ABOUT ISLAM

Tampilkan postingan dengan label publik. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label publik. Tampilkan semua postingan

Minggu, 13 Maret 2011

BELAJAR DARI DARSEM

Darsem adalah seorang TKW (Tenaga Kerja Wanita) Indonesia yang bekerja di Saudi Arabia. Ia membunuh majikan yang akan memperkosa dirinya, sehingga Pengadilan Saudi Arabia memvonisnya hukuman mati. Tetapi kemudian hukumannya diubah, menjadi kewajiban membayar denda sebesar Rp. 4,7 miliar kepada ahli waris dari orang yang terbunuh.


Dalam perspektif Islam, tindakan Darsem dapat dimaklumi, karena ia membunuh orang yang akan memperkosa dirinya. Nilai-nilai Islam mengajarkan, bahwa seseorang tidak boleh membunuh orang lain tanpa hak. Oleh karena itu, seseorang dibenarkan membunuh orang lain, bila ia berhak untuk itu. Dalam kasus Darsem, ia berhak membunuh orang yang akan memperkosanya, sebagai sebuah bentuk pembelaan diri, dalam menjaga martabat wanita yang merupakan hamba Allah SWT yang dimuliakanNya.


Belajar dari Darsem, maka sudah saatnya para wanita kembali pada fitrahnya, yaitu menjadi ibu rumah tangga, menjadi istri shalihah, menjadi ibu bagi anak-anak, dan menjadi wanita yang khusyu menyiapkan regenerasi. Terkecuali bila keadaan darurat, yaitu apabila suami telah tiada, atau suami menderita sakit yang membuat sang suami tidak mampu menjalankan peran sebagai suami.


Dalam keadaan normal (tidak darurat), selayaknya para wanita mencontoh pemikiran, sikap, tindakan, dan perilaku para istri Nabi, yang dimuliakan Allah SWT. Petunjuk semacam ini dapat dipelajari dalam Al Qur’an dan Al Hadist, yang diperuntukkan Allah SWT bagi wanita yang berkenan dimuliakanNya.


Sebagai contoh, dalam Qur’an Surat 33:30-33 Allah SWT telah memberi petunjuk, bahwa: Pertama, hendaknya kaum wanita berkenan menghindari keburukan (lihat QS.33:30). Untuk itu, kaum wanita hendaknya berupaya agar dirinya tidak menarik perhatian laki-laki lain, kecuali suaminya (lihat QS.33:32). Caranya, kaum wanita hendaknya berkenan berada di rumah (lihat QS.33:33). Upaya ini penting, agar kaum wanita terhindar dari ekses pekerjaan publik, dan terhindar dari komoditasasi wanita (menjadikan wanita sebagai barang dagangan).


Kedua, agar terhindar dari keburukan (lihat QS.33:30), maka hendaklah kaum wanita gemar berbuat kebajikan (lihat QS.33:31), caranya dengan berada di rumah (lihat QS.33:33), agar terhindar dari ekses pekerjaan publik (lihat QS.33:32). Dengan demikian kaum wanita dapat fokus pada pekerjaan domestik, yaitu berkonsentrasi dalam mempersiapkan regenerasi Umat Islam.


Umat Islam dilahirkan melalui proses regenerasi, bukan sekedar melalui proses reproduksi. Dalam regenerasi, terkandung pengertian adanya reproduksi, yang kemudian dilengkapi dengan internalisasi nilai-nilai Islam dalam diri individu-individu baru yang menjadi bagian dari regenerasi.


Oleh karena itu, belajar dari Darsem, sudah saatnya kaum wanita kembali ke rumah. Bagi kaum wanita, berikhtiarlah dengan sungguh-sungguh agar berada di rumah, dan fokuslah pada proses regenerasi. Janganlah terkecoh oleh tipudaya para pejuang kebebasan wanita, yang menawarkan dan menjual feminisme. Kembalilah pada nilai-nilai Islam, karena kelak tiap wanita akan menghadap Allah SWT, untuk melaporkan pelaksanaan tugasnya.


Semoga Allah SWT berkenan meridhai...

Kamis, 22 Januari 2009

KEMULIAAN MUSLIMAH

Seorang muslimah adalah sosok manusia yang selalu dikagumi oleh setiap laki-laki muslim. Ia dikagumi karena kemuliaan, dan peran besarnya dalam membangun Umat Islam yang berkualitas. Kemuliaan seorang muslimah nampak dari kesetiaannya pada nilai-nilai Islam, yang berbasis pada Al Qur'an dan Al Hadist.
Bagi seorang muslimah taqwa merupakan sesuatu yang inheren (bawaan) pada dirinya. Oleh karena itu, ia bersungguh-sungguh menekuni hal-hal yang diperintahkan Allah SWT, dengan cara meneladani (mengambil contoh) pemikiran, sikap, dan perilaku Rasulullah Muhammad SAW. Seorang muslimah faham, bahwa Rasulullah Muhammad SAW adalah sosok yang sungguh-sungguh menerapkan perintah-perintah Allah SWT yang tertuang dalam Al Qur'an. Seorang muslimah juga faham, bahwa Allah SWT dan Rasulullah Muhammad SAW memuliakan istri-istri Rasulullah Muhammad SAW. Itulah sebabnya maka istri-istri Rasulullah Muhammad SAW adalah wanita-wanita yang mulia. Mereka mulia karena ketaqwaannya kepada Allah SWT.
Hal inilah yang menjadikan seorang muslimah memposisikan istri-istri Rasulullah Muhammad SAW sebagai teladan terindah bagi dirinya. Ia faham bahwa keteladanan istri-istri Rasullah Muhammad SAW terdokumentasi dalam QS.33:30-33. Maka seorang muslimah berupaya mempraktekkan QS.33:30-33 dalam kehidupannya sehari-hari.
Pertama, berbekal QS.33:30 seorang muslimah berupaya menghindari keburukan. Kedua, berbekal QS.33:32 seorang muslimah berupaya agar tidak menarik perhatian lawan jenisnya. Ketiga, hal ini dilakukan seorang muslimah agar terhindar dari ekses pekerjaan publik. Keempat, oleh karena itu, sejak awal, seorang muslimah menghindari pekerjaan publik, kecuali dalam keadaan darurat. Kelima, hal ini dilakukan untuk mencegah komoditisasi wanita , yaitu proses yang menjadikan wanita sebagai barang dagangan. Keenam, berbekal QS.33:31 seorang muslimah berkonsentrasi untuk melakukan kebaikan. Ketujuh, berbekal QS.33:33 seorang muslimah lebih memilih berada di rumah. Kedelapan, seorang muslimah ingin memfokuskan diri pada pekerjaan domestik. Kesembilan, dengan demikian seorang muslimah dapat fokus pada pengelolaan regenerasi Umat Islam.
Seorang muslimah faham, bahwa Allah SWT tidak menciptakan sesuatu agar sia-sia. Demikian pula ketika Allah SWT menciptakan laki-laki dan wanita, maka masing-masing ciptaanNya ini memiliki fungsinya masing-masing. Oleh karena itu, bodohlah orang-orang liberal (Peradaban Barat) yang menjadikan laki-laki dan wanita memiliki fungsi yang sama.
Pekerjaan domestik (di dalam rumah) dan pekerjaan publik (di luar rumah) merupakan dua hal yang bersifat fungsional. Pekerjaan ini berkedudukan setara, dan tidak dalam posisi yang satu lebih rendah dari yang lain. Oleh karena itu, bodohlah orang-orang liberal (Peradaban Barat) yang memposisikan pekerjaan domestik lebih rendah dari pekerjaan publik.
Seorang muslimah faham. bahwa berada di rumah tidaklah merendahkan wanita, sebaliknya justru memuliakan wanita. Ia faham, bahwa Allah SWT berkehendak memuliakan wanita, dengan menjadikan wanita hidup dalam semangat taqwa kepada Allah SWT, agar ia dapat berpikir, bersikap, dan berperilaku mulia.
Oleh karena itu, bodohlah orang-orang liberal (Peradaban Barat) yang "menjual" kaum wanitanya ke hadapan publik, mempertontonkan aurat wanitanya ke hadapan publik, dan menjadikan kaum wanitanya sebagai sosok laki-laki yang cantik. Semoga Allah SWT berkenan memberikan nilai-nilai Islam pada orang-orang liberal (Peradaban Barat).

Kamis, 28 Februari 2008

ENTEROBACTER SAKAZAKI

Enterobacter Sakazaki bukanlah nama rocker, dan bukan pula nama bintang film Hollywood atau Bollywood. Namanya tidak dipopulerkan oleh institusi kepolisian atau keuangan, melainkan oleh institusi penelitian, yang dalam hal ini adalah institusi penelitian yang berada di bawah Institut Pertanian Bogor (IPB).
Pada pertengahan Pebruari 2008 institusi ini (IPB) mengumumkan hasil penelitiannya, bahwa pada beberapa susu formula (susu bayi) yang dikonsumsi oleh bayi terdapat Enterobacter Sakazaki, yaitu sejenis bakteri yang dapat merusak syaraf otak dan usus bayi, yang mengkonsumsi susu formula tersebut. Ketika respon pemerintah, khususnya Badan Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM) serta Departemen Kesehatan, dianggap kurang memadai, maka beberapa media elektronik (televisi) menyiarkan tayangan tentang bayi yang terserang Enterobacter Sakazaki.
Inilah wajah Bangsa Indonesia, yang sebagian wanitanya enggan melaksanakan tugas sebagai pencetak generasi Islam yang tangguh. Para wanita ini telah teracuni pola pikir Barat, yang selalu memandang sesuatu secara strukturatif. Bagi para wanita ini, pekerjaan domestik (sebagai ibu rumah tangga) adalah pekerjaan yang berada di bawah pekerjaan publik (mencari nafkah di luar rumah). Para wanita ini tidak faham, bahwa relasi antara pekerjaan domestik dan publik bersifat kluster, fungsional, dan komplementer.
Para wanita ini mencoba mencari-cari alasan untuk keluar rumah, meninggalkan bayi-bayi mereka pada babysitter, dan memberikan susu formula untuk bayi-bayi mereka. Akibatnya Enterobacter Sakazaki berkesempatan menyerang syaraf otak dan usus bayi mereka. Para wanita ini lupa, bahwa Allah SWT telah berfirman:
"Para ibu hendaklah menyusukan anak-anaknya selama dua tahun penuh, yaitu bagi yang ingin menyempurnakan penyusuan. Dan kewajiban ayah memberi makan dan pakaian kepada para ibu dengan cara yang baik. Seseorang tidak dapat dibebani melainkan menurut kadar kesanggupannya. Janganlah seorang ibu menderita kesengsaraan karena anaknya, dan juga seorang ayah karena anaknya, dan warispun berkewajiban demikian. Apabila keduanya ingin menyapih dengan kerelaan keduanya dan permusyawaratan, maka tidak ada dosa atas keduanya. Dan jika kamu ingin anakmu disusukan oleh orang lain, maka tidak ada dosa bagimu apabila kamu memberikan pembayaran menurut yang patut. Bertaqwalah kamu kepada Allah, dan ketahuilah bahwa Allah Maha Melihat perilaku yang kamu kerjakan" (QS.2:233).
Sudah saatnya para wanita kembali ke rumah (go home), kembali ke masa depan (back to the future), dan kembali menyusui bayinya.