ABOUT ISLAM

Tampilkan postingan dengan label kebajikan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label kebajikan. Tampilkan semua postingan

Minggu, 02 September 2012

MEMUASKAN DIRI SENDIRI



Setiap orang berkeinginan memuaskan diri. Keinginan ini wajar dan sah sepanjang tidak berlebihan dan tidak bertentangan dengan ketentuan Allah SWT. Keinginan ini menjadi mulia bila yang bersangkutan sangat ingin melakukan kebajikan. Ia baru merasa puas bila telah berhasil beribadah kepada Allah SWT dan rahmatan lil’alamiin (memberi manfaat optimal bagi lingkungan). Ukuran kebajikan yang dianutnya adalah ukuran kebajikan yang ditetapkan oleh Allah SWT sebagaimana tertuang dalam Al Qur’an, dijelaskan dalam Al Hadist, dan dinasehatkan oleh para ulama salaf.

Untuk dapat memuaskan diri dalam melakukan kebajikan, maka seseorang perlu melakukan: Pertama, memanfaatkan segenap kemampuan, keahlian, dan kekuasaannya untuk berbuat kebajikan, yang ditujukan bagi sesama manusia dan makhluk Allah SWT lainnya. Baginya tiada hari tanpa kebajikan. Meski sekecil apapun kebajikan yang mampu ia lakukan pada hari itu.

Kedua, berupaya berpikir, bersikap, bertindak, dan berperilaku adil bagi dirinya dan orang lain. Ia harus adil pada dirinya, dengan menjadikan ridha Allah SWT sebagai tujuan hidup, melalui hidup yang dipenuhi ibadah kepada Allah SWT, dan bermanfaat optimal bagi lingkungan di sekitarnya. Ia juga harus adil kepada orang lain dengan memenuhi hak orang lain yang berkaitan dengan dirinya, sepanjang tidak bertentangan dengan ketentuan Allah SWT.

Ketiga, bersikap proporsional dalam merespon masalah. Caranya dengan berlatih responsif, serta menghindari sikap pasif, dan reaktif terhadap masalah. Ia harus mampu merespon dalam “dosis” yang terukur atas masalah yang dialaminya. Ia tidak boleh pasif dalam menyikapi masalah, meskipun masalah itu dalam “dosis” yang sangat kecil dan terkesan remeh. Namun ia juga tidak boleh reaktif dalam menyikapi masalah, meskipun masalah itu nampak penting dan sangat berpengaruh atas dirinya.

Keempat, mampu bersyukur pada Allah SWT atas semua ketetapanNya yang telah ia terima. Baginya takdir dan ketetapan Allah SWT adalah sesuatu yang terbaik bagi dirinya. Ia tidak pernah menggerutu atas musibah yang menimpa dirinya, sebaliknya ia berupaya mengambil pelajaran dan hikmah dari setiap musibah yang dialaminya. Dengan empat hal yang dilakukannya, sebagaimana yang telah diuraikan, maka seseorang berpeluang mampu memuaskan diri dalam hal kebaikan.

Kepuasan ini akan membahagiakannya di dunia, dan insyaAllah akan membahagiakannya pula di akherat, karena telah menjadi hamba Allah SWT yang baik. Allah SWT berpesan: “Katakanlah, “Tidak sama yang buruk dengan yang baik.” Meskipun banyaknya yang buruk itu menarik hatimu. Maka bertaqwalah kepada Allah, hai orang-orang berakal, agar kamu mendapat keberuntungan” (QS.5:100).

Selamat berikhtiar… semoga Allah SWT meridhai.

...

Minggu, 13 Mei 2012

MENGUASAI DIRI SENDIRI


Setiap orang hendaknya mampu menguasai diri sendiri, karena banyaknya godaan untuk berpikir, bersikap, bertindak, dan berperilaku tidak layak. Oleh karena itu, tanpa kemampuan menguasai diri sendiri, seseorang berpeluang gagal dalam mewujudkan kebajikan bagi dirinya sendiri dan orang lain.

Untuk dapat menguasai diri sendiri, maka: (1) Seseorang perlu berlindung kepada Allah SWT, karena Allah SWT merupakan Tuhannya manusia, penguasa, dan pelindung manusia. (2) Seseorang perlu menghadapi dengan tegar dan menolak bujukan kejahatan dari setan, baik setan dari kalangan jin maupun setan dari kalangan manusia.

Ada delapan ciri yang diperlihatkan oleh orang yang berhasil menguasai diri, yaitu: Pertama, seseorang yang berhasil menguasai diri sendiri akan memperlihatkan pemikiran, sikap, tindakan, dan perilaku yang siap menanggung resiko. Ia memandang resiko sebagai peluang untuk melakukan kebajikan, yang hasilnya dapat gagal atau berhasil dalam melakukan kebajikan;

Kedua, seseorang yang berhasil menguasai diri sendiri akan memperlihatkan pemikiran, sikap, tindakan, dan perilaku yang terkendali dan penuh perhitungan. Namun demikian ia tetap mampu berinisiatif, karena ia memiliki stock ide-ide cemerlang dalam mendorong dan mewujudkan kebajikan bagi manusia;

Ketiga, seseorang yang berhasil menguasai diri sendiri akan memperlihatkan pemikiran, sikap, tindakan, dan perilaku yang profesional dalam koridor nilai-nilai Islam. Ia menghindarkan diri dari sifat mudah mengeluh, karena baginya kegagalan dalam melakukan kebajikan adalah kesempatan untuk memperbaiki diri;

Keempat, seseorang yang berhasil menguasai diri sendiri akan memperlihatkan pemikiran, sikap, tindakan, dan perilaku yang menghormati waktu. Ia akan berupaya menepati janji dalam konteks waktu, karena ia memiliki keunggulan dalam mengagendakan dan mengelola waktu yang dimilikinya;

Kelima, seseorang yang berhasil menguasai diri sendiri akan memperlihatkan pemikiran, sikap, tindakan, dan perilaku yang gemar dalam melayani dan memberi kebajikan kepada orang lain. Ia akan terus berupaya mengalirkan kebajikan dari dirinya kepada orang lain, agar dapat diteruskan kepada khalayak yang lebih luas;

Keenam, seseorang yang berhasil menguasai diri sendiri akan memperlihatkan pemikiran, sikap, tindakan, dan perilaku yang gemar belajar, terutama hal-hal baru atau terobosan dalam melakukan kebajikan. Ia gemar belajar dari siapapun; dari mereka yang melakukan keburukan, ia belajar tentang hal-hal yang dapat menimbulkan keburukan; dari mereka yang melakukan kebajikan, ia belajar tentang hal-hal yang dapat menimbulkan kebajikan;

Ketujuh, seseorang yang berhasil menguasai diri sendiri akan memperlihatkan pemikiran, sikap, tindakan, dan perilaku yang terbuka terhadap kritik, sebagai instrumen memperbaiki diri. Ia percaya dan berbesar hati untuk membuka diri bagi kritik orang lain, bahkan ia memposisikan para pengkritik sebagai sahabatnya yang baik;

Kedelapan, seseorang yang berhasil menguasai diri sendiri akan memperlihatkan pemikiran, sikap, tindakan, dan perilaku yang gemar bekerjasama dan membina hubungan baik. Ia berupaya mengajak banyak orang untuk bersama-sama melakukan kebajikan.

Selamat merenungkan, dan jangan lupa berdoa kepada Allah SWT, untuk kebaikan Bangsa Indonesia, Bangsa Palestina, dan Umat Islam di seluruh dunia.

Semoga Allah SWT berkenan meridhai…

...

Kamis, 01 Mei 2008

PERKUAT LEMBAGA SENSOR FILM

Umat Islam perlu bersyukur kepada Allah SWT, karena upaya MFI (Masyarakat Film Indonesia) yang ditokohi Mira Lesmana dan Riri Reza untuk membubarkan LSF (Lembaga Sensor Film) telah gagal. Upaya MFI membubarkan LSF telah dilakukan sejak lama, mulai dengan membangun opini tentang perlunya pembubaran LSF, hingga mengajukan gugatan terhadap Undang-Undang yang menjadi dasar berdirinya LSF kepada Mahkamah Konstitusi. Umat Islam perlu bersyukur kepada Allah SWT, karena atas ridhonya Mahkamah Konstitusi menolak permohonan MFI, sehingga LSF tetap berdiri dan eksis.
Sudah saatnya umat Islam memetakan pihak-pihak yang bersemangat merusak akhlak Bangsa Indonesia melalui jalur film. Pembubaran LSF merupakan salah satu program perusakan akhlak bangsa, dan sekaligus bentuk sinisme terhadap nilai-nilai Islam. Oleh karena itu, umat Islam perlu menggalang solidaritas untuk melawan perbuatan "makar" MFI.
MFI, meskipun merupakan singkatan dari Masyarakat Film Indonesia, tidaklah mewakili seluruh para aktivis film di Indoensia. Banyak aktivis film yang berseberangan pemikiran, sikap, dan perilaku dengan MFI, maka tindakan umat Islam juga harus proporsional dan tidak emosional. Lakukan perlawanan terhadap MFI dengan menginventarisir para aktivitisnya, dan selanjutnya upayakan dengan sungguh-sungguh untuk tidak menyaksikan atau mengapresiasi karya-karya mereka.
Pada saat ini, Bangsa Indonesia membutuhkan Lembaga Sensor Film yang kuat, yang memiliki kemampuan mengantisipasi kerusakan akhlak bangsa melalui tindakan penyensoran terhadap film-film yang mengancam kerusakan akhlak. Oleh karena itu, sudah saatnya umat Islam menggalang solidaritas untuk memperkuat Lembaga Sensor Film, dan melawan pihak-pihak yang akan membubarkan Lembaga Sensor Film.
Allah SWT berfirman, "Dan tolong menolonglah kamu dalam mengerjakan kebajikan dan taqwa, dan janganlah tolong menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran" (QS.5:2). Allah SWT juga berfirman, "Mohonlah pertolongan kepada Allah dan bersabarlah. Sesungguhnya bumi ini kepunyaan Allah" (QS.7:128).
Terimakasih kepada semua pihak yang telah berjuang mempertahankan Lembaga Sensor Film. Semoga Allah SWT berkenan menerima amal baik anda semuanya. Semoga pula Bangsa Indonesia dapat memperkuat Lembaga Sensor Film, agar dapat menjaga akhlak dari upaya perusakan melalui film.