ABOUT ISLAM

Tampilkan postingan dengan label hidup. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label hidup. Tampilkan semua postingan

Senin, 15 Agustus 2011

MAMPU MENGUPAYAKAN

“Mengupayakan” adalah tindakan seseorang berdasarkan segenap kemampuan, keahlian, dan kompetensinya dalam melakukan suatu kebajikan yang bermanfaat bagi dirinya, orang lain, dan masyarakat. Mengupayakan berkaitan dengan janji (promise) dan kepercayaan (confidence).


Dalam konteks janji, maka “mengupayakan” juga meliputi tindakan seseorang dalam menyampaikan kepada orang lain bahwa sesuatu berpeluang terjadi, karena ia telah bersungguh-sungguh mengupayakannya. Sementara itu, dalam konteks kepercayaan, maka “mengupayakan” juga meliputi tindakan seseorang dalam menyampaikan kepada orang lain bahwa sesuatu berpeluang terjadi, karena ia memiliki kemampuan untuk mengupayakannya.


Allah SWT berfirman, “Dan Dia (Allah) memudahkan untuk kamu segala sesuatu yang di langit dan di bumi, sebagai rahmat dariNya. Sesungguhnya pada yang demikian itu menjadi tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi kaum yang berpikir” (QS.45:13).


Berdasarkan firman Allah SWT, maka setiap orang punya peluang untuk menjadi orang yang mampu mengupayakan, sepanjang ia berkenan menjaga hubungan baik dengan Allah SWT. Caranya dengan melaksanakan segenap perintah Allah SWT, dan tidak melakukan hal-hal yang dilarang oleh Allah SWT. Pandai-pandailah menarik simpati Allah SWT, agar ia berkenan atas setiap upaya yang dilakukan untuk menjadi orang yang mampu mengupayakan.


Ketika seseorang mampu mengupayakan, maka ada beberapa ciri yang ia perlihatkan, yaitu: Pertama, ia memiliki dorongan psikologis dan sosial yang mengarahkannya ke suatu kebajikan yang bermanfaat bagi dirinya, orang lain, dan masyarakat. Hal ini akan membuat orang tersebut terarah dalam pemikiran, sikap, tindakan, dan perilakunya. Ia akan menetapkan cara atau teknik dalam membangkitkan semangat yang meredup dalam dirinya, sehingga tercipta kemauan untuk melakukan suatu kebajikan.


Kedua, ia mengambil semangat kebangkitan diri dari segenap sumber yang terpercaya, baik yang bersifat internal maupun eksternal. Ia mengembangkan mindset (pola pikir) yang dapat merubah suatu kenegatifan menjadi sisi yang positif, sehingga ia berhasil menanamkan pada dirinya sendiri bahwa ia mampu melakukan kebajikan. Oleh karena itu, ia menuntut diri sendiri agar bersedia berpikir, bersikap, bertindak, dan berperilaku terbaik dalam memanfaatkan kemampuannya menghasilkan kebajikan.


Ketiga, ia bersedia memulai hidup baru dengan cara berpikir, bersikap, bertindak, dan berperilaku secara baru. Ia wujudkan kecintaannya kepada Tuhannya dengan mewujudkan kebajikan bagi dirinya, orang lain, dan masyarakat. Rasa cinta kepada Tuhannya akan gagal dibuktikan, bila ia tidak memiliki pengetahuan yang memadai tentang cara-cara mewujudkan kebajikan.


Keempat, ia menyadari adanya faktor kunci pada dirinya, yang berupa pengenalan diri yang kuat dan akurat. Ia faham tentang perlunya: (1) karakter pribadi yang termotivasi secara baik sehingga mampu menghadapi tantangan dan dinamika hidup; (2) bakat, potensi dan kemampuan yang selalu dimanfaatkan olehnya dalam menyusuri setiap lorong-lorong kehidupannya yang penuh suka dan duka; serta (3) pengalaman hidup yang menjadi referensi nyata baginya dalam merancang, menerapkan, dan mengevaluasi capaian kebajikan.


Selamat mencoba, semoga Allah SWT berkenan meridhai...

Senin, 18 Juli 2011

MAMPU MENGATUR DIRI

Mengatur diri adalah suatu kondisi ketika seseorang mampu mengubah pemikiran, sikap dan perilakunya, sehingga dari berbagai masukan yang diperolehnya, ia dapat menghasilkan keluaran dan dampak yang paling baik.


Ketika seseorang menyatakan dirinya bersedia berubah, maka sesungguhnya ia siap berpikir, bersikap, dan berperilaku berbeda dari sebelumnya, menuju ke arah yang lebih baik. Saat itu ia siap mengelola segala potensi dan masukan dari orang lain, sebagai bagian dari proses menuju keberhasilan. Dengan demikian ia memiliki harapan bagi dihasilkannya keluaran yang baik, yang kelak juga akan memberi dampak yang baik.


Rasulullah Muhammad SAW pernah mengingatkan, “Setiap kegiatan ada saatnya bersemangat terus menerus, tetapi setiap semangat ada saatnya melemah. Barangsiapa yang semangatnya melemah, lalu ia mencontoh sunnahku, maka ia akan berhasil. Sebaliknya, barangsiapa yang semangatnya melemah, tetapi ia menolak mencontoh sunnahku, maka ia akan gagal” (HR: Ahmad).


Dengan demikian agar dapat terus menerus semangat, maka seorang manusia perlu mencontoh keteladanan Rasulullah Muhammad SAW, lalu menetapkan visi dan misi baru bagi hidupnya. Visi, adalah cita-cita yang ingin dicapai oleh seseorang di masa depan, yang rumusannya akan memberikan inspirasi, motivasi, dan kekuatan pada orang tersebut. Biasanya seseorang akan merumuskan visi yang dapat ia capai, dan dapat ia ukur pencapaiannya, serta dapat ditetapkan periode waktu pencapaiannya.


Sementara itu, misi adalah “perintah” yang harus dilakukan oleh seseorang sesuai dengan visi yang telah ditetapkannya. Rumusan misi seseorang akan memberikan arah bagi orang tersebut dalam mewujudkan visinya. Oleh karena itu, rumusan misi seseorang akan ditetapkannya dalam bentuk rumusan kegiatan utama yang perlu dilakukannya.


Rumusan kegiatan tersebut juga akan dikaitkan dengan ruang lingkup hasil yang hendak dicapai oleh seseorang, dan syarat-syarat yang berkaitan dengan pemikiran, sikap, dan perilaku yang dibutuhkan untuk memperoleh hasil yang baik. Syarat-syarat tersebut, antara lain: Pertama, bersedia menggapai kemampuan di bidang tertentu. Kedua, bersedia menggapai kemampuan memelihara kelangsungan hidup. Ketiga, bersedia menggapai kemampuan hidup bermasyarakat. Keempat, bersedia untuk menggapai kemampuan belajar sepanjang masa.


Ringkasnya, agar seseorang dapat mengatur diri, maka ia harus mampu mengubah pemikiran, sikap dan perilakunya. Acuan bagi perubahan pemikiran, sikap, dan perilaku orang tersebut adalah visi (cita-cita) dan misi (kegiatan utama) baru, yang ditetapkannya sebagai respon atas dinamika sosial yang ada. Selanjutnya, dengan memperhatikan dan menerima berbagai masukan, maka ia akan dapat menghasilkan keluaran (output) dan dampak (out come) yang paling baik bagi dirinya dan orang lain.

Kamis, 20 September 2007

TEORI EVOLUSI LAYAK DITINGGALKAN

Teori Evolusi layak ditinggalkan, karena: Pertama, Teori Evolusi menyatakan bahwa semua spesies makhluk hidup berevolusi dari sebuah sel tunggal hidup, yang ada di bumi purba pada lebih kurang 3,8 milyar tahun yang lalu. Sel tunggal ini terjadi secara kebetulan, karena hukum alam dan tanpa perencanaan serta pengaturan tertentu. Dengan kata lain benda mati dapat memproduksi makhluk hidup.
Kedua, hal ini sesuai dengan teori abad pertengahan "Generatio Spontanea", yang menganggap benda mati muncul bersama-sama untuk membentuk makhluk hidup. Pada abad pertengahan orang percaya, bahwa serangga berasal dari makanan basi, belatung berasal dari daging busuk, dan akhirnya tikus berasal dari gandum.
Ketiga, pada tahun 1864 Louis Pasteur mengumumkan hasil temuannya yang menggugurkan teori "Generatio Spontanea" dengan membuktikan, bahwa tidak benar makhluk hidup berasal dari benda mati. Akibatnya terjadi penentangan dari para pendukung Teori Evolusi, yang antara lain dilakukan oleh Alexander Oparin (1930) dari Rusia yang berupaya membuktikan, bahwa sel hidup terjadi secara kebetulan. Demikian pula dengan Stanley Miller (1953) dari Amerika Serikat yang berupaya membuktikan, bahwa asam amino (struktur protein) berasal dari kombinasi gas diatmosfir.
Keempat, namun Oparin gagal mendapatkan sel hidup. Sedangkan Miller berhasil mendapatkan asam amino, namun dengan kombinasi gas yang berbeda dengan yang ada di atmosfir. Selain itu hasil penelitian Miller yang berupa protein (struktur utama sel hidup) tetaplah tidak hidup.
Kelima, kegagalan Oparin dan Miller sesungguhnya dikarenakan makhluk hidup yang paling sederhana sekalipun (makhluk bersel tunggal) memiliki struktur yang rumit. Molekul DNA (Deoxyribo Nucleid Acid) yang terletak pada inti sel (nucleus) memiliki informasi cetak biru (blue print) genetika suatu makhluk hidup, yang informasinya setara dengan 900 volume ensiklopedi yang masing-masing volume memiliki 500 halaman.
Keenam, DNA hanya dapat berreplikasi dengan bantuan beberapa enzim (protein khusus), sedangkan pembuatan enzim ini pada makhluk hidup hanya dapat dilakukan bila ada informasi dari DNA. Oleh karena DNA dengan enzim yang mendukungnya saling bergantung, maka keduanya harus ada pada waktu yang sama. Hal ini menunjukkan bahwa kehidupan tidak mungkin dikembangkan oleh dirinya sendiri.
Dengan demikian pernyataan bahwa sel tunggal hadir secara kebetulan, bukanlah pernyataan yang memenuhi kualitas berpikir ilmiah, padahal inilah kata kunci dari Teori Evolusi. Sementara itu, Derek V. Ager dalam "The Nature of The Fossil Record" (1976:33) menyatakan, bahwa semua spesies tiba-tiba muncul dalam bentuk yang sempurna, tanpa melalui bentuk transisi sebelumnya.
Akhirnya menjadi keharusan bagi siapapun yang berkenan menggunakan akal dan pikirannya, untuk meninggalkan (menolak) Teori Evolusi yang digagas oleh Charles Darwin (1859) melalui bukunya "The Origin of Species." Karena pada Bab "Difficulties of Theories" Darwin mengakui, bahwa ia kesulitan membangun teori disebabkan adanya missing link (keterputusan jalur) pada sejarah genetik.