ABOUT ISLAM
Minggu, 15 Juli 2012
PENGORBANAN DIRI
Minggu, 31 Juli 2011
MAMPU MENGANGKAT DIRI
“Mengangkat diri” adalah suatu kemampuan yang ada pada diri seseorang, di mana ia dapat menempatkan atau memposisikan dirinya sebagai individu yang memiliki tingkat dan kualitas diri yang lebih baik atau lebih tinggi dari sebelumnya.
Agar seseorang dapat memiliki kemampuan mengangkat diri, maka ia harus memperhatikan tingkat dan kualitas diri yang ingin dicapainya. Tingkat diri yang akan ditetapkan, haruslah berdasarkan kualifikasi diri yang telah dicapainya saat ini, yang meliputi keahlian dan kompetensi yang ada pada dirinya.
Keahlian diperlihatkan oleh kemampuannya dalam melakukan suatu aktivitas atau pekerjaan tertentu dengan baik, berdasarkan latihan yang terus menerus yang dilakukannya selama ini. Sementara itu, kompetensi diperlihatkan oleh kemampuannya dalam melakukan suatu aktivitas atau pekerjaan tertentu dengan baik, berdasarkan keahlian dan bakat yang dimilikinya.
Tingkat diri akan semakin berada pada posisi yang baik (tinggi) bila didukung oleh kualitas diri yang baik pula. Sementara itu, kualitas diri ditandai oleh karakter yang dimiliki seseorang, yang merupakan personalitas atau kepribadian seseorang, yang membuat seseorang berbeda dengan orang lain.
Allah SWT berfirman, “Yaitu orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri, duduk atau dalam keadaan berbaring, dan memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi…” (QS.3:191). Allah SWT juga berfirman, “Maka apabila telah ditunaikan shalat, hendaklah kamu bertebaran di muka bumi dan carilah karunia Allah, serta ingatlah Allah sebanyak-banyaknya supaya kamu beruntung” (QS.62:10).
Firman Allah SWT dalam QS.3:191 dan QS.62:10 menunjukkan, bahwa mengingat Allah SWT dalam berbagai keadaan relevan dengan berbagai aktivitas yang perlu dilakukan oleh seorang manusia. Dengan demikin seorang manusia yang memahami QS.3:191 dan QS.62:10 mengerti, bahwa ia perlu mencapai kualitas diri yang baik, mampu memperhitungkan prospek dirinya, dan menghargai waktu.
Apabila seluruh capaian kualitas diri berada pada ”lintasan” kualitas yang ingin dicapai oleh seseorang, maka hal ini akan menjadikannya memiliki suatu kualitas yang tipikal atau unik. Kualitas tipikal seseorang yang berupaya mengangkat diri akan mewujud dalam kesiapan untuk menjalani hidup sebaik mungkin, dengan tetap memikirkan prospek kehidupannya di masa depan.
Apabila prospek yang dipikirkannya mewujud, ia telah siap menyambutnya dengan responsif. Prospek yang mewujud tidak akan diresponnya secara reaktif (respon berlebihan), tidak pula pasif (tanpa respon), dan tidak pula sekedar aktif (merespon sekedarnya), melainkan secara responsif (merespon secara proporsional).
Ia akan menghargai waktu, karena merupakan bagian dari kehidupannya. Tepatnya, kehidupan merupakan proses mengisi aktifitas pemikiran, sikap, tindakan, dan perilaku dalam rentang waktu tertentu.
Oleh karena itu, menghargai waktu merupakan wujud dari penghargaannya kepada kehidupannya yang penuh makna dihadapan semesta, manusia, dan Allah SWT. Seseorang yang berupaya mengangkat diri memahami, bahwa ia pernah menjalani kehidupannya di masa lalu, sedang menjalani kehidupan di masa kini, dan akan menjalani kehidupan di masa depan. Kehidupan masa depan yang difahaminya juga meliputi kehidupan masa depan duniawi, dan kehidupan masa depan akherat.
Selamat mencoba, semoga Allah SWT meridhai…
Minggu, 02 Januari 2011
MEMBANGUN KUALITAS PRIBADI
Setiap muslim tentu menyadari, bahwa ia harus berusaha sungguh-sungguh agar dapat mengoptimalkan pemikiran, sikap, tindakan, dan perilakunya, terutama dalam menerapkan nilai-nilai Islam pada kehidupan sehari-hari. Setiap muslim harus bersungguh-sungguh, agar terhindar dari sikap dan tindakan murtad, sehingga tergolong sebagai murtaddin, yaitu manusia yang menyatakan diri dan memperagakan pemikiran, sikap, dan perilaku yang menunjukkan ia tidak lagi memeluk agama Islam.
Menjadi murtaddin merupakan bencana terbesar bagi seorang manusia, karena saat itu ia tidak lagi menjadi bagian umat yang mempertuhankan Tuhan (Allah s.w.t.), sebaliknya ia akan menjadi bagian umat yang mempertuhankan tuhan palsu (tuhan yang bukan Tuhan). Murtad bukanlah peristiwa tiba-tiba, melainkan telah melalui proses tertentu yang sebelumnya telah dipilih oleh yang bersangkutan.
Sebagai contoh: Pertama, bila ada seorang manusia yang gemar pada hal-hal yang bersifat mistik atau klenik, yaitu konsepsi dan ritual berkomunikasi dengan alam gaib dengan cara-cara yang bertentangan dengan syariat Islam. Suatu saat ia akan tergelincir dengan merasa mendapat petunjuk gaib untuk murtad, padahal kondisi ini dikarenakan ia tidak dapat lagi membedakan petunjuk sesat dengan petunjuk kebenaran;
Kedua, bila ada seorang manusia gemar mengemis bantuan, tanpa peduli dari mana bantuan tersebut berasal, dan tidak lagi memperdulikan halal atau haram bantuan yang diperolehnya. Orang semacam ini akan berpeluang menjadi murtad, karena merasa simpatik atas bantuan atau perhatian kaum kafir kepadanya. Padahal kondisi ini diawali oleh ketidak-seriusannya menjemput rizki yang diberikan Allah s.w.t. kepadanya.
Secara umum diketahui, bahwa proses menjadi murtaddin terdiri dari tahapan-tahapan, sebagai berikut: (1) tidak menghargai kecerdasan atau fathonah, (2) sehingga ia mengalami proses pembodohan personal; (3) sejak itu ia tidak ingin mengetahui kebenaran; (4) dan enggan memahami Islam; (5) akibatnya ia tidak faham Islam; (6) dan tidak faham kebenaran dan keindahan nilai-nilai Islam; (7) bahkan ia terkesima dengan kebenaran versi manusia dan keindahan dunia; dan akhirnya (8) ia menjadi murtad.
Oleh karena itu setiap muslim wajib menjaga dan meningkatkan kualitas pribadi, sebagaimana yang dicontohkan oleh Rasulullah Muhammad s.a.w. Dengan kata lain setiap muslim wajib memiliki kualitas pribadi, yang: (1) fathonah atau cerdas, (2) amanah atau dapat dipercaya, (3) shiddiq atau obyektif, (4) tabligh atau informatif, (5) istiqomah atau konsisten, (6) ikhlas atau tulus hati, dan (7) ridha atau lapang dada.
Berbekal kualitas pribadi yang tinggi, maka setiap muslim dapat hidup dalam koridor nilai-nilai Islam, yaitu akidah, ibadah, muamallah, adab, dan akhlak. Dengan bekal ini insyaAllah setiap muslim dapat memberi kontribusi dalam membangun peradaban Islam, yang: (1) transenden atau meruhani, yaitu mempertuhankan Allah s.w.t.; (2) humanis atau sesuai fitrah manusia; dan (3) emansipatori atau bersifat pembebasan manusia dari nilai-nilai jahiliah tradisional dan modern.