ABOUT ISLAM

Tampilkan postingan dengan label bumi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label bumi. Tampilkan semua postingan

Rabu, 18 Juni 2008

DINAMIKA KECERDASAN RUHANI

Seorang manusia yang memiliki kecerdasan ruhani (transcendental intelligence), akan memiliki pemikiran, sikap, dan perilaku yang berimplikasi sosial. Ketika kecerdasan ruhani "dibumikan" menjadi implikasi sosial, maka ia mewujud dalam bentuk akhlak.
Agar seorang manusia dapat "membumikan" kecerdasan ruhaninya, maka ia perlu memiliki mindset (pola pikir) tertentu, seperti: Pertama, mindset abdullah (hamba Allah SWT). Setiap manusia hendaknya faham, bahwa ia adalah hamba Allah SWT, atau hamba Tuhan Yang Maha Esa (sesuai dengan QS. Al Ikhlas). Oleh karena itu, ia harus bersungguh-sungguh beribadah kepada Allah SWT, dan bersungguh-sungguh pula menjadi rahmatan lil'alamiin (pemberi manfaat optimal bagi alam semesta), sebagai salah satu bentuk ibadah kepada Allah SWT.
Kedua, mindset khalifah fil ardhi ("wakil" Allah SWT di bumi). Setiap manusia hendaknya faham, bahwa ia adalah "wakil" Allah SWT di bumi. Oleh karena itu, ia harus bersungguh-sungguh berupaya agar kondisi bumi sesuai dengan skenario Allah SWT. Dengan kata lain, ia harus bersungguh-sungguh menerapkan nilai-nilai Islam di bumi. Caranya dengan mendorong dirinya sendiri dan manusia lainnya atau masyarakat, bersedia melaksanakan perintah Allah SWT, dan tidak melakukan hal-hal yang dilarang oleh Allah SWT.

Selasa, 07 Agustus 2007

PENCIPTAAN ALAM SEMESTA

Allah SWT dalam Al Qur'an menjelaskan, bahwa sesungguhnya langit dan bumi dahulunya berpadu, lalu Allah SWT memisahkan keduanya (lihat QS.21:30). Allah SWT membangun langit dan bumi dengan kekuasaanNya, termasuk dengan memperluas langit tersebut (lihat QS.51:47). Hingga langit dan bumi (alam semesta) akan berakhir, ketika bintang-bintang berguguran (QS.81:1-2).
Penjelasan Allah SWT ini telah disampaikan melalui Rasulullah Muhammad SAW pada abad ke-7, dan barulah pada abad ke-19 manusia berhasil memahami penjelasan Allah SWT ini. Orang-orang seperti Edwin Huble (1929) dan kawan-kawannya (para fisikawan ruang angkasa), telah berhasil secara empiris membuktikan kebenaran Al Qur'an. Mereka yang juga berjasa adalah Arnold Penzias dan Robert Wilson (pemenang Nobel).
Jika sampai saat ini masih ada Islam-phobia di kalangan manusia, maka hal ini menunjukkan "mahalnya" hidayah.

Kamis, 02 Agustus 2007

KESOMBONGAN MANUSIA


Sifat sombong pada diri manusia sesungguhnya akan merugikan dirinya sendiri, karena akan terhalang dari mendapat kebenaran. Puncak kesombongan manusia adalah ketika menganggap dirinya lebih hebat, lebih tahu, dan lebih berhak dari Allah SWT. Kesombongan semacam ini tepat kiranya bila disebut "Fir'aun Syndrom". Saat ini Fir'aun Syndrom banyak menjangkiti manusia. Lihatlah manusia yang menghina ayat-ayat Al Qur'an, dan merendahkan Rasulullah Muhammad SAW. Mereka-mereka ini menderita Fir'aun Syndrom dan menunggu penghakiman dari Allah SWT.

Allah SWT berfirman, "Dan tidakkah mereka berjalan di bumi, lalu mereka memperhatikan bagaimana akibat orang-orang (yang mendustakan Allah) sebelum mereka? Orang-orang itu lebih kuat dari mereka. Orang-orang itu juga mengolah bumi serta memakmurkannya melebihi dari yang mereka makmurkan. Dan datanglah kepada mereka rasul-rasulNya dengan keterangan- keterangan yang nyata (tapi mereka mengingkari). Maka (sesungguhnya) Allah tidaklah menganaiaya mereka, tetapi merekalah yang menganiaya diri mereka sendiri" (QS.30:9).