ABOUT ISLAM

Tampilkan postingan dengan label logika. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label logika. Tampilkan semua postingan

Minggu, 06 September 2009

LOGIKA DIALEKTIS MANUSIA

Logika dialektis, adalah penarikan kesimpulan yang berpola "tesis - antitesis - sintesis", di mana tesis merupakan pemahaman awal, yang ditentang oleh antitesis sebagai pemahaman tandingan, hingga muncullah sintesis sebagai pemahaman yang mengungguli tesis dan antitesis.
Sebagai contoh: Pertama, pada suatu masa, karena ketidak-mampuan merawat nilai-nilai Ketuhanan, manusia terjebak pada pemahaman, bahwa Tuhan itu tidak ada (T=0). Pemahaman ini biasa disebut "atheis".
Kedua, tesis bahwa Tuhan tidak ada atau atheis, kemudian ditentang oleh kelompok manusia lainnya, dengan menyodorkan antitesis, bahwa Tuhan itu banyak (T>1). Pemahaman ini biasa disebut "politheis".
Ketiga, antitesis bahwa Tuhan itu banyak atau politheis, lalu dikalahkan oleh pemahaman, bahwa Tuhan itu Maha Esa (T=1). Pemahaman ini biasa disebut "monotheis".
Dalam perspektif Islam, pemahaman atheis dan politheis merupakan pemahaman yang tak logis. Sementara itu pemahaman monotheis juga tidak logis jika yang dipertuhankan adalah sesuatu yang bukan Tuhan. Oleh karena itu, pemahaman yang paling logis adalah ketika manusia mampu hanya mempertuhankan Tuhan Yang Maha Esa, yaitu Allah SWT.
Allah SWT mengingatkan, "Katakanlah, "Dialah Allah, Yang Maha Esa. Allah "tempat" meminta. Dia tidak beranak, dan tidak pula diperanakkan, serta tidak ada sesuatupun yang setara denganNya" (QS.112:1-4).

Jumat, 10 Juli 2009

LOGIKA DEONTIK DALAM ISLAM

Logika deontik, adalah penarikan kesimpulan yang berkaitan dengan konsep-konsep, seperti: kewajiban, keharusan, kepatutan, kelayakan, dan permisibilitas (dapat dimaklumi). Sesuatu dikatakan logis secara deontik, bila ia sesuai dengan kewajiban, keharusan, kepatutan, kelayakan, dan permisibilitas.
Penentu kewajiban, keharusan, kepatutan, kelayakan, dan permisibilitas haruslah suatu Dzat yang menciptakan semesta alam (alam semesta dan alam akherat), yang memiliki kewenangan dan kekuasaan secara mutlak. Dengan demikian manusia tidak berhak menjadi penentu kewajiban, keharusan, kepatutan, kelayakan, dan permisibilitas.
Oleh karena Allah SWT merupakan pencipta semesta alam, maka hanya Allah SWT yang berhak menjadi penentu kewajiban, keharusan, kepatutan, kelayakan, dan permisibilitas. Kebenaran versi Allah bersifat mutlak, sedangkan kebenaran versi manusia bersifat relatif.
Kebenaran versi manusia bersifat relatif, karena ia memiliki peluang disusun dari ketidak-benaran. Kebenaran versi manusia terdiri dari: Pertama, kebenaran koherensi, di mana sesuatu dianggap benar bila konsisten dengan kebenaran sebelumnya. Kebenaran saat ini selalu berhubungan dengan kebenaran sebelumnya, hingga berjarak tak terhingga. Jarak historis yang relatif jauh inilah yang memberi peluang disisipkannya ketidakbenaran oleh manusia. Dengan demikian ada peluang ketidakbenaran dalam kebenaran koherensi. Bukti sejarahnya dapat dilihat, dari dihadirkannya Islam di alam semesta oleh Allah SWT, sebagai suatu agama yang merupakan koreksi terhadap agama-agama sebelumnya, yang telah diintervensi oleh manusia, dan telah disisipkan ketidak-benaran (lihat QS.2:79).
Kedua, kebenaran korespondensi, di mana sesuatu dianggap benar bila sesuai dengan fakta. Padahal fakta yang ditangkap oleh manusia hanya sebatas daya tangkap indera manusia dan alat bantunya. Di seberang ini semua, terdapat fakta yang berada di luar jangkauan indera, yang bahkan tidak mampu diserap oleh rasionalitas manusia. Fakta yang berada di seberang daya tangkap indera manusia dan alat bantunya ini, hanya dapat difahami dengan memanfaatkan prosesi pewahyuan dari Allah SWT kepada para RasulNya. Dengan demikian kebenaran korespondensi (kebenaran versi manusia) berpeluang mengandung ketidak-benaran.
Ketiga, kebenaran pragmatis, di mana sesuatu dianggap benar bila bermanfaat bagi manusia. Padahal jumlah manusia sangat banyak (lebih dari 8 miliar orang), sehingga kebenarannya tentulah beraneka ragam. Termasuk dalam hal ini, adanya keterbatasan manusia dalam menentukan kebenaran. Kesemua inilah yang kemudian menjadikan kebenaran pragmatis berpeluang mengandung ketidak-benaran.
Allah SWT menjelaskan, bahwa kebenaran itu bersumber pada Allah SWT (lihat QS. 2:147). Oleh karena itu, ketika kebenaran versi Allah SWT telah datang, maka ketidak-benaran yang selama ini dimuliakan dan diagung-agungkan akan hilang. Setiap manusia mendapat kesempatan untuk menetapkan pemikiran, sikap, tindakan, dan perilakunya. Namun demikian sebaik-baik pemikiran, sikap, tindakan, dan perilaku manusia, adalah pemikiran, sikap, tindakan dan perilaku yang sesuai dengan kebenaran versi Allah SWT.
Allah SWT juga menyatakan, bahwa sesungguhnya setiap manusia berbuat sesuatu menurut keadaannya, dan Allah SWT mengetahui manusia yang berada pada jalan yang benar (lihat QS.17:84). Kebenaran versi Allah SWT selanjutnya menjadi sumber, rujukan, dan acuan bagi perumusan kewajiban, keharusan, kepatutan, kelayakan, dan permisibilitas manusia.
Oleh karena itu, tidak patut, dan tidak layak, serta sangat tidak dapat dimaklumi kejahatan Pemerintah Republik Rakyat Cina terhadap Etnis Uighur di Provinsi Xinjiang. Telah sejak berdirinya Republik Rakyat Cina, Etnis Uighur yang beragama Islam mendapat tekanan dan diskriminasi, agar Etnis Uighur melepaskan keIslamannya. Pemerintah Republik Rakyat Cina bahkan mendorong Etnis Han agar mendesak Etnis Uighur, yang puncaknya adalah pembantaian terhadap Etnis Uighur pada awal Juli 2009. Tujuannya tidak lain adalah untuk memusnahkan Etnis Uighur dari masyarakat Cina. Namun demikian, sampai hari ini Etnis Uighur masih terus berupaya bertahan dan melawan penindasan yang dialaminya dengan segenap kemampuannya yang sangat terbatas.
Umat Islam seluruh dunia wajib, selayaknya, dan sepatutnya mendoakan dan membantu Etnis Uighur, agar berhasil dalam perjuangannya, yaitu mempertahankan nilai-nilai Islam yang dianutnya. Inilah bukti logika deontik dalam Islam, yang sedang diperjuangkan dalam kehidupan manusia di masa kini. Semoga Allah SWT berkenan meridhai perjuangan Etnis Uighur di Provinsi Xinjiang, Republik Rakyat Cina.

Sabtu, 20 Juni 2009

LOGIKA HEWAN PADA PERADABAN BARAT

Setiap orang tentu mengetahui, bahwa peradaban Barat adalah peradaban yang saat ini sedang menguasai dunia. Peradaban yang diusung oleh negara-negara Barat (lihat QS.2:120) ini memperoleh kekuasaan atas dunia dengan menumpahkan darah, air mata, dan derita bangsa-bangsa lain yang ditindasnya. Lihatlah sejarah kolonialisme dan imperialisme kuno yang ditebar peradaban Barat ke seluruh dunia pada abad ke-14 hingga ke-19, yang merampas sumberdaya alam bangsa-bangsa lain. Lihat pula sejarah kolonialisme dan imperialisme modern yang ditebar peradaban Barat pada abad ke-19 hingga saat ini, yang nampak jelas di Palestina, Afghanistan, dan Iraq.
Dalam peradaban Barat, kemanusiaan kalah pamor dengan kehewanan. Oleh sebab itu, dalam peradaban Barat super hero haruslah manusia berkarakter hewan. Lihatlah Batman, super hero yang berkarakter kalelawar. Lihat pula Spiderman, super hero yang berkarakter laba-laba. Dengan demikian dalam peradaban Barat, hanya manusia-manusia berhati hewan (bahkan lebih rendah lagi), seperti Ariel Sharon dan George Walker Bush, adalah pahlawan besar, bahkan pahlawan kemanusiaan. Mereka menjadi pahlawan kemanusiaan, karena berhasil melampaui derajat manusia hingga turun ke derajat hewan, bahkan lebih rendah lagi, yaitu derajat setan (lihat QS.114:1-6).
Kalaupun ada super hero yang berkarakter manusia, yaitu Superman, maka dosis kemanusiaannya harus minimal, yang ditandai dengan ketidakmampuan sang superhero mengenali celana dalam. Oleh karena itu, jangan heran bila melihat Superman memakai celana dalam di luar.
Peradaban Barat juga sangat mengutamakan keselamatan hewan, yang nampak dari kontribusi dan keterlibatan mereka pada berbagai Pusat Keselamatan Hewan di berbagai belahan dunia. Tetapi mereka sangat membenci manusia, terutama Umat Islam, sehingga mereka menyelenggarakan Pusat Kehancuran Kemanusiaan, seperti di Palestina, Afghanistan, Iraq (termasuk Penjara Abu Ghraib), dan Penjara Guantanamo.
Oleh karena itu Allah menyatakan, bahwa mereka sesungguhnya tidak memiliki pengetahuan tentang peradaban, karena mereka tidak mengenal Tuhannya. Mereka mengira Tuhan memiliki seorang anak (lihat QS.18:4), begitu pula nenek moyang mereka. Sesungguhnya kata-kata yang keluar dari mulut mereka adalah seburuk-buruknya ucapan, karena mereka tidak mengatakan sesuatu melainkan dusta (lihat QS.18:4).

Jumat, 29 Mei 2009

LOGIKA DEDUKTIF DALAM ISLAM

Logika adalah penalaran, ucapan, atau tulisan seorang manusia yang teratur dan sistematis, sehingga dapat difahami atau dimengerti oleh manusia lainnya. Logika terdiri dari beberapa jenis, yang salah satunya adalah logika deduktif.
Islam merupakan agama yang tidak bertentangan dengan logika. Oleh karena itu, Islam mendorong penganut atau pemeluknya untuk mengoptimalkan kemampuan berlogika. Banyak ayat dalam Al Qur'an yang mengajak dan mendorong manusia untuk berpikir, berakal, menggunakan pikiran, atau menggunakan akalnya. Hal ini menjadi dasar bagi manusia untuk terus menerus mengoptimalkan kemampuan berlogika, dalam rangka menggapai ridha Allah SWT.
Salah satu jenis logika (sebagaimana telah disampaikan) adalah logika deduktif, yaitu penarikan kesimpulan yang dilakukan berdasarkan argumen-argumen yang disajikan secara sistematis, yang dimulai dari argumen yang bersifat umum hingga yang bersifat khusus. Sebagai contoh, logika deduktif dapat diterapkan pada saat melakukan upaya untuk memahami posisi Al Qur'an bagi manusia. Untuk itu perhatikan QS.2:2 yang masih bersifat umum; QS.15:9 yang bersifat khusus; dan QS.11:14 yang bersifat lebih khusus.
Cara memahaminya adalah, sebagai berikut: Pertama, QS.2:2 merupakan penjelasan yang bersifat umum, bahwa Al Qur'an merupakan petunjuk bagi orang-orang yang bertaqwa. Kedua, QS.15:9 merupakan penjelasan yang bersifat khusus, bahwa Al Qur'an merupakan petunjuk bagi orang-orang yang bertaqwa, karena ia diturunkan oleh Allah SWT. Ketiga, QS.11:14 merupakan penjelasan yang bersifat lebih khusus, bahwa Al Qur'an merupakan petunjuk bagi orang-orang yang bertaqwa, karena ia diturunkan oleh Allah SWT dengan ilmuNya.
Dengan demikian diketahui, bahwa ada pelajaran logika deduktif dalam Islam. Sebagaimana dicontohkan dalam hal posisi Al Qur'an bagi manusia, bahwa Al Qur'an merupakan petunjuk bagi orang-orang yang bertaqwa, karena ia diturunkan oleh Allah SWT dengan ilmunya.
Pada kesempatan berikutnya, insyaAllah akan dibahas logika-logika lainnya dalam Islam. Sesungguhnya posting ini merupakan kutipan dari buku "The Ultimate Values" (halaman 121-122) yang saya tulis tahun 2006 (setebal 508 halaman), yang saat ini tersimpan di Pesantren Mahasiswa Takwinul Muballighin dengan alamat Dusun Gandok, Desa Condong Catur, Kecamatan Depok, Kabupaten Sleman, Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta.