ABOUT ISLAM

Tampilkan postingan dengan label sinergi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label sinergi. Tampilkan semua postingan

Jumat, 23 Januari 2009

KARAKTERISTIK MUSLIM

Muslim adalah seorang manusia (bila individual) atau suatu komunitas (bila kolektif), yang memiliki karakteristik tertentu, sebagaimana diungkapkan oleh Allah SWT dalam Al Qur'an, dan dijelaskan oleh Rasulullah Muhammad SAW.
Ada tujuh point yang menjadi karakteristik muslim, yaitu: persyaratan, tanggung-jawab, tugas dan fungsi, hubungan kerja, identitas, tuntutan fisik, dan lingkungan sosial.
Pertama, persyaratan menjadi muslim terdiri dari kesiapan mempraktekkan Rukun Iman dan Rukun Islam dalam kehidupan sehari-hari.
Kedua, muslim bertanggung-jawab atas kemanfaatan alam semesta, sebagai sarana dan prasarana beribadah kepada Allah SWT.
Ketiga, ada tugas dan fungsi yang diemban oleh seorang muslim, yaitu: (1) menjadi mujahiddin atau pembela kebenaran, (2) menjadi uswatun hasanah atau teladan yang baik, (3) menjadi asabiquunal awaluun atau pendahulu dalam melaksanakan kebajikan, (4) menjadi sirajan muniran atau pencerah bagi manusia lainnya, dan (5) rahmatan lil'alamiin atau memberi manfaat optimal bagi alam semesta (termasuk manusianya).
Keempat, seorang muslim mampu melakukan harmonisasi hubungan kerja dengan muslim lainnya, agar terjadi sinergi antar muslim dalam memenuhi tugas dan fungsinya.
Kelima, muslim memiliki identitas yang khas, yaitu hanya memperTuhankan Allah SWT, Tuhan Yang Maha Esa.
Keenam, muslim dituntut memiliki fisik yang sehat, tegar, dan terlatih, karena seringkali kekuatan fisik sangat dibutuhkan dalam menegakkan kebenaran, dan menghancurkan kedzaliman yang dilakukan oleh Komunitas Iblis Internasional (Yahudi Israel, Amerika Serikat, Inggris, Perancis, dan sekutu-sekutunya).
Ketujuh, muslim memiliki lingkungan sosial yang beraneka ragam, yang menuntut kemampuan antisipatifnya.

Rabu, 23 Juli 2008

BAHAYA KEKAFIRAN GLOBAL

Saat ini Negara Kesatuan Republik Indonesia dan Bangsa Indonesia terancam oleh bahaya kekafiran global, yaitu suatu tata nilai yang bertentangan dengan nilai-nilai Islam. Dengan kata lain, kekafiran global sedang berupaya agar Bangsa Indonesia mendustai Allah SWT. Bentuknya berupa desakan agar Bangsa Indonesia memberlakukan nilai-nilai baik secara formal (hukum positif), maupun informal (tatanan sosial) yang bertentangan dengan nilai-nilai Islam. Desakan dilakukan melalui tekanan internasional agar Negara Kesatuan Republik Indonesia meratifikasi berbagai konvensi internasional, yang bertentangan dengan nilai-nilai Islam. Ada beberapa contoh yang berkaitan dengan hal itu.
Pertama, tekanan agar Negara Kesatuan Republik Indonesia menghapus pemberlakuan hukuman mati. Tata nilai ini bertentangan dengan nilai-nilai Islam yang memperkenankan hukuman mati, sebagai bentuk perlindungan terhadap kehidupan manusia, melalui prinsip "qishas". Oleh karena itu, sebagian Umat Islam perlu mempersiapkan diri dengan ilmu pengetahuan hukum yang memadai, untuk mempertahankan pemberlakuan hukuman mati di Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Kedua, tekanan agar Bangsa Indonesia menolak tata nilai yang mengijinkan seorang laki-laki menikahi lebih dari satu istri. Tata nilai yang didesakkan oleh kekafiran global ini bertentangan dengan nilai-nilai Islam, karena Allah SWT memperkenankan seorang laki-laki menikahi lebih dari satu istri dengan syarat-syarat tertentu. Oleh karena itu, Umat Islam dan para Ulamanya perlu terus bersinergi untuk menegakkan nilai-nilai Islam.
Ketiga, tekanan agar Negara Kesatuan Republik Indonesia mengesahkan perkawinan atau pernikahan lintas agama (kawin campur). Tata nilai yang disesakkan oleh kekafiran global ini bertentangan dengan nilai-nilai Islam, karena sesungguhnya Allah SWT tidak memperkenankan seorang muslim menikahi non muslim. Oleh karena itu, sebagian Umat Islam perlu mempersiapkan diri dengan ilmu pengetahuan hukum yang memadai, dan dengan berbekal fatwa Ulama, terus berjuang mempertahankan tidak disahkannya perkawinan lintas agama di Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Keempat, tekanan agar Bangsa Indonesia bersedia menerima keberadaan homoseksual dan lesbian, serta memperkenankan perkawinan sejenis. Tata nilai ini bertentangan dengan nilai-nilai Islam, karena Allah SWT sangat memurkai homoseksual, lesbian, dan perkawinan sejenis. Oleh karena itu, segenap Umat Islam dan para Ulamanya perlu bersinergi untuk menyadarkan kaum homoseksual, dan lesbian kembali pada tata nilai yang diridhai oleh Allah SWT.
Kelima, dan masih banyak lagi kekafiran global yang didesakkan melalui berbagai perjanjian internasional. Dalam konteks pertanian misalnya, kekafiran global didesakkan melalui perjanjian perdagangan yang dikoordinir oleh WTO (World Trade Organization). Kekafiran ini telah menyengsarakan jutaan petani di Indonesia. Dengan kata lain kekafiran global merasuki semua sektor kehidupan manusia, tujuannya jelas untuk menyengsarakan Bangsa Indonesia di dunia dan di akherat.
Jangan lupa, Bangsa Indonesia pernah mengalami penderitaan yang memilukan ketika kekafiran global masuk ke Indonesia dalam bentuk penjajahan Belanda, Portugis, Inggris, dan Jepang yang dampak buruknya masih dirasakan hingga kini. Oleh karena itu, mari pertahankan nilai-nilai Islam dalam kehidupan berbangsa dan bernegara dengan cara-cara yang cermat dan santun.