ABOUT ISLAM

Tampilkan postingan dengan label situasi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label situasi. Tampilkan semua postingan

Jumat, 03 Februari 2012

PERBAIKAN DIRI SENDIRI

Perbaikan adalah upaya untuk mendapatkan sesuatu yang lebih baik, atau upaya melakukan sesuatu dengan lebih baik. Upaya ini akan muncul, hanya apabila seseorang telah memiliki kesadaran tentang pentingnya menjadi orang yang semakin baik. Sebagai contoh, seorang pelajar yang ingin melakukan perbaikan, maka sesungguhnya keinginan itu barulah muncul ketika ia telah faham tentang pentingnya menjadi lebih baik.


Agar dapat mencapai perbaikan diperlukan: Pertama, upaya untuk membangun atau memperbaiki keahlian, pengetahuan dan lain-lain. Sebagai contoh, bagi seorang pelajar, maka ia perlu memperbaiki keahlian dan pengetahuannya. Pelajar tersebut perlu berpikir, bersikap, bertindak, dan berperilaku serius (bersungguh-sungguh) dalam mengikuti pelajaran di kelasnya, agar pengetahuannya bertambah terus. Ia juga perlu mengikuti praktikum mata pelajaran yang telah ditetapkan oleh pihak sekolah dengan sungguh-sungguh, agar ia memiliki keahlian yang semakin baik.


Kedua, upaya untuk melakukan sesuatu yang baru, yang lebih baik dari sebelumnya. Sebagai contoh, bagi seorang pelajar, maka ia perlu memperbaiki cara belajarnya agar ia semakin mudah menyerap pengetahuan dan keahlian. Ia perlu menjajagi beberapa cara belajar, agar ia dapat menemukan cara belajar yang cocok dengan dirinya. Banyak cara belajar yang dapat ia jajagi, seperti: belajar secara visual (melihat gambar), belajar secara audio (mendengar suara), belajar secara audio visual (mendengar suara dan melihat gambar), belajar sambil menulis, dan lain-lain.


Ketiga, upaya untuk menciptakan suatu situasi baru, yang lebih baik dari situasi sebelumnya. Sebagai contoh, bagi seorang pelajar, maka ia perlu menciptakan situasi baru yang lebih “cair” atau lebih nyaman, ketika ia berinteraksi dengan sahabat-sahabatnya. Situasi yang lebih nyaman juga perlu diciptakan, ketika ia berinteraksi dengan guru, tutor, atau siapapun yang menjadi narasumber pengetahuannya. Dengan situasi baru yang lebih nyaman ini, maka ia akan lebih mudah menyerap pengetahuan yang bermanfaat bagi bekal kehidupannya.


Keempat, upaya untuk menemukan sesuatu yang baru, atau menjadi orang pertama yang menemukan sesuatu hal yang penting. Sebagai contoh, bagi seorang pelajar, maka ia perlu menemukan sesuatu yang baru pada dirinya, yaitu motivasi yang selalu diperbarui. Ia menjadi orang pertama yang mengetahui hakekat hidupnya, karena ia adalah orang yang paling dekat dengan dirinya sendiri. Sebelum orang tua, guru, atau sahabat mengetahui hakekat dirinya, ia adalah orang pertama yang mengetahui hakekat dirinya sendiri. Ia mengetahui tentang visi hidupnya, yaitu beribadah kepada Allah SWT dan rahmatan lil’alamiin.


Kelima, upaya melakukan sesuatu yang baru yang dirancang dan diciptakan secara baru. Sebagai contoh, bagi seorang pelajar, maka ia siap melakukan sesuatu yang baru dalam mewujudkan visinya, yaitu beribadah kepada Allah SWT dan rahmatan lil’alamiin. Untuk itu ia siap mewujudkannya dalam semangat baru, dalam motivasi yang lebih kuat, dan dalam kualitas diri yang lebih siap dalam merespon dinamika sosial. Oleh karena itu, ia akan terus menerus memperbaiki rancangannya, agar terus menerus nampak sebagai rancangan yang baru, dan agar selalu siap menghadapi situasi yang selalu baru.


Selamat berikhtiar, semoaga Allah SWT meridhai...

Sabtu, 28 Januari 2012

DIBEBANKAN PADA DIRI SENDIRI

Seseorang yang memiliki keteguhan dalam berjuang mengarungi hidup, tidak akan gentar dengan beban yang dipikulkan kepadanya. Ia justru merasa, bahwa beban yang dipikulkan itu merupakan pengakuan atas eksistensi dirinya.


Ia mengerti, bahwa sebagai manusia ia memperoleh dua beban utama untuk dilaksanakan, yaitu: Pertama, beribadah kepada Allah SWT. Kedua, rahmatan lil’alamiin, atau memberi manfaat optimal bagi lingkungannya.


Agar hal-hal yang dibebankan pada diri sendiri tersebut dapat dilaksanakan dengan baik, maka seseorang harus: Pertama, jujur, karena dengan bermodalkan kejujuran, orang lain akan percaya kepada dirinya, sehingga memudahkannya bersinergi dengan orang lain dalam melaksanakan bebannya. Kedua, professional, karena dengan bermodalkan profesionalitas, siapapun yang memerlukannya akan merasa puas dengan yang ia kerjakan. Ketiga, inovatif, karena dengan bermodalkan inovasi ia mampu menciptakan sesuatu yang baru.


Kemampuannya dalam hal membangun kepercayaan dan sinergi dengan orang lain, serta profesionalitasnya dalam bekerja, dan kemampuannya berinovasi menjadi pengantar bagi hadirnya manfaat optimal dirinya di tengah-tengah lingkungannya. Selanjutnya kemampuan memberi manfaat optimal ini ia persembahkan kepada Allah SWT, sebagai bentuk baktinya kepada Allah SWT, yang disertai dengan kekhusuannya beribadah kepada Allah SWT.


Setelah seseorang memiliki sifat jujur, profesional, dan inovatif; selanjutnya ia harus berupaya sungguh-sungguh mewujudkan tanggung-jawabnya (sesuai bebannya) dengan bersikap: Pertama, meyakini bahwa beban yang ada pada dirinya, yaitu beribadah kepada Allah SWT dan memberi manfaat optimal bagi lingkungannya, merupakan beban yang mulia dan dapat memuliakan orang lain. Kedua, oleh karena itu, ia harus memiliki kegigihan dan mampu meluruskan niat serta menyempurnakan ikhtiarnya. Ketiga, sehingga ia dapat menjadi orang yang terpercaya, baik oleh Allah SWT, maupun oleh manusia.


Dengan demikian seseorang yang teguh dalam berjuang, hendaknya: Pertama, bersedia dengan sungguh-sungguh untuk berlatih dan berpikir keras. Ia harus mampu mengenal diri dan potensinya, sehingga ia dapat mengenal kekurangan diri lalu memperbaikinya, dan menempah dirinya secara optimal; Kedua, bersedia berlatih untuk mengenal situasi dan lingkungannya, sehingga ia bisa mendapatkan manfaat dari lingkungannya secara optimal, dan sekaligus memberikan manfaat balik kepada lingkungan secara professional; Ketiga, bersedia berlatih untuk membuat suatu perencanaan yang matang, sehingga segala sesuatunya berjalan dalam jalur yang telah disepakati. Keempat, bersedia berlatih untuk mengevaluasi setiap hasil karyanya, bertanggung jawab terhadap tugas yang dibebankan, dan senantiasa meningkatkan kinerjanya.


Selamat berikhtiar, semoga Allah SWT meridhai…

...

Minggu, 07 Agustus 2011

MAMPU MEMPERHATIKAN

Sebagaimana diketahui, memperhatikan adalah kemampuan yang dimiliki seseorang dalam mempertimbangkan segenap kemampuannya. Kemampuan ini penting, karena dapat digunakannya sebagai pembanding terhadap kemampuan orang lain. Pembandingan dilakukan untuk menumbuhkan kepekaan, dan kesiapan membantu orang lain.


Agar mampu memperhatikan, ada beberapa hal yang harus dimiliki oleh seseorang, di mana ia hendaknya merasa sangat tertarik pada kebaikan bagi orang lain atau masyarakat, dan sangat ingin terlibat di dalamnya. Untuk itu ia telah memiliki rekam jejak (track record) yang menunjukkan, bahwa ia dapat dipercaya telah bersungguh-sungguh berupaya memenuhi janji baiknya pada orang lain atau masyarakat.


Seseorang yang berupaya untuk memperhatikan juga dapat menjelaskan kepada orang lain atau masyarakat: Pertama, bahwa sesuatu yang baik sangat berpeluang terjadi. Kedua, karena ia telah bersungguh-sungguh mengupayakannya. Ketiga, sehingga orang lain atau masyarakat tidak perlu terlalu mengkhawatirkannya.


Ia telah membuktikan: Pertama, bahwa ia dapat dipercaya. Kedua, karena ia telah memperlihatkan segenap upaya. Ketiga, yang menunjukkan bahwa ia dapat mengendalikan situasi. Keempat, karena ia memiliki kekuatan dalam membuat keputusan. Kelima, dan mampu mengendalikan situasi yang berpeluang timbul.


Kebaikan yang ingin diperjuangkannya, antara lain bersatunya segenap manusia dengan saling mencintai antara satu dengan lainnya, karena meskipun manusia secara fisik dilahirkan berbeda-beda, namun mereka memiliki status kemanusiaan yang sama. Untuk itu ia telah berupaya memperbaiki situasi dengan memulainya dari diri sendiri, lalu ke orang terdekat dan demikian seterusnya hingga mencapai lingkungan yang lebih luas.


Oleh karena itu, ia sangat memiliki kepedulian dalam memperbaiki situasi agar menjadi lebih baik, untuk umat manusia secara keseluruhan. Ia mengerti, bahwa pengalaman-pengalaman dan penderitaan-penderitaan yang dialami oleh orang lain atau masyarakat harus mendapat pertolongan, dukungan dan cinta dari dirinya.


Ukuran sukses bagi dirinya bukanlah pencapaian yang ia raih, melainkan proses kerja yang ia lakukan dengan terus menerus tanpa kenal lelah. Ia faham, bahwa untuk mencapai kesejahteraan manusia atau masyarakat, maka manusia atau anggota masyarakat harus bekerja bersama-sama. Tidak boleh ada seorang manusia yang dikorbankan untuk kesejahteraan orang lain, karena semua terhubung sebagai bagian dari umat manusia.


Allah SWT berfirman, “Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berperang di jalanNya dalam barisan yang teratur, seakan-akan mereka seperti satu bangunan yang tersusun kokoh” (QS.61:4).