ABOUT ISLAM

Tampilkan postingan dengan label mulia. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label mulia. Tampilkan semua postingan

Kamis, 11 Juni 2009

KELUHAN PRITA MULIA SARI

Tahukah Anda, bahwa saat ini Anda memasuki zaman Neo Liberal. Pada zaman ini, kebebasan (liberal) hanya diperuntukkan bagi golongan tertentu (biasanya golongan berpunya). Golongan ini memiliki kebebasan multi aspek dalam mengekspresikan dirinya.
Zaman ini disebut zaman Neo Liberal, karena liberalisme (pemuja kebebasan bagi golongan berpunya) hadir dengan "rasa" baru, biasanya yang paling populer adalah rasa kerakyatan. Maka dapatlah didefiniskan (secara gaul), bahwa neo liberal adalah liberalisme rasa kerakyatan. Faham ini seolah-olah membela rakyat tapi sesungguhnya ia memuja (mungkin juga sudah mempertuhankan) golongan berpunya. Faktanya, faham neo liberal seolah-olah membela rakyat tetapi sesungguhnya membela dan mempertuhankan golongan berpunya.
Lihatlah Undang-Undang ITE (Informasi dan Transaksi Elektronik), yang digunakan jaksa untuk memenjarakan Prita Mulia Sari. Berdasarkan undang-undang ini keluhan Prita Mulia Sari kepada kawan-kawannya tentang pelayanan Rumah Sakit Omni Internasional, Tangerang, dapat mengakibatkan dipenjarakannya Prita Mulia Sari.
Oleh karena itu, ketika beberapa pakar sosial dan ekonomi mengingatkan tentang issue (bukan gosip lho...) neo liberalisme di Indonesia, maka itu bukanlah isapan jempol belaka. Issue tersebut adalah ancaman serius bagi Bangsa Indonesia. Karena bila issue ini diabaikan Bangsa Indonesia akan dijajah oleh golongan berpunya (yang boleh jadi akan meliputi juga bangsa asing dan para komparadornya). Saat itulah Bangsa Indonesia akan tercabik-cabik antara golongan berpunya dengan golongan tidak berpunya.
Oleh karena itu perlu perhatian serius dalam merespon dan mencegah hadirnya neo liberalisme di Indonesia, caranya tentu disesuaikan dengan kemampuan dan kompetensi masing-masing. Selamat berjuang...
Sebagai dasar perjuangan, perhatikanlah nilai-nilai Islam, yang mendorong manusia untuk mengekspresikan dirinya secara bebas, sepanjang tidak bertentangan dengan kewajiban sosialnya (lihat tuntunan dalam Al Qur'an dan Al Hadist).

Kamis, 22 Januari 2009

KEMULIAAN MUSLIMAH

Seorang muslimah adalah sosok manusia yang selalu dikagumi oleh setiap laki-laki muslim. Ia dikagumi karena kemuliaan, dan peran besarnya dalam membangun Umat Islam yang berkualitas. Kemuliaan seorang muslimah nampak dari kesetiaannya pada nilai-nilai Islam, yang berbasis pada Al Qur'an dan Al Hadist.
Bagi seorang muslimah taqwa merupakan sesuatu yang inheren (bawaan) pada dirinya. Oleh karena itu, ia bersungguh-sungguh menekuni hal-hal yang diperintahkan Allah SWT, dengan cara meneladani (mengambil contoh) pemikiran, sikap, dan perilaku Rasulullah Muhammad SAW. Seorang muslimah faham, bahwa Rasulullah Muhammad SAW adalah sosok yang sungguh-sungguh menerapkan perintah-perintah Allah SWT yang tertuang dalam Al Qur'an. Seorang muslimah juga faham, bahwa Allah SWT dan Rasulullah Muhammad SAW memuliakan istri-istri Rasulullah Muhammad SAW. Itulah sebabnya maka istri-istri Rasulullah Muhammad SAW adalah wanita-wanita yang mulia. Mereka mulia karena ketaqwaannya kepada Allah SWT.
Hal inilah yang menjadikan seorang muslimah memposisikan istri-istri Rasulullah Muhammad SAW sebagai teladan terindah bagi dirinya. Ia faham bahwa keteladanan istri-istri Rasullah Muhammad SAW terdokumentasi dalam QS.33:30-33. Maka seorang muslimah berupaya mempraktekkan QS.33:30-33 dalam kehidupannya sehari-hari.
Pertama, berbekal QS.33:30 seorang muslimah berupaya menghindari keburukan. Kedua, berbekal QS.33:32 seorang muslimah berupaya agar tidak menarik perhatian lawan jenisnya. Ketiga, hal ini dilakukan seorang muslimah agar terhindar dari ekses pekerjaan publik. Keempat, oleh karena itu, sejak awal, seorang muslimah menghindari pekerjaan publik, kecuali dalam keadaan darurat. Kelima, hal ini dilakukan untuk mencegah komoditisasi wanita , yaitu proses yang menjadikan wanita sebagai barang dagangan. Keenam, berbekal QS.33:31 seorang muslimah berkonsentrasi untuk melakukan kebaikan. Ketujuh, berbekal QS.33:33 seorang muslimah lebih memilih berada di rumah. Kedelapan, seorang muslimah ingin memfokuskan diri pada pekerjaan domestik. Kesembilan, dengan demikian seorang muslimah dapat fokus pada pengelolaan regenerasi Umat Islam.
Seorang muslimah faham, bahwa Allah SWT tidak menciptakan sesuatu agar sia-sia. Demikian pula ketika Allah SWT menciptakan laki-laki dan wanita, maka masing-masing ciptaanNya ini memiliki fungsinya masing-masing. Oleh karena itu, bodohlah orang-orang liberal (Peradaban Barat) yang menjadikan laki-laki dan wanita memiliki fungsi yang sama.
Pekerjaan domestik (di dalam rumah) dan pekerjaan publik (di luar rumah) merupakan dua hal yang bersifat fungsional. Pekerjaan ini berkedudukan setara, dan tidak dalam posisi yang satu lebih rendah dari yang lain. Oleh karena itu, bodohlah orang-orang liberal (Peradaban Barat) yang memposisikan pekerjaan domestik lebih rendah dari pekerjaan publik.
Seorang muslimah faham. bahwa berada di rumah tidaklah merendahkan wanita, sebaliknya justru memuliakan wanita. Ia faham, bahwa Allah SWT berkehendak memuliakan wanita, dengan menjadikan wanita hidup dalam semangat taqwa kepada Allah SWT, agar ia dapat berpikir, bersikap, dan berperilaku mulia.
Oleh karena itu, bodohlah orang-orang liberal (Peradaban Barat) yang "menjual" kaum wanitanya ke hadapan publik, mempertontonkan aurat wanitanya ke hadapan publik, dan menjadikan kaum wanitanya sebagai sosok laki-laki yang cantik. Semoga Allah SWT berkenan memberikan nilai-nilai Islam pada orang-orang liberal (Peradaban Barat).

Selasa, 22 Juli 2008

DUKUNG M.U.I. MADIUN

Hari ini beberapa media elektronik (televisi) mengabarkan, tentang kegeraman salah seorang tokoh MUI (Majelis Ulama Indonesia) Madiun, terhadap artis (wanita) ibukota (Jakarta) yang beraksi seronok ketika menyanyi di salah satu pusat perbelanjaan di Madiun. Padahal di lokasi tersebut banyak terdapat anak-anak, yang sedang berbelanja bersama-sama orang tua mereka.
Itulah fakta kekinian, yang sesungguhnya mengundang adzab Allah SWT kepada Bangsa Indonesia. Undangan adzab Allah SWT seakan gencar dilantunkan oleh Bangsa Indonesia, ketika para pemimpinnya berkhianat, dan rakyatnya sesat.
Sementara itu para wanita yang menyebut diri artis, sibuk menjajakan syahwat kepada siapa saja yang bersedia terpedaya. Sebutan artis bagi para wanita ini merupakan sebutan penghalus rasa (pendengaran) tapi tetap bernuansa maksiat secara faktual. Perhatikan, bagaimana para penjaja maksiat ini berupaya membangkitkan syahwat siapapun yang menyaksikan mereka, ketika mereka beraksi di panggung.
Fenomena ini sekaligus menjadi tantangan bagi Umat Islam, untuk menjaga sanak saudara, sahabat, dan orang-orang yang disayangi, dari perilaku maksiat. Hal ini dilakukan seiring upaya melawan para penjaja maksiat, dengan memboikot kemaksiatan yang dilakukan para penjaja ini. Semoga Allah SWT berkenan meridhai, karena sesungguhnya Allah SWT sangat memuliakan wanita.