ABOUT ISLAM

Tampilkan postingan dengan label banten. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label banten. Tampilkan semua postingan

Minggu, 13 Februari 2011

UMAT ISLAM SEBAGAI KORBAN PROVOKASI

Umat Islam hendaknya berkenan mengendalikan diri, karena ada gerakan untuk memprovokasi Umat Islam. Provokasi bertujuan untuk membuat Umat Islam marah atau emosional, yang selanjutnya kemarahan Umat Islam ini akan disiarkan ke seluruh dunia, melalui media cetak, dan elektronik, baik di dunia nyata maupun di dunia maya.


Lihatlah pengalaman di Cikeusik, Pandeglang, Banten pada awal tahun 2011. Umat Islam setempat marah kepada Jema’at Ahmadiyah, karena terpancing oleh provokasi sekitar 15 – 20 orang anggota Jema’at Ahmadiyah yang datang dari Bekasi, yang datang ke salah satu rumah anggota Jema’at Ahmadiyah di Cikeusik.


Saat Umat Islam bentrok dengan Jema’at Ahmadiyah, maka kejadian itu segera direkam dan segera disiarkan ke dunia maya, melalui Youtube. Akibatnya penilaian buruk atau negatif terhadap Umat Islam mendapat alasan dan legitimasi yang kuat. Seolah-olah inilah “wajah” Umat Islam yang kasar dan jahat.


Ternyata yang merekam dengan kamera yang telah disiapkan, adalah anggota Jema’at Ahmadiyah berinisial “A”, yang saat ini mendapat perlindungan dari LPSK (Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban), dan Komnas HAM (Komisi Nasional Hak Asasi Manusia).


Inilah bukti awal, bahwa Umat Islam diprovokasi, agar Umat Islam marah atau emosional, untuk selanjutnya kemarahan itu disiarkan ke seluruh dunia. Akibatnya musuh-musuh Islam mendapat kesempatan untuk menghina dan merendahkan Umat Islam, sebagai sekelompok orang yang kasar dan jahat.


Lihat pula kerusuhan di Temanggung (awal 2011), di mana ada seorang non muslim yang menghina Islam dengan cara menuliskan, dan menyebarkan penghinaan tersebut. Kasus ini kemudian masuk Pengadilan Negeri Temanggung, dan yang bersangkutan divonis 5 (lima) tahun penjara.


Umat Islam Temanggung ternyata tidak puas dengan tuntutan itu, dan melakukan pelampiasan kekesalannya dengan merusak tiga buah gereja di Temanggung. Akibatnya penilaian buruk atau negatif terhadap Umat Islam mendapat alasan dan legitimasi yang kuat.


Oleh karena itu, Umat Islam hendaknya terus menerus mewaspadai dan tidak terpancing dengan provokasi. Bila terjadi penistaan, penodaan, atau penghinaan terhadap Agama Islam, maka Umat Islam hendaknya berkenan menempuh jalur hukum.


Umat Islam di manapun berada, hendaknya terus berhubungan dan berkoordinasi dengan ulama setempat, agar solusi yang ditempuh adalah solusi yang tepat dan tidak emosional. Jangan ada lagi Umat Islam yang emosional dalam menyelesaikan masalah, melainkan lebih memilih untuk terus menerus melakukan perjuangan melalui jalur hukum.


Umat Islam hendaknya mengerti, bahwa Jema’at Ahmadiyah telah menodai (menistakan) Islam, dengan cara mengakui diri sebagai muslim, tetapi mengakui Mirza Ghulam Ahmad sebagai nabi. Padahal dalam Al Qur’an telah dinyatakan oleh Allah s.w.t., bahwa Muhammad s.a.w. adalah rasulullah dan nabi Allah terakhir.


Oleh karena itu, pada tahun 1974 Rabithah Alam Islam (Organisasi Muslim Dunia) mengeluarkan fatwa, bahwa Ahmadiyah sesat dan menyesatkan. Demikian pula pada tahun 1980 Majelis Ulama Indonesia telah mengeluarkan fatwa, bahwa Ahmadiyah sesat dan menyesatkan. Fatwa Majelis Ulama Indonesia tahun 1980 ini kemudian ditegaskan kembali pada tahun 2005.


Namun untuk menyelesaikan masalah ini, Umat Islam tidak boleh emosional. Umat Islam harus berkoordinasi dengan ulama, untuk selanjutnya berjuang melalui jalur hukum.


Demikian pula halnya, dengan non muslim yang menghina Islam. Umat Islam hendaknya mengerti bahwa Allah s.w.t. telah berfirman, ”Katakanlah, ”Dialah Allah, Yang Maha Esa. Allah adalah Tuhan yang bergantung kepadanya segala sesuatu. Dia tidak beranak, dan tidak diperanakkan. Dan tidak ada sesuatupun yang setara denganNya” (QS.112:1-4).


Dengan demikian, selayaknya Umat Islam bersyukur, karena hidup dalam nilai-nilai Islam yang diridhai Allah s.w.t., yaitu hidup dalam nilai-nilai Ketuhanan sebagaimana dimaksud oleh firman Allah s.w.t. dalam QS.112:1-4.


Sesungguhnya, tidak mudah menjadi muslim, karena banyak tantangan yang harus dihadapi. Oleh karena itu, bersabarlah...


Jangan mudah marah, dan jangan mudah emosional. Karena ada gerakan global untuk memfitnah Islam. Gerakan ini berupaya memprovokasi Umat Islam agar marah atau emosional, selanjutnya kemarahan Umat Islam ini akan direkam dan dijadikan bukti untuk menjelaskan, bahwa Umat Islam adalah sekelompok orang yang kasar dan jahat.


Oleh karena itu, Umat Islam hendaknya terus menerus bersabar, dan terus menerus berkoordinasi dengan ulama. Apabila ada masalah, maka tempuhlah jalur hukum dengan penuh kesabaran.

Jumat, 27 Maret 2009

MUSIBAH SITU GINTUNG

Jum'at 27 Maret 2009, setelah adzan Subuh, Waduk Situ Gintung (di Tangerang, Banten) yang menampung jutaan kubik air, jebol di salah satu sisinya. Akibatnya, banjir bandang menerjang daerah sekitar waduk. Banyak warga masyarakat yang berhasil selamat dari musibah ini, namun 65 (enam puluh lima) orang lainnya tewas, dan ratusan orang luka-luka. Inilah "Musibah Situ Gintung".
Dalam perspektif keilmuan, ada konsepsi yang disebut: (1) monitoring, (2) controlling, (3) evaluasi, (4) probabilitas, dan (5) prospektif. Nampaknya, dalam kasus Musibah Situ Gintung kelima konsepsi tersebut kurang mendapat perhatian dan penerapan yang memadai dari para pemimpin, atau penanggung-jawab lokasi. Pertama, karena monitoring tidak memadai, maka tak terdeteksi adanya peluang musibah. Kedua, karena controlling tidak memadai, maka tak dapat dilakukan suatu tindak pencegahan terhadap musibah yang berpeluang terjadi. Ketiga, karena evaluasi tidak memadai, maka tak disiapkan respon komprehensif untuk mencegah terjadinya musibah. Keempat, karena kurang difahaminya konsep probabilitas, maka tak ada kemampuan untuk mengenali kemungkinan buruk yang dapat terjadi. Kelima, karena kurang difahaminya konsep prospektif, maka tak ada kemampuan untuk merancang sebuah kegiatan yang dapat menguatkan konstruksi Waduk Situ Gintung, untuk mencegah terjadinya musibah.
Para pemimpin atau para penanggung-jawab lokasi yang mengabaikan konsepsi keilmuan, dalam perspektif Islam seringkali dikenali sebagai sosok, yang mengubah rahmat menjadi musibah. Bukankah air hujan adalah rahmat dari Allah SWT (lihat QS.22:63), namun di tangan para pemimpin atau penanggung-jawab lokasi yang tidak cerdas (tidak fathonah), tidak dapat dipercaya (tidak amanah), tidak jujur atau tidak obyektif (tidak shiddiq), dan tidak informatif (tidak tabligh), maka rahmat Allah SWT (yaitu air hujan) akan berubah menjadi musibah (yaitu banjir atau banjir bandang).
Oleh karena itu, dalam rangka mewujudkan rahmatan lil'alamiin (manfaat optimal bagi alam semesta), sudah selayaknya para pemimipin atau para penanggung-jawab lokasi melakukan introspeksi diri, dan memperbaiki kualitas diri. Sudah saatnya pula para pemimpin atau para penanggung-jawab lokasi berupaya sungguh-sungguh agar memiliki kualitas diri, yang FAST (Fathonah, Amanah, Shiddiq, dan Tabligh). InsyaAllah mendapat ridhaNya.