ABOUT ISLAM

Tampilkan postingan dengan label pelajaran. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label pelajaran. Tampilkan semua postingan

Minggu, 13 November 2011

MENDIDIK DIRI SENDIRI

Allah SWT mengingatkan, “Di antara orang-orang yang Kami (Allah) ciptakan terdapat umat yang memimpin manusia dengan kebenaran, dan dengan itu pula mereka berlaku adil” (QS.7:181).


Setiap manusia yang berakal jernih tentu ingin menjadi orang yang dimaksud oleh Allah SWT dalam QS.7:181, yaitu menjadi pemimpin yang benar dan adil. Untuk itu, setiap manusia hendaknya berkenan mendidik dirinya sendiri, agar dapat menjadi pemimpin yang benar dan adil.


Mendidik (educate) biasanya dilakukan oleh seseorang kepada orang lain. Oleh karena itu, ketika konsepsi mendidik diri diperkenalkan, maka hal ini berarti memindahkan obyek yang sebelumnya orang lain ke diri sendiri.


Dengan kata lain, mendidik diri sendiri berarti suatu proses mengajar, dan memberi informasi (information) atau pemahaman tertentu pada diri sendiri, agar siap berpikir, bersikap, bertindak, dan berperilaku tertentu sebagaimana yang telah direncanakan sebelumnya.


Oleh karena yang bersangkutan berencana untuk berbuat kebajikan di muka bumi, maka pemikiran, sikap, tindakan, dan perilakunya dididik agar sesuai, mendukung dan dapat mewujudkan rencana tersebut.


Proses mengajar (teach) diri sendiri bukanlah pekerjaan yang mudah, karena banyak keinginan diri yang seringkali bertentangan dengan yang diajarkan. Upaya mengajar diri sendiri minimal harus meliputi:


Pertama, give lesson, yaitu upaya memberi pelajaran pada diri sendiri tentang hal-hal yang berkaitan dengan dinamika hidup dan kebajikan. Hal ini dilakukan melalui pengamatan, analisis dan penarikan kesimpulan atas fenomena yang ditemui;


Kedua, show how to, yaitu upaya menunjukkan atau menerangkan pada diri sendiri tentang hal-hal yang berkaitan dengan dinamika hidup dan kebajikan. Hal ini dilakukan dengan cara menunjukkan pada diri sendiri fenomena yang baik dan yang buruk yang dialami oleh orang lain sebagai benchmarking (pembanding dan pengingat);


Ketiga, get knowledge, yaitu upaya mendapatkan pengetahuan tentang hal-hal yang berkaitan dengan dinamika hidup dan kebajikan. Hal ini dilakukan dengan cara membaca buku-buku dan browsing informasi (tekstual, audio, dan visual) yang berisi berbagai peluang kebajikan.


Selain kesediaan mengajar diri sendiri, unsur penting dalam mendidik diri sendiri adalah informasi, yang merupakan fakta tentang sesuatu benda, orang, kejadian, dan lain sebagainya. Informasi berkaitan dengan berita (messages), di mana informasi dianalogikan sebagai isi sesuatu (misal: air), sedangkan berita dianalogikan sebagai wadah sesuatu (misal: gelas).


Sebagaimana diketahui berita berisi informasi, dan ide. Dalam konteks berita, hal terkecil yang termasuk informasi antara lain sepotong tulisan atau sepenggal perkataan yang disampaikan oleh seseorang kepada orang lain.


Oleh kerena itu, ketika seseorang sedang berupaya mendidik diri sendiri, maka informasi hendaklah sekurang-kurangnya dimaknai sebagai sepotong tulisan atau sepenggal perkataan tentang diri sendiri maupun orang lain, yang disampaikan oleh dirinya sendiri kepada dirinya sendiri.


Beberapa pihak menyebut fenomena ini sebagai, “diskusi internal”, yang wujud konkritnya berupa kontestasi berbagai argumen yang ada dalam ranah pertimbangan, agar dapat dirumuskan sikap yang tepat untuk menyelesaikan suatu masalah tertentu.


Selamat berikhtiar, semoga Allah SWT meridhai…

Senin, 26 November 2007

STOP, JANGAN BERSEDIH HATI!

Allah SWT berfirman, "Dan janganlah kamu lemah dan jangan bersedih hati, padahal kamulah orang-orang yang paling tinggi derajatnya, jika kamu beriman" (QS.3:139).
Sehubungan dengan firman Allah SWT ini, M. Quraish Shihab dalam karyanya "Tafsir Al Mishbah" menjelaskan, bahwa untuk memahami QS.3:139 hendaknya dikaitkan dengan QS.3:137-138.
Dalam QS.3:137 Allah SWT telah berfirman, "Sungguh telah berlalu sebelum kamu sunnah-sunnah Allah (beberapa peristiwa), karena itu berjalanlah kamu di muka bumi, dan perhatikanlah bagaimana akibat orang-orang yang mendustakan."
Sedangkan dalam QS.3:138 Allah SWT telah berfirman, "Inilah suatu keterangan bagi manusia dan petunjuk serta pelajaran bagi orang-orang yang bertaqwa."
Oleh karena itu setiap muslim tidak perlu bersedih ketika menghadapi tantangan masa kini. Setiap muslim tidak boleh bersedih, sekalipun saat ini banyak fitnah yang ditebar oleh musuh-musuh Allah SWT, untuk merusak keindahan nilai-nilai Islam.
Bukankah Allah SWT telah menjelaskan dalam QS. An Naas atau QS.114:1-6 sebagai berikut: "Katakanlah, "Aku berlindung kepada Tuhan (Allah), yang memelihara manusia, yang menguasai manusia, dan Tuhan bagi manusia, dari kejahatan bisikan setan yang tersembunyi, yang membisikkan dalam dada manusia, dari golongan jin dan manusia."
Ketidak-bolehan setiap muslim bersedih, karena zaman fitnah di akhir zaman sudah dikenali. Sehingga yang dibutuhkan adalah pemikiran, sikap, dan perilaku yang tegar. Setiap muslim tidak boleh lemah, ia harus tegar, karena sungguh telah berlalu sebelum ini beberapa peristiwa atau sunnah-sunnah Allah, yang menunjukkan keberhasilan muslim.
Keberhasilan akan tercapai bila setiap muslim sungguh-sungguh menjadikan Al Qur'an dan Al Hadist sebagai: Pertama, sumber keterangan, yaitu ketika setiap muslim bersedia merujukkan kajian dan analisis faktualnya dengan berbagai informasi yang terdapat dalam Al Qur'an dan Al Hadist.
Kedua, petunjuk, yaitu ketika setiap muslim bersedia menjadikan Al Qur'an dan Al Hadist sebagai penentu kebenaran, kebaikan, dan keindahan suatu pemikiran, sikap, dan perilaku. Ketiga, pelajaran, yaitu ketika setiap muslim bersedia menjadikan korelasi antara informasi Al Qur'an dan Al Hadist dengan fakta kekinian, sebagai suatu pengalaman ilmiah yang melibatkan rasa dan rasio.
Oleh karena itu, sepanjang seseorang itu beriman (Islam), maka ia tidak boleh lemah, dan tidak boleh bersedih hati. Karena ia berada pada derajat yang tinggi, dalam perspektif Allah SWT.
Hal ini dikarenakan ia telah siap menghadapi fitnah (bisikan setan) zaman akhir. Ia tahu, bahwa ada segolongan manusia yang berprofesi menjajakan fitnah dan kesesatan pada manusia yang lain. Bagi setiap muslim, yang harus diutamakan adalah ketegaran pemikiran, sikap, dan perilaku dalam menghadapi fitnah, sehingga ia dapat menjelaskan dan membuktikan keindahan nilai-nilai Islam pada masyarakat di sekitarnya.