Akhirnya, pada tanggal 28 Oktober 1998 DPP-FPI mengeluarkan ”Seruan Jihad” terhadap ”Pasukan Ninja, yang telah menteror, membantai, dan membunuh para ulama, kyai, ustadz, dan guru ngaji dengan dalih dukun santet di beberapa wilayah di Pulau Jawa. Hasilnya, tidak ada lagi teror, pembantaian, dan pembunuhan terhadap para ulama, kyai, ustadz, dan guru ngaji oleh “Pasukan Ninja”. Orang-orang dzalim ini disebut “Pasukan Ninja”, karena pada saat beroperasi mereka memakai pakaian seperti ninja (pakaian pembunuh ala Jepang tradisional).

Ketiga, pada tanggal 22 November 1998 terjadi “Insiden Ketapang” di Jakarta di mana sebuah masjid di Wilayah Ketapang, Gajah Mada, Jakarta Pusat, dirusak oleh 600 orang preman. Sementara itu, masyarakat sekitar masjid tidak mampu menghadapi para preman. Oleh karena itu, FPI mengirim laskarnya, yaitu Laskar Pembela Islam, untuk memukul mundur para preman yang menyerang masjid dan warga di sekitar masjid tersebut. Laskar Pembela Islam dipimpin oleh KH. Tb. M. Siddiq AR, di bawah komando Ketua Umum FPI, Habib Muhammad Rizieq. Selanjutnya, pada tanggal 26 November 1998 DPP-FPI mengeluarkan pernyataan mengenai kronologis “Insiden Ketapang”, yang antara lain berisi informasi tentang diserangnya perkampungan muslim oleh sejumlah preman. Kronologis tersebut disampaikan dalam acara tatap muka dengan komisi A DPRD DKI Jakarta.

Keempat, pada Tanggal 1 Desember 1998 DPP-FPI mengeluarkan pernyataan sikap tentang “Insiden Kupang” di Nusa Tenggara Timur, yang intinya mengecam tindakan sekelompok orang yang telah merusak/membakar sejumlah masjid, dan membantai/ membunuh/menganiaya sejumlah muslim di Kupang.

Kelima, pada tanggal 21 Januari 1999 DPP-FPI beraudiensi ke Mabes TNI (Markas Besar Tentara Nasional Indonesia) di Cilangkap, untuk memohon agar TNI berkenan segera mengatasi “Kerusuhan Ambon” yang telah menewaskan ribuan muslim Ambon.

Keenam, pada tanggal 5 Oktober 2001 Laskar Pembela Islam melakukan demonstrasi menentang keras arogansi Amerika menyerang Afghanistan dengan dalih memburu Usamah Bin Laden. Pada tanggal 7 – 9 Oktober 2001 Laskar Pembela Islam mengepung Kedutaan Besar Amerika Serikat selama tiga hari tiga malam sebagai protes terhadap serangan Amerika Serikat ke Afghanistan. Selanjutnya, pada tanggal 8 Oktober 2001 melalui media massa, Ketua Umum FPI, Habib Muhammad Rizieq, mengutuk keras serangan Amerika Serikat ke Afganistan, dan memprotes keras pernyataan Presiden Amerika Serikat, George Walker Bush yang menyatakan, bahwa Indonesia sebagai salah satu dari 40 negara yang mendukung serangan Amerika Serikat ke Afghanistan.

Umat Islam tentunya juga maklum, bahwa pembelaan FPI terhadap Umat Islam memiliki resiko yang besar bagi tokoh-tokoh FPI. Umat Islam tentu masih ingat insiden, yang antara lain sebagai berikut:

Pertama, pada tanggal 11 April 1999 mobil Ketua Umum FPI, Habib Muhammad Rizieq ditembaki oleh orang yang tak dikenal. Kedua, pada tanggal 23 Juli 2000 Al-Habib Sholeh Alattas, penasihat FPI, ditembak hingga terbunuh di Jakarta. Ketiga, pada tanggal 24 Juli 2000 KH. Cecep Bustomi, deklarator FPI, dibrondong tembakan hingga tewas di Serang. Keempat, pada tanggal 13 Desember 2000 rumah kediaman Al-Habib Sholeh Al-Habsyi, Ketua Majelis Syura FPI Jawa Barat, dijarah dan dibakar segerombolan preman.

Demikianlah dinamika FPI, yang dapat menjadi petunjuk tentang pentingnya FPI bagi Umat Islam. Oleh karena itu, Umat Islam menentang upaya konspirasi untuk membubarkan FPI. Umat Islam faham, bahwa banyak hal yang harus diperbaiki pada FPI, tetapi keberadaan organisasi massa Islam ini penting bagi Umat Islam. Seraya terus mendorong FPI agar tampil lebih sejuk dan memperhatikan kaidah hukum, Umat Islam menentang upaya konspirasi untuk membubarkan FPI.

Kamis, 11 Maret 2010

MEMBANGUN PERADABAN INDONESIA

Untuk membangun peradaban Indonesia, Allah SWT telah memberikan rumusanNya dalam QS.3:18-20, sebagai berikut:

Pertama, peradaban Indonesia hendaklah merupakan peradaban yang bersubstansi Ketuhanan Yang Maha Esa (sesuai Sila Pertama pada Pancasila). Allah SWT menyatakan, "Bahwasanya tidak ada Tuhan yang berhak disembah melainkan Dia (Allah), Yang Menegakkan Keadilan. Para malaikat dan orang-orang yang berilmu, juga menyatakan hal yang demikian itu. Tak ada Tuhan yang berhak disembah melainkan Dia (Allah), Yang Maha Perkasa, lagi Maha Bijaksana."

Kedua, peradaban Indonesia hendaklah merupakan peradaban yang bersubstansi nilai-nilai Islam. Allah SWT menyatakan, "Sesungguhnya agama yang diridhai oleh Allah hanyalah Islam. Tiada berselisih orang-orang yang telah diberi Kitab (Nasrani dan Yahudi) tentang hal itu, karena telah datang pengetahuan tentang hal itu kepada mereka, kecuali bila ada kedengkian pada diri mereka."

Ketiga, peradaban Indonesia hendaklah merupakan peradaban yang bersubstansi kesadaran, yaitu kesadaran tentang adanya akibat buruk yang akan dialami bila suatu peradaban tidak bersubstansi nilai-nilai Islam. Allah SWT menyatakan, "Barangsiapa yang kafir (menolak) terhadap ayat-ayat Allah (nilai-nilai Islam), maka sesungguhnya Allah sangat cepat perhitunganNya.

Keempat, peradabanIndonesia hendaklah merupakan peradaban yang bersubstansi kebenaran versi Allah SWT. Allah SWT menyatakan, "Kemudian jika mereka (penentang nilai-nilai Islam) mendebatmu tentang kebenaran (versi Allah), maka katakanlah, "Aku menyerahkan diriku kepada Allah, dan demikian pula orang-orang yang mengikutiku." Dan katakanlah kepada orang-orang yang telah diberi Kitab (Nasrani dan Yahudi), dan kepada orang-orang yang belum mengetahui (buta huruf), "Apakah kamu berkenan memeluk Agama Islam?"

Kelima, peradaban Indonesia hendaklah merupakan peradaban yang bersubstansi semangat berbagi pengetahuan. Allah SWT menyatakan, "Jika mereka (orang-orang yang telah diberi Kitab, dan orang-orang yang belum mengetahui) menyatakan diri bersedia memeluk Agama Islam; sesungguhnya mereka telah mendapat petunjuk (memperoleh kebenaran versi Allah); dan jika mereka menolak (berpaling); maka kewajiban kamu (setiap muslim) hanyalah menyampaikan ayat-ayat (kebenaran) Allah. Dan Allah Maha Melihat hambaNya."

Rumusan peradaban Indonesia yang dijelaskan oleh Allah SWT melalui QS.3:18-20 tersebut, memperlihatkan adanya tiga karakter yang harus dimiliki oleh peradaban Indonesia, yaitu:

Pertama, karakter transenden, berupa peradaban yang hanya Mempertuhankan Tuhan Yang Maha Esa, yaitu Allah SWT; dengan menjadikan peradaban ini sebagai peradaban yang berbasis pada nilai-nilai Islam.

Kedua, karakter humanis, berupa peradaban yang memposisikan manusia pada posisinya yang tepat (sebagai manusia) dengan menjadikan kebenaran versi Allah SWT sebagai acuan, untuk menghindari akibat buruk bagi pengusung peradaban yang bertentangan dengan nilai-nilai Islam.

Ketiga, karakter emansipatori, berupa peradaban yang mampu mencerahkan manusia, dan membebaskannya dari jerat dan belengu kejahiliahan (kebodohan dan kedustaan) tradisional, modern, dan pos-modern; dengan membangun semangat berbagi pengetahuan tentang kebenaran versi Allah SWT dan nilai-nilai Islam.

Oleh karena itu, Umat Islam di Indonesia diharapkan mampu memberikan kontribusi optimalnya bagi pembangunan peradaban Indonesia, sebagaimana yang diamanatkan Allah SWT dalam QS.3:18-20. InsyaAllah...

Senin, 01 Maret 2010

MEMPERTAHANKAN MASJID AL AQSA

Ketika para pemimpin dunia Islam "terlelap" dalam keduniaannya, para pemuda Palestina berupaya melawan tentara Israel, yang secara sistematis, cermat, dan penuh rekayasa berupaya menguasai dan merobohkan Masjid Al Aqsa. Para pemuda Palestina ini sudah tidak teringat lagi pada pemimpin dunia Islam, karena telah mengetahui bahwa para pemimpin dunia Islam sedang sibuk menikmati dunia.
Namun demikian para pemuda Palestina masih memiliki harapan yang kuat pada Umat Islam di seluruh dunia (yang tidak termasuk dalam pemimpin formal dunia Islam). Umat Islam yang tetap diharapkan doanya oleh para pemuda Palestina ini adalah tokoh-tokoh informal dan anggota masyarakat dunia Islam yang masih memiliki ghirah pada nilai-nilai Islam. Doa Umat Islam di seluruh dunia, insyaAllah didengar oleh Allah SWT.
Banyak cara bagi Allah SWT untuk menghancurkan Israel dan para pendukungnya (NATO dan Amerika Serikat). Bencana alam telah terjadi di banyak tempat belahan dunia, untuk mengingatkan umat manusia agar memperhatikan dan berlaku adil kepada Bangsa Palestina. Bencana tersebut memang belum langsung menghunjam Israel, NATO dan Amerika Serikat. Namun Allah SWT tentu Maha Berkehendak, maka tanggal dan waktu bencana bagi Israel, NATO, dan Amerika Serikat tergantung pada penetapan Allah SWT. Allah SWT telah menjelaskan dalam Al Qur'an, bahwa Ia akan mengganti suatu kaum (Israel, NATO, dan Amerika Serikat) dengan kaum yang lebih baik dan lebih bertaqwa.
Bagi Umat Islam di seluruh dunia, kinilah saatnya bersungguh-sungguh mendekatkan diri kepada Allah SWT, untuk mendoakan kemenangan bagi Palestina atas Israel. Jika Israel pernah dihinakan oleh Bangsa Mesir yang dipimpin Fir'aun, maka kinilah saatnya Bangsa Israel dihinakan oleh dirinya sendiri, karena berbuat dzalim kepada sesama manusia (Bangsa Palestina). Semoga Allah SWT memenangkan Palestina atas Israel, dan mengembalikan masjid suci Umat Islam di seluruh dunia, yaitu Masjid Al Aqsa, kepada Umat Islam di seluruh dunia. InsyaAllah...

Kamis, 28 Januari 2010

LAWAN PENISTAAN TERHADAP ISLAM

Selama ini penistaan terhadap Islam melalui berbagai bentuk aliran sesat dapat dipatahkan dengan menggunakan Undang-Undang Nomor 1 PNPS Tahun 1965. Hal ini dikarenakan, undang-undang ini menetapkan untuk tidak menceritakan, menganjurkan, atau mengusahakan dukungan untuk melakukan penafsiran tentang suatu agama yang dianut di Indonesia, atau melakukan kegiatan keagamaan yang menyerupai kegiatan keagamaan dari agama itu, yang menyimpang dari pokok-pokok ajaran agama itu.
Ironisnya ada beberapa LSM (Lembaga Swadaya Masyarakat) yang mengajukan judicial review (pengujian) terhadap undang-undang ini ke Mahkamah Konstitusi. Untuk itu, Mahkamah Konstitusi telah menjadwalkan sidang pleno pada hari Kamis tanggal 4 Pebruari 2010 di gedung Mahkamah Konstitusi. Oleh karenanya, Umat Islam perlu merapatkan barisan menghadapi rongrongan beberapa LSM tersebut, yang cenderung memusuhi nilai-nilai Islam. Dalam beberapa hari ini, Umat Islam hendaknya bersungguh-sungguh memohon kepada Allah SWT, agar Allah SWT berkenan melindungi Islam dari penistaan. Sementara itu, sebagian Umat Islam yang tergabung dalam berbagai organisasi massa Islam, hendaknya mempersiapkan langkah-langkah konstitusional untuk melawan upaya merongrong Undang-Undang Nomor 1 PNPS Tahun 1965 tentang Pencegahan Penyalahgunaan dan/atau Penodaan Agama.
Upaya mempertahankan Undang-Undang Nomor 1 PNPS Tahun 1965 diperlukan, karena: Pertama, bila undang-undang ini dicabut, orang akan bebas menghujat agama dengan alasan demokrasi dan hak asasi manusia. Padahal adalah hak penganut suatu agama untuk mempertahankan agamanya.
Kedua, bila undang-undang ini dicabut, maka kemurnian suatu agama akan rusak, karena dicampur-adukkan dengan kesesatan dan maksiat. Oleh karena itu, seharusnya undang-undang ini justru diperkuat.
Allah SWT berfirman, "Orang-orang kafir tidak henti-hentinya berusaha memerangi kalian, hingga mereka berhasil mengeluarkan kalian dari agama kalian. Jika saja mereka mampu" (QS.2:217).

Minggu, 04 Oktober 2009

BELAJAR DARI BENCANA

Sejak tahun 2004 hingga saat ini (Oktober 2009), Bangsa Indonesia didera oleh berbagai bencana yang bertubi-tubi. Mulai dari Tsunami Aceh (2004), Gempa Yogya (2006), hingga Gempa Sumatera Barat (2009), keseluruhannya tentulah menghadirkan simpati kepada mereka yang tertimpa bencana. Namun selain itu, kesemuanya tentulah juga menjadi pelajaran bagi segenap Bangsa Indonesia, tentang pentingnya menjadi bangsa yang bertaqwa kepada Allah SWT, yaitu bangsa yang berkenan mempraktekkan nilai-nilai Islam dalam kehidupan sehari-hari.
Allah SWT berfirman, "Hai sekalian manusia, sungguh telah datang kepadamu pelajaran dari Tuhanmu (Allah), sebagai penyembuh penyakit yang ada di dalam dada, serta petunjuk, dan rahmat bagi orang-orang yang beriman" (QS.10:57).
Istilah "penyakit dalam dada" dalam QS.10:57 ini dapatlah dimaknai sebagai "Berbagai kesalahan pemikiran dan persepsi manusia tentang sesuatu, yang kemudian menyesatkannya, hingga terasa sesak dadanya, karena sulit bernafas dengan baik, disebabkan banyaknya persoalan yang tak pernah terselesaikan."
Oleh karena itu, Bangsa Indonesia harus terus menerus mempelajari konsepsi kehidupan yang diajarkan oleh Allah SWT. Selanjutnya, agar konsepsi tersebut mudah diterapkan, maka sebagian dari Bangsa Indonesia perlu mengkaji prospek penerapan terintegrasi konsepsi kehidupan tersebut, lalu menyampaikannya dengan jujur kepada segenap Bangsa Indonesia. Dengan metode ini, maka Bangsa Indonesia dapat dikenali sebagai bangsa yang mampu "Belajar Dari Bencana". InsyaAllah....

Jumat, 25 September 2009

PARA PENENTANG

Allah SWT membuat pernyataan tegas dalam Al Qur'an, khususnya QS.30:8-10, yang intinya bahwa para penentang Rasulullah Muhammad SAW, dan para penentang ajaran yang dibawa oleh Rasulullah Muhammad SAW akan mengalami kehancuran, sebagaimana halnya para penentang Rasul-Rasul Allah SWT di masa lampau. Jika saat ini para penentang nampak menikmati keberhasilan dan kesuksesan, sesungguhnya mereka sedang menghimpun kehancurannya sedikit demi sedikit. Penderitaan muslim di Afghanistan, Iraq, dan Palestina akibat penjajahan dan perampokan tanah mereka oleh Pemerintah Amerika Serikat, NATO, dan Israel, tidak akan pernah tak berbayar. Pada saatnya kelak, masing-masing individu yang terlibat dalam pendzaliman terhadap muslim, akan dimintai pertanggungan-jawab oleh Allah SWT, baik di dunia maupun di akherat.
Para penentang ini tidak pernah memikirkan tentang kejadian diri mereka. Seolah mereka tidak tahu, bahwa Allah SWT menciptakan langit dan bumi serta seluruh isi yang ada di antara dan pada keduanya, dengan tujuan yang benar dan pada waktu yang telah ditentukan. Para penentang ini telah berjalan di banyak tempat di permukaan bumi, dan sebagian sangat kecil ruang angkasa, tetapi mereka tetap tidak mengenal Tuhannya. Mereka mengetahui kesudahan orang-orang yang dzalim di masa lalu, tetapi mereka sangat gemar mempraktekkan kedzaliman.
Mereka mengetahui bahwa orang-orang dzalim di masa lalu juga memiliki kekuatan sebagaimana mereka sekarang, tetapi bukankah orang-orang dzalim itu mengalami kehancuran. Telah datang kepada para penentang ini seorang Rasul, yaitu Rasulullah Muhammad SAW, tetapi mereka meremehkan dan mengabaikan ajarannya (nilai-nilai Islam). Oleh sebab itu, jika orang-orang dzalim ini mengalami kehancuran, sesungguhnya merekalah yang mengundang kehancuran itu bagi dirinya. Allah SWT menjanjikan adzab kepada para penentang ini, sebagaimana tertuang dalam QS.30:10.
Jika yang menjanjikan kehancuran bagi para penentang Rasulullah Muhammad SAW adalah seorang manusia, maka tentulah janjinya itu patut diragukan. Namun bila yang berjanji adalah Allah SWT, maka layaklah bila Umat Muslim menyiapkan diri untuk menyambut perwujudan janji Allah SWT. Bila Romawi dan Uni Sovyet dapat hancur, bukan tidak mungkin bagi Allah SWT menghancurkan Amerika Serikat, NATO, dan Israel. Semoga Allah SWT berkenan...

Sabtu, 18 Juli 2009

MENENTANG TINDAKAN PEMBOMAN DI JAKARTA

Allah SWT dalam QS.5:32 menyatakan, bahwa Ia (Allah SWT) menentang pembunuhan seorang manusia secara semena-mena, secara keji, atau secara serampangan. Allah SWT mengatakan, bahwa seseorang yang membunuh seorang manusia lainnya, sesungguhnya identik dengan membunuh manusia seluruhnya. Para pembunuh ini sesungguhnya telah membunuh kemanusiaan manusia, dan merusak tatanan harmoni sosial manusia, yang didorong oleh nilai-nilai Islam untuk ditegakkan di alam semesta. Islam menyebutnya dengan istilah "Rahmatan lil' Alamiin".
Oleh karena itu, Umat Islam menentang tindakan pemboman di Jakarta, yang menimpa Ritz Carlton Hotel, dan J.W. Marriot Hotel pada hari Jum'at tanggal 17 Juli 2009, sehingga mengakibatkan 8 orang tewas, dan puluhan orang lainnya luka-luka. Umat Islam juga mengingatkan agar semua pihak menahan diri untuk tidak saling fitnah, dengan memberi kesempatan jajaran Kepolisian Republik Indonesia melakukan investigasi secara sistematis dan menyeluruh.
Himbauan Umat Islam ini menjadi sesuatu yang penting, karena sebagaimana terjadi pada umumnya, pada kasus-kasus terorisme semacam ini Umat Islam-lah yang paling dirugikan, karena akan menjadi sasaran fitnah yang sistematis dan menyeluruh. Biasanya kasus-kasus pemboman semacam ini akan menjadi titik masuk, bagi mereka yang anti Islam untuk menghujat nilai-nilai Islam. Padahal nilai-nilai Islam adalah seperangkat nilai yang mampu mengharmonisasi antara aqidah, ibadah, muamallah, adab, dan akhlak.
Dengan demikian dapatlah diyakini, bahwa para teroris ini adalah juru fitnah yang gemar merancang fitnah terhadap Islam. Para teroris ini, meskipun kerapkali menyebut diri membela Islam, namun sesungguhnya lebih banyak membuktikan diri sebagai memusuhi Islam, dengan memberi pintu masuk pada Islamophobi untuk menghujat Islam.
Hal inilah yang seharusnya menjadi kewaspadaan Umat Islam, dan lebih memperkuat kesungguhannya, dalam mendukung terciptanya stabilitas nasional Negara Kesatuan Republik Indonesia. Bangun terus komunikasi dengan para pihak, baik secara personal, komunal, maupun institusional agar tercipta stabilitas nasional. Semoga Allah SWT berkenan melindungi Bangsa Indonesia dari gelapnya fitnah di era destabilisasi dunia saat ini.

Sabtu, 28 Maret 2009

VERY DIFFICULT TIME

In the name of God (Allah subhanahu wa ta'ala), the Most Compassionate, and the Most Merciful. Assallamu'alaikum wa rahmatullahi wa barakatuh, that is equivalent in English, "greetings of peace". We are going through some very difficult time, when west relations with moslems have polarized.
Continously devastating condition of Palestinians, who have tyrant and unjust authoritizing by Israel. USA invations on Afghanistan (2002) and Iraq (2003), had destruction and killings of several hundred thousand people of Afghanistan and Iraq. Evil treatment of prisoners by USA military (Abu Ghraib in Iraq, and Guantanamo in Cuba region) are some of the major factors which have turned our world into a lawless, and unjust global village.
I hope we will be a step to undo the stereotypes, and help inspire a constructive and sincere interaction.
Moslems have a Holy Book called, "The Holy Qur'an". For moslems, The Holy Qur'an is the words of God. The Holy Qur'an consist of 114 chapters of varying length. Each chapter is made up of single or multiple revelations. Chapter names are based on a word that appears in the chapter itself. The interpretation of the verses, must be use historic context, events that moslems were facing at that time, and the Sunnah matter.
Sunnah refers to the sayings, approvals, and disapprovals of the Prophet Muhammad. These are compiled in separate books, known as Hadith Books. Unlike The Holy Qur'an which was compiled by Prophet Muhammad himself, the Hadith Books were compiled after the death of the Prophet Muhammad.
The first and the foremost basic right, is the right to live and respect human life. The Holy Qur'an lays down: First, "Whoseover kills a human being without (any reason like) man slaughter, or corruption on earth, it is as though he had killed mankind..." (5:32). Second, "Do not kill a soul which Allah has made sacred, except through the due process of law..." (6:151). Third, "Do not let your hatred of a people incite you to aggression ..." (5:2). Fourth, "And do not let ill will towards any folk incite you, so that you swerve from dealing justly. Be just, that is nearest to heedfulness" (5:8).

Senin, 09 Februari 2009

TOLAK LIBERALISME

Liberalisme bertentangan dengan nilai-nilai Islam. Oleh karena itu, setiap muslim wajib menolak liberalisme dalam praktek kehidupan manusia. Ada tiga alasan yang menunjukkan keburukan liberalisme, yaitu:
Pertama, liberalisme berbasis pada pemikiran "semua boleh" dan antroposentris. Semua boleh sepanjang tidak bertentangan dengan norma-norma yang dianut masyarakat, meskipun bertentangan dengan nilai-nilai yang diamanatkan Tuhan. Dasar argumentasi liberalisme bertumpu pada posisi manusia sebagai pusat alam semesta (antroposentris), yang diwujudkan dengan penerapan hak asasi dan kepentingan manusia, yang seringkali bertentangan dengan hak asasi Tuhan.
Kedua, liberalisme berupaya menyusupkan pandangan yang berlebihan pada inklusivitas dan pluralitas manusia. Akibatnya tiap manusia cenderung kehilangan identitas fitrahnya sebagai makhluk ciptaan Tuhan. Ketika seorang manusia telah kehilangan identitas fitrahnya, maka segeralah dia didesakkan dengan identitas baru, sebagai agen peradaban Barat.
Uniknya, ketika sebagian masyarakat Barat di Eropa, Amerika, dan Australia berbondong-bondong memeluk agama Islam, sebagai agama pencerahan, maka para agen baru peradaban Barat justru sibuk "menjual" nilai-nilai Barat di lingkungannya.
Ketiga, liberalisme merupakan basis bagi berkembangnya faham sekuler, yang menyatakan bahwa nilai-nilai Islam tak layak menata seluruh aspek kehidupan manusia. Bagi kaum sekuler nilai-nilai Islam hanya akan diposisikan sebagai ritus pribadi tanpa makna.
Banyak pihak sengaja melupakan historisitas faham sekuler, yang diawali oleh penemuan para ilmuwan, seperti Galileo Galilei (1564-1642). Pada saat itu hasil penemuan para ilmuwan ini ternyata bertolak belakang dengan doktrin keagamaan yang dibangun oleh institusi agama di Eropa. Akibatnya para ilmuwan harus menjalani hukuman, bahkan hingga hukuman mati seperti yang dialami oleh Galileo Galilei. Oleh karena itu, para ilmuwan sosial kemudian menyerukan agar ada pemisahan antara agama (di Eropa) dengan kehidupan berbangsa dan bernegara. Hal inilah yang kemudian berkembang menjadi faham sekuler.
Oleh karena itu, setiap muslim wajib menolak liberalisme yang nyata-nyata menolak keberadaan dan kekuasaan Allah SWT, Tuhan Yang Maha Esa (lihat QS.112:1-4). Setiap muslim wajib menolak liberalisme, karena pada akhirnya liberalisme identik dengan kekafiran. Tanpa liberalisme Umat Manusia insyaAllah akan lebih berbahagia, dan lebih TRANSHUME (TRANSenden, HUManis, dan Emansipatori).