ABOUT ISLAM

Tampilkan postingan dengan label terbuka. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label terbuka. Tampilkan semua postingan

Minggu, 13 Mei 2012

MENGUASAI DIRI SENDIRI


Setiap orang hendaknya mampu menguasai diri sendiri, karena banyaknya godaan untuk berpikir, bersikap, bertindak, dan berperilaku tidak layak. Oleh karena itu, tanpa kemampuan menguasai diri sendiri, seseorang berpeluang gagal dalam mewujudkan kebajikan bagi dirinya sendiri dan orang lain.

Untuk dapat menguasai diri sendiri, maka: (1) Seseorang perlu berlindung kepada Allah SWT, karena Allah SWT merupakan Tuhannya manusia, penguasa, dan pelindung manusia. (2) Seseorang perlu menghadapi dengan tegar dan menolak bujukan kejahatan dari setan, baik setan dari kalangan jin maupun setan dari kalangan manusia.

Ada delapan ciri yang diperlihatkan oleh orang yang berhasil menguasai diri, yaitu: Pertama, seseorang yang berhasil menguasai diri sendiri akan memperlihatkan pemikiran, sikap, tindakan, dan perilaku yang siap menanggung resiko. Ia memandang resiko sebagai peluang untuk melakukan kebajikan, yang hasilnya dapat gagal atau berhasil dalam melakukan kebajikan;

Kedua, seseorang yang berhasil menguasai diri sendiri akan memperlihatkan pemikiran, sikap, tindakan, dan perilaku yang terkendali dan penuh perhitungan. Namun demikian ia tetap mampu berinisiatif, karena ia memiliki stock ide-ide cemerlang dalam mendorong dan mewujudkan kebajikan bagi manusia;

Ketiga, seseorang yang berhasil menguasai diri sendiri akan memperlihatkan pemikiran, sikap, tindakan, dan perilaku yang profesional dalam koridor nilai-nilai Islam. Ia menghindarkan diri dari sifat mudah mengeluh, karena baginya kegagalan dalam melakukan kebajikan adalah kesempatan untuk memperbaiki diri;

Keempat, seseorang yang berhasil menguasai diri sendiri akan memperlihatkan pemikiran, sikap, tindakan, dan perilaku yang menghormati waktu. Ia akan berupaya menepati janji dalam konteks waktu, karena ia memiliki keunggulan dalam mengagendakan dan mengelola waktu yang dimilikinya;

Kelima, seseorang yang berhasil menguasai diri sendiri akan memperlihatkan pemikiran, sikap, tindakan, dan perilaku yang gemar dalam melayani dan memberi kebajikan kepada orang lain. Ia akan terus berupaya mengalirkan kebajikan dari dirinya kepada orang lain, agar dapat diteruskan kepada khalayak yang lebih luas;

Keenam, seseorang yang berhasil menguasai diri sendiri akan memperlihatkan pemikiran, sikap, tindakan, dan perilaku yang gemar belajar, terutama hal-hal baru atau terobosan dalam melakukan kebajikan. Ia gemar belajar dari siapapun; dari mereka yang melakukan keburukan, ia belajar tentang hal-hal yang dapat menimbulkan keburukan; dari mereka yang melakukan kebajikan, ia belajar tentang hal-hal yang dapat menimbulkan kebajikan;

Ketujuh, seseorang yang berhasil menguasai diri sendiri akan memperlihatkan pemikiran, sikap, tindakan, dan perilaku yang terbuka terhadap kritik, sebagai instrumen memperbaiki diri. Ia percaya dan berbesar hati untuk membuka diri bagi kritik orang lain, bahkan ia memposisikan para pengkritik sebagai sahabatnya yang baik;

Kedelapan, seseorang yang berhasil menguasai diri sendiri akan memperlihatkan pemikiran, sikap, tindakan, dan perilaku yang gemar bekerjasama dan membina hubungan baik. Ia berupaya mengajak banyak orang untuk bersama-sama melakukan kebajikan.

Selamat merenungkan, dan jangan lupa berdoa kepada Allah SWT, untuk kebaikan Bangsa Indonesia, Bangsa Palestina, dan Umat Islam di seluruh dunia.

Semoga Allah SWT berkenan meridhai…

...

Minggu, 24 Juli 2011

MAMPU MENGEMBANGKAN DIRI

Mengembangkan diri adalah suatu kondisi ketika seseorang mampu memajukan diri, sehingga kehadirannya memberi dampak yang besar, penting, dan baik. Seseorang yang berada di “jalan” yang benar ketika mengembangkan diri, akan merasakan dampak kehadirannya, yang juga akan berdampak bagi orang lain.


Dampak orang yang sedang mengembangkan diri, antara lain: Pertama, semakin besar dan banyaknya nilai positif yang didapat oleh dirinya dan orang lain. Kedua, semakin bernilai, berguna, dan sesuai dengan kebutuhan dirinya dan orang lain. Ketiga, semakin menyenangkan, nyaman, dan menarik bagi dirinya dan orang lain.


Ada satu hal penting yang perlu dilakukan oleh seseorang dalam rangka mengembangkan diri, yaitu melakukan analisis kebutuhan agar ia dapat mewujudkan tujuan hidupnya. Bagi setiap manusia Allah SWT telah menetapkan tujuan hidup, yaitu: menggapai ridha Allah SWT. Caranya dengan beribadah kepada Allah SWT, dan rahmatan lil’alamiin.


Bagi orang yang sedang mengembangkan diri, analisis kebutuhan diperlukan agar ia mampu mendorong perbaikan tingkat kompetensi dirinya. Oleh karena itu, ia perlu mengawalinya dengan peningkatan rasa ingin tahu. Analisis kebutuhan juga perlu dilakukan dengan memperhatikan kebutuhan pihak-pihak yang berkepentingan.


Pada saat seseorang berkenan melakukan perbaikan dalam rangka mengembangkan diri, maka ia mampu berubah. Kalaupun karena sesuatu dan lain hal ia belum mampu berubah, maka ia harus menyatakan diri ingin berubah ke arah yang lebih baik. Oleh karena itu, ia harus menanamkan dalam mindset atau pola pikirnya, bahwa ia meyakini sesuatu bukan karena faktor subyektif, melainkan karena faktor obyektif.


Ia harus meyakinkan diri, bahwa meskipun sesuatu dipandang sulit oleh dirinya dan orang lain, namun secara obyektif ia berkeyakinan, bahwa ia dapat melakukannya. Ia tidak “terpesona” dengan kondisi yang mengungkungnya, melainkan terus berupaya mencari peluang agar dapat mencapai sesuatu yang lebih baik, dengan membuka diri terhadap hal-hal yang baru, yang berada dalam koridor nilai-nilai Islam.


Dalam QS.22:54, Allah SWT berfirman, “Dan agar orang-orang yang telah diberi ilmu (pengetahuan), meyakini bahwa Al Qur’an adalah sesuatu yang hak (benar) dari Tuhanmu (Allah), lalu mereka beriman dan menundukkan hati mereka kepadanya. Dan sesungguhnya Allah adalah Pemberi Petunjuk bagi orang-orang yang beriman kepada jalan yang lurus (Islam).”


Dengan demikian seorang manusia yang sedang mengembangkan diri berpeluang memiliki pola pikir yang unggul, yang dicirikan oleh: Pertama, memiliki rasa ingin tahu pada hal-hal yang baru, yang berada dalam koridor nilai-nilai Islam. Kedua, memiliki pikiran yang terbuka, karena ingin mengerti. Ketiga, memiliki kemampuan untuk menerima perubahan ke arah yang lebih baik. Keempat, memiliki kesediaan untuk terus menerus belajar dengan gembira dan senang hati. Kelima, memiliki kesediaan untuk membangun suasana yang baik dalam interaksi sosial.